
"Alin?" Seseorang menepuk halus bahu Alina. Alina yang baru saja akan melepas mukena, mengurungkan niatnya.
Alina membalikan tubuhnya menghadap orang dibelakangnya. "Dinda,"
"Kenapa kamu bisa ada disini Lin?" tanyanya lagi.
Alina hanya terdiam enggan untuk bercerita...
"Kenapa Lin?"
"Cerita sama gue, kamu kenapa?" Dinda memegang punggung tangan Alina. Alina terdiam menatap Dinda.
"Lin, udah gue bilang. Ceritakan semua masalahmu agar beban kamu berkurang. Kita ini sahabat Lin." Dinda menggenggam tangan Alina. Air mata Alina menetes.
"Aku gak mau membebani sahabatku dan orang-orang disekelilingku, Din." ucap Alina lirih. Dinda menggeleng.
"Demi Allah Lin, aku tidak pernah merasa dibebani oleh mu."
Alina menundukkan wajahnya. "Dokter Rehan, Din."
"Kenapa?"
"Dia..." Disitulah Alina menceritakan semuanya. Dari mulai insiden penculikan sampai pemukulan terhadap dirinya.
"Astaghfirullah. Terus keadaan kamu gimana sekarang? Dokter Rehan, dasar laki-laki gila!" Dinda geram sendiri mendengar cerita Alina.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, cuman aku takut kenapa-kenapa dengan kandunganku."
"Kamu hamil, Lin? Udah berapa bulan?"
"Baru dua bulan,"
"Ya sudah, lebih baik kita kerumah sakit kita periksa keadaannya, sabar Lin. La Tahzan inallaha ma'ana."
"Hiks... Aku takut kehilangan anakku Din. Aku ikhlas kehilangan suamiku tapi tidak untuk anakku." Dinda memeluk Alina dengan erat. Dinda ikut meneteskan air matanya.
Dinda tahu betul betapa Alina sangat mencintai suaminya. Betapa beratnya jika ia harus kehilangan keduanya, setelah mengikhlaskan Akmal untuk Sahabatnya, apa ia juga harus kehilangan sang janin yang tengah dikandungnya.
"La Haula wala quwwata Illa billah, Lin. Ingat itu Lin. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
"Hiks... Astaghfirullahaladzim..... Astaghfirullahaladzim....." berulang kali Alina beristighfar. Dinda melepas pelukannya dan menatap wajah Alina.
"Aku akan membantumu Lin. Tenanglah ada Allah dan aku disini yang akan selalu berada disisi kamu. Kamu gak sendiri ukhti," Dinda menghapus air mata Dinda yang mengalir dikedua pipi Alina dengan kedua ibu jarinya.
.....
Cerai! Apa harus aku mengikhlaskan Mas Akmal untuknya? Mengingat semua itu kembali air mataku perlahan menetes.
Kepalaku tertunduk, hati dan pikiranku kembali bergemuruh. Ya Allah, ku mohon jika suamiku bukan jodohku maka hapuskanlah semua rasa yang tumbuh dihati hamba. Jangan buatlah aku terus berlarut dalam kesedihan ini.
Kuusap perlahan mataku yang basah. Sayup-sayup suara Al-Qur'an mulai terdengar menandakan waktu Maghrib sebentar lagi akan masuk.
Aku tidak boleh terpuruk seperti ini, ada Allah bersamaku. Aku harus bangun, dan menjalani hari seperti biasanya, ini demi anakku nanti.
Setelah usai menunaikan sholat tidak terasa aku tertidur diatas sejadah. Dan yang anehnya dalam tidurku, aku memimpikan Mas Akmal. Disana ia memintaku untuk memberi tahukan dimana keberadaanku, namun tiba-tiba bayangan Abi juga ada disana. Aku terkaget ketika melihat Abi dengan wajah pucatnya, ia tersenyum sambil menangis padaku, tapi sungguh aku tidak tau itu senyum tangis bahagia atau sedih. Disana Abi berpesan padaku, 'Abi bahagia disini.'
Aku tidak mengerti dengan mimpi yang kualami. Apa maksud dari ucapan Abi dengan Mas Akmal.
.....
Sudah tiga hari setelah kejadian pertengkarannya dengan sang istri. Alina tak pernah pulang lagi kerumahnya.
Dan itu membuat laki-laki yang tengah terduduk dikursi kerjanya mengacak rambutnya frustasi. Apa dia pulang kerumah umi?
Entah pikiran dari mana laki-laki itu menyimpulkan jika sang istri tengah pulang kerumah uminya.
Tak perlu waktu lama, ia langsung mencoba menghubungi umi.
"Assalamu'alaikum umi," ucapnya kepada orang diseberang telepon.
"Waalaikumsalam nak Akmal, ada apa?" tanya umi.
"Apa Alina ada dirumah umi? Beberapa hari ini dia tidak dirumah, Akmal takut dia kenapa-kenapa."
"Tidak, Alina tidak ada dirumah umi, apa kamu sudah menghubunginya?" tanya umi lagi.
"Sudah, tapi ponselnya tidak aktif."
"Mungkin dia tengah keluar dengan teman kerjanya," ucap umi. Tidak mungkin, Alina pergi tanpa bilang kepadaku. Kemana dia sebenarnya?
"Aarrgh..." teriakannya bergema dirumah yang cukup besar itu.
Hingga sore menjelang malam Akmal menanti kepulangan sang istri dirumahnya. Tapi nihil, Alina masih saja tak kunjung datang.
Selepas isya Akmal beranjak dari rumahnya menuju rumah Sandra.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Sandra yang tengah duduk diruang keluarga.
"Aku mencari istriku," jawabnya jujur.
"Tumben sekali kau mencarinya, memangnya Alina kemana?" ucapnya sembari melengkungkan senyum yang dipenuhi muslihat setan.
"Aku juga tidak tau, seingat Mas sudah tiga hari setelah pertengkaran ku dengannya, dia tidak pulang kerumah." jelasnya. Sandra tampak terkejut, keningnya berkerut.
"Alina pergi dia pasti punya alasan, Sudah aku bilangkan Mas, jangan sampe Mas kehilangannya, dia itu istri yang sempurna untuk Mas Akmal. Jika nanti aku menjadi istri Mas belum tentu aku sesabar nya." celutuk Sandra.
Akmal sempat menimbang ucapan wanita didepannya itu lalu ia berkata, "Mas tahu itu Sandra, tapi Mas bingung dengan ini"
"Sudah aku bilang Mas, jika Mas memang tidak bisa menceraikannya maka aku tidak akan pernah menjadi istri Mas, tapi jika Mas ingin aku kembali Mas harus meninggalkannya, aku tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain, cukup sudah kenyang aku dengan luka dimasalalu."
Akmal mengkerutkan keningnya, "Maksudmu apa? Aku ini ditakdirkan untukmu dan Shiran, untuk menjaga kalian, Mas akan menceraikannya tapi tidak untuk saat ini." tegasnya
"Mas..."
"Sudahlah jangan membahas itu, aku cape," ia mengacak rambutnya frustasi, kenapa ia harus berada dalam masalah serumit ini. Kenapa juga ia harus disudutkan pada satu pilihan.
.....
Setelah pemeriksaan dirumah sakit soal kandunganku. Alhamdulillahnya, bayiku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat total supaya badanku sehat, karna insiden kemarin lumayan menyita banyak darahku keluar, jadinya harus lebih berhati-hati dan menjaga kesehatan.
Seperti biasa aku terbangun disepertiga malam untuk menunaikan sholat tahajjud malam ini.
Kuambil wudhu dan segera menghadap ke Tuhanku. Ketika selesai melaksanakan sholat tahajud barulah aku merasakan ketenangan walau perasaan aneh itu masih setia memenuhi hatiku. Dan kejadian mengerikan itu masih saja menghantui tidurku, tapi aku lumayan bisa tidur pulas karna Dinda kini sudah membuat laporan tentang kejadian itu untuk diserahkan ke kantor polisi. Dan aku berharap Dokter Rehan segera bisa dihukum atas perbuatannya yang tidak bisa dimaafkan lagi.
Setelah sholat malam tadi, aku sengaja tidak tidur lagi, karna aku ingin menunggu waktu subuh dan mengisinya dengan mengaji beberapa surat saja. Tapi tiba-tiba hatiku gelisah seperti ada yang mengganjal di hati ini.
Ada perasaan takut dan cemas yang aku rasakan. Entah mengapa tanganku tiba-tiba bergerak menghidupkan ponsel yang sudah tiga hari ini tak pernah aku sentuh.
Ada beberapa pesan dan misscall masuk. Tanpa aba-aba aku langsung membuka pesan dari Mas Akmal. Pesannya berisi pertanyaan mengenai diriku, tapi ada satu pesan yang membuatku terkaget.
Alin, Sandra masuk rumah sakit, sakitnya kambuh dan keadaannya benar-benar kritis. Mas mohon kamu kerumah sakit ya, dia butuh kamu dan Shiran juga nangis terus dia butuh kamu sayang... Pulang ya...
Aku tidak merasa senang dipesan itu Mas Akmal memanggilku sayang. Justru itu menambah sedihku terasa, aku malah merasa aku hanya dibutuhkan ketika ia tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi selain padaku istrinya. Aku merasa aku hanya dijadikan sebagai permainannya.
Air mataku mengalir deras dari pipiku. Dengan segera kukemasi beberapa baju yang bisa dipakai beberapa hari saja, karna bagaimana pun aku tidak akan pernah lagi pulang kerumah itu.
.....
"Kamu yakin bakal kerumah sakit untuk bertemu mereka?" tanya Dinda. Keberadaan mereka kini tengah berada diruang makan, disana sudah berada Dinda, suaminya dan kedua anaknya, tentu denganku juga.
"Insyaallah, bagaimana pun Sandra juga sahabatku, Din. Dia membutuhkan aku sekarang," jawabnya lembut. Dinda sungguh bingung pada sahabatnya yang satu ini, ia bingung terhadap hati seorang Alina itu terbuat dari apasih, hati yang begitu sangat sabar dan dengan mudahnya memaafkan orang, padahal orang itu sudah merusak rumah tangganya.
"Tapi kamu gak usah tinggal lagi dirumah suamimu sementara waktu, kalo urusanmu sudah selesai kamu balik lagi kesini," ucap Erik suaminya Dinda. Alina hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kalo gitu bareng aku aja, Sandra dirawatnya dirumah sakit aku kerjakan?" Alina mengangguk mengiyakan.
Setelah mobil yang Dinda kendarai melaju dijalan kota pagi ini. Dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Sandra.
Ya Allah seburuk-buruknya akhlak manusia, aku percaya didalam hati kecilnya pasti ada kebaikan yang tersimpan. Aku tidak membencinya, aku ikhlas dia bersama suamiku, bagaimanapun dia sahabatku orang yang aku sayangi juga, tolong berikan kesehatan lagi padanya, Shiran masih membutuhkannya Ya Allah, kasihan jika Shiran harus kehilangan ibunya, izinkan Sandra sehat kembali Ya Rabb.
.....
Next✨
Alina emang wanita Sholehah...
Meski sudah tersakiti tapi ia masih peduli. Masyaallah 😊
Kira-kira Sandra gimana ya?
Mati atau sehat lagi?
Kalo dia mati kasihan Shiran, Kalo sehat lagi.. kasihan Alina🤦
Jangan lupa like, komen dan vote dukungan dari kalian sangat berharga loh😊🙏🏻