
2000 tahun kemudian, setelah kehancuran kesebelas dunia. Tepatnya tanggal 12 Maret 2031, Tokyo, Jepang, Migard atau sering disebut sebagai Bumi.
Di suatu kamar seorang Pemuda tengah tidur dengan nyenyaknya dan tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari sangat penting baginya.
*Sliinggg...
Pemuda yang sedang tidur itu, akhirnya bangun. Dikarenakan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang berada di sisi kanan dari kamarnya.
Ia hendak bangun, tetapi gerakannya terhenti karena ada sesuatu yang berat menindih perutnya. Dia langsung membuka selimut yang menutupi dua benda yang menonjol besar itu.
Ternyata yang membuat perutnya menjadi berat adalah ada dua gadis cantik yang sedang tertidur pulas di perut si Pemuda.
Kedua gadis yang kini tidur di perutnya memiliki ciri-ciri yang sama mulai dari rambut putih berkilau dan mata merah cerah. Mereka berdua bahkan terlihat nyaman menggunakan perut dari si pemuda sebagai bantal tidur nyenyak mereka.
Mereka berdua begitu terlelap dalam tidurnya. Wajah tidur mereka begitu manis dan juga imut. Yang dapat membuat siapapun menjadi tergoda untuk melakukan sesuatu. Namun, tidak dengan si Pemuda yang sedari tadi hanya memasang senyum masam kepada mereka berdua.
Si pemuda hanya menghela nafas panjang, seakan-akan sudah biasa dalam situasi seperti ini.
"Haruka, Haruki, ayo bangun. Sampai kapan kalian mau tidur?" ujar lembut si Pemuda dengan sedikit menggoyangkan bahu dari kedua gadis yang sedang mendengkur pelan.
"Ayolah, aku tahu kalian mendengarku. Jadi jangan pura-pura tidur" si Pemuda tahu mereka berdua sebenarnya sudah bangun, tapi mereka menolak untuk mengangkat kepala mereka dari perut atletis milik si pemuda.
"Hehehe~ katakan dulu kalau Kak Shu sayang pada kami" goda gadis yang tidur di sebelah kanan dari si pemuda. Namanya Haruka, adik kandung dari Pemuda itu yang umur mereka hanya terpaut satu tahun.
"Aku sangat sayang kalian berdua, sekarang bisakah kau lepaskan aku, Haruka?" bujuk si Pemuda dengan sedikit memohon.
Ia tidak ingin situasi buruk ini terus berlangsung, bisa-bisa dia melakukan perbuatan tak senonoh kepada mereka berdua. Itu adalah hal yang wajar mengingat ia adalah laki-laki yang normal. Ia berusaha keras untuk tidak berpikir kotor tentang mereka berdua dan menahan imannya untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada adiknya.
Namun, si pemuda harus berusaha lebih keras untuk menahan nafsunya. Penyebab utama adalah dua gadis cantik yang setiap malam dengan engaja menyelinap ke tempat tidurnya dan tidur bersama si Pemuda semalaman utuh menggunakan 'baju tidur'nya.
Lebih parahnya mereka hanya mengenakan kemeja putih panjang dan ****** ***** biru bergaris-garis putih, lalu dari posisinya si Pemuda dapat melihat jelas ****** ***** kedua gadis itu
"Kami akan bangun bila Kak Shu mengatakan, bahwa kau mencintai kami" sekarang yang berbicara adalah gadis disebelah kiri dari si pemuda.
Namanya Haruki, saudara kembar dari Haruka, yang berarti Haruki juga merupakan adik dari si pemuda. Ia dan Haruka lahir di hari yang sama dan berselisih 15 menit dari Haruka yang terlebih dulu lahir.
"Baiklah, aku mencintai kalian. Sekarang bisakah kalian berdua bangun? Kakak mohon...." sebelum berkata seperti itu, si pemuda menarik nafas panjang.
Dia berusaha menahan kesal dari kelakuan kedua adik kembarnya yang dinilai sangatlah manja, lalu sepertinya mereka berdua memiliki perasaan sayang yang melebihi kasih sayang keluarga. Dengan kata lain, mereka mencintai kakak laki-lakinya sendiri yang masih ada hubungan darah.
Cinta sedarah merupakan bentuk cinta yang terlarang di Midgard, karena menurut hukum Midgard yang bilang, kalau sepasang kekasih masih mempunyai hubungan darah. Maka akan dikutuk keras untuk tidak melakukan hubungan apapun, entah itu sepasang kekasih atau sepasang pasutri.
Walaupun sudah ada peraturan yang melarang dengan keras, masih ada sebagian penduduk Midgard yang tetap melakukan hubungan terlarang.
Rata-rata mereka yang melakukan sangatlah mengagungkan garis darah murni keluarganya. Makanya mereka ingin tetap menjaga adanya keturunan berdarah murni. Sehingga demi melakukan hal itu, peraturan takkan membuat mereka mengurungkan niatnya.
"Kami akan bangun, jika Kak Shu mencium bibir kami" ucap mereka berdua dengan bersamaan. Haruka dan Haruki mengucapkannya menggunakan nada menggoda dan manis.
Mereka berdua sudah tidak peduli dengan batasan kalau kakaknya itu masihlah adalah saudara kandung mereka. Haruka dan Haruki menganggap kalau larangan itu merupakan omong kosong untuk seseorang yang ingin membatasi dirinya.
'Sepertinya aku harus menggunakan sihirku...' pikir si Pemuda.
Alasan dia menggunakan sihirnya tidak lain ialah tingkah kedua adiknya yang mulai melebihi batas untuk candaan. Pemuda itu juga tak habis berpikir tentang adik-adiknya yang tak mau berpikir untuk mengubah soal fetish mereka.
"Blink.." sosok pemuda itu menghilang dan muncul dengan posisi berdiri di samping kasur.
Blink adalah sihir dimensi atau biasa disebut Dimensional Magic. Sihir ini merupakan versi kecil dari sihir teleportasi yang bisa berpindah tempat sejauh 10 meter saja
Akan tetapi, penggunanya harus terlebih dulu menandai titik-titik teleportasi agar bisa menggunakan Blink. Sihir Blink adalah salah satu sihir elemen tingkat tinggi diantara sembilan elemen lainnya.
Sepanjang sejarah hanya ada segelinti orang yang bisa menggunakan Sihir Dimensi yaitu si pemuda, lalu beberapa orang yang tak disebutkan namanya oleh buku sejarah.
Haruka dan Haruki yang semula tiduran nyaman dibantal 'khusus' mereka. Sekarang terbangun dan duduk sembari memasang muka cemberut dan menggembungkan pipi kepada kakaknya tercinta itu.
Mereka berdua menatap tajam kepada kakak mereka yang tengah tersenyum masam seperti meminta maaf kepada Haruka dan Haruki.
"Kalian sebaiknya bersiap, bukannya hari ini adalah hari pertama kalian masuk?" tanya si Pemuda dengan tangan yang menunjuk jam weker digital miliknya di meja.
"Eh...?" mereka berdua membuat bunyi yang seirama. Haruka dan Haruki benar-benar lupa bahwa hari ini adalah hari pertama mereka masuk sebagai murid kelas tiga SMP di Tokyo.
Dengan secepat kilat mereka berdua keluar dari kamar si pemuda dengan menggunakan Boost. Sihir Boost merupakan sihir tipe pendukung dan non-elemen.
Boost adalah sihir yang meningkatkan gerak tubuh dan juga memperkuat bagian tubuh. Sihir ini merupakan sihir dasar yang mudah dipelajari oleh semua orang yang mempunyai Mana.
Setelah kedua adiknya keluar, si pemuda segera memakai baju seragam barunya. Karena hari ini juga merupakan hari pertama dia masuk sebagai siswa baru di Akademi Tokyo yang merupakan salah satu sekolah sihir terbaik di Midgard.
Akademi Tokyo merupakan sekolah sihir terbesar di Tokyo yang letaknya tepat di pusat Tota Tokyo. Sekolah ini selalu menghasilkan para penyihir terbaik di Midgard yang menyandang gelar Grand Magus.
Grand Magus adalah gelar bagi seorang penyihir yang memiliki kemampuan sihir yang sangat luar biasa. Kekuatan penyihir yang bergelar Grand Magus dapat setara dengan 10.000 pasukan penyihir atau bahkan bisa lebih.
Gelar ini sudah menjadi tujuan utama untuk seluruh murid yang bersekolah di Akademi Tokyo. Sebab setiap generasi hanya dapat seorang saja yang mempunyai gelar Grand Magus.
Setelah memakai seragamnya, si pemuda turun dari lantai atas. Untuk sarapan pagi bersama dengan anggota keluarganya yang lain.
Di samping Haruka dan Haruki, terdapat gadis berambut putih pucat, matanya yang berwarna merah darah dan dia memakai seragam yang sama seperti si Pemuda. Gadis itu memberikan senyuman manis ke si Pemuda yang baru datang dan segera duduk berseberangan dengan kedua adiknya.
Gadis berambut putih langsung duduk di samping kiri dari si pemuda, setelah itu dia menggeser kursinya hingga menempel dengan kursi dari si pemuda. Melihat hal itu wajah Haruka dan Haruki tidak bisa menahan kesal terhadap gadis yang mendekati kakak tercinta mereka.
Sementara, si pemuda hanya diam sambil memakan sandwich buatan gadis berambut putih pucat dengan lahap. Dia terlihat sudah terbiasa dengan tingkah gadis cantik di sampingnya.
"Tunggu, kakak! Bukannya itu curang mendekati Kak Shu dengan cara seperti itu?!" teriak protes Haruka melihat kakak perempuannya terus menempel dengan si pemuda.
"Benar itu! Kakak curang! Kakak harus bermain adil!" kali ini Haruki juga protes.
Dia mendukung protes yang diajukan saudara kembarnya. Wajah mereka berdua sama-sama menunjukkan kekesalan dengan pipi yang sedikit merah tomat.
Gadis yang duduk disamping si Pemuda adalah kakak dari Haruka dan Haruki, yang berarti juga merupakan kakak dari Pemuda itu. Namanya adalah Kirihara Luther Asuka. Usianya lebih tua setahun dari si Pemuda itu dan dia juga bersekolah di Akademi Tokyo yang sekarang duduk di bangku kelas dua.
"Kau tidak apa-apa'kan, Shu?" tanya Asuka yang tersenyum manis kepada si Pemuda alias, Shu.
Luther adalah nama belakang ibu mereka, yang merupakan bangsawan dari UK (United Kingdom). Sedangkan ayahnya adalah orang asli jepang yang menjabat sebagai menteri luar negeri di UK. Mereka berdua sedang bekerja di luar negeri, karena itu membuat orang tuanya jarang sekali pulang dan akhirnya mereka berempat tinggal bersama semenjak umur Haruka dan Haruki mencapai usia genap 8 tahun.
"Walaupun aku berkata keberatan, tapi kak Asuka pasti tidak mendengarkanku kan?" ucap Shu sekilas melihat kearah Asuka yang tengah tersenyum padanya.
"Kau memang adikku yang pengertian. Kakak mencintaimu, Shu" Asuka memeluk pergelangan tangan Shu dengan eratnya, hingga dadanya yang empuk bisa dirasakan oleh Shu.
Wajah Shu keliatan sedikit memerah karena dapat merasakan dada ukuran C yang empuk itu. Sebenarnya wajah Asuka lebih memerah dari Shu, tapi ia tidak terlalu memperdulikannya selama Shu tak membenci dia.
Sebab dirinya juga mengalami fetish sama seperti Haruka dan Haruki. Dimana Asuka juga mencintai Shu lebih dari saudara kandung.
Sementara Shu dari dulu merasa heran. Walau dia diberkati keluarga hangat dan penuh kasih sayang, tapi kakak dan kedua adiknya terlalu mencintainya seperti sepasang kekasih.
Akan tetapi, Shu tidaklah sedikitpun membenci anggota keluarganya itu. Baginya selama mereka bisa tersenyum dan ketawa, itu sudah lebih cukup untuk diri Shu sendiri.
"Kak Shu... Kakak Asuka... Kalian terlalu dekat!!!" teriak keras Haruka dan Haruki dengan kesalnya.
Mereka berdua sudah tak tahan lagi melihat Shu dan Haruka berpelukan sedekat itu. Lalu yang membuat mereka bertambah kesal adalah sekilas Asuka menatap penuh persaingan kearah mereka berdua dan memberikan sebuah senyuman ejekan.
Sebagai satu-satunya lelaki di keluarga, Shu hanya bisa menghela nafas panjang melihat ketidakakurnya antara Asuka dengan Haruka dan Haruki. Mereka bertiga bagaikan anjing dan kucing atau minyak dengan air. Sama sekali tak bisa akur atau berdamai bila sedang memperebutkan Shu.
"Terlalu dekat ya? Lalu..., bagaimana dengan kalian yang hampir setiap tengah malam menyelinap ke kamar Shu dan tidur bersama sekasur? Hummm...?" tanya Asuka dengan nada marah seraya tersenyum kecil.
"Ughh..." mereka berdua langsung memalingkan wajahnya sembari makan Sandwich-nya masing-masing.
Perkataan Asuka merupakan pukulan telak untuk Haruka dan Haruki hingga bisa membuat mereka diam tak bisa membalas apa-apa lagi.
"Ada hal yang ingin kusampaikan juga kepada kalian" ujar Shu tiba-tiba. Mereka bertiga langsung menoleh dan menyimak hal yang ingin Shu katakan.
"Soal uang bulanan. Aku ingin kalian lebih menghemat uang saku bulan kali ini..." lanjutnya dengan sedikit menggunakan nada dingin.
Orang tua mereka mengirimkan uang saku bulanan sebesar 1.000.000.000 USD. Uang itu dikirim setiap hari pertama setiap bulan dan dijam yang sama juga. Uang itu akan dibagi rata oleh mereka, dengan masing-masing menerima 250.000.000 USD.
Normalnya sangatlah sulit untuk menghabiskan uang yang sebanyak itu. Akan tetapi, untuk mereka bertiga, Asuka, Haruka dan Haruki, terlihat mudah menghabiskan uang sakunya dan hanya menyisihkan sebesar 20% saja.
Sangatlah berbeda dengan Shu yang hanya bisa menghabiskan sekitar 10% saja dari total uang saku yang dia dapatkan setiap bulannya. Shu sampai membuat beberapa debit bank yang berbeda untuk menyimpan uangnya.
Mereka bertiga langsung mengangguk pelan dengan sedikit takut akan wajah dingin dari Shu yang mereka sempat lihat sekilas.
Setelah selesai makan. Haruka dan Haruki bertugas mencuci piring kotor. Sedangkan Asuka dan Shu masih duduk di meja, dengan Shu yang sedang membersihkan gigi menggunakan tusuk gigi. Asuka pun hanya tersenyum melihat kebiasaan Shu setelah makan.
"Neee~, Shu, apa kau tahu?" tanya Asuka dengan nada sedikit menggoda sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Shu.
Shu pun terlihatan tidak peduli apa yang dilakukan kakak perempuannya, selama itu tidak melebihi batas atau tidak terlalu berlebihan.
"Ada apa, Kak Asuka?" tanya Shu yang masih sibuk bermain dengan tusuk giginya.
"Kau menjadi calon siswa terbaik di angkatanmu. Aku ucapkan selamat, Shu!!!" Asuka tersenyum bahagia dan juga senang, mengetahui adik laki-lakinya menjadi calon siswa terbaik di angkatannya.
*Kleekkk!!
Tusuk gigi yang sedang Shu pegang patah menjadi dua, karena terkaget mendengar informasi penting yang barusan dikatakan oleh kakaknya. Asuka melihat muka terkejut Shu sedikit ketawa kecil karena baginya itu sedikit lucu.
"Hah?! Aku menjadi calon siswa terbaik di angkatanku?" Tanya lagi. Shu seperti tak memercayai apa yang telah dikatakan Asuka tadi.
"Itu benar. Kakakmu sendirilah yang memastikannya."
Raut wajah Shu semakin terkejut mendengar jawaban kakaknya yang terlihatan tak berbohong kepadanya. Ia juga tahu kalau Asuka bukanlah tipe orang yang suka berbohong.
"Memang hebat adikku yang memiliki gelar Miracle Child" tambah Asuka.
Dalam hati Shu menghela nafas panjang, sebenarnya ia tidak ingin terlalu menarik perhatian. Alasannya dia tak ingin terlalu terkenal seperti dimasa SMP-nya.
'Sepertinya ini akan menjadi awal kehidupanku di sekolah baruku yang merepotkan' batin Shu.
Setelah tugas Haruka dan Haruki selesai, maka mereka berempat berangkat bersama untuk memulai hari pertama sekolah mereka di musim semi baru.