The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|44|



Sudah hampir seminggu Alina menginap dirumah Umi. Kesehariannya hanya membantu Umi membersihkan rumah dan juga melayani sang suami seperti hal-hal kecil saja.


Sore ini, niatnya Alina akan pulang ke Bandung, dan tadi ia juga sudah bilang pada Umi jika ia harus pulang karena pekerjaannya tak bisa lama-lama ditinggalkan, karena Akmal tak ada dirumah Alina hanya menitipkan pesan pada Umi saja.


Alina yang tengah menunggu mobil yang akan menjemputnya, perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada mobil hitam. Siapa lagi jika bukan mobil sang suami.


Akmal yang baru menyadari Alina membawa tas besar ditangannya dengan cepat ia berlari kearah Alina.


"Mau kemana?" tanya Akmal raut wajahnya ketakutan.


"Wa'alaikumussalam Mas," ucap Alina.


"Oh iya lupa. Assalamu'alaikum," ucap Akmal yang membuat Alina mengembangkan senyumnya. Diciumlah punggung tangan sang suami.


"Kamu mau kemana?" ulangnya lagi.


"Ke Bandung," jawab Alina


"Untuk apa?" tanyanya


"Aku kan kerja Mas disana, masa ia aku abaikan pekerjaan ku begitu saja, aku minta cuci pulang hanya satu minggu dan besok aku harus masuk kerja." jelas Alina yang membuat Akmal bungkam.


"Ya udah, biar Mas yang anter kamu ke Bandung,"


"Gak usah Mas aku udah pesen mobil, bentar lagi mobilnya nyampe kok,"


Skak mat. Penolakan itu membuat Akmal menundukkan kepalanya.


"Mas," ucap Alina, Akmal menoleh.


"Mas gak marahkan?" Akmal hanya menggeleng lalu melenggang masuk kedalam rumah.


Alina yang merasa bingung dengan tingkah suaminya, Refleks mengikutinya dari belakang, sampailah mereka dikamar.


Akmal yang masih menekuk wajahnya dan enggan untuk berbicara, semakin membuat Alina bingung. Apa aku salah bicara tadi?


Alina mendekati Akmal yang duduk dipinggir ranjang. "Mas, kamu kenapa? Aku salah bicara ya tadi?"


"Enggak ada yang salah kok, Mas hanya merasa kamu menghindar dari Mas." Alina menelan habis ucapan suaminya itu. Berpikir sejak mengenai ucapan sang suami yang menyebutkan jika dirinya menghindar. Memang benar sih apa yang dikatakan Mas Akmal, tidak ada yang salah, aku memang sedikit menghindarinya, bukan apa-apa aku hanya menjaga jarak saja karena tidak ingin terluka lagi.


"Mas aku bisa jelas...."


"Alina ada umi kulsum, sini nak." suara lembut umi menghentikan ucapanku. Aku langsung menuruni anak tangga, dan benar saja disana ada umi kulsum dan ustadz Risyal. Entah kenapa tiba-tiba pipiku memanas, kutundukkan kepalaku segera.


"Iya umi."


"Duduklah nak," titah umi.


"Iya umi, eh.. bagaimana bisa umi tahu rumah Alin? Umi sengaja main kesini," ucap Alina


"Umi tahu dari Bi Arum. Oh nggak, kebetulan Risyal ada panggilan kajian didaerah sini, dari pada langsung pulang ke Bandung jadi deh umi sempetin dulu kesini, umi juga pingin ketemu umimu sudah lama sekali umi tidak bertemu," jawabnya


"Assalamu'alaikum." suara bariton itu mengejutkan semuanya.


"Waalaikumsalam," jawab kami hampir bersamaan.


"Mas Akmal" ucap Alina sembari berdiri lalu berjalan menghampiri suaminnya.


"Kita ngobrol disana Mas," ucap Alina sembari menggandeng tangan Akmal supaya mendekat ketempat tadi Alina berkumpul. "Dia Mas Akmal, suaminya Alin," lanjut Alina sedikit gelagapan.


"Oh suaminya nak Alin? Umi kira kamu belum menikah," umi kulsum tersenyum kearah Mas Akmal. "Padahal umi pengen... kamu jadi menantu umi loh," ucap umi.


"Umi bisa saja, Mas kenalin ini umi kulsum dan ustadz Risyal." ucap Alina dan Mas Akmal tersenyum kecil kearah Umi kulsum dan Ustadz Risyal dan segera pamit kekamar lagi.


Setelah kepergian Akmal, sebenarnya Alina ingin menyusulnya tapi tidak enak jika meninggal umi kulsum dan Ustadz Risyal, rasanya tidak sopan saja. Alina kembali duduk disana dan memulai berbincang-bincang.


"Alin, lebih baik kamu pulang ke Bandung bareng umi kulsum dan Nak Risyal saja," ucap umi yang berhasil membuat Alina membuka lebar matanya.


"Tidak usah Umi, Alin pulang sendiri saja," jawab Alina


"Tidak apa-apa lebih baik kita pulang bersama, umi lihat sepertinya kau sedang hamil," Alina tersenyum lalu mengangguk.


"Kalo begitu Alin ambil barang dulu ya,"


Alina melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Sesampainya disana ia melihat sang suami tengah bersantai disofa depan televisi, matanya menatap fokus keacara berita yang sedang diitontonnya.


"Mas," panggil Alina. Akmal menoleh sedikit dan menepuk sofa yang ada disampingnya meminta Alina untuk duduk. Alina berjalan mendekat dan duduk disamping sang suami.


"Mas," panggil Alina lagi. Akmal menoleh dan mengecilkan volume televisi.


"Ada apa Alina?" tanya Akmal lembut.


"Maaf sebelumnya Mas, Alin harus pulang ke Bandung hari ini." kepala Alina tertunduk dan tak lama sentuhan tangan kekar sang suami menggenggam tangan Alina dan membawa tangan itu keatas pangkuannya, rasa hangat tiba-tiba menjalar hingga kehatinya.


"Tidak perlu meminta maaf, pergilah, Mas tidak bisa menahanmu juga," ucap Akmal lembut.


"Mas tidak marahkan? Aku akan pulang secepatnya setelah mengurus pekerjaan dan lainnya disana." Akmal tersenyum. Entah aba-aba dari mana, Mas Akmal langsung memeluk tubuhku erat. Kurasakan tubuh Mas Akmal bergetar, dan setetes demi setetes air matanya jatuh membasahi bahuku. Setelah sedikit lega, barulah kuuraikan pelukanku padanya dan kuusap pipinya halus untuk menghilangkan jejak air matanya. Kuberikan sebuah senyuman tulus seraya mengatakan padanya jika aku akan pulang segera, dan kulihat Mas Akmal juga membalas senyumanku dengan senyumannya yang tulus juga.


.....


Maaf part ini sedikit 🙏🏻 kalo ada typo mohon koreksinya.


Semoga kalian mengerti 👌 tunggu part selanjutnya ya😊😘