The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 11 : Harga Yang Harus Dibayar



"Dimana ini???" tanya kebingungan Shu.


Shu melihat sekitarnya dan hanya ada padang rumput seluas mata memandang, seperti sebuah tempat di Unknown World.


Namun setelah memandang lebih detail lagi terdapat seorang gadis berpakaian kasual serba hitam.


Dia memiliki mata kuning tua, rambut pirang pucat, di kepalanya terdapat sebuah mahkota hitam serta sebuah bunga violet kecil, memakai kasual gaun kecil hitam dan dipunggungnya terdapat sepasang sayap hitam legam.


Shu bertanya-tanya siapa gadis itu dan sedang apa dia disini. Seharusnya di Unknown World tidak ada seorangpun selain Shu sendiri.


"Siapa kau?" tanya Shu.


Pada saat bersamaan juga gadis itu berjalan kearah Shu dengan sebuah senyum kecil di wajah.


Shu yang melihat gadis itu mendatanginya langsung bersikap waspada akan sosoknya yang terlihat sangat misterius dan membahayakan.


"Benar juga, kau belum melihat wujudku yang asli, kan?" tanya gadis itu dengan sedikit tersenyum.


Dari suaranya Shu seperti familiar dan pernah mendengarnya di setiap hari, bahkan hampir setiap saat. Ini adalah suara-


"Benar juga…, kau belum melihat wujud asliku kan, Shu ku? Ini aku Lucy…" ucap Lucy dengan senyum manis.


Wajah Shu terkaget akan sosok yang didepannya itu, dia tidak mengira gadis itu adalah sahabat terbaiknya selama ini.


"Apa kau begitu terkejutnya melihat wujud asliku ini?" goda Lucy.


"Benar, aku tak mengira kau secantik ini, Lucy…" puji Shu dengan sebuah senyuman kecil.


Lucy langsung salah tingkah setelah mendengar pujian dari Shu, dan wajahnya memerah bagaikan tomat.


"Lalu, kalau ada kau, pasti dia juga disini. Dimana dia?" tanya Shu.


"Sebentar lagi dia akan datang juga."


Lucy seolah-olah tahu maksud dari Shu dan melirik kearah sampingnya.


Muncul secercah cahaya yang menyilaukan mata Shu dan ketika sudah mereda muncul sesosok gadis cantik yang memiliki sepasang sayap putih suci.


Dia memiliki mata kuning keemasan, rambut putih panjang dengan poni lurus didepan, memakai gaun layaknya gaun pengantin dan memiliki sepasang sayap putih yang indah.


"Miry?" tanya Shu untuk memastikan apakah dia benar-benar Miry yang ia kenal.


"Humn…" jawab Miry dengan mengangguk kecil dan tersenyum.


"Bagaimana denganku, Luther ku?" tanya lanjut Miry.


Shu tersenyum sesaat, dia mengetahui maksud perkataan Miry.


"Kau juga terlihat cantik, Miry" ujar Shu.


Sama seperti Lucy, Miry juga memerah dan menjadi salah tingkah karena pujian dari Shu.


"Lucy, Miry, sebenarnya dimana ini? Dan mengapa aku disini?"


Lucy dan Miry saling melihat satu sama lain lalu mengangguk kecil dan kembali menatap Shu dengan pandangan yang serius.


"Shu ku, kau sudah melebihi batas dalam penggunaan kekuatan kami berdua."


"Dan disini ada alam bawah sadarmu, Luther ku. Ini berarti kau sedang dalam masa kritis karena pertarunganmu dengan Carissa" lanjut Miry.


"Apakah aku dalam kondisi koma?" tanya lagi Shu.


"Benar…" jawab Lucy dan Miry dengan kompak.


"Bila kau sedikit lebih lama lagi dalam menggunakan kekuatan kami, maka nyawamu dalam bahaya" sambung Lucy.


"Kau seharusnya tau, Luther ku. Kekuatan kami saling bertolak satu sama lain dan bila kau menggabungkannya maka akan terdapat efek samping yang ditimbulkan akan sangat parah."


"Apa maksudnya?" tanya Shu.


"Kau akan menerima efek samping dari penggunaan kekuatan kami, Luther ku" jelas singkat Miry.


Shu mencoba menelan segala informasi yang dia terima lalu memikirkannya.


"Efek samping seperti apa?" tanya Shu.


"Kau akan segera mengetahui dengan sendirinya" jawab Lucy.


"Sebagai tambahan, kau tidak akan bisa menggunakan sihir tingkat tinggi untuk beberapa hari, Luther ku" tambah Miry.


Semakin lama pandangan Shu semakin memudar dan menjadi tidak jelas.


Ia memegang kepalanya dan mencoba memfokuskan Mana nya ke mata, namun penglihatannya masih saja kabur.


"Sampai jumpa lagi, Shu ku/Luther ku…" ucap Lucy dan Miry secara bersama dengan diakhiri sebuah senyuman manis.


Seketika itu pandangan Shu menjadi hitam total dan sama sekali tidak melihat apapun, kecuali ruangan yang gelap gulita.


"Shu…, Shu…, Shu…"


Sebuah suara memanggil Shu ditengah kegelapan yang abadi.


Itu adalah sebuah suara yang dikenal oleh Shu sendiri. Suara dari salah satu orang yang berharga baginya.


Secara pelahan, Shu mulai membuka matanya yang tertutup dan melihat sesosok kakak yang ia sayangi sedang menitikkan air matanya melihat dirinya sedang kekapar di UKS.


"Kakak?" ucap pelan Shu.


Dia melihat Asuka sedang menangis didadanya. Mendengar rintih kata Shu, Asuka langsung bangun dari dadanya Shu dan memandang Shu dengan wajah kekhawatiran yang begitu jelas terlihat.


"Shu!!!" Asuka langsung memeluk erat Shu yang baru duduk, "dasar bodoh, kenapa kau melakukan hal senekat itu, Shu?" dalam pelukannya sendiri, Asuka masih menangis senang akan Shu yang akhirnya sudah sadar dari pingsannya.


"Maafkan a--"


Secara tiba-tiba Shu tidak melanjutkan perkataannya, karena baru menyadari sesuatu hal yang penting terjadi pada dirinya.


"Kenapa mata kiriku menjadi buta begini? Dan mengapa mata kananku menjadi sangat rabun?" tanya Shu dalam hati.


Ia baru menyadari pandangannya menjadi sangat buruk ketika tengah dipeluk oleh Asuka.


Pandangan mata kanannya sangatlah rabun, sementara mata kirinya buta total, hingga tidak bisa melihat secercah cahaya sekalipun.


Namun, Ada satu hal yang sedang Shu pikirkan saat ini, yaitu apakah efek ini hanya sementara atau permanen?


Itulah hal yang sedang dipikirkan oleh Shu, selain itu apakah kebutaan ini saja efek sampingnya? Atau masih ada efek lainya lagi?


"Shu, apa kau baik-baik saja?" tanya Asuka seraya melepaskan pelukannya.


Dia heran terhadap Shu yang sedari tadi hanya diam termenung saja, seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting.


"A-aku baik-baik saja, Kakak. Tidak perlu khawatir seperti itu, aku hanya kecapekan saja" ujar Shu dengan sebuah senyuman palsu.


Shu tidak mau Asuka khawatir akan indera penglihatannya yang buruk dan buta sebelah. Lebih tepatnya dia tidak mau kerepotan akan sifat kekhawatiran Asuka yang berlebihan, belum lagi dengan sifat berlebihannya Haruka dan Haruki.


Dan Shu lebih memilih berbohong kepada Asuka, baginya ini bukan masalah besar dan memilih merahasiakannya.


"Sebaiknya kau banyak beristirahat, Shu" Asuka tersenyum ringan sambil menghapus air matanya.


Shu hanya menjawabnya dengan mengangguk kepalanya pelan seraya tersenyum masam.


"Kak, sudah berapa lama aku pingsan?" tanya Shu.


Ia melihat sekitar namun karena penglihatannya Shu hanya melihat ruangan yang gelap dengan cahaya orange.


"Kau sudah pingsan selama 10 jam lebih" jawab Asuka.


Berdasarkan jawaban Asuka, Shu mengira sekarang sudah sekitar jam 5 sore.


"Sebaiknya kita segera pulang, Kak. Aku tidak mau membuat Haruka dan Haruki menjadi khawatir" seru Shu dengan sedikit tersenyum.


Mendengar Shu berkata seperti itu, Asuka menggembungkan pipinya.


Ia merasa Shu lebih mementingkan perasaan Haruka dan Haruki ketimbang dirinya yang sangat mengkhawatirkan Shu saat pingsan tadi, hingga menunggu Shu sampai bangun dari pingsannya.


"Dan juga, Kakak. Bisakah kau merahasiakan ini dari Haruka serta Haruki, ini adalah rahasia diantara kita berdua saja" tambah Shu dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan.


Wajah kesal dan cemburu Asuka, berubah menjadi wajah yang memerah merona karena malu bercampur senang.


"Humn…" jawab singkat Asuka dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Shu menjadi heran dengan wajah Asuka yang tiba-tiba memerah semua, ia yakin tidak sedang merayu atau menggoda Asuka dan hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja.


"Sudah saatnya kita pulang, Kak."


Shu turun dari ranjangnya dan mencoba untuk berdiri, namun setelah berdiri beberapa saat, Shu kehilangan keseimbangannya. Dengan reflek cepat Asuka langsung mengalungkan tangan kanan Shu pada lehernya untuk mencegah Shu jatuh.


"Shu, apa kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Asuka dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja, nee-san…"


"Sial, aku tak menduga akan selemah ini" keluh kesal Shu didalam hati.


Tak hanya mengalami kebutaan yang mungkin hanya sementara waktu, kekuatan fisik Shu berkurang drastis akibat kekurangan Mana.


Shu pun mencoba mengumpulkan Mana alam untuk mengisi kembali Mana miliknya.


Setelah merasa cukup untuk dapat bisa berdiri lagi, Shu mulai melangkahkan kakinya secara pelan diikuti Asuka disampingnya yang berjaga-jaga bila Shu akan terjatuh lagi.


########


"Kak Shu, kau lama sekali!" ucap kesal Haruka dengan pipi yang menggembung.


"Benar itu! Apa yang Kakak lakukan sampai semalam ini dengan Kak Asuka?!" dukung Haruki.


Sekarang Shu sudah berada didalam rumah dan sedang diceramahin oleh Haruka dan Haruki dalam posisi dogeza.


Mereka berdua bagaikan seorang istri yang sedang menanyakan suaminya pulang malam dengan membawa wanita lain.


Sementara Asuka hanya duduk dimeja makan sambil ngemil snack keripik. Ia terlihat merasa kasian pada Shu yang sebenarnya tidaklah sehat sepenuhnya. Tetapi, Asuka harus menutup mulutnya rapat-rapat karena ia berjanji tidak akan memberitahukan tentang keadaan Shu yang sebenarnya.


"J-jalan-jalan?" jawab Shu dengan mencoba berbohong lagi.


"Hoooo, kami tidak tau akan hal itu…" ucap Haruka dan Haruki dengan nada dingin.


"Aku lupa tidak memberitahukan kalian, hehehe" bela Shu.


Haruka dan Haruki masih memandang Shu dengan tatapan dingin bercampur kesal.


"Maafkan aku, Haruka dan juga Haruki" ucap maaf Shu.


Entah kenapa ekspresi wajah Haruka dan Haruki berubah 180 derajat, kini mereka tidak memperlihatkan raut wajah dan nada marah lagi. justru sebaliknya, seolah-olah mereka sedang memikirkan sesuatu


"Kami akan memaafkan Kak Shu/Kakak mau menemani kami di Festival sekolah kami…"


"Hah?" ucap terkejut Shu.


##########


Di suatu tempat di sebuah gang sempit sudut kota Tokyo.


"Nee, gadis cantik. Dimana kita akan bermain? Aku sudah tidak sabar lagi" ucap seseorang om-om yang memiliki penampilan seperti preman.


"Dasar nafsuan. Baiklah, disini saja sudah cukup, ayo kita mulai" gadis cantik itu tersenyum manis pada om-om yang ada didepannya.


Om-om itu menjadi senang setelah mendengar perkataan gadis cantik didepannya, wajah mesumnya semakin kelihatan jelas.


Namun raut mukanya berubah menjadi ketakutan setelah melihat perubahan pada gadis cantik itu, terutama matanya yang berubah menjadi merah dan bola matanya menjadi seperti mata reptil.


"Vampir?!! Kenapa Vampir bisa berada di Midgard?! Bukankah kalian seharusnya berada di Underworld!" ucap om-om itu dengan nada yang masih tidak percaya akan kenyataan.


"Ternyata kepalamu ada isinya juga ya? Tapi, sekarang percuma saja memberitahu kepada seseorang yang akan mati."


Gadis itu tersenyum bagaikan iblis dan menunjukkan giginya yang runcing serta tajam.


Om-om itu semakin ketakutan dan wajahnya pucat, mengetahui kematian ada di depan ia saat ini. dimana dia sudah tidak dapat lari lagi, dari kematian yang sebentar lagi menjemputnya.


"Selamat makan…"


Ucap senang gadis itu dengan mata bersinar merah darah serta tersenyum dengan sadis.