The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 13 : Serangan Vampir



Semua orang mulai pergi meninggalkan stand kelas Haruka dan Haruki untuk mencari tempat perlindungan dari serangan Vampir.


Namun tidak dengan Shu dan kedua adiknya yang masih duduk di meja. Dari raut mukanya mereka sama sekali tidak panik ataupun takut, mereka lebih seperti berpikir tentang penyerangan yang dilakukan para Vampir.


Seperti atas dasar apa penyerangan para Vampir di Midgard? Tidak mungkin mereka menyerang tanpa sebuah tujuan yang menguntungkan bagi mereka.


Hingga melanggar pakta yang sudah ditentukan oleh seluruh ras setelah kehancuran dunia.


Dimana seluruh ras telah diberi wilayah masing-masing dan sangat dilarang melakukan penyerangan dalam bentuk apapun.


Atau dilarang merebut kekuasaan wilayah ras lainnya dan juga dilarang melakukan peperangan dengan alasan apapun.


"Haruka, Haruki, sebaiknya kalian berlindung ke bungker sekolah. Biar aku yang menangani ini" seru Shu.


Shu tidak bisa menemukan alasan mengapa para Vampir menyerang SMP Tokyo ini, namun setidaknya dia lebih mengutamakan keselamatan kedua adiknya yang jauh lebih penting.


"Tidak!" tolak tegas Haruka dan Haruki.


"Hah? Apa yang kalian katakan? Cepat pergi ke bungker bersama yang lainnya!" Shu mulai meninggikan nada suaranya.


"Tidak, Kak Shu. Kemanapun Kakak pergi, maka kami ikut" bela Haruka dengan pandangan mata yang begitu serius.


"Sekalipun itu ke tempat yang berbahaya, kami tetap akan ikut" tambah Haruki.


Shu merasa kalau Haruka dan Haruki sedang bercanda dengannya. Ia tidak bisa melibatkan orang-orang berharganya dalam situasi yang bahaya.


Hal yang paling tidak Shu inginkan adalah melihat orang-orang berharganya terluka. Lebih baik dirinya lah yang terluka daripada mereka yang Shu sayangi.


"Tapi situasi ini benar-benar berbahaya, kalian akan lebih aman jika berada di bungker" Shu mencoba untuk membujuk Haruka dan Haruki supaya mau berlindung ke tempat yang aman.


"Tidak ada tempat aman selain berada disisi, Kak Shu/Kakak!" tolak secara tegas dari Haruka dan Haruki.


Muka mereka begitu serius dengan penolakannya. Dengan tatapan mata yang menjadi tajam serta pipi yang sedikit menggembung.


Shu sedikit kaget akan jawaban yang diberikan kedua adiknya. Kalau dipikir sekali lagi memang benar dengan apa yang dikatakan oleh Haruka dan Haruki.


Memang lebih aman jika Haruka dan Haruki bersamanya, namun sekarang ia sedang tidak dalam kondisi yang prima. Tapi Shu sendiri terlalu takut jika dirinya tidak bisa melindungi kedua adiknya itu


"Tapi a-"


"Tidak apa-apa, Kak Shu. Kami adalah orang terkuat di SMP Tokyo ini" Haruka menyela Shu ditengah ia bicara. ia mencoba menyakinkan Shu bahwa dirinya dan saudari kembarnya, Haruki, dapat menjaga diri dengan baik.


"Lagian kami tidak selemah yang Kakak kira, kami sudah bertambah kuat sejak terakhir kali Kakak melatih kami" tambah Haruki.


Shu dibuat diam oleh perkataan kedua adiknya yang sangat keras kepala itu. Namun disisi lain ia tersenyum kecil menganggapi reaksi adik-adiknya.


Mungkin ini saatnya melihat seberapa kuat mereka sekarang, tanpa membuat mereka dalam bahaya dengan Shu akan melindunginya.


"Baiklah, kalian boleh ikut. Tetapi, tetaplah berada di belakangku" tawar Shu.


Haruka dan Haruki tersenyum setelah akhirnya Shu menyetujui mereka untuk ikut. Mereka bertiga mulai berjalan dilorong lalu melihat kepulan asap dari jendela, maka disanalah tujuan mereka.


Langkah mereka bertiga terhenti oleh tiga Vampir laki-laki yang telah menunggu di pintu masuk gedung utama SMP Tokyo.


Dari cara pandang mereka, ketiga Vampir itu terlihat lapar saat melihat Haruka dan Haruki yang berada dibelakang Shu.


Shu yang menyadarinya mulai menatap tajam ketiga Vampir itu.


"Aku mencium bau darah yang lezat disini" ujar salah satu Vampir pada temannya.


"Benar, aku juga menciumnya" temannya yang satu juga sependapat.


"Pasti bau ini berasal dari dua gadis disana itu" Vampir yang satunya lagi menunjukkan tangannya kepada Haruka dan Haruki.


"Ayo, kita bunuh serangga ini dulu, lalu kita minum darah dari gadis-gadis cantik itu" ucap salah satu Vampir.


Mereka bertiga tersenyum penuh nafsu dan menganggap remeh Shu seperti seekor serangga, namun mereka tidak tahu siapa yang sebenarnya menjadi serangga di situ.


"Mati!" salah satu Vampir langsung maju ke arah Shu dengan membawa sebuah pedang sepanjang satu tangan.


Dia menghunuskan pedangnya tepat ke dada dari Shu, namun gerakannya terhenti oleh bongkahan es yang telah membekukan kedua kaki dari si Vampir.


"Sekarang akan kutunjukkan siapa yang sebenarnya serangga disini, Holy Magic : Light Sword" Shu membuat sebuah pedang cahaya yang muncul dari tangan kanan.


Melihat seseorang yang dapat menggunakan elemen cahaya ketiga Vampir itu mulai menunjukkan ketakutannya, terlebih Vampir yang kakinya telah dibekukan oleh Shu.


Wajahnya memutih ketakutan melihat sebuah elemen yang menjadi kelemahan akan rasnya, apalagi seorang manusia dapat menggunakan elemen yang sangat jarang ada pemakainya.


*Sliinnggg...


Shu langsung memenggal kepala vampir yang sudah masuk dalam jangkauan serangannya.


Seketika itu kepalanya jatuh dan menggelinding ke dua kawan Vampir yang dibelakang, bahkan keduanya tak sempat melihat pedang Shu yang menebas dengan sangat cepat.


"Siapa yang selanjutnya ingin mati?" tanya Shu dengan senyum mengerikan.


Kedua Vampir itu langsung merapat giginya dan mempersiapkan sebuah pedang sepanjang satu tangan.


"Sialan!!"


Mereka pun langsung maju menuju Shu dengan mengincar leher Shu, namun-


"Art Magic : Black Fire."


Sebelum kedua Vampir itu mencapai Shu, Haruka dan Haruki terlebih dulu merapalkan sebuah sihir yang sama.


Sihir tersebut adalah Art Magic yang berbentuk api hitam. Api hitam itu langsung membakar kedua tubuh Vampir dengan api yang besar.


"Arghhhhh!! Api ini?! Apa mungkin ini A-"


Sebelum menyelesaikan tutur katanya kedua Vampir itu telah terlebih dulu menjadi abu hanya dalam kurang dari satu menit.


Shu sedikit terkejut akan Art Magic yang dimiliki kedua adiknya itu. Ia tidak sedikitpun mengira Haruka serta Haruki memiliki sihir yang hebat sekaligus berbahaya seperti itu.


Namun ada satu hal yang Shu herankan. Yaitu, begitu tubuh kedua Vampir itu menjadi abu api hitam yang membakar juga ikut menghilang dengan sendirinya.


Untuk api biasa pasti sudah menjalar ke sisi bangunan yang mudah terbakar, namun tidak dengan api hitam yang Shu lihat ini.


"Haruka, Haruki, apa ini Art Magic yang kalian kembangkan sendiri?" tanya Shu dengan nada serius.


"I-iya, Kak Shu/Kakak" jawab Haruka dan Haruki dengan sedikit gugup dan takut.


"Jangan bertindak terlalu berlebihan" ucap nasehat dari Shu dengan tatapan tajam yang serius.


Haruka dan Haruki hanya mengangguk pelan dan paham maksud dari Shu. Kakaknya hanya tak ingin mereka menjadi incaran dari para faksi, terlebih lagi faksi Hero dan faksi Demon.


Dengan kekuatan yang seperti itu, tak diragukan lagi pasti akan diinginkan oleh pihak yang sedang mengumpulkan banyak kekuatan.


"Tolong aku!!" terdengar suara teriakan seorang gadis dari salah satu bangunan didepan gedung SMP Tokyo.


Shu, Haruka dan Haruki yang mendengar teriakan itu langsung pergi ke sumber suara itu berasal. Namun setibanya di bangunan itu, Shu tidak menemukan gadis itu ataupun sebuah mayat.


Dan tanpa disadari Shu terpisah dari Haruka dan Haruki, serta hawa udara disekitarnya berubah menjadi lebih lembab dan dingin.


"Kenapa ada kabut ditempat seperti ini?" gumam Shu.


Diseluruh tempat dan sekitarnya sudah tertutup kabut yang tebal. Shu menduga kabut ini adalah semacam sihir ilusi dan penghalang, yang membuatnya terpisah dari Haruka dan Haruki.


"Tchh!" Shu mendecak lidahnya, tanda ia sedang sangat kesal.


"Ternyata ada ikan bodoh yang termakan umpan sederhana ini, mari kita bunuh" Datang lima orang Vampir yang mengepung Shu dari segala penjuru arah mata angin.


Mereka tersenyum penuh kelicikan mengetahui kemenangan ada ditangan mereka, karena jumlah mereka lebih banyak dari Shu. Terlebih Shu sudah terkepung dari segala arah, sudah dipastikan tidak dapat kabur semudah itu.


"Minggir..." ujar pelan Shu dengan nada suara yang marah.


"Hah? Bicara apa kau ini? Coba katakan lagi."


Salah satu Vampir berbicara dengan sombong dan diakhiri senyuman mengejek.


"Kubilang, minggir!" kali ini Shu bicara dengan lebih keras serta mengeluarkan hawa membunuh yang cukup besar.


"Cepat habisin dia!"


Kelima Vampir itu sempat merinding mendapatkan hawa membunuh yang sangat menusuk, namun salah satu Vampir memerintahkan mereka dan tanpa ragu mereka langsung menyerang Shu.


"Holy Magic : Floating Lance."


Dari atas muncul lima buah tombak cahaya yang melayang lalu langsung menyerang kelima Vampir itu tepat di kepala hingga tebus dan menancap di lantai.


Shu langsung pergi setelah membunuh kelima Vampir untuk mencari kedua adiknya. Begitu keluar dari bangunan itu, ternyata seluruh wilayah di sekitarnya sudah tertutup oleh kabut tebal.


"Sial!" ucap kesal Shu dalam hati.


Sejauh mata memandang hanya dapat melihat dalam jangkauan 4 meter saja. Shu hanya memiliki dua tujuan dalam keadaan situasi seperti ini yaitu, mencari kedua adiknya dan membunuh Vampir yang menggunakan sihir ilusi berskala besar.


"Haruka! Haruki!" Shu melanjutkan pencariannya dengan berteriak keras.


Mungkin ini cara yang sangat bodoh, karena dapat mengundang musuh. Tapi Shu tidak peduli, prioritas utamanya sekarang ini ialah mencari Haruka dan Haruki.


Siapapun yang menghalanginya akan menemui ajal mereka, siapapun. Ditengah jalan Shu melihat segerombolan bola api meluncur kearahnya. Dengan cepat Shu menghindari lalu melompat mundur untuk menjaga jarak.


Dari balik kabut muncul sekelompok Vampir berjumlah lebih dari 20, satu diantaranya memakai pakaian yang terkesan elegan dan berkelas.


Dan dia memiliki kekuatan yang cukup besar, karena aura kekuatan jauh berada diatas ketimbang Vampir lainnya.


"Hmm? Tidak kusangka masih ada serangga yang hidup disini" ucap sombong salah satu Vampir


Vampir itu berpakaian serba hitam lengkap dengan jubah dan pedang hitam, rambut putih panjang, dan mata merah darah.


Dua Vampir yang berada dibelakangnya kebingungan menjawab pertanyaan tuannya itu. Seharusnya seluruh manusia sudah terbunuh pada saat penyerangan baru terjadi.


"Maafkan kami, Tuan Verge. Kami tidak tahu mengapa masih ada makhluk rendahan disini" ucap maaf salah satu Vampir yang kemudian menundukkan kepala dengan diikuti oleh bawahannya yang lain.


"Sudah cukup, cepat singkirkan serangga itu dari pemandanganku" perintah Verge.


"Sesuai kehendak anda, Tuan Verge. Cepat bentuk kelompok 5 orang dan bunuh serangga itu!" salah satu ajudan memerintahkan anak buahnya untuk langsung menyerang Shu.


Sesuai dengan yang diperintahkan, lima Vampir langsung maju untuk membunuh Shu. Namun, langkah mereka terhenti, dikarenakan seluruh tubuh mereka telah membeku dalam penjara es.


"A-pa?"


Kedua ajudan Verge terlihat terkejut, kelima Vampir yang mereka kirim dengan mudah Shu lumpuhkan. Bahkan mereka tak sempat melihat reaksi pelafalan mantra oleh Shu.


"Minggir atau kubunuh kalian semua" Shu mengeluarkan hawa membunuh yang besar.


Siapapun yang merasakan hawa ini akan menggigil ketakutan, kecuali satu orang yaitu, Verge, Komandan mereka.


"Apa kau bercanda, dasar serang-"


Sebelum menyelesaikan tutur katanya, kepala Vampir ajudan itu telah tertusuk duri es yang muncul dari tanah.


"Ice Magic : Ice Spike."


Sebenarnya Shu melancarkan serangan pada dua Vampir, tapi salah satunya, Verge, dapat menghindari dengan hanya memiringkan kepalanya.


Ajudan Verge yang masih hidup sangat terkejut mengetahui rekannya mati semudah itu.


"Semuanya serang, makhluk fana itu!!!" perintah salah satu ajudan dengan panik setelah melihat kematian rekannya.


12 Vampir langsung maju mengepung Shu dari seluruh arah.


"Dark Magic : Shadow Blade, Blade Art Style : Infinity Slash."


Shu mengeluarkan pedang hitam dan seni berpedang. Entah kenapa tubuh 12 Vampir itu langsung terbelah-belah menjadi beberapa bagian.


"A-apa yang terjadi?" salah satu ajudan Verge tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.


"S-siapa kau sebenarnya?!" dia mulai ketakutan akan kekuatan Shu yang telah melebihi perkiraannya.


"Hanya seseorang Human" jawab singkat Shu.


"Tidak mungkin!! Mustahil seorang Human dapat melakukan hal semacam itu!" ucap salah satu ajudan dengan sangat tidak mempercayai jawaban Shu.


Jika dipikirkan secara logika sangat kecil kemungkinan seorang Human mencapai level yang tinggi. Namun, tidak nol kemungkinannya untuk bisa mencapai hasil itu.


"B-benar juga! Tuan Verge, mari kita bunuh sera--argh! K-kena-pa...?"


Ditengah dia berbicara tiba-tiba Verge menusuk jantung ajudannya sendiri dengan pedang hitamnya.


"Beraninya kau memerintahku, sadari posisimu, rendahan" ujar penuh kesombongan Verge.


Verge langsung mencabut pedangnya dari jantung lalu mengibaskan untuk membersihkan bekas darah.


"Untuk ukuran serangga sepertimu lumayan juga" puji Verge.


Namun bagi telinga Shu itu lebih mirip seperti penghinaan daripada sebuah pujian. Verge mengakui kekuatan Shu jauh diatas rata-rata para Human lainnya dan akan lebih berhati-hati ketika bertarung dengannya. Terlebih dirinya juga waspada akan ada kekuatan yang mungkin saja disembunyikan oleh Shu untuk membuat Verge lengah.


"Minggir dari jalanku!" Shu langsung maju dan menyerang Verge dengan serangan vertikal.


"Kenapa kau tidak menemani bermain sebentar denganku?" Verge tersenyum diakhir bicaranya.


*Tringgg!!


Bunyi benturan terdengar keras dari masing-masing pedang Shu dan Verge.


"Jangan menghalangiku!" ujar Shu dengan semakin besar amarahnya.


Dia tidak ingin meladeni Verge dan segera mencari Haruka dan Haruki, itulah prioritasnya saat ini.


"Setidaknya jangan terburu-buru dulu, Cursed Magic : Soul Eater."


Dari belakang Verge, Shu bisa melihat sebuah bayangan hitam dengan empat mata merah.


Shu terpaksa langsung menjaga jarak sejauh 5 meter dan ia memiliki firasat buruk tentang bayangan itu.


Dan benar saja bayangan itu bisa menyerang, tapi hanya sejauh 4 meter, kurang 1 meter dari tempat Shu berada.


"Ternyata kau memiliki mata yang bagus juga hingga dapat melihat wujud Soul Eater ku" puji sekali lagi Verge.


Soul Eater adalah Cursed Magic yang menyerang dengan cara melahap jiwa targetnya. Jiwa yang termakan akan menjadi sumber kekuatan bagi pengguna Soul Eater.


"Dark Magic : Shadow Move!"


Shu mencoba menyerang Verge dari titik buta, namun Soul Eater milik Verge menghalau serangan Shu dan Verge langsung menyerang balik


"Cih..."


Shu mendecak kesal, karena merasa kerepotan dengan Soul Eater itu.


Ia harus terlebih dulu mengurus Soul Eater itu atau pertarungan ini akan sangat merepotkan baginya.


"Kenapa? Apa hanya ini kekuatanmu?" ejek Verge.


Shu semakin erat memegang pedangnya, ia harus cepat-cepat mencari Haruka dan Haruki.


Namun, jika ia bertarung dengan Verge maka hal ini tidak ada habisnya, terlebih Verge masih belum terliatan serius dan masih ingin bermain-main.


Shu langsung menggunakan Shadow Move untuk kabur dari Verge, ia kabur bukan karena takut. Tapi sekarang mencari kedua adiknya lebih penting daripada berhadapan dengan Verge.


"Tidak akan kubiarkan, Blood Magic : Accelerator" Verge tersenyum kecil lalu sesaat kemudian dia menghilang bagai kabut.


Ditempat lain Shu secara terus-menerus menggunakan Shadow Move untuk mencari secara cepat.


"Aku harus cepat!" pikir Shu.


Mata Shu secara cermat mencari keberadaan Haruka dan Haruki di suatu tempat dalam penghalang kabut ini.


Namun Shu tak kunjung menemukan kedua adiknya, bahkan Shu tidak merasakan hawa keberadaannya.


"Mau kemana kau?"


Entah darimana caranya, Verge tiba-tiba berada didepan Shu dan dia sudah bersiap untuk mengayunkan pedang hitamnya.


"A-apa?"


*Sliinnggg!! Jddarrr! Braghkk!!


Walau Shu sempat terkejut, namun untungnya Shu sempat menahan serangan Verge.


Akan tetapi. Karena perbedaan kekuatan, Shu terhempas dan jatuh dengan keras hingga menghancurkan dinding tebal salah satu bangunan.


Ia terhenti setelah hampir menghancurkan dinding kedua dengan luka yang cukup parah dan darah yang keluar dari mulutnya.


Shu duduk ditempat ia berhenti dan nampak sangat kesakitan setelah terhempas sangat keras.


"Sepertinya ini gawat" gumam Shu seraya membersihkan darah dibibirnya.