The Life Story Of An Alina

The Life Story Of An Alina
TLSOAA|20|



Suasana tegang sepasang insan yang tengah terdiam. Entah kenapa keduanya hanya terdiam, tanpa membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Mas, kenapa Mas tidak membelanya tadi?" tanya seorang wanita pada lelaki yang ia panggil Mas itu.


"Sebenarnya Mas ingin membelanya, tapi jika Mas pikirkan... Yang dibilang ibu benar, Alina itu memang penghalang bagi kita."


"Mas tidak bisa seperti itu! Dia itu tetap istri Mas."


"Dia memang istri ku, tapi dia bukanlah wanita yang aku cintai. Dia hadir karna perjanjian konyol itu, dan kebetulan kau juga pergi dariku. Tapi... Saat ini kau sudah sini, maka kaulah tetap orang pertama yang aku cintai." tegas lelaki itu dengan menekan perkataannya.


"Aku juga tidak mengerti mengapa dia menuduhmu seperti tadi, sebenci itu dia padamu? Jadi aku pikir, untuk apa aku membelanya?" tambahnya lagi.


"Mas, Mas tidak bisa seperti itu, tidak ada gunanya Mas terus bertahan dengan perasaan Mas padaku, aku tidak berharap lagi untuk menjadi istri kedua antara pernikahan Mas dan Alina. Aku sadar siapa aku? Aku tidak ingin menyakiti sahabatku, sahabat yang sejak dulu selalu ada untukku, Alina itu wanita Sholehah, dia wanita terhormat tidak baik Mas bersikeras untuk memadunya. Dulu aku memang menyesal tidak menikah dengan Mas, tapi setelah melihat Alina yang sabar, tegar menghadapi Mas, aku malu dengan diriku sendiri! Tidak seharusnya aku merebut Mas darinya, dan aku yakin suatu saat nanti Mas akan merindukannya, Mas akan selalu khawatir padanya, dan Alina lah wanita yang nantinya akan menggantikan posisi ku dihati Mas." ucap wanita yang berada dihadapan lelaki itu.


"Sudahlah Sandra, Mas tidak ingin berdebat denganmu karna wanita itu, benar apa yang diucapkan ibumu, Alina itu hanya wanita penghalang untuk kita. Semenjak kehadirannya kita selalu bertengkar seperti ini," teriak lelaki itu dan berlalu dari hadapan wanita bernama Sandra itu. Ia hanya pergi dari rumah Sandra untuk berniat menenangkan pikirannya.


.....


Setelah kejadian dirumah Sandra, aku belum pernah lagi pulang kerumah Mas Akmal. Aku masih menginap dirumah Umi.


Kebetulan jarak dari rumah Umi ke rumah sakit tak terlalu jauh. Ketika saat seperti ini rasa kesedihan, kesepian sangat terasa, rasanya semua orang tengah menjauh dariku. Tentu saja kecuali Umi, Dinda dan Azka.


Beberapa hari ini juga setelah pertemuan ku dengan Dokter Rehan, aku tidak lagi mendengar kabarnya. Entah dia pindah rumah sakit atau pulang kampung. Sungguh, aku mendengarnya sedikit tenang, tapi kekhawatiran masih saya terkadang datang. Apalagi ketika mengingat kejadian yang Dokter Rehan lakukan padaku.


Alina kamu dimana?


Jangan bilang kamu gak masuk hari ini,


Hari ini jadwal kamu dampingin aku diruang operasi.


Pesan yang dikirimkan Dinda menyadarkanku. Astaghfirullah, bagaimana aku bisa lupa kalau aku ada jadwal dampingin Dinda diruang operasi hari ini. Dan itu akan berlangsung setengah jam lagi. Dengan terburu-buru aku bersiap dengan taksi yang kebetulan lewat sehabis mengantar penumpang. Hari ini sengaja aku tidak memakai motor, supaya terbiasa naik taksi itu juga demi kebaikanku supaya kejadian seperti yang sudah-sudah tidak terulang kembali.


Dan Umi juga menyarankanku untuk membeli mobil agar memudahkanku pergi bekerja.


.....


Operasi berjalan lancar akhirnya, hampir tiga jam aku berada disamping Dinda membantunya melakukan operasi. Alhamdulillah hari ini aku maupun Suster dan Dokter lain sudah menyelamatkan satu nyawa.


Beberapa suster yang ikut dalam operasi tadi berjalan beberapa langkah didepan ku. Mereka jelas sekali sangat cape.


"Aduh," keluh sebuah suara kecil dibawahku, aku yang memang sedang tidak fokus ternyata menabrak sesuatu.


"Bunda!" aku terkejut karna lagi-lagi mendapati Shiran dirumah sakit seperti sebulan lalu. Kali ini siapa lagi yang sakit?


Oh iya, aku baru ingat hari ini hari check up nya Sandra. Dua hari lalu Mas Akmal meminta izin untuk mengantar check up Sandra, tapi dia bilang keluar kota. Kenapa sekarang dirumah sakit ini?


"Shiran, kenapa disini? Siapa yang sakit?" tanyaku sembari membungkukkan tubuhku menyamai tinggi Shiran.


"Mama," jawabannya.


"Mama sakit lagi? Sekarang mamanya dimana?" tanyaku lagi. Shiran mengangguk dan tangannya menunjuk sebuah ruang rawat inap tak jauh dari tempatku berdiri.


"Mama kenapa?"


"Ayah Akmal bilang mama hanya kecapean, Shiran sih gak tau maksudnya," jawab gadis itu polos.


Entah kenapa satu pertanyaan mampir diotakku. Apa semua ini karena kejadian malam itu, malam dimana aku dan Ibunya bertengkar? Dan setelah kepergianku Sandra dan Mas Akmal bertengkar?


Astaghfirullah, mengucap Alina. Apa yang kau pikirkan. Pendek sekali pikiranmu hingga berfikir yang tidak-tidak seperti itu.


"Bunda, ayo kita ketempat mama." Shiran berusaha menarik tanganku. Sedangkan aku hanya diam mematung, aku tidak ingin masuk kedalam. Sudah pasti didalam ada Mas Akmal, dan aku tidak ingin bertemu dengan mereka, setidaknya untuk beberapa waktu.


"Shiran, Tante harus kerja sayang, nanti kalo ada waktu Tante bakal kesana. Sekarang Shiran masuk, nanti mama sama Ayah Akmal nyariin," ucapku. Anak itu awalnya merenggut namun tetap mengikuti perintahku dan memasuki ruang rawat.


.....


Dihari minggu yang cerah aku berniat untuk pulang kerumah Mas Akmal, tapi sebelum kesana aku membantu Umi mencuci baju kotor, dan beberapa piring kotor bekas makan aku dan Umi.


Sekitar pukul satu siang setelah aku mengerjakan sholat dhuhur, aku baru bersiap-siap untuk pergi.


Tiba-tiba ponselku berdering, segera kuraih dan buka pesan itu. Dan betapa terkejutnya aku mendapat pesan dari Dokter Rehan.


Bagaimana kabarnya Alina?


Hari ini aku akan ke rumah mu.


Aku takut Mas Akmal sedang dirumah, dan dia salah paham lagi pada Dokter Rehan. Semoga saja Mas Akmal sedang keluar. Dengan buru-buru aku segera memakai Khimar dan melajukan motorku dijalanan kota siang ini. Alhamdulillah, jalanan hari ini tidak terlalu macet, hingga aku bisa sedikit cepat.


"Assalamu'alaikum Lin," salamnya ramah seperti biasanya. Semoga Rehan tidak ada niat buruk padaku. Pikiranku kini benar-benar terarah ke yang tidak-tidak.


"Waalaikumsalam Rehan," jawabku. Aku ragu untuk menawarkan Rehan masuk karna aku hanya sendiri disini. Dan terlihat juga rumah sangat sepi pastinya Mas Akmal belum pulang.


"Tidak usah takut, aku hanya sebentar," ucap Rehan seperti ia bisa membaca pikiranku.


"Hmmm, tapi diluar seperti ini suamimu tidak akan marah bukan?" tanya Rehan lagi. Aku ragu, tapi kasihan juga Rehan kalau ia berdiri disini. Akhirnya kubiarkan dia masuk dan duduk diteras.


"Begini Lin, langsung keintinya saja, aku hanya ingin memberimu bunga ini. Aku tau bunga ini tidak ada artinya jika aku berikan padamu, tapi setidaknya aku bisa mengungkapkan perasaan ku," ucapnya sejenak sembari menarik nafas. "Aku mencintaimu," mataku melotot, aku benar-benar kaget mendengarnya. Bagaimana aku harus menjawabnya, aku hanya terdiam dan menunduk.


"Kini aku sudah memberi tahu mu, aku harap kau bisa membalasnya," ucapnya lagi. Tapi dari cara bicaranya sungguh menyeramkan, cara bicaranya tiba-tiba sedikit berubah membuat ku menjadi takut.


"Sebelumnya maaf, tapi aku ini sudah menikah, dan aku kini sudah milik suamiku sepenuhnya. Tidak baik untuk wanita yang sudah menikah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, selain suaminya. Aku takut dengan hukuman Allah," ucapku, kini aku mulai bergemetar, aura tegang terus saja mengelilingi ku. Aku hanya menunduk tidak berani melihat Rehan.


"Aku tau itu, tapi kamu bukanlah wanita yang dicintai suamimu. Dia hanya mencintai oranglain!" Ujarnya tegas dan sedikit emosi. Kini aku benar-benar ketakutan, aku takut Rehan melakukan kejahatan padaku.


Aku berdiri dari duduk dan berbicara dihadapannya. "Bukan aku mengusir tapi sebaiknya Dokter pulang, tidak baik untuk kita, takutnya setan menjadi orang ketiga."


"Baikalah aku akan pergi," ucapnya terhenti dan mendekat kearahku, akupun ikut mundur karna takut. "Kau tetap milikku, suatu saat nanti aku akan kembali untuk menjadikanmu istri." Lanjut Rehan.


Astaghfirullah, apa yang orang ini katakan, Apa dia tidak paham agama?


Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam terparkir tepat didepan teras rumah. Tanpa sadar aku menahan nafas, dan sedikit lega juga karna Mas Akmal pulang. Aku tau Mas Akmal akan marah padaku, tapi setidaknya aku kini sudah aman. Tidak mungkin Rehan melakukan kejahatan didepan Mas Akmal.


"Hai, pak!" sapa Rehan. Sedangkan Mas Akmal hanya diam, wajahnya tampak datar seperti sebelum-sebelumnya.


Ketika melihatnya seperti ini aku sering berpikir, apa Mas Akmal berkepribadian ganda? Karna sifatnya sangat sulit dipahami. Kadang lembut perhatian, dan ya kadang seperti ini dingin.


Kutatap Rehan sebentar lalu melihat Mas Akmal yang sudah dalam mode marah.


"Hmmm, ya sudah saya pamit sust, tapi sebelumnya jangan lupakan kata-kata saya tadi." ucapnya sambil tersenyum cilik. Aku tidak tau apa yang akan dilakukannya. Dan kapan itu akan menimpaku.


Setelah mengucap tadi Rehan menghilang dengan mobilnya, dan meninggalkan sebuah buket mawar yang disimpan diatas meja, yang ia bawa tadi. Aku dan Mas Akmal dalam keadaan menyeramkan, kami hanya saling diam.


"Mas..." baru saja aku akan menjelaskan ia sudah terlebih dulu memasuki rumah meninggalkanku.


"Mas!" panggilku lagi. Ia berhenti tapi tidak berbalik menghadapku.


"Harus berapa kaliku beri tahu, jangan bertemu lelaki lain tanpa seizinku, apa kamu tidak menghormati ku sebagai suamimu, dan apakah kamu tidak paham soal larangan yang bukan mahram tidak boleh berduan." bentak Mas Akmal membuatku terlonjak kaget.


"Tapi aku...."


"Bagaimanapun aku suamimu, ingat itu."


Sudah! Sudah cukup aku sabar dan diam. Aku muak!


"Mas bilang Mas suami aku, dan aku harus menghormati Mas. Tapi pernah tidak Mas menganggap aku ini istri Mas? Sudah cukup Alin sabar dan diam Mas, tapi Mas tidak pernah berubah, Alina tau, Alina bukan wanita yang Mas cintai bukan juga wanita pilihan Mas, tapi jika harus Alina berkata jujur Alina cape seperti ini terus. Kurang Alina dimana Mas, coba katakan?! Apa kelebihan Sandra yang tidak ada didalam diri Alin? Apa Mas, apa?" tanyaku. Aku tak sadar jika sudah meninggikan nada suaraku.


"Kenapa? Mas tidak bisa jawab. Apa harus Alina berhenti memperjuangkan pernikahan ini, karena selama ini Mas hanya mencintai Sandra. Apa tidak boleh Alin menggantikan Sandra dihati Mas? Apa hanya orang yang saling mencintai yang bisa menikah? Dan untuk orang seperti Alin, apa tidak boleh merasakan bahagianya menjadi seorang istri dan memiliki mimpi untuk bahagia bersama keluarga kecilnya?! Lalu kenapa Mas menikahi Alin?" tanyaku lagi. Dan kini suaraku benar-benar sudah tinggi sekali, emosiku juga sudah tak terkontrol. Tak sadar air mataku satu persatu mulai menetes dikedua sudut mata.


Mas Akmal terdiam, ia mengacak rambutnya frustasi. Tanpa kata berlalu menuju lantai atas, suara debuman pintu membuatku terlonjak kaget.


Kakiku melemas, aku jatuh terduduk dengan dibanjiri air mata. Rasa sesak seketika memenuhi rongga dadaku. Semua beban yang ada di dadaku seakan menghimpitku.


Seketika ruangan ini kehilangan oksigen sehingga sulit rasanya untuk bernafas. Kugigit bibir bawahku menutup isakan yang sekali-kali keluar dari bibirku.


Kuusap dadaku sembari mengucapkan istighfar beberapa kali, namun rasa itu belum mau menghilang dan dadaku. Ya allah rasa apa ini? kenapa begitu menyakitkan dan menyesakkan.


Walau isakanku sudah tak lagi terdengar namun air mata tetap saja mengalir dari sudut mataku. Namun tak henti aku mengucapkan istighfar agar dadaku yang sesak sedikit mereda. Setelah lumayan baik kuputuskan untuk masuk kamar.


.....


Next✨


Jangan lupa like, komen dan vote cerita ini ya😊 dan terus ikutin ceritanya sampe ending👌👍


Pemberitahuan:


Senin - Jum'at : Up 1 episode, soalnya itu waktu sekolah jadi cuma bisa bikin cerita 1 episode aja. Tapi kalo ada waktu luang pasti lebih dari satu.


Sabtu - Minggu: Diusahain 2/3 episode. Terimakasih 🙂


Jangan lupa follow Instagram ku: @im.silpa🤗