
Sekarang Shu sedang berjalan pergi dari ruang kelasnya karena pelajaran telah usai. Langit yang berwarna orange menghiasi setiap sudut ruang melalui jendela di setiap sudut lorong.
Seharusnya Shu bisa pulang lebih awal, tetapi ia harus mengurus berbagai tugas sebagai ketua kelas yang baru. Seperti menetapkan anggota pengurus kelas dan yang lain-lain.
"Shu…"
Terdengar suara dari belakang Shu dan Shu nampak familiar dengan suara gadis itu. Begitu ia menengok belakang tenyata yang memanggilnya adalah-
"Kakak?! Sedang apa Kakak disini? Bukankah anak kelas dua dan tiga sudah pulang sejak tadi pagi?!" tanya Shu ketika Asuka menghampirinya dengan membawa sebuah Grimoire berwarna merah tua yang berada di tangan kirinya Asuka.
"Tentu saja menunggu untuk pulang bersama adikku yang manis ini" goda Asuka dengan menggandeng tangan kanan Shu.
Shu hanya diam dan mengangguk kecil seraya tersenyum kecil pada Asuka. Ia tidak bisa menolak ajakan Asuka untuk pulang bersama, tapi ia merasa tidak enak telah membuat kakaknya menunggu sejak pagi hanya agar bisa pulang bersama.
Asuka menjadi senang karena Shu mau pulang bersamanya dan ia tidak percuma menunggu hingga sore untuk pulang bersama dengan Shu.
Mereka berdua pun pulang bersama dengan Asuka yang masih memeluk lengan Shu.
#####
Setelah berjalan keluar sekolah, mereka menjumpai sosok Haruka dan Haruki. Tapi mereka berdua tidak sendirian, sekumpulan preman jalanan mengelilingi Haruka dan Haruki dengan tatapan penuh nafsu.
Haruka dan Haruki nampak takut, mereka berdua saling berpegangan tangan dan berharap ada seseorang yang mau menyelamatkan mereka.
Melihat kedua adik kembarnya dalam masalah, Shu langsung menggunakan skill Blink menuju ke tempat Haruka dan Haruki berada.
"Apa kalian baik-baik saja, Haruka, Haruki?" tanya Shu dengan meletakkan tangannya di atas kepala Haruka dan Haruki.
Mereka yang tadinya hampir menangis sekarang sudah lebih tenang ketika Shu datang untuk menyelamatkan mereka dari kumpulan preman jalanan.
"Terima kasih, Kak Shu" ucap Haruka dengan mendekat ke belakang Shu.
"Terima kasih telah menyelamatkan kami, Kakak" tambah Haruki dengan ikut-ikutan mendekat di belakang Shu.
Kehadiran Shu membuat Haruka dan Haruki menjadi senang dan lebih tenang, namun tidak dengan para preman yang mengepung mereka.
Wajah mereka begitu kesal akan kehadiran Shu yang mengganggu acara mereka untuk bermain dengan dua gadis cantik yaitu Haruka dan Haruki.
"Siapa kau, bocah?! Jangan sok jadi pahlawan, dasar anak ingusan!" ucap seorang preman dengan rambut punk pink.
Wajahnya begitu mengerikan dan terkesan seperti berandalan, namun Shu sama sekali tidak takut dengan muka si punk pink itu.
"Kalian berdua sebaiknya berlindung bersama Kak Asuka, biar aku yang mengurus kroco-kroco ini, ya?" ucap mohon Shu dengan manis kepada Haruka dan Haruki. Ia berkata seperti itu dengan diakhiri sebuah senyuman.
Kemudian Shu pun menaruh kedua tangannya di masing-masing pundak dari Haruka dan Haruki.
"Blink…"
Mereka berdua langsung berpindah tempat di dekat Asuka berdiri.
Sihir Blink dapat memindahkan sesuatu benda atau seseorang ke tempat lain dengan syarat harus menyentuh benda atau seseorang yang akan dipindahkan.
Semua preman yang melihat hal itu begitu terkejut setengah mati, mereka tak menyangka Shu adalah seorang penyihir yang dapat memindahkan sesuatu ke tempat lain.
Mereka pun langsung menatap Shu dengan waspada dan bersiap untuk menyerang Shu. Di antara mereka terdapat 5 penyihir dari 12 orang preman yang mengepung Shu.
Tujuh orang yang lain mengeluarkan berbagai senjata kecil seperti pisau lipat, cutter, dan belati. Di wajah mereka terpasang sebuah senyuman kecil karena mereka yakin akan menang jika dibandingkan dengan Shu yang sendirian.
Kalah jumlah tak membuat Shu takut, ia justru tersenyum kecil.
"Akan aku tempuh jarak ribuan mil cahaya untuk pulang, Dimensional Magic : Recall."
Sebuah lingkaran sihir berwarna biru dan memiliki diameter sebesar 10 meter, mengelilingi 12 preman itu.
Sontak mereka kaget akan kemunculan lingkaran sihir yang cukup besar itu. Karena cahaya yang terpancarkan sangat menyilaukan, mereka semua pun menutup mata mereka masing-masing dengan menggunakan pergelangan tangannya.
#####
Saat cahaya yang menyilaukan itu telah hilang, para preman itu pun membuka matanya. Dan mereka kaget menyadari sekeliling hanya ada padang rumput yang sangat luas.
"Selamat datang, di Unknown World" ucap Shu yang kini berada di depan para preman yang tengah kebingungan.
Unknown World adalah salah satu dari sekian banyak dunia yang diciptakan oleh para dewa setelah kehancuran dunia. Unknown World adalah dunia yang terbuang karena tidak ada makhluk hidup lain selain binatang, monster dan tumbuhan. Tidak ada ras lain yang menghuni dunia ini, bahkan Undead pun tidak ada.
Shu secara tidak sengaja menemukan dunia ini, pada saat ia sedang mencoba sihir dimensi antar dunia dan akhirnya Shu menemukan dunia terbuang ini.
Lalu menyebutnya dengan nama "Unknown World". Karena dunia ini tidak tertulis atau terdaftar di dalam buku sejarah manapun.
Dunia ini memiliki ukuran 5 kali lipat dari luas Midgard dan memiliki 7 benua besar yang tersebar di Unknown World. Shu sudah menemukan dunia itu sejak kelas satu SMP dan sejak itu Shu sudah mengelilingi Unknown World dan menemukan bekas bangunan yang sudah berumur lebih dari 3000 tahun.
Dan dari setiap benua yang ia kelilingi, banyak bangunan yang memiliki perbedaan arsitektur. Mulai dari desain luar hingga dalam. Shu pun menyimpulkan bahwa dunia ini pernah ditinggalin oleh beberapa ras sekaligus, walau sekarang ini setiap ras mempunyai dunia yang berbeda-beda. Ini membuka satu kepingan lagi tentang misteri terbesar di dunia, yaitu tentang rahasia dunia 2000 tahun lalu dan penyebab kehancuran dunia 2000 tahun lalu.
"Mau apa kau, dasar bocah ingusan?!" bentak si punk pink.
Mereka semua pun kembali mempersiapkan senjatanya satu per satu dan mengarahkannya kepada Shu yang sedang berdiri dengan santainya seraya bersiul-siul.
Salah satu preman yang memegang belati langsung maju dengan berlari cepat seraya menundukkan badannya sedikit saat akan menyerang Shu.
Begitu sudah dekat dengan Shu, preman itu melancarkan serangan menusuk tepat ke arah jantung Shu berada. Namun--
*Kreaakk…klaackk…!
Tangan yang mencoba menusuk jantungnya dengan mudah dipatahkan oleh Shu lalu dengan cepat ia merangkul kepala preman itu dan memutarnya 360 derajat. Preman itu langsung mati seketika kurang dari hitungan lima detik.
Semua preman yang melihat itu tidak bisa menyembunyikan ekpresi terkejutnya dengan mulut yang terbuka lebar dan memandang lebar tak percaya akan apa yang mereka lihat.
"Mari kita mulai permainan ini, Dark Magic : Matter Element" dari tangan kanan Shu muncul butiran-butiran kegelapan yang melayang-layang di atas telapak tangan Shu.
"Sihir tanpa pelafalan? Siapa kau sebenarnya?!" si punk pink begitu terkejut saat Shu mengeluarkan sihir tanpa pelafalan.
Hanya seorang penyihir tingkat menengah hingga tinggi yang bisa melakukan sihir tanpa pelafalan, namun itu juga tergantung pada sihirnya. Semakin tinggi tingkat sihir maka menyingkat mantra atau sihir tanpa lafalan, tidak akan berlaku. Kecuali untuk seorang yang memiliki gelar Grand Magus.
Sedangkan sihir yang baru saja dikeluarkan Shu adalah sihir kegelapan tingkat rendah, namun tidak semua orang memiliki elemen kegelapan.
"Aku? Aku hanya seseorang yang akan membunuh kalian saja" jawab Shu dengan meregangkan jari-jarinya.
Semua preman langsung bergidik ketakutan setelah merasakan hawa haus darah dari Shu yang disertai gaya bertarung tangan kosong.
"Bakar dia!" si punk pink memberikan perintah kepada lima orang penyihir untuk menyerang Shu secara bersama-sama.
"Wahai api, bakarlah musuhku dengan bola-bola apimu, Fire Magic : Fireball!!" ucap kelima penyihir secara bersamaan.
Lima buah bola api meluncur cepat menuju arah Shu yang sedang berdiri dengan santainya dan--
Sosok Shu menghilang karena tertutup ledakan besar akibat bola-bola api yang menyerangnya barusan.
Wajah para preman tersenyum penuh kemenangan, terutama si punk pink yang tidak bisa menyembunyikan kesenangannya karena melihat Shu sudah mati dalam ledakan besar itu. Ia begitu yakin bahwa Shu telah mati di dalam ledakan bola api, namun semua itu salah besar.
Shu muncul di antara debu yang bertebaran dan ia sama sekali tak terluka sekalipun, bahkan luka lecet pun juga tidak ada. Shu hanya membersihkan debu di jaketnya dengan menepuk-nepuk bagian yang kotor itu.
Para preman itu pun terkejut sekali lagi akan kemunculan Shu setelah mendapat serangan ledakan bola-bola api itu, bahkan dia sama sekali tak terluka sedikitpun.
"Sekarang giliranku, Cursed Magic : Eye of Demon" ucap Shu seraya memenjangkan mata kanannya.
Setelah itu, Shu membuka mata kanannya. Dan terjadi perubahan di mata kanannya atau lebih tepat di pupil matanya, yang membentuk mata binatang reptil yang memiliki warna putih seperti pada rambutnya.
Cursed Magic adalah sihir kutukan yang berasal dari ras Demon. Rata-rata para Demon memiliki sihir ini sejak remaja atau beberapa diantaranya saat umur 11 tahun lebih.
Sihir ini merupakan sihir terlarang bagi semua ras kecuali untuk para Demon sendiri. Karena sihir ini merupakan sihir tingkat tinggi bagi ras Human, Beastkin, Elf, Undead, Angel, dan lain-lainnya. Dan cara penggunaannya yang terbila cukup beresiko karena sihir ini dapat menyebabkan kematian bagi siapapun yang tidak mempunyai pengendalian Mana yang baik.
Sedangkan Eye of Demon adalah sihir untuk meningkatkan kemampuan fisik dan sihir seseorang hingga berpuluh-puluh kali lipat gandakan.
"Shu ku, kumohon jangan berlebihan menggunakan kekuatanmu" tiba-tiba Lucy yang dari tadi diam saja, sekarang mulai angkat bicara.
"Kenapa kau melarangku, Lucy?"
"Bukan seperti itu, hanya saja kau tidak perlu mengeluarkan seluruh kekuatanmu cuma untuk menghabisi serangga-serangga kecil itu" jawab Lucy dengan nada bicara yang sangat sadis dan juga kejam.
"Hahaha, tentu saja, Lucy" Shu tersenyum sadis mendengar jawaban Lucy.
Para preman itu sontak terkejut dan ketakutan setengah mati setelah melihat pupil mata sebelah kanan Shu berubah menjadi mata seorang dari ras Demon.
"S-siapa sebenarnya k-kau ini?!" tanya si punk pink dengan nada ketakutan setelah melihat mata kanan Shu.
"Aku hanya seseorang yang akan mengirim kalian semua ke neraka karena telah tega membuat kedua adikku menangis di hadapanku! Darkness Magic : Shadow Dance."
Sosok Shu menghilang dengan cepat seperti sebuah bayangan dan secara tiba-tiba Shu muncul di belakang atau lebih tepatnya di bayangan salah satu preman yang memegang tongkat sihir kecil.
Shu langsung memutar kepala preman itu 180 derajat yang membuatnya langsung terbunuh dengan sangat mudah, kesepuluh preman yang lain terkejut akan Shu yang berhasil membunuh salah satu temannya lagi tanpa mengalami sebuah kesusahan sedikitpun.
"Ice Magic : Frost Spike."
Sebuah lingkaran sihir berwarna biru es dan berdiameter 2 meter muncul dibawah kaki Shu.
*Jrrreeeett!
lima dari sepak orang preman yang berada di sekitar Shu mati tertusuk oleh jarum yang terbuat dari es, jarum es itu langsung menusuk ke jantung mereka berlima. Yang seketika mati terbunuh dengan cepat dan mudah.
Kelima preman yang lain, termasuk si punk pink. Wajah mereka tergambar ketakutan yang luar biasa dan sebuah harapan yang kosong. Karena takut akan kematian mereka, kelima orang yang masih hidup lari koncar-kancir ke segala arah mencoba untuk menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.
Namun Shu tidak membiarkan mereka untuk kabur dengan mudahnya. Ia pun dengan cepat menggunakan Shadow Dance untuk mengejar preman yang mencoba kabur dari kematian mereka.
######
Setelah beberapa menit. Semua preman yang mencoba kabur dari Shu sudah terbunuh, kecuali dengan satu orang yaitu si punk pink.
Shu dengan santainya berjalan ke arah si punk pink yang sedang merangkak ketakutan karena tadi sempat tersandung saat tengah mencoba kabur darinya.
Setelah dekat, Shu langsung mencekram leher si punk pink lalu mengangkatnya ke atas hingga kakinya mengambang di atas permukaan tanah.
"T-tolong…uhuk…ampunilah aku…uhuk!" ucap si punk pink dengan mengeluarkan air matanya.
Ia mencoba melepaskan cekraman Shu dengan kedua tangannya, tetapi tangan Shu justru lebih kencang mencekram leher si punk pink dengan menggunakan tangan kanannya saja.
Shu pun tersenyum sadis ke arah si punk pink lalu mematahkan lehernya dengan mudah, bagaikan mematahkan ranting pohon yang kecil.
Setelah itu pun Shu mengumpulkan mayat para preman itu untuk dibakar dan dikubur, karena Shu tidak mau mengotori indahnya alam di Unknown World dengan bau mayat.
Kemudian Shu menggunakan sihir Return untuk kembali ke Midgard. Return adalah sihir yang berlawanan dengan Recall yang tujuannya harus ditentukan, Return hanya perlu di ucapkan. Dengan otomatis Shu kembali ke tempat saat ia membawa para preman itu ke Unknown World.
Melihat Shu sudah kembali dari sihir dimensinya, Asuka, Haruka dan Haruki langsung berlari ke arah Shu dengan wajah yang khawatir.
Mereka bertiga khawatir akan Shu yang melawan preman yang berjumlah 12 orang itu. Namun untuk Shu, mereka hanyalah kumpulan serangga kecil.
"Kak Shu, apa kau baik-baik saja?" tanya Haruka seraya memeriksa tubuh Shu bila terdapat sebuah luka.
"Apakah ada yang sakit, Kakak?" sekarang Haruki lah yang bertanya dengan nada yang sepolos mungkin.
"Apa kau terluka, Shu?" tanya Asuka seraya memegang kedua pipi Shu dan memeriksanya ke kanan dan ke kiri.
Shu sebenarnya senang, ia begitu di kekhawatirkan oleh Asuka, Haruka, dan juga Haruki. Tapi kekhawatiran mereka terlalu berlebihan bagi Shu.
"Aku baik-baik saja, jadi kumohon berhentilah memeriksa tubuhku Kakak, Haruka, dan juga Haruki. Karena itu sungguh menggelikan." Shu mencoba tidak tertawa saat mereka bertiga memeriksa bagian perutnya dengan menyentuh bagian samping kanan dan kiri yang bisa membuat Shu tertawa karena merasa geli.
Mereka bertiga pun langsung tersadar dan mundur satu langkah dengan muka yang sedikit merah merona.
"Mereka kenapa?" pikir Shu, ia tidak tau kenapa wajah mereka bertiga menjadi sedikit merah dan suasana sunyi terjadi.
"Kau tidak akan pernah peka, Shu-chan."
"Betul itu, kau sama sekali tidak peka, Shu-kun."
"Apa maksud kalian?" tanya Shu karena tidak tau apa yang dimaksudkan oleh Lucy dan juga Miry.
"Bukan apa-apa, dasar bodoh!" jawab Lucy dan Miry dengan kompak.
"Kenapa kalian yang marah?" tanya heran Shu.
Ia tidak tahu apa salahnya hingga membuat Lucy dan Miry menjadi sedikit marah kepadanya. Mereka hanya menjawab dengan bunyi "Hmmph!" secara kompak lagi. Akhirnya Shu memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi pada Lucy dan Miry.
Mereka berempat pun akhirnya pulang bersama dengan bergandengan tangan. Haruka dan Haruki memegang tangan kiri Shu dan Asuka yang memegang tangan kanan Shu.
######
Setelah sampai di depan rumah, Shu menghentikan langkahnya karena baru mengingat sesuatu yang ia sempat lupakan.
"Apa kalian tidak melihat festival kembang api?" tanya Shu kepada kakak serta kedua adik kembarnya.
Mereka bertiga sama-sama mengeluarkan bunyi "Ah…!" karena juga baru menyadari akan sesuatu hal yang penting telah mereka lupakan.
Mata mereka bertiga saling mengeluarkan tatapan persaingan yang tinggi diantara Haruka dan Haruki dengan Asuka.
"Ah?! Sial…"
Shu baru menyadari bahwa ia telah menginjak ranjau. Bukan hanya satu, tapi tiga ranjau sekaligus.