The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 02 : Murid Terbaik Angkatan Ke-125



Seorang gadis cantik sedang berjalan dengan wajah yang penuh kesenangan. Dari caranya berjalan menunjukkan keanggunannya yang begitu nampak terpancar dengan jelas.


Rambut pirang emasnya menari-nari saat tengah berjalan, mata kuning emasnya yang indah bagai sebuah perhiasan yang berkilau, lengkuk badan yang sempurna, di pinggangnya terdapat sebuah pedang bersarung warna emas dengan berbagai ukiran permata berwarna biru, dia mengenakan seragam Akademi Tokyo dan terdapat sebuah bet bangsawan UK di bagian dada kanannya


Gadis pirang itu sedang berjalan ke arah papan pengumuman yang memberikan hasil dari urutan murid terbaik angkatan ke-125. Yaitu angkatannya sendiri dan dia begitu yakin dirinya berada di urutan nomer satu, karena kepercayaan dirinya yang tinggi akan tingkat kekuatannya.


Ia sangatlah paham dengan kekuatannya, untuk orang biasa sama sekali bukan tandingannya. Namun, semua itu salah besar ketika dia melihat namanya berada di urutan kedua dari 50 daftar murid terbaik angkatan ke-125.


Yang menjadi murid terbaik adalah seorang anak laki-laki yang bernama, Kirihara L. Shu. Gadis itu benar-benar tidak menyangka telah dikalahkan oleh anak laki-laki yang biasanya tidak pernah masuk 30 besar murid terbaik. Tapi pemuda ini bisa masuk dan menjadi murid terbaik nomor satu di sekolah Akademi Tokyo ini.


Dalam hati gadis berambut pirang, dia begitu marah dan benci terhadap pemuda yang bernama Shu tersebut. Ia sangat tak terima akan kenyataan yang mengecewakan ini. Dirinya yang seorang gadis bangsawan UK terhormat telah dikalahkan oleh pemuda biasa.


Tapi gadis itu langsung menarik kata-kata 'pemuda biasa' itu setelah memerhatikan lebih jelas di nama lelaki itu memiliki nama tengah seperti dirinya. Yang berarti mungkin Shu merupakan keturunan bangsawan dari UK.


"Lihat pembalasanku pada penghinaanmu ini, Kirihara L. Shu!"


Gadis berambut pirang langsung pergi dengan muka marah bercampur benci.


 #######


"Hachuuu!" Shu tiba-tiba bersin, ia merasa ada seseorang yang sedang membicarakannya.


"Apa kau sakit, Shu?" tanya Asuka dengan khawatir sambil mengambilkan tisu di tasnya lalu memberikan ke Shu.


"Terima kasih, kak Asuka. Tapi aku baik-baik saja" Shu tersenyum diakhir perkataannya untuk menenangkan rasa kekhawatiran yang sedikit berlebihan dari Asuka.


"Baiklah, tapi jika kau sakit. Kau harus cepat-cepat bilang kepadaku ya, Shu" Shu hanya tersenyum dengan mengangguk pelan kepada Asuka.


'Apa mungkin ini perasaanku saja ya?' batin Shu.


Shu merasa seperti ada masalah yang datang menghampirinya, tapi dia tetap positive thinking terhadap semua hal yang ada.


Sekarang Shu bersama Asuka sedang berjalan menuju Akademi Tokyo dengan jalan kaki setelah naik kereta cepat, karena jarak rumah dan sekolahnya tak begitu jauh hanyalah 4 km dengan 5 menit naik kereta dan 10 menit berjalan kaki.


Untuk Haruka dan Haruki, mereka berdua berpisah setelah sampai di stasiun Tokyo, karena arah SMP mereka berdua berlawanan arah dengan Akademi Tokyo.


7 menit kemudian, mereka berdua sudah bisa melihat Akademi Tokyo yang begitu megah dan mewah. Di sepanjang jalan menuju Akademi Tokyo terdapat pemandangan pohon sakura berjejeran rapi di tepi jalan. Ditambah bulan ini adalah musim semi, yang merupakan musim mekarnya bunga sakura membuat suasana semakin cantik dan indah.


Setelah sampai gerbang masuk, Shu dan Asuka berpisah. Karena murid baru harus menghadiri upacara penerimaan murid baru angkatan ke-125 di aula utama Akademi Tokyo. Sementara Asuka harus pergi ke kelasnya dan mempersiapkan diri untuk pembelajaran.


Setelah masuk aula dimana upacara penerimaan murid baru diadakan, Shu memperkirakan sudah ada 220 murid baru yang sudah berkumpul disini. Mereka semua sudah duduk rapi dengan wajah yang fokus ke panggung depan dan Shu adalah murid terakhir yang datang untuk menghadiri upacara penerimaan murid baru.


Karena Shu telat dia tidak mendapatkan tempat duduk. Jadi dia hanya berdiri dibelakang dengan bersandar ditembok dengan mendengar pidato penyemangat untuk para murid baru dari salah satu guru yang berdiri di depan.


Terus terang Shu merasa bosan mendengar 'pidato penyemangat' dari guru botak kinclong yang berbicara dengan keras di depan itu. Sampai-sampai Shu harus menutup telinganya yang sensitif akan suara yang sumbang itu.


Shu dibelakang hanya diam dengan menutup matanya, ia juga mengenakan kerudung dari jaket agar tidak ada siapapun yang menyadari bahwa dirinya sedang ingin tidur.


Sebagian besar murid dibelakang menyadari tingkah laku Shu yang membuat sebagian dari mereka tertawa, menghina, meledek dan menghujat. Mereka tak menyangka ada murid seperti Shu ada di Akademi Tokyo yang sangat terkenal.


Beberapa menit kemudian akhirnya Pria botak kinclong telah menyelesaikan 'pidato penyemangat'nya. Banyak murid baru yang termotivasi oleh 'pidato penyemangat', tapi tidak dengan Shu. Jangankan mendengarkan pidato panjang tadi, dirinya telah tertidur dari awal datang ke aula penerimaan murid baru.


Setelah menyelesaikan pidato, Pria botak kinclong menarik secarik kertas yang bertuliskan nama dari murid terbaik di angkatan ke-125 dari saku jasnya.


"Selamat bagi murid yang bernama Kirihara L. Shu telah menjadi murid terbaik di Akademi Tokyo ini!" ujar Pria botak kinclong mengumumkan dengan bangganya.


Semua murid baru kaget tak percaya yang menjadi murid terbaik adalah seorang laki-laki, biasanya yang mendapatkan gelar murid terbaik adalah seorang perempuan. Ini merupakan pertama kali dalam sepanjang sejarah ada seorang lelaki mendapatkan peringkat pertama di Akademi Tokyo.


Dihati para lelaki, mereka semua senang karena peringkat pertama adalah seorang laki-laki. Yang membuat derajat mereka sedikit naik dan bisa membuktikan mereka bisa lebih baik dari murid perempuan.


Sementara para perempuan hanya memikirkan bagaimana penampilan dari lelaki yang mendapatkan gelar murid terbaik itu. Mereka sangatlah penasaran sekali bagaimana wajah Shu, yang pasti berharap Shu memenuhi salah satu kriteria lelaki idaman mereka.


Tapi tidak untuk seorang gadis cantik berambut pirang emas, dia begitu mengutuk keras nama lelaki itu. Ia menaruh kemarahan dan kebencian kepada sosok bernama Shu yang telah merebut kejayaan serta kebanggaan darinya.


"Silahkan bagi saudara Kirihara, untuk naik ke panggung ini."


Sementara semua orang disana terus menunggu murid bernama Shu untuk maju kedepan panggung, orangnya sendiri tengah tertidur. Akhirnya para staff panggung diutus dan diminta untuk mencari Shu mengingat waktu terus berjalan.


"Saudara Kirihara, dimana Anda?" tanya Pria botak kinclong karena dia juga tidak mau harus menunggu lebih lama lagi.


"Maafkan saya, pak!" sebuah suara yang cukup keras terdengar dari belakang.


Shu akhirnya terbangun setelah lebih dari 15 menit tertidur sambil berdiri dibelakang, lalu dia dengan langkah cepat langsung menuju ke depan panggung.


Semua orang langsung memasang mata ke belakang dan melihat seseorang yang berjalan ke depan panggung dengan menggunakan jaket hijau. Mereka semua tidak bisa melihat muka si murid terbaik, karena ia masih mengenakan tudung jaketnya


Semua mata mengikuti langkah Shu berjalan dari belakang ke depan. Banyak dari mereka yang menghina dan mengejek Shu. Tentu saja telinga Shu sebenarnya bisa mendengar orang-orang yang sedang membicarakannya.


Tetapi, Shu lebih memilih untuk diam dan tak mempedulikan perkataan orang asing terhadap dirinya. Ia hanya menganggap semua itu adalah suara kepakan sayap nyamuk saja.


"Apakah kau murid yang bernama Kirihara L. Shu?" tanya Pria botak kinclong yang malah terlihat ragu kepada Shu.


Tanpa banyak bicara, Shu memberikan sebuah surat yang berasal dari Akademi Tokyo. Surat itu berisi pemberitahuan dan ucapan selamat untuk murid terbaik angkatan ke-125.


Mata pria botak kinclong tak percaya akan surat yang dibawa oleh Shu tersebut adalah surat asli yang diberikan dari pihak Akademi Tokyo. Ini menandangkan bahwa ia memanglah Kirihara L. Shu, seorang murid lelaki yang mendapatkan gelar murid terbaik di Akademi Tokyo angkatan ke-125.


Pria botak kinclong itu langsung mempersilakan Shu untuk memberi motivasi kepada murid baru lainnya.


"Ehem, baiklah. Pertama-perta-"


"Saudara Kirihara, bisakah kau melepas jaketmu?" tanya si Pria botak kinclong.


Shu baru menyadari kalau ia belum melepaskan tudung jaketnya, itu merupakan bentuk ketidaksopanan. Namun setelah itu, mendadak suasana di aula menjadi begitu sunyi.


Semua murid wanita dibuat kaget tak percaya apa yang mereka lihat itu. Sedangkan semua murid laki-laki seperti mendapatkan saingan yang berat sekali.


Mereka semua melihat sosok murid laki-laki berambut seputih salju dengan gaya rambut yang keliatan sangat keren, mata semerah mawar yang tajam dan wajah tampan yang melebihi wajah seorang aktor atau model majalah sekalipun.


Para wanita berteriak 'kyaa' di dalam hati, sedangkan para laki-laki berkata 'cihh' akan Shu yang langsung berhasil mencuri semua perhatian gadis di aula itu, kecuali dengan satu orang.


"Baiklah, pertama-pertama, saya ucapkan terima kasih banyak kepada semua orang yang telah mempersiapkan upacara penerimaan ini dengan megahnya.


Kedua, jujur saya tidak menyangka akan menjadi murid terbaik di angkatan ke-125 ini.


Ketiga, bagi saya urutan dalam angka bukanlah segalanya. Itu semua adalah sebuah ilusi belaka..."


Gadis berambut pirang emas semakin marah dengan omongan Shu yang seakan bilang bahwa urutan itu hanya sebuah angka, seperti memandang rendah gelar yang ia dapatkan itu.


"...keempat, saya tau bahwa semua di sini pasti mempunyai kemampuan yang hebat dalam masing-masing hal tertentu. Saya tahu sebagian dari kalian pasti memiliki suatu kekuatan tersembunyi, yang tidak ingin kalian tunjukan kepada semua orang yang ada disini.


Kelima, saya cukup terhormat menyandang gelar murid terbaik. Namun, saya menolak gelar tersebut.


Sekian dari saya..."


Semua orang melebarkan pandangannya, ketika Shu menolak diberikan gelar sebagai murid terbaik angkatan ke-125. Shu segera turun dari panggung tanpa menerima sebuah bet akan gelarnya sebagai murid terbaik itu.


Semua orang tak percaya akan penolakan Shu. Mata semua orang mengikuti Shu saat berjalan turun dari panggung. Si botak kinclong yang berada diatas panggung juga melebarkan mata dan juga mulutnya. Mereka semua benar-benar tidak percaya ada orang seperti Shu yang menolak gelar terhormat itu.


"Tunggu, Kirihara L. Shu!!"


Sebuah suara yang asing berteriak cukup keras dengan memanggil nama Shu, dia sontak menghentikan langkahnya. Semua orang yang mendengar suara itu langsung mencoba mencari dari mana sumber suara itu berasal.


Terlihat seorang gadis berambut pirang emas, mata yang berwarna emas berkilau, membawa pedang emas di pinggangnya dan mengenakan seragam Akademi Tokyo. Ia berdiri dengan tegak sambil merentangkan tangan kanannya kedepan dan menunjuk Shu.


"Apa maumu?" Shu membalikkan badannya dan menatap tajam dengan nada sedingin es.


"Dengan nama Alicia P. Britania, Putri dari Kerajaan Britania. Aku menantangmu untuk berduel" Alicia berkata dengan tegas kepada Shu.


Semua orang kaget setengah mati oleh perkataan Alicia yang begitu tegas. Namun tidak bagi Shu, dia justru diam tak merespon ataupun kaget.