The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 43 : Bangkitnya The Betrayer Hero



Sementara itu di kota Tokyo, Jepang, terjadi sebuah keributan massal akan serangan-serangan yang terus berdatangan dengan radius atau skala yang berbeda-beda. Semua serangan itu dirancang di sudut-sudut kota yang berbeda, seakan sudah dirancang oleh seseorang dan dia adalah Hermes yang sekarang ini masih berada di Alfheim.


Para Grand Magus serta Guardian yang berada di Jepang sedang menangani semua serangan sekaligus. Tetapi semua serangan itu terus berdatangan tanpa henti, hingga membuat merasa kerepotan serta kewalahan menghadapinya.


"Dasar dewa sialan… mereka sudah berani melanggar pakta perdamaian yang sudah terjaga 2000 tahun ini" ucap kesal Carissa yang sekarang sedang berlari kencang kearah pinggiran pantai sebelah timur laut Jepang.


Alasan kenapa Carissa menuju ke pantai adalah dirinya menerima laporan akan kemunculan Kraken yang sedang menuju kearah pinggiran sebelah timur. Ia harus segera tiba disana sebelum Kraken itu menenggelamkan dua buah kapal feri yang sedang berada di laut sebelah timur Jepang.


Sementara Twelve Paladins lainnya sedang menyebar ke seluruh kawasan kota Tokyo guna mereda serangan-serangan yang terus bermunculan. Hanya dia saja yang saat ini sedang menganggur dan harus menyelamatkan puluhan ribu nyawa dengan cepat.


Sesampainya dipantai, Carissa dikejutkan oleh laut yang terbeku dalam es sejauh mata memandang dan dirinya tahu semua ini adalah akibat sihir es dari seseorang. Ia hanya mengetahui seseorang yang bisa melakukan sihir es yang luar biasa seperti sekarang Carissa lihat dan untuk membuktikan bahwa pikirannya benar, ia langsung mempercepat langkah larinya menuju timur.


Lima menit kemudian, dirinya dikejutkan kembali oleh sebuah bongkahan es yang sangat besar sekali dan didalam bongkahan es itu terdapat Kraken yang telah mati terbeku dengan kepala yang tertusuk tombak es besar. Carissa juga melihat seseorang perempuan muda berambut kuning emas, memiliki mata biru indah serta berpakaian gaun pendek putih salju sedang berdiri dipuncak bongkahan es itu.


Ternyata dugaannya benar, Carissa benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan dia lagi setelah ratusan tahun lamanya dan sekarang dia muncul di Midgard dengan satu tujuan utama.


"Ellies?" panggil Carissa.


"Kak Carissa ternyata... maaf sudah mencuri targetmu" balas Ellies dengan melihat kebawah.


"Kenapa kau disini?" tanya Carissa tanpa ragu-ragu.


"Tentu saja, untuk bertemu kakakku tercinta, tetapi sayangnya dia sedang tidak ada disini…" jawab Ellies dengan sedikit kecewa akan harapannya yang tadi ingin bertemu Alex.


"Tidak ada?" gumam bingung Carissa akan ucapan Eliies


"Tapi tidak apa-apa. Aku bisa menemuinya lain kali, sampai jumpa, kak Carissa" lanjut Ellies yang langsung menghilang dari puncak bongkahan es.


Sementara itu Carissa berpikir kembali atas ucapan Ellies yang berkata kalau Alex tidak ada disini, itu berarti Alex sedang tidak berada di Midgard, lalu dimana dia sekarang?


########


Di dunia Alfheim, Alex dikejutkan oleh perubahan yang dilakukan Hermes pada dirinya sendiri. Kini seluruh tubuh Hermes diselimuti aura kegelapan yang sangat hitam serta rasa haus darah yang sangat tinggi.


Alex sama sekali tidak tahu apa yang telah dilakukan Hermes hingga mengubah penampilannya mirip seperti iblis daripada seorang dewa. Ditambah luka tebasan tadi juga sudah pulih sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.


Bahkan sekarang Alex menjadi tidak yakin bisa mengalahkan Hermes yang kekuatannya kali ini jauh lebih kuat daripada saat dia menggunakan God Mode. Ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan Hermes yang sudah seperti atau lebih tepatnya menjadi iblis.


"Kuizinkan kau menjadi bahan percobaan kekuatan baruku ini, Hero…"


"Perfe--*daghhkkkk!"


Alex sempat melihat Hermes bergerak menuju arahnya, tetapi gerakannya tadi terlalu sangat cepat hingga Alex belum bisa mengerahkan Perfect Defense secara sempurna. Akibatnya dia terpental jauh kebelakang dengan menghancurkan pohon dan berakhir menabrak batu besar.


Alex merasakan rasa sakit yang luar biasa, terlebih pada perutnya. Ia secara perlahan bangkit dengan bertumpu pada pedang sebagai alat bantu untuk dirinya berdiri. Dari jauh Alex merasakan hawa yang sangat mendekatinya, sudah pasti kalau itu adalah Hermes dengan wujud iblisnya.


"Hebat sekali kekuatan ini… Tidak sia-sia aku percaya pada kakek tua itu" ujar Hermes dengan senyuman puas seraya melihat Alex.


"Kekuatan macam apa itu…?" tanya Alex dengan nada kesakitan.


"Sayang sekali kau harus mati terlebih dulu sebelum mengetahuinya…" Hermes dengan cepat menendang Alex jauh keatas dan dia ikut melompat tinggi hingga sejajar dengan Alex yang masih berada di udara, lalu ia langsung menendangnya dengan sangat keras sekali.


*braghkkk dgiahkkkkk! blarrrrr!


Tendangannya tadi membuat Alex kembali ke istana Alfheim. Alex tergeletak tak jauh dari Azarlea yang tengah pingsan dengan darah yang terus mengalir dari lukanya.


Secara pelahan Alex berusaha meraih tangan Azarlea dengan merangkak pelan, sebab kini Alex sudah tidak mempunyai tenaga untuk berdiri. Ia berusaha keras untuk menjaga kesadarannya agar tidak pingsan.


"Tidak boleh…"


Saat tangannya ingin menyentuh Azarlea, tiba-tiba Hermes menginjak tangan Alex ketika jaraknya tinggal setipis kertas saja. Hermes terlihat sangat senang dengan penderitaan Alex, itu terbukti dari senyuman kejam dari mukanya itu.


Kemudian Hermes menendang Azarlea hingga menabrak dinding pembatas, tendangannya itu membuat kepala Azarlea mengalami luka cukup lebar.


"Her…mes kauu!!!" ucap marah Alex akan kelakuan yang barusan Hermes perbuat.


"Kau masih berani mengancamku? ahaha! Sadarlah posisimu, Herooo" seru Hermes dengan menginjak keras perur Alex seraya tersenyum senang.


"Uhhukk! Uhukk! Arggh" Hermes semakin tersenyum senang melihat penderitaan Alex yang menjadi sumber kesenangannya saat ini. Dia tidak mengenali rasa kasihan atau belas kasih sedikitpun.


Ia lalu mencekik leher Alex dan mengangkatnya, kemudian membanting Alex ke tembok dengan sangat keras. Alex untuk sekian kalinya mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Ia berusaha keras melepaskan cekikan Hermes, tetapi tenaga serta kekuatannya kini terlalu lemah untuk melakukan itu.


"Menyedihkan sekali melihat seorang yang mengkhianati takdir menjadi pahlawan berakhir dengan seperti ini" walau kata-kata Hermes penuh dengan simpati, tetapi sejatinya dia sedang tersenyum bahagia.


"Ratu Elf itu dan anaknya tadi bisa membuatku sedikit terhibur, tetapi sudah kubuat mereka tidur, mungkin untuk selamanya" lanjut Hermes.


"Sy…zia...?" Alex sangat terkejut ternyata putrinya, Syzia, menjadi korban dari Hermes dan sekarang ia sudah tidak bisa menggunakan Regretless lagi.


Sebab Regretless memiliki batas penggunaan hanya tiga kali dalam sehari saja dan Alex sudah menggunakan satu kali pada dirinya. Ia tidak ingin menggunakannya lagi, karena Regretless mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan Azarlea dan Syzia.


"Apa kau ingin melihatnya?" seru Hermes yang menyeret Alex dengan masih mencekik lehernya kuat-kuat.


Hermes begitu menikmati kesenangan diatas penderitaan yang Alex rasakan sekarang, entah itu kesedihan, kesakitan, keputusasaan, ataupun kemarahan. Yang ingin dia lakukan adalah membuat Alex menderita sebanyak mungkin sebelum ia membunuhnya.


"Lihatlah…" begitu sampai Hermes langsung melempar Alex ke samping dimana Syzia tengah pingsan akibat luka tusukan diperut.


Alex yang melihatnya langsung bangkit dan berjalan menuju tempat Syzia. Saat ia mengangkat Syzia dalam gendongannya, Alex merasakan kulit dingin dari badan putrinya. Matanya begitu tidak percaya melihat keadaan Syzia seperti itu.


"Syziaa! Syziaa!! Bangunnn… ku…mohon bangunlah… kumohon… Syzia… maafkan… aku, maafkan ayahmu… ini" Alex benar-benar tidak percaya bahwa dirinya sudah kehilangan putri kecilnya itu. Ia merasakan kesedihan yang sangat mendalam serta rasa sakit yang luar biasa sesaknya.


Ia memeluk erat Syzia dengan air mata yang terus mengalir deras, Alex sudah menggunakan Regretless berkali-kali pada Syzia, tetapi tidak ada sama sekali efek kalau sihirnya itu bekerja. Syzia tidak kunjung membuka matanya, walau luka pada tubuhnya sudah pulih sepenuhnya.


"Tidak perlu sesedih itu, sebentar lagi kau akan menyusul putrimu…"


"HERMESSS!!! KAU TIDAK AKAN PERNAH KUMAAFKANNN!!!! KAU PASTI AKAN MATI DENGAN RASA SENGSARA!!! AKAN AKU BUAT KAU MENDERITA RIBUAN KALI LIPAT DARI KURASAKANNN!!!" ujar Alex dengan penuh kemarahan dengan rasa benci yang sangat mendalam. Ia menatap Hermes dengan penuh kebencian dan hawa membunuh yang sangat besar.


"Bicara omong kosong apa kau ini, hah?" Hermes seperti mendengar sebuah bualan belaka, karena baginya kemenangan sudah diraih daritadi. Hanya menunggu dia mencabut nyawa Alex, maka kemenangan yang sesungguhnya akan didapat.


Namun, Hermes merasakan sebuah kekuatan yang muncul tiba-tiba dari dalam tubuh Alex. Selama ini dia belum pernah sekalipun merasakan atau melihat kekuatan seperti itu. Kekuatan itu begitu sangat gelap dan semakin membesar seiring waktu.


Alex meletakkan kembali Syzia dengan perlahan-lahan lalu berdiri tegak seraya memandang Hermes penuh kebencian, tangannya menggenggam keras pedang hitam itu seakan sudah siap membunuh Herme seperti apa yang dikatakan tadi.


"KAU PASTI MATI DENGAN SENGSARA, HERMES!"


Tiba-tiba setengah tubuh bagian kanannya tertutup oleh sebuah lapisan seperti zirah berwarna merah darah kehitaman dengan sebuah tanduk tubuh dikening serta sebuah sayap lebar yang memiliki warna merah hitam.


"S-siapa sebenarnya k…kau ini?!!!" tanya Hermes dengan muka putih pucat akan ketakutan yang tiba-tiba dirasakannya.


"Wujud dari kematian, Awakens Magic : Abyss Form…"