The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 15 : Sang Malapetaka



Entah bagaimana caranya Shu bisa berada di padang rumput hijau yang Indah dan ia bisa melihat desa kecil yang berdiri di tengah padang rumput.


"Ini?" saat menyadari bahwa Shu sekarang rambut putihnya menjadi hitam legam dan ia mengenakan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.


Shu memutuskan untuk berjalan menyusuri padang rumput dan mencari informasi, sebenarnya dimana ia berada sekarang.


Walau pemandangan padang rumput nampak asing, tapi entah kenapa Shu seperti sangat kenal tempat ia berada sekarang.


"Kakak!!"


Dari depan Shu, seorang gadis kecil berlari seraya mengayunkan tangannya pada Shu.


Gadis itu memiliki mata biru langit yang cerah, rambut pirang terurai panjang hingga pinggul, berpakaian yang mendominasi warna putih dan membawa pedang dipinggulnya.


Ia tersenyum cerah pada Shu, sebuah senyum secerah sinar mentari.


"Sedang apa, Kakak disini?" tanya gadis berambut pirang itu.


"Hanya menikmati pemandangan ini saja, Ellies" jawab spontan Shu.


"Ellies?" batin Shu.


Tanpa sadar Shu menyebut nama dari gadis berambut pirang itu, namun Shu merasa sama sekali tidak mengenali gadis itu atau pernah bertemu dengannya.


Seperti bibir Shu bergerak sendiri, dan menyebut nama dari gadis itu.


"Kakak, selalu saja begitu… ja~bagaimana kalau kita latihan?" tawar Ellies dengan mencabut pedang dan bersiap.


"Tentu, tapi kali ini kalau kalah jangan menangis ya?" Ejek Shu dengan mengeluarkan Shadow Blade nya.


Ellies yang mendengar ejekan Shu, menggembungkan pipinya dan sedikit kesal.


"Kalau begitu jika Kakak kalah. Kakak harus menciumku! Dan menggendongku sampai ke desa!" balas Ellies dengan sedikit marah.


"Tidak masalah… tapi, jika adikku yang kecil dan manis ini bisa mengalahkanku" ejek sekali lagi Shu.


Pipi Ellies semakin menggembung dan mukanya semakin kesal akan ejekan Shu.


Walau Shu tidak mengenalnya, entah kenapa ia bisa sangat akrab dan kenal. Itu terbukti betapa nyamannya Shu ketika berbicara pada gadis bernama Ellies itu.


Ia maju dengan menyampingkan pedangnya  dan sedikit merendahkan tubuhnya.


Setelah mencapai jarak cukup dekat, Ellies mengayunkan pedangnya secara horizontal dari kiri ke kanan.


Namun gerakannya dapat diantisipasi dengan mudah oleh Shu.


"Lumayan tapi masih kurang…" ujar Shu.


Ellies tidak tahu apakah Shu sedang memujinya atau menjelekkannya.


Shu pun langsung menekan pedangnya lebih bertenaga dan membuat Ellies mundur, karena perbedaan kekuatan.


Tidak membutuhkan waktu lama, Ellies kembali maju dengan cara yang sama seperti tadi.


"Cara sama tidak akan berhasil lagi" Shu menangkis keras ayunan pedang Ellies yang membuat tangan Ellies terangkat ke atas.


Pada saat itu Ellies tersenyum kecil, karena rencananya berhasil dalam membuat Shu lengah.


"Wahai Es, berikanlah sebuah pedang setajam dan sedingin es, Ice Magic : Frost Blade" dari tangan kiri Ellies muncul pedang yang terbuat dari es.


Ellies langsung mengayunkan secara horizontal dari kanan ke kiri.


Shu yang terkejut, untuk pertama kalinya bergerak mundur ke belakang.


"Wahai es, selimuti semua yang menghalangimu dan bekukan semua musuh-musuhku dalam embun beku suciku, Ice Magic : Frost Aura" saat maju untuk menyerang Ellies merapalkan sihir yang membuat embun es disekitarnya dan membekukan rumput yang berada didekat Ellies.


"Kau berlebihan, Ellies" Shu yang tahu akan sihir itu mencoba menghindar dan mengambil jarak aman agar tidak membekukan kakinya.


"Ini demi mengalahkanmu, Kakak! Dan ciumanmu!" tegas Ellies.


Ia maju terus disaat Shu terus menerus menghindari Frost Aura miliknya.


"Baiklah, aku akan menambah sedikit keseriusanku…" ujar Shu dengan sedikit tersenyum.


"E-eh?" Ellies sedikit terkejut.


"Darkness Magic : Shadow Step" memanfaatkan kelengahan Ellies, Shu langsung merapalkan sihir yang membuat dia menghilang dari mata Ellies.


Ellies begitu terkejut Shu menghilang sangat cepat didepan matanya persis dan ia tidak dapat merasakan hawa keberadaannya.


"Sudah cukup, Ellies…"


Ellies terkejut ternyata Shu berada dibelakang dengan mengarahkan pedangnya didekat leher Ellies.


Ellies berbalik badan pelan-pelan dan Shu menarik pedangnya dari dekat leher Ellies.


"Hahhh, aku menyerah meminta ciuman Kakak untuk hari in-ouch!"


Saat tengah berbicara, Shu menjitak pelan kepala Ellies.


"Itu sakit, Kakak!" Ellies memegang tempat yang tadi terkena jitakan Shu dengan kedua tangannya.


"Kerja Bagus, Ellies. Kau sampai bisa membuatku sedikit serius tadi" puji Shu dengan mengusap rambut pirang milik Ellies.


Keseluruhan wajah Ellies menjadi merah merona mendengar pujian dari Shu.


"T-terima kasih, nii-chan…"


"Dan ini hadiahmu" Shu tiba-tiba mencium kening Ellies hingga beberapa detik.


Ellies langsung sedikit terkejut akan Shu yang tiba-tiba mencium keningnya itu dan merona merah, senang akan hal yang dilakukan oleh kakaknya itu.


"Heee, kenapa tidak dibibir, Kak?" walau Ellies seperti kecewa, tapi dari dalam hati ia sangat senang.


"Akan kulakukan, jika kelak Ellies dapat benar-benar mengalahkanku" jawab Shu.


Jawaban Shu terdengar seperti sebuah tantangan dan kesempatan untuk Ellies.


Ellies tersenyum manis pada Shu,  senyumannya itu terasa sangat berarti untuk Shu, walau Shu sendiri tidak tahu kenapa tidak mengenalnya. Namun, begitu dekat dengannya.


"Kakak?" Ellies melihat Shu menjongkokkan badannya dan menaruh tangannya kebelakang.


"Jangan cuma diam saja, ayo naik. Apa jangan-jangan Ellies tidak mau?" ajak Shu.


"Tentu saja mau!" jawab dengan sedikit teriakan dari Ellies yang langsung menghampiri Shu agar digendong olehnya.


"Ayo kita pulang…" ucap Shu seraya berjalan pelan.


"Humn!" Ellies yang sangat senang memeluk erat-erat Shu dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipundak kanan Shu.


"Kakak…" panggil Ellies ditengah jalan.


"Hmm?"


"Aku mencintaimu, Kakak…"


"Aku juga, Ellies" balas Shu yang membuat jantung Ellies berdebar kencang dan wajahnya menjadi merah merona.


"Tentu saja… sebagai adik" mengetahui jawaban Shu, Ellies menggembungkan pipinya dan menjadi kecewa.


"Kaka-"


"Setidaknya untuk sekarang…" lanjut Shu.


"Eh?" muka cemberut Ellies berubah menjadi merah merona dan sangat malu ketika mendapatkan jawaban sebenarnya dari Shu.


"Apa Kakak akan selalu bersamaku?" tanya lagi Ellies.


"Iya, aku janji-eh?!"


Saat tengah berbicara tiba-tiba terjadi distorsi waktu dan tempat.


Sekarang ia berada ditengah desa dengan kabut yang tebal, ditambah Ellies tidak ada didekatnya.


Seketika itu perasaan khawatir langsung menyerang Shu.


Ia langsung berlari untuk mencari keberadaan Ellies ditengah kabut yang menyelimuti desa itu.


Ditengah mencari Ellies, Shu bertemu dengan sekelompok zombie yang dulunya mungkin penduduk desa itu.


Tanpa ragu, Shu memenggal satu per satu kepala zombie itu dengan Shadow Blade miliknya dan melanjutkan pencariannya.


"El…lies…!?"


Shu melihat yang tidak jauh dari posisinya, namun setelah mengamati lebih teliti lagi, sosok Ellies tergeletak ditanah dengan bersimbah darah.


Ia langsung berlari sekencang yang Shu bisa dengan harapan Ellies masih bisa terselamatkan.


"Ellies…!?" air mata Shu sudah tidak dapat tertahankan lagi.


Melihat Ellies yang senantiasa tersenyum, kini senyuman itu hilang.


Shu mengangkat sedikit tubuh Ellies dan kemudian memeluknya.


"K-ka…ka-k…"


Shu mendengar rintihan panggilan dari Ellies dan melepaskan pelukannya.


"Ellies? Bertahanlah, aku akan menyembuhkanmu!"


"Mnnm…mnnm…" Ellies menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Kakak… ternyata malah aku yang melanggar janji kita. Sekali lagi, aku minta maaf, Kak…" walau Ellies tersenyum, ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Kenapa kau malah minta maaf, Ellies?! Seharusnya aku yang harus minta maaf, karena tidak bisa melindungimu dan tidak berada didekatmu! Aku… minta maaf…, Ellies. Maaf…!" air mata Shu mengalir semakin deras.


Ellies menggerakkan tangannya lalu menghapus air mata yang masih tertinggal di wajah Shu dan mendekatkan wajahnya ke Shu lalu sesaat mencium bibir Shu.


"Aku mencintaimu, Kak…"


Bersama dengan ucapan terakhirnya, mata Ellies menutup rapat, nafas yang terhenti dan tubuh yang dingin.


"ELLIES!!! ARGGHHHHHH!!!!!! KENAPA?!!! KENAPA INI TERJADI LAGI?!!! AARGHHH!!!" teriak penuh kemarahan dari Shu.


Ia memeluk erat tubuh Ellies seraya berteriak penuh kemurkaan.


"Kenapa…? KENAPA?! Kenapa… harus Haruka, atau Haruki, dan kini gadis ini?! KENAPA TIDAK AKU SAJA YANG MATI?! KENAPA HARUS MEREKA?!! Kalian para dewa, aku punya untuk kalian. KENAPA KALIAN SELALU MENGAMBIL NYAWA DARI ORANG-ORANG BERHARGAKU?!!! PARA DEWA SEPERTI KALIAN SEHARUSNYA… MATI!!!"


Jauh dari lubuk hati yang dalam Shu membenci makhluk yang bernama 'Dewa' itu.


Mereka yang tidak pernah mengerti rasanya kesedihan, keadilan, kemanusiaan, rasa sayang, kepedulian, kecintaan, dan kelemahan, tidak pantas disebut sebagai 'Dewa' oleh Shu.


"Benar, mereka tidak pantas disebut dewa. Mereka tak lebih daripada makhluk yang penuh dengan haus akan kekuasaan" tiba-tiba terdengar suara dan mendadak sekitar Shu menjadi ruangan yang gelap gulita.


"Siapa kau?!"


"Aku? Apa kau tidak melupakan sesuatu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Shu, suara itu berbalik bertanya pada Shu.


"Jangan membodohiku! Cepat katakan, siapa kau?!"


"Aku adalah kau, kau adalah aku…"


Shu semakin bingung akan jawaban suara itu.


"Apa maksudmu?"


"Mudahnya kita adalah satu, aku adalah sisi gelapmu yang terdahulu dan kau adalah sisi terangku yang sekarang. Apa kau sekarang mengerti?"


"Lalu, apa maumu?!"


"Setelah mengetahui kenyataan yang kejam itu, apa yang akan kau lakukan?"


"Hah?" Shu bingung akan pertanyaan suara itu.


"Kedua adik kembarmu sekarat begitupula denganmu dan yang seharusnya menyelamatkan yang lemah, malah hanya menonton penderitaanmu" lanjut suara itu.


"Maksudmu mereka adalah-"


"Iya, para dewa dan kita tahu makhluk seperti mereka tidak pantas dipuja atau dikagumi. Mereka hanya makhluk yang penuh kesombongan, ambisi, haus akan kekuatan dan kekuasaan, dan keegoisan. Maka kita tahu seharusnya mereka-"


"Mati…" sambung Shu dengan nada penuh kebencian.


"Hahahahha…" suara itu tertawa lepas mendengar perkataan Shu.


"Apa yang kau ketawakan?!" Shu merasa perkataannya seperti bahan gurauan semata.


"Tidak apa-apa, hanya saja lucu ketika kau bicara seperti itu. Dan untuk membunuh mereka apa yang kau butuhkan? Jawabannya adalah kekuatan… apa kau memiliki kekuatan untuk membunuh mereka?"


Shu terdiam membisu akan pertanyaan yang jelas jawabannya itu.


"Jawabannya tidak, kau bahkan tidak bisa mengalahkan vampir tua dan lemah itu. Dewa memiliki kekuatan 20 sampai 50 kali lipat dari vampir itu, mustahil sekali kau bisa mengalahkan Dewa yang terlemah sekalipun."


Shu sekarang tahu, dulunya ia beranggapan sudah kuat, kenyataannya Shu masih lemah, lebih tepatnya sangat lemah.


Yang ia butuhkan sekarang adalah kekuatan, kekuatan yang besar dan mampu untuk membunuh para Dewa sekalipun.


"Akan kuberitahu caranya, ialah…"


####


Dasar serangga…" Verge yang merasa tidak ada lagi yang dapat mengisi kebosanannya, memilih pergi untuk mencari kesenangan lainnya.


"Darkness Curse Magic : Regretless…"


Verge yang tadinya ingin pergi, langkah kakinya tiba-tiba terhenti dan ia menengok kebelakang lalu menjumpai sosok yang bisa disebut "Sang Malapetaka".


"T-tuan Louise?!"


"Verge, kah? Lama tidak bertemu, 2000 tahun lebih, ya?"