The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 27 : Permusuhan dan Rival



Alex tidak habis pikir akan keberadaan Sherlinia di Midgard sebagai murid pindahan baru untuk kelasnya. Ditambah bagaimana bisa Sherlinia diijinkan oleh Odin untuk tinggal dan hidup seperti manusia pada umumnya.


Ditambah Alex baru paham akan ucapan kemarin malam di Moon Arena, namun ia tidak menduga akan secepat itu bertemu dengan Sherlinia dikelasnya sendiri.


Terlepas dari itu semua, Alex merasakan semua tatapan mata di kelas tertuju padanya. Tatapan mata itu penuh dengan rasa penasaran tentang ucapan Sherlinia yang berkata bahwa dia ke Akademi Tokyo untuk bertemu Alex, seperti ada sebuah hubungan seperti teman jauh, pacar dan sebagainya.


Namun tidak semua mata melihat Alex dengan seperti itu, duq diantaranya merupakan tatapan dari seorang pembunuh yang begitu tajam dan haus darah.


Alex tahu pasti siapa dua orang yang menatapnya seperti seorang pembunuh, mereka berdua ialah, Alice dan Yuki. Walau Yuki tersenyum kecil serta Alice diam seperti tidak peduli, namun Alex dapat melihat hawa hitam yang mengerikan sekali.


Seperti ada topeng iblis dibalik badan mereka yang tengah tersenyum menyeramkan pada Alex, itulah gambaran samar yang Alex lihat. Sementara dirinya berusaha tersenyum masam dari hawa yang terus menusuk-nusuk


"Duduklah disana, Sherlinia" seru guru yang masuk bersamaan dengan Sherlinia.


Seperti yang diperintahkan oleh guru itu, Sherlinia berjalan ke tempat duduknya. Terus terang dirinya kecewa karena tidak bisa duduk didepan Alex atau disampingnya, karena tempat duduknya berada di deretan ketiga dari kiri. Yang berarti Sherlinia berada disamping kanan dari Yuki.


Ia tidak bisa memandangi Alex dari dekat seperti diposisi Yuki, jika dirinya berada disitu akan lebih enak melihat Alex dalam jarak sedekat itu.


Kemudian dikepala Sherlinia terlintas ide yang memberitahu dirinya cara agar bisa duduk didekat Alex dan bisa terus mendekati dia.


Begitu lonceng tanda jam istirahat dimulai, Sherlinia langsung menjalankan rencananya dengan menghampiri tempat duduk dari Yuki yang berada disamping kirinya.


Yuki menjadi bingung dengan kedatangan murid pindahan baru itu yang tiba-tiba berdiri disampingnya. Ia merasakan sesuatu yang kurang nyaman akan kehadiran dari Sherlinia sejak perkataan saat perkenalan, dia seakan-akan atau memang ingin merebut Alex darinya. Lebih tepatnya seorang persaing baru.


"Kanzaki Yuki kan?" Sherlinia terlebih dulu memastikan kalau ia tidak salah menyebut nama orang yang sempat disebutkan oleh guru pengganti tadi.


"Ada apa, Greeice? Apa ada hal yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Yuki yang mencoba memberikan hawa berteman pada Sherlinia.


"Kau bisa memanggilku Sherlinia jika mau, Yuki" ujar Sherlinia yang saling membalas dengan hawa berteman pada Yuki.


"Baiklah, Sherlinia. Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya sekali lagi hati Yuki. Walau Sherlinia berkata seperti itu, Yuki tetap kurang nyaman dengan hawa yang dibawa Sherlinia.


"Sekarang juga aku akan menantangmu berduel, Yuki" seluruh murid kelas langsung memalingkan pandangannya kepada Yuki dengan Sherlinia.


Mereka semua terkejut mengetahui Sherlinia langsung menantang Yuki di hari pertama ia bersekolah, terlebih Yuki merupakan salah satu murid terpilih yang mungkin akan menjadi anggota Twelve Paladins ditahun kedua. Itu berarti kekuatan Yuki sudah setara dengan anggota Twelve Paladins lainnya.


Yuki yang mendengar permintaan dari Sherlinia langsung mengerutkan keningnya dan ikut berdiri, menghadap Sherlinia dengan tatapan tajam. Ia tidak menduga kalau si murid pindahan baru langsung menantang berduel dengannya dan Yuki sendiri tidak tahu maksud tujuan Sherlinia melakukan itu. Namun, yang ia ketahui sekarang ini adalah Sherlinia telah mengibarkan bendera perang padanya.


"Baiklah, aku menerima tantanganmu. Lalu apa permintaanmu bila menang, Sherlinia?" Sudah menjadi kewajiban sebelum memulai pertarungan kedua pihak memberitahukan permintaan bila satu diantara mereka menang.


"Bila aku menang, aku akan duduk ditempatmu dan kau harus duduk ditempatku selama setahun lebih" ujar Sherlinia dengan tersenyum kecil.


Sekarang Yuki sudah langsung tahu maksud tujuan Sherlinia menantangnya untuk berduel, semua itu karena Sherlinia ingin dekat dengan Alex serta menjadikannya sebagai rival atau persaing dalam merebut hati Alex.


"Kalau aku yang menang, kau harus menjaga jarak dengan Alex sejauh 2 meter selama satu tahun" Sherlinia langsung setuju dengan mengangguk kecil.


Mereka berdua saling mengeluarkan hawa hitam penuh permusuhan kepada satu sama lain dengan tatapan tajam. Semua murid dikelas A-1 merasakan Mana yang begitu negatif menyelimuti seluruh ruangan kelas, siapapun yang berada dijangkauan akan langsung menyadarinya. Kecuali Alex, yang dari awal sudah tertidur nyenyak tanpa tahu apa yang terjadi didekatnya dan terlibat dengan apa.


Yuki dan Sherlinia sama-sama mengibarkan bendera perang serta permusuhan diantara mereka berdua. Mereka memiliki niat, tujuan, dan cinta yang sama.


"Shu!!! Kau harus melihat pertarungan kita!!" seru keras Yuki dan Sherlinia dengan kompak.


"Hah? Ada apa?" Alex sontak terbangun dan bertanya-tanya akan kejadian yang ia lewatkan tadi saat tengah tertidur pulas.


Setelah dijelaskan oleh Alice yang mendatangi Alex begitu dirinya bangun, sekarang ia tahu kenapa Sherlinia menantang Yuki untuk berduel dan Alex sendiri tidak mengira kalau semua itu hanya sekedar dari masalah sepele saja.


Ia pun menyetujui untuk melihat pertarungan mereka tanpa berusaha melerai atau menghentikan duel mereka. Alex berpikiran kalau lebih baik mereka berdua menyelesaikan masalah itu dengan berduel, supaya tidak ada keributan lain akan terjadi gara-gara masalah yang sama.


######


Sekarang Alex sedang duduk disalah satu tribun di Moon Arena bersamaan dengan hampir seluruh murid angkatan ke-125 yang juga ingin melihat pertarungan antara Sherlinia dengan Yuki.


Walau penonton duel sekarang ini tidak seramai disaat Rein menantang Alex, namun sorakan dari penonton tidak kalah ramainya.


Begitu keduanya memasuki Moon Arena, sorakan dan kemeriahan penonton semakin besar dan keras. Mereka penasaran dengan siapa yang akan memenangkan duel itu, namun paling banyak suara yang mereka taruh untuk pemenang ialah Yuki. Sebab dirinya merupakan murid terpilih yang kedepannya akan menjadi bagian dari Twelve Paladins.


Yuki sudah berada disisi kiri dari Moon Arena, sedangkan Sherlinia berada di kanannya. Mereka berdua menggunakan senjata latihan yang berupa tombak untuk Yuki serta pedang dan perisai untuk Sherlinia.


Alasan kenapa mereka berdua menggunakan senjata untuk latihan adalah mereka tidak bisa mengeluarkan secara penuh dari masing-masing kekuatannya. Ditambah mereka berdua telah menyepakati bahwa dilarang menggunakan sihir apapun dan hanya boleh menggunakan senjata fisik seperti, pedang, perisai, tombak, panah dan lain-lainnya.


Begitu duel dimulai, kedua belah pihak langsung maju dengan berlari kencang seraya melancarkan serangan kepada masing-masing lawannya.


Terjadi benturan keras antar dua senjata yang saling beradu satu sama lain, Yuki dan Sherlinia masing-masing imbang dalam segi kekuatan fisik mereka.


Alex mengira kalau mereka hampir memiliki kekuatan fisik yang sama, itu terbukti dengan benturan keras dari kedua senjata mereka. Namun ia tidak tahu bagaimana tingkat kekuatan mereka berdua jika sudah menggunakan seluruh kekuatan penuhnya, dimana Yuki menggunakan Gae Bolg dan Bundie serta Sherlinia yang mengeluarkan Destroyer Odin Sword dan Protector Nine Shield.


Yang pasti sekarang pertarungan mereka akan berlangsung lama sekali sampai salah satu dari mereka menyerah atau kehabisan senjata pengganti untuk berduel.


Empat jam kemudian…


Alex juga merasakan hal yang sama, ia tidak mengira akan menjadi lama sekali duel diantara Yuki dengan Sherlinia. Ditambah mereka berdua sudah berganti-ganti senjata lebih dari 10 kali, karena senjata mereka yang gunakan menjadi rusak, patah, dan hancur.


Itu disebabkan oleh setiap kekuatan dan daya tahan dari kedua senjata yang tidak bisa diimbangi dengan jumlah kekuatan yang sangat besar.


Dan sekarang yang akan menjadi pemenang, tergantung senjata siapa yang akan rusak duluan, karena senjata yang mereka pegang sekarang itu adalah senjata latihan terakhir yang tersisa. Sebab semuanya sudah tidak bisa dipakai lagi, oleh karena itu senjata siapa yang rusak terlebih dahulu maka dialah akan kalah.


Alex berharap jika salah satu senjata dari mereka rusak itu akan menjadi akhir dari duel yang panjang ini dan mereka bisa saling berbaikan satu sama lain.


Sherlinia memulai serangan maju dengan kecepatan yang seiring waktu bertambah cepat. Ia memikirkan cara agar senjata milik Yuki bisa hancur duluan, dengan begitu dialah yang akan menjadi pemenang dan dapat duduk disamping Alex.


Yuki juga memikirkan hal yang sama dengan Sherlinia akan rencana untuk menghancurkan senjata lawannya dan mempertahankan tempat terbaik untuk melihat serangan memandang Alex dari dekat.


*Kzztttt… jdarrrrr!!


Tiba-tiba terjadi sebuah sambaran petir yang terjadi ditengah-tengah dari Moon Arena, Mereka berdua yang hendak menyerang menjadi sedikit terkejut akan sambaran petir yang sangat kuat terjadi di depannya.


Padahal cuaca saat duel tidak ada tanda-tanda badai petir atau semacamnya, mereka berdua mengira kalau sambaran tadi merupakan sihir dari seseorang.


"Kalian berdua berhenti sekarang!!! Atas nama dari Paladins of One, duel ini dihentikan dan diberikan hasil imbang!" seorang gadis berteriak cukup kencang dari pojok dari sisi kanan tribun.


Dari suaranya saja, Alex bisa tahu siapa yang telah berteriak dan menghentikan duel diantara Yuki dan Sherlinia. Dia adalah Nagasawa Rein, The Paladins of One.


Yuki dengan Sherlinia menjadi sangat kesal dan kecewa akan keputusan Rein yang tiba-tiba menyuruh keduanya untuk berhenti bertarung disaat pertarungan mereka berdua akan berakhir. Tetapi mereka berdua tidak bisa menolak keputusan dari Rein, karena itu keputusan mutlak dari peraturan Akedemi Tokyo.


Salah satu hak istimewa ketika menjadi seorang anggota dari Twelve Paladins adalah dia mendapatkan kewenangan diatas guru biasa untuk mengatur seluruh murid di Akademi Tokyo, bila ada suatu masalah yang tidak kunjung selesai dan sebagai penerap hukum.


Walaupun begitu, anggota Twelve Paladins tidak bisa sewenang-wenang menggunakan atas nama dari peringkatnya sendiri untuk mengatur hukum yang dinilai untuk kepentingan pribadinya saja. Jika dia melakukan itu, maka dirinya akan langsung dikeluarkan dari Twelve Paladins bersamaan sebagai murid Akademi Tokyo.


Alasan kenapa Rein menghentikan duel ialah, semua kegiatan pembelajaran dikelas A-1 dihentikan atau tidak ada satupun guru yang bisa mengajar dikelas itu dikarenakan duel yang masih berlangsung lama sekali.


Itulah duel diantara Yuki dengan Sherlinia harus dihentikan dan memberikan hasil imbang untuk keduanya. Rein menentukan secara sepihak bahwa hasil imbang yang dia berikan adalah setiap hari ditempat duduk sebelah kanan dari Alex akan digunakan secara bergiliran hingga satu tahun. Yang berarti setiap hari Yuki dengan Sherlinia harus bergantian tempat duduk dikanan Alex selama satu tahun.


Mereka pun menerima hasil seimbang yang diberikan oleh Rein karena menurut mereka hasil itu sama-sama tidak merugikan diantara Yuki dengan Sherlinia.


Alex yang mendengar itu, juga menyetujui keputusan Rein agar tidak ada lagi masalah yang sama akan terulang kembali dan mensyukuri kedatangan Rein untuk menghentikan duel mereka berdua.


Setelah itupun semua murid kelas A-1 kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran terakhir sebelum bel pulang.


Disaat Alex tengah sendiri dibelakang, Rein secara cepat menghampirinya dengan sihir lalu menyuruh Alex untuk mendatanginya besok dikantin saat jam istirahat. Alex hanya mengangguk pelan akan perintah Rein dengan rasa penasaran kenapa dia tiba-tiba menyuruhnya seperti itu.


########


Keesokan harinya, Alex kembali duduk dengan rasa kantuk yang masih tersisa akan efek dari tidur bersama ketiga saudarinya lagi.


Disampingnya terdapat seorang tengah memandang Alex dengan senang sekali, dia adalah Sherlinia yang sekarang duduk disamping kanan dari Alex. Menurut hasil imbang kemarin, hari ini merupakan giliran Sherlinia untuk duduk disamping kanan Alex. Sedangkan Yuki berada ditempat duduk Sherlinia sebelum bertukar, Ia hanya bisa melihat Alex dari jarak yang baginya sedikit jauh itu.


Namun Yuki harus berat hati menerima keputusan hasil seimbang dengan bersabar dan menantikan hari esok untuk bisa duduk disamping Alex lagi.


"Emnnn, etto, emmnnnn, s-selamat pagi…" seru gadis kecil yang berdiri didepan pintu kelas A-1. Semua pandangan murid sekelas langsung melihat kearah dia dengan ekspresi tidak percaya.


Gadis itu memiliki berambut hijau limau, mata merah delima, memakai jaket pink dengan kerudung berbentuk kuping kucing, rok pendek berwarna merah tua dan dia memeluk sebuah boneka kucing.


Alex yang merasa pernah mendengar suara imut, manis serta malu-malu itu langsung melihat kearah depan. Ternyata suara itu merupakan suara dari gadis yang dulu Alex jumpai di gang dan mengantarkannya ke Festival SMP Tokyo.


"Kakak benar-benar ada disini ternyata!" ujar gadis kecil itu yang langsung mengetahui keberadaan Alex dari kejauhan.


Gadis itu langsung berlari kecil dan menghampiri tempat duduk Alex dengan senyum manis serta sangat senang melihat Alex ada dikelas yang dia kunjungi itu.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Alex dengan nada ramah dan lembut sambil tersenyum kecil pada gadis itu.


"Untuk, Emnnn bertemu dengan kakak, hehehe" jawab gadis kecil itu seraya duduk diatas pangkuan Alex dengan boneka kucing putihnya.


"Tidak boleh?" tanya gadis itu dengan nada yang memelas dan berkaca-kaca matanya agar Alex memperbolehkan duduk di pangkuannya. Alex mengangguk kecil seraya mengelus-elus kepala si gadis kecil, yang berarti Alex tidak mempermasalahkan kalau dia duduk disitu.


Sedangkan Alex merasa wajar saja ketika gadis kecil seperti dia membutuhkan perhatian dan dimanja olehnya, namun yang ia herankan kenapa gadis ini bisa ada di Akademi Tokyo dan dapat menemukannya dikelas Alex sendiri.


"Shu…" panggil Yuki yang mendekatinya.


"Kenapa, Yuki?" tanya heran Alex yang melihat raut muka Yuki yang terlihat sedikit pucat dan terkejut.


"Apa kau tidak tahu siapa dia, Shu?" tanya Yuki untuk memastikan bahwa Alex benar-benar tidak tahu siapa gadis yang sedang duduk diatas pangkuannya.


"Tidak, memangnya siapa?" Alex semakin heran dengan ekspresi terkejut semua murid di kelasnya, termasuk Alice, Yuki dan Sherlinia.


"Dia adalah Himetsuki Fu, The Paladins of Two…"


"Hahh???"