
Saat ini Alex dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengantar seorang gadis kecil. Sekarang ini Alex sedang memikirkan tentang siapa dia sebenarnya dan mengapa dia mempunyai kekuatan yang begitu besar?
Itulah yang membuatnya menjadi penasaran, terlebih ketika Alex menanyakan hal itu pada Lucy dan juga Miry, mereka juga tidak tahu.
Alex semakin penasaran tentang jati dirinya yang asli dan kenapa dia juga seorang renkarnasi, lalu siapa yang merenkarnasikan dirinya? Yang paling penting, seperti apa kehidupan sebelumnya
Begitu banyak pertanyaan yang saat ini bermunculan dikepala Alex dengan beribu penjelasan yang dibutuhkan untuk setiap pertanyaan.
"Shu!!!"
"Kak Shu!!!"
"Kakak!!!!"
Tanpa sadar Alex sudah tiba dirumah dan langsung disambut oleh Asuka, Haruka dan juga Haruki.
Dari wajahnya mereka terlihat panik dan khawatir sekali pada Alex yang pulang saat langit sudah mulai berwarna orange.
"Kenapa kalian?" tanya Alex dengan senyum masam.
"Kak Shu, apa Kakak baik-baik saja?!"
"Bagaimana dengan Vampir yang kau lawan, Kakak?"
"Apa kau membunuhnya, Shu?"
Asuka, Haruka dan Haruki bertanya dengan hampir bersamaan.
"Bisakah kalian bertanya satu-satu dulu?" Alex kebingungan saat ditanya tanpa henti sehingga bingung mana yang harus dijawab terlebih dulu.
"Maaf…" ucap Asuka, Haruka dan Haruki dengan kompak.
"Jadi apa yang ingin kalian tanyakan?" tawar Alex pada Asuka, Haruka dan juga Haruki.
"Apa Kak Shu baik-baik saja?" Haruka menjadi orang yang pertama kali bertanya pada Alex.
"Aku baik-baik saja seperti yang kalian lihat ini" jawab Alex seraya tersenyum kecil.
"Tapi… tapi bukannya Kakak tadi terluka parah? Aku melihatnya dengan Haruka" tanya lanjut Haruki dengan nada suara yang sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku telah menyembuhkan semua lukaku dan luka kalian juga, Haruka, Haruki. Syukurlah kalian sudah baik-baik saja" jawab Alex.
"Eh?" ketika itu Haruka dan Haruki kembali mengingat bahwa seharusnya mereka terluka saat melindungi Alex dari Verge, karena tidak sadarkan diri. Tiba-tiba mereka berdua sudah dalam rumahnya dan luka ditubuh merekapun sudah tidak ada.
"Jadi Kak Shu/kakak yang membawa kami pulang dan juga menyembuhkan luka kami?" tanya Haruka dan Haruki untuk memastikan dugaan mereka benar adanya.
"Itu benar. Namun… *takk… *takk… lain kali kalian jangan bertindak seperti tadi. Seharusnya sudah tugas seorang Kakak lah yang melindungi adiknya dan bukan kalian. Tapi… terima kasih telah melindungiku, Haruka, Haruki" pada awalnya Alex menjitak pelan kepala dari Haruka dan Haruki. Kemudian, ia berterima kasih dengan menaruh masing-masing dari tangannya di kepala kedua adek kembarnya itu.
"Sama-sama, Kak Shu/Kakak!" ucap Haruka dan Haruki dengan senyum lebar seraya menarik tangan Alex lalu memeluknya kencang.
Alex hanya tersenyum kecil terhadap tingkah laku kedua adiknya itu. Walau Alex tahu dia seorang renkarnasi, namun keluarganya sekarang merupakan bagian dari orang-orang berharganya dan tidak ada yang dapat melebihi mereka.
"Lalu, Shu. Bagaimana dengan pertarunganmu dengan Vampir itu?" kini Asuka yang bergantian untuk bertanya pada Alex.
"Tidak, dia kabur…" jawab singkat Alex dengan berbohong, ia tidak bisa memberitahukan bahwa dirinya sendiri lah yang telah membuatnya kabur ke Underworld. Sebab Verge ada sangkut pautnya tentang kehidupan Shu sebelumnya, oleh karena itu dirinya tidak bisa memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya
"Kemana dia kabur, Kak Shu?" tanya Haruka yang masih memeluk tangan kanan Alex dengan kepala menatap atas, tepat ke wajah Alex.
"Underworld…" jawab Alex.
Asuka, Haruka dan Haruki langsung terkejut mendengar nama 'Underworld' terucap dari bibir Alex.
Underworld adalah sebuah dunia yang menjadi tempat tinggal beberapa ras sekaligus, seperti Demon, Vampir, dan Fallen Angel.
Walau ketiga ras itu hidup dalam satu dunia, bukan berarti mereka hidup dengan rukun dan tanpa masalah. Disana selalu saja terlibat konflik tentang segala sesuatu, mulai yang dari kecil sampai besar sekalipun.
"Bagaimana kalau kau makan dulu, Shu? Kau dari siang belum makan'kan?" tawar Asuka yang memecahkan keheningan sesaat.
"Kau benar, Kak. Aku akan makan terlebih dulu… emnn, Haruka, Haruki, sudah saatnya-"
"Tidak boleh…" tolak Haruka dan Haruki dengan cepat, "kami yang akan menyuapi Kak Shu/Kakak" lanjut mereka dengan kata-kata manis.
Alex hanya mendesah ringan dan pasrah akan permintaan kedua adiknya itu, "baiklah…"
Haruka dan Haruki langsung saja menarik tangan Alex dengan semangat, yang dikuti oleh Asuka dari belakang dengan senyum kecil.
Setelah mereka berempat menyelesaikan makan siang. Haruka dan Haruki sedang mencuci piring kotor, sedangkan Alex dengan Asuka masih dimeja makan karena mereka berdua sedang menonton TV.
Saat mengganti saluran TV ke berita terkini, terdapat sebuah berita bahwa didekat perairan Jepang muncul Kraken yang ukurannya hampir sebesar sebuah pulau berukuran sedang.
Untuk mengatasi Kraken itu, Grand Magus, Carissa dan para Twelve Paladis datang. Namun paling aneh sebelum Kraken itu dikalahkan, entah kenapa dia mundur dan menyelam ke laut paling bawah untuk kabur.
Penyebab Kraken bisa tiba-tiba di Midgard menjadi pertanyaan besar, seharusnya makhluk itu sudah punah beribu-ribu tahun yang lalu.
Dari informasi itu, Alex bisa mengetahui bahwa Kraken itu hanya sebuah pengalih perhatian saja. Karena munculnya Kraken itu hampir bersamaan dengan insiden penyerangan Vampir di SMP Tokyo.
Oleh karena itu tidak ada yang sadar akan penyerang Vampir, sebab semua sibuk dengan Kraken yang tiba-tiba muncul di dekat laut Jepang.
"Shu…" panggil Asuka dengan nada manis.
"Kenapa, Kak?" tanya heran Alex terhadap tingkah Asuka yang tiba-tiba menjadi manis.
"Apa kau tahu? Battle Royale akan segera dilaksanakan" jawab Asuka dengan senyum misterius.
"Jadi… kenapa dengan itu?" tanya lagi Alex yang tidak mengerti maksud dari Asuka.
Asuka menghela nafas panjang akan ketidaktahuan Alex dan berkata, "maksudku… dengan siapa kau akan berpasangan, Shu?"
Alex kembali mengingat jelas peraturan Battle Royale yang mengharuskan semua murid kelas satu Akademi Tokyo untuk ikut berpartisipasi di dalamnya dan peraturannya setiap pertandingan bertarung sebagai tim yang berisikan dua orang.
Lalu dari pemenang Battle Royale akan terlahir calon Paladins selanjutnya, serta membuatnya menjadi lebih mudah mendapatkan gelar The Guardian dan Grand Magus, oleh karena itu Battle Royale merupakan momen yang paling ditunggu oleh semua anak kelas satu Akedemi Tokyo. Kecuali satu orang murid, ia adalah…
Orang itu adalah Alex sendiri yang terlihat tidak terlalu berniat untuk mengikuti Battle Royale itu, namun karena hal itu wajib. Maka mau tidak mau, Alex harus mengikutinya. Asuka sedikit terkejut akan jawaban Alex yang sepertinya tidak ingin ikut.
"Kak, apa kau mengenali murid bernama Nagasawa Rein?" tanya Alex yang teringat akan adiknya murid bernama Nagasawa Chihara.
"Tentu, dia adalah murid kelas 2-A dan sekarang dia sudah bergabung di Twelve Paladins, sebagai Paladins of One" jawab Asuka yang penasaran kenapa tiba-tiba Alex menanyakan hal itu padanya.
Alex benar-benar tidak percaya kedudukan Rein yang merupakan Paladins of One, itu berarti Rein merupakan Paladins terkuat diantara para Paladins lainnya. Semakin tinggi posisi dalam Twelve Paladins, maka bisa dikatakan itu adalah urutan kekuatan yang dimiliki masing-masing anggota dari Twelve Paladins.
"Shu, kenapa kau bertanya soal Rein?" tanya Asuka dengan nada seperti seorang istri yang curiga pada suaminya.
"Tadi saat di SMP Tokyo, aku bertemu dengan adiknya Kak Nagasawa. Jadi aku ingin bertanya ke Kakak dan, apa Kak Nagasawa adalah temanmu, Kak?" jelas Alex disertai pertanyaan lagi.
"Tentu saja… Rein adalah teman sekelas dan teman terbaikku. Kami juga dapat bergabung dengan Twelve Paladins dalam waktu bersamaan" jelas Asuka.
"Apa kau juga bagian dari Twelve Paladins, Kak?" tanya sekali lagi Alex.
"Iya, sekarang aku berada diposisi Paladins of Three…" jawab Asuka dengan senyum bangga.
Alex sekarang baru mengetahui kalau Asuka ternyata sudah tergabung di Twelve Paladins dan menempati posisi Paladins of Three, itu berarti mungkin Rein lebih kuat daripada Asuka. Namun seperti kata Alex, peringkat bukan segalanya dan semua orang memiliki kekuatan tersendiri, yang mereka asah sampai titik maksimal.
"Ohhh…" ucap Alex seraya meminum segelas air putih.
"Shu, jangan-jangan kau menyukai Rein ya?" tanya Asuka dengan tatapan dan nada yang curiga.
"Uhhukk… uhuukk! Apa yang kau bicarakan, Kak?" Alex langsung tersedak saat tengah meminum air putih ketika Asuka bertanya padanya.
"Karena daritadi kau terlihat tertarik dengan Rein" jawab murung Asuka.
"Bagaimana bisa aku menyukainya? Kalau aku sendiri belum pernah melihat atau berbicara dengan dia" jelas panjang dari Alex.
Mendengar penjelasan dari Alex, wajah Asuka menjadi sedikit memerah karena malu akan kesalahpahamannya yang sudah berlebihan.
"Maaf, Shu…" ucap Asuka dengan sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa, Kak" balas Alex dengan senyum kecil.
Alex lega akhirnya kesalahpahaman Asuka dapat diakhiri, akan konyol jika Alex mencintai seorang gadis yang bahkan belum ia lihat atau pernah diajak bicara.
"Kak, boleh kutanya tentang sesuatu?" ucap Alex.
"Tentu saja" tanya Asuka yang melihat muka serius Alex.
"Apa bisa seorang yang dulu telah mati, kemudian dia menjadi seorang renkarnasi yang misalnya hidup kembali dizaman ini?" tanya Alex tanpa ragu pada Asuka.
"Mungkin saja itu dapat dilakukan" jawab Asuka dengan nada suara yang berat.
"Menurut Kakak jika itu dapat dilakukan, maka siapa yang bisa melakukan itu?" tanya lagi Alex.
"Hanya dewa-dewa yang bisa melakukan hal seperti itu, kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu, Shu?" tanya Asuka balik yang sedikit curiga dengan maksud dibalik pertanyaan Alex.
"Itu hanya hipotesisku saja, Kak" jawab Alex dengan bohong.
Ia tidak bisa memberitahukan bahwa dirinya adalah seorang renkarnasi yang ia tanyakan tadi. Ditambah Alex tidak ingin orang-orang berharganya sampai terlibat dalam masalahnya sendiri. Walau keluarga yang sekarang adalah keluarga yang menjadi wadah renkarnasinya, namun semua itu tidak merubah fakta kalau Asuka, Haruka dan juga Haruki adalah keluarga yang harus ia jaga sekarang.
"Kak, aku mau tidur cepat hari ini. Jadi selamat malam" ujar Alex dengan berdiri dan hendak menuju kekamarnya untuk tidur.
"Kenapa kau tidur cepat hari ini, Shu?" tanya heran Asuka.
Sangat jarang bagi Alex tidur secepat itu, apalagi waktu baru menunjukkan pukul 7 malam.
"Aku hanya kelelahan saja, Kak" jawab Alex dengan menengok kebelakang sebentar lalu tersenyum lembut dan meneruskan jalannya ke kamarnya.
Asuka pun tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun sebenarnya ia ingin lebih lama berduaan dengan Alex disaat Haruka dan Haruki sedang sibuk mencuci piring. Ia hanya bisa melihat Shu pergi menuju kamarnya dengan pasrah.
Sesampainya dikamar, Alex langsung membaringkan tubuh dan pikirannya ke kasur dengan lelah akan timbulnya beribu-ribu pertanyaan tentang siapa dia sebenarnya.
Alex yang sudah lelah, memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan pikirannya terlebih dulu.
Tanpa terasa sang sinar mentari sudah terbit, begitu pula dengan Alex yang baru bangun setelah tidur nyenyak semalaman.
Pagi ini berbeda sekali dengan pagi yang biasa dirasakan oleh Alex, sebab kali ini Haruka dan Haruki tidak menyelinap ke kamarnya.
Itu membuat Alex heran, biasanya mereka akan tiap malam tidur bersamanya. Karena itu adalah kebiasaan Haruka dan Haruki sejak kecil.
Setelah berganti pakaian dan cuci muka, Alex turun untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke Akademi Tokyo.
Lagi-lagi sarapan pagi ini juga berbeda dari biasanya. Karena Asuka, Haruka dan Haruki tidak ada di meja makan. Lalu ada sepucuk surat diatas sarapan yang telah disiapkan sebelumnya, yang bertuliskan,
'Untuk Shu/Kak Shu/Kakak tercinta~
Sebelumnya kami minta maaf, karena hari ini kami tidak bisa sarapan denganmu. Sebab hari ini ada hal yang harus kami lakukan...
Sekali lagi kami minta maaf
Dari kami bertiga'
Alex hanya bisa tersenyum kecil dan juga penasaran tentang urusan sangat penting dari Asuka, Haruka dan juga Haruki.
Ia pun segera menghabiskan makannya dan kemudian berangkat ke Akademi Tokyo dengan sendirian.
Sekitar lebih dari 15 menit kemudian, Alex sampai dikelas dan langsung duduk dengan otak yang masih berpikir tentang siapa dirinya.
"Kepada murid bernama Kirihara L. Shu, segera datang ke Moon Arena. Nagasawa Rein telah menunggumu disana."
Begitulah bunyi dari pengeras suara yang terpasang disetiap keras dan terlebih, yang terpanggil adalah Alex sendiri.
"Hahhh???" ucap heran Alex.