
Shu sama sekali tidak mengerti akan ucapan Yuki. Padahal dia dengan Yuki baru bertemu, tapi kenapa Yuki mengatakan bahwa ia sudah mencintai Shu sejak dulu.
Ini yang membuat Shu menjadi bingung. Dia yakin bahwa inilah pertama kalinya ia bertemu dengan Yuki.
"Sejak dulu?" tanya bingung Shu.
"Apa kau tidak mengingatnya, Shu?" tanya Yuki dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Maaf, tapi aku sama sekali tidak mengingatnya, Yuki" jawab Shu dengan pelan.
Ia merasa tidak enak kepada Yuki yang mungkin mengenalnya dulu, namun Shu sendirilah mungkin telah melupakannya.
"Mmn, mmn, itu wajar bila kau melupakan,...karena terakhir kita bertemu sudah 10 tahun yang lalu" ucap Yuki dengan diawali sebuah gelengan dan diakhiri dengan sebuah senyuman manis.
Kedua tangannya yang kini sudah tidak memegang senjatanya, saling memegang satu sama lain dan menempelkannya di tengah dada seraya tersenyum manis.
"Kita sudah pernah bertemu 10 tahun yang lalu?"
"Humn..." Yuki mengangguk kecil seraya tersenyum "tepatnya di kelas Bulan" lanjut Yuki.
"Kelas Bulan? Yuki...Yu...Yuci!?"
Shu mencoba mengingat sebuah nama yang mirip dengan nama Yuki dan akhirnya dia menemukan sebuah nama yang nampak tak asing, namun sudah lama Shu lupakan.
"Ya, itu benar! Kau bahkan masih mengingat panggilanku, Shu…" jawab Yuki dengan sangat senangnya.
Tenyata dugaan Shu benar adanya. Yuki adalah teman masa kecilnya yang dulu ia panggil dengan nama "Yuci" dan dulu ia sekelas dengannya pada usia 5 tahun di kelas Bulan.
Tanpa sadar Yuki memeluk tangan kanan Shu, ia merasa sangat senang Shu masih mengingat panggilannya dulu. Dan hanya Shu sendirilah yang memanggil Yuki seperti itu, ia juga merupakan teman pertama untuk Yuki.
"Yuki? Bisakah kau melepaskanku?" tanya Shu.
Bukannya dia keberatan dengan cara Yuki menunjukkan kebahagiaan, tapi ia bisa merasakan dua benda yang kenyal dan empuk serta memiliki ukuran yang lumayan.
Mendengar itu, Yuki langsung melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah dengan wajah yang sedikit memerah. Dia berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya dari Shu.
"Jadi, Shu. Sekali lagi, mau kah kau menjadi pacarku?" tanya Yuki.
Yuki menaruh besar harapan pada Shu, yang kini tahu dia adalah sahabat dekat Shu waktu kecil.
"Maaf, tapi aku tetap tidak bisa, Yuki."
Pada saat itu juga air mata Yuki jatuh dari mata violet indahnya itu. Sebuah harapan yang ia junjung tinggi, sekarang jatuh hingga dasar terbawah.
"Kenapa?! Kau membenciku, Shu?" tanya Yuki dengan sedikit menaikan nadanya.
"Aku tidak membencimu, tapi aku juga tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai seorang teman masa kecil sekaligus sahabat."
Seraya mengucapkan kalimat itu, Shu menghapus air mata yang berada diwajah Yuki sambil tersenyum kecil padanya.
Yuki sedikit terkejut akan hal yang dilakukan Shu. Inilah hal yang paling ia rindukan dan inginkan, sampai-sampai sebuah dunia diberikan tidak akan cukup untuk membeli atau mengganti hal yang ia alami sekarang. Yaitu perhatian dari seorang Shu.
"Lagipula kau adalah sahabat paling berharga dan juga sahabat pertamaku, Yuki" lanjut Shu.
Wajah Yuki pada saat itu langsung meledak malu dan tak percaya akan omongan Shu. Wajahnya yang memerah merona di seluruhannya, serta ekspresi malu sekaligus terkejut, tangan yang sedikit bergemetar seakan ini melompat-lompat karena luapan kebahagiaan yang begitu besar ingin ia keluarkan dan kaki yang ingin bergerak untuk memeluk seseorang di depannya.
Sementara Shu bingung, kenapa Yuki bisa berekspresi seperti itu. Padahal dirinya hanya mengatakan hal yang sejujurnya saja dan tidak bermaksud untuk melebih-lebihkannya.
"Selamat Shu ku/Luther ku..." ucap Lucy dan juga Miry secara bersama-sama dengan nada dingin.
"Apanya?" tanya kebingungan Shu. Ia tidak mengerti maksud kata selamat yang diucapkan oleh Lucy dan juga Miry.
"Bukan apa-apa, dasar bodoh!" jawab mereka berdua dengan nada yang semakin meninggi.
"Hah...?"
Dan sekarang Shu tidak tau kenapa Lucy dan Miry menjadi marah seperti itu. Ia hanya diam saja agar tidak mengucapkan sesuatu yang salah.
"Anuu, Shu..., bisakan kau melepaskan sekarang melepaskanku? Hal ini semakin membuatku malu dan akan gawat bila seseorang melihat kita berdua" ujar Yuki yang masih dengan muka memerah.
Tanpa ia sadari, Shu masih memegang pipi lembut dan halus dari Yuki.
Dengan cepat Shu langsung melepaskan tangannya dari wajah Yuki lalu mundur beberapa langkah dengan muka yang juga sedikit malu.
"Sudah saatnya kita kembali, aku yakin kakak dan adikku sudah pasti mengkhawatirkan kita" ujar Shu yang memecahkan keheningan sesaat.
Yuki hanya mengangguk ringan dan mengikuti langkah Shu dari samping kanan.Di tengah jalan Shu dan Yuki bertemu Asuka, Haruka dan Haruki.
Mereka bertiga langsung menghampiri Shu, yang langsung merebut Shu dengan menarik dan memeluk kedua tangannya, seakan-akan Yuki tidak bisa dekat dengan Shu.
"Kak Shu, kenapa kau bersama kucing garong itu?" tanya Haruka.
Yuki yang berada didekat hanya bisa tersenyum manis dan salah satu alis matanya berkedut-kedut menahan rasa kesal, karena baru kali ini ia disebut "kucing garong" oleh seseorang.
"Benar itu, Kak. Kenapa Kakak mau bersama kucing garong itu?" tambah Haruki.
"Apa saja yang kau sudah lakukan dengan kuci-ehem maksudku Kanzaki, Shu?" Asuka pun ikut bicara, nadanya seperti melihat pacarnya sedang berduaan dengan wanita lain. Begitulah nada bicara dari seorang Asuka.
Yuki hanya bisa tersenyum manis sambil mencoba mengabaikan kata-kata "kucing garong". Dia tidak menyangka akan di panggil seperti itu oleh keluarga Shu lainnya.
"Kumohon tenanglah kalian bertiga. Yuki tadi menolongku, jadi jangan terlalu berlebihan seperti itu" jawab Shu dengan mencoba menerangkan secara singkat.
Tidak mungkin bagi Shu untuk mengatakan keseluruhan kejadian, termasuk pertarungan dia dengan Evil Nightmare, sang wanita misterius.
Shu lebih baik mengatakan hal yang singkat namun tidak ada kata bohong, tapi tidak secara keseluruhan.
Shu hanya membalas dengan sebuah senyuman kecil, mencoba untuk menyakinkan ketiga keluarganya itu.
Setelah itu mereka berlima langsung berjalan untuk pulang dari festival sakura dengan Shu yang mengandeng tiga gadis cantik sekaligus, yaitu Asuka, Haruka dan Haruki.
Sementara Yuki hanya bisa berjalan disamping kanan Shu, yang berkeinginan untuk mengandeng tangan Shu juga. Tetapi Shu sudah dijaga ketat oleh ketiga saudaranya itu, sehingga Yuki tidak bisa melakukannya.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka berlima bisa naik kereta cepat di stasiun terdekat.
Namun Yuki turun di perhentian sebelumnya karena ada suatu urusan, Shu, Asuka, Haruka dan juga Haruki hanya bisa setuju saja.
Mereka pun telah sampai di Tokyo, setelah 10 menit lebih menaiki kereta cepat.
Pada perjalanan ke rumah pun mereka masih tetap seperti perjalanan pulang dari festival, yaitu bergandengan tangan.
Untungnya selama perjalanan tidak banyak orang berlalu lalang, bila tidak Shu akan merasa malu dengan membawa tiga gadis cantik yang sedang mengandeng erat tangannya. Dan langsung di cap sebagai playboy bila dilihat oleh para wanita.
Akhirnya setelah berjalan kaki lebih 20 menit, mereka berempat sampai di depan rumahnya.
"Shu, malam ini kau harus tidur bersama kami. Tidak ada kata 'tidak' untuk menolak, ini sebagai hukumanmu" ujar tiba-tiba dari Asuka. Shu yang mendengarnya langsung kaget dan seketika merinding langsung.
"Apa kau mendengarkanku, Shu?" tanya Asuka dengan nada yang sedikit mengancam.
"Baiklah, Kak Asuka" jawab lemas Shu dengan pasrah.
"Yey~~~!" Haruka dan Haruki berteriak penuh kesenangan. Sementara Asuka menaruh senyuman kecil pada Shu.
Mereka berempat langsung berjalan masuk begitu pintu rumah dibuka dan dikunci rapat, namun ditengah jalan menuju kamar milik Shu, tiba-tiba Shu berhenti.
"Kakak , Haruka dan Haruki, kalian duluan saja. Aku harus ke kamar mandi dulu" ucap Shu dengan sedikit memohon.
Mereka bertiga pun menyetujui permintaan Shu, lagipula pintu rumah sudah dikunci dan kuncinya sedang di bawa oleh Asuka. Jadi tidak mungkin Shu bisa kabur dari mereka.
Shu pun langsung berjalan ke arah kamar mandi yang berada dilantai satu dekat tangga sebelah kanan. Ketika Shu sudah memasuki kamar mandi dan menutup pintunya.
Barulah mereka menyadari suatu kesalahan yang telah mereka bertiga lakukan. Dengan cepat mereka langsung turun kembali dan menggedor-gedor pintu kamar mandi yang dimasukin Shu. Karena sudah beberapa kali memanggil nama Shu, namun tidak ada jawaban darinya.
Mereka bertiga langsung mendobrak pintu menggunakan sihir Boost secara bersama-sama. Disanalah mereka menemukan sebuah kamar mandi yang kosong dan tidak ada sosok Shu berada didalamnya.
Wajah mereka bertiga menunjukkan kekesalan dan sedikit kemarahan.
"Shu/Kak Shu/Kakak!!!!" teriak mereka bertiga.
####
"Hahhh......" hela nafas panjang Shu.
Dia sekarang sedang berbaring di padang rumput dekat sebuah pohon yang rindang, di Unknown World.
Shu sedang menikmati indahnya bintang di Unknown World yang memiliki cahaya yang lebih bersinar daripada di Midgard.
"Shu ku, aku tidak habis pikir kau menggunakan Mana yang tersisa hanya untuk kabur dari saudaramu saja?" tanya Lucy.
"Iya, apakah ada masalah? Bagiku bila kita berempat sekamar akan ada hal buruk yang terjadi dan aku tidak ingin hal itu terjadi" jawab panjang Shu.
"Kau benar-benar diluar pikiranku, Luther ku" tambah Miry
Bagi Shu semalaman dengan Asuka, Haruka, dan juga Haruki bagaikan sebuah neraka yang mengerikan. Oleh sebab itu Shu memilih untuk kabur.
Namun dalam keheningannya Shu masih terpikir siapa wanita misterius yang bernama Evil Nightmare.
Sesosok wanita yang sangat misterius dengan kekuatannya yang juga merupakan kemisteriusan.
>>>>>>
Seorang prajurit berpakaian zirah ringan dengan lambang pohon di bahu tangannya, dia sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat.
Saat dia menemui sebuah ruangan dengan dua pintu besar yang disana terlambang sebuah pohon yang berwarna emas.
Prajurit itu mengetuk 3 kali dengan pelan sebelum memasuki ruangan yang redup dan hanya bercahayakan sinar bulan yang menebus dari jendela-jendela di samping kiri dan kanan.
Terlihat sesosok gadis yang sedang menatap kolam kecil didepannya, dia duduk sambil terus memperhatikan kolam itu.
Prajurit itu memasuki ruangan dengan langkah yang amat pelan berusaha tak mengganggu gadis itu.
"Ada hal apa kau datang di malam yang indah ini?" tanya sang gadis.
Mendengar gadis itu bicara, prajurit itu berhenti dan langsung hormat layaknya kesatria yang menghadap ke penguasanya.
"Ada suatu hal yang harus saya sampaikan kepada anda, Yang Mulia" jawab si prajurit.
"Katakan..."
si gadis itu nampak masih fokus dengan kolam yang berada didekatnya dan tidak melihat sedikitpun ke arah prajurit itu.
"Faksi Demon, Hero, dan Angel sudah mulai menunjukkan pergerakan. Sementara Faksi Fallen Angel, Demigod dan God masih belum ada pergerakan sedikitpun."
"Terus awasi Faksi Demigod, Fallen Angel dan God, aku yakin mereka tidak terlalu bodoh untuk melewatkan kesempatan emas itu" perintah dari si gadis.
"Baiklah, Yang Mulia."
Prajurit itu langsung undur diri dan pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
"Akhirnya kita akan bertemu sebentar lagi, Black Blood Sacrifice Moon..." ucap pelan gadis itu.