
"Ayolah, kenapa kalian bertiga sejak dari tadi diam saja?" tanya Shu.
Asuka, Haruka dan Haruki hanya diam seribu bahasa dengan menggembungkan pipinya. Mereka terlihat masih marah akan Shu yang kemarin meninggalkan mereka dirumah dan memilih tidur di Unknown World.
Mereka berempat sedang sarapan dan bersiap untuk berangkat ke sekolah, namun suasana hening terjadi di sepanjang waktu.
Shu hanya bisa menghela nafas panjang akan kemarahan kakak dan kedua adik kembarnya yang menurutnya adalah hal merepotkan untuk meredanya sedikitpun.
"Baiklah, kalian boleh meminta satu permintaan apapun dariku" ujar Shu dengan sedikit nada menggoda.
Mendengar perkataan Shu, mata Asuka, Haruka dan juga Haruki langsung terfokus pada Shu.
"Benar itu, Shu?!" tanya Asuka dengan sangat antusias.
"Yeyy!" Haruka dan Haruki saling menepukan kedua telapak tangan mereka dengan senang dan bahagia. Mereka bertiga langsung tersenyum manis dan terliatan sangat senang.
"Iya..." jawab singkat Shu disertai sebuah senyuman kecil.
Raut muka Asuka, Haruka dan Haruki bertambah senang setelah menerima konfirmasi langsung dari Shu sendiri.
"Tapi! Kalian tidak boleh melewati batas kewajaran..." tambah Shu.
Muka senang Asuka, Haruka dan Haruki menjadi sedikit surut setelah mendengar tutur kata Shu selanjutnya.
Maksud dari "tidak boleh melewati batas kewajaran" adalah tidak boleh melewati batas dari hubungan saudara, yang artinya tidak boleh melakukan hal-hal yang bersifat dewasa.
"Namun kalian boleh meminta seperti jalan-jalan bersama atau hal yang lainnya..." jelas Shu sekali lagi dengan sebuah senyuman manis.
Asuka, Haruka dan Haruki kembali senang, walau kesenangan mereka tak seperti tadi. Namun bagi Shu sudah cukup untuk membuat mereka tersenyum kembali lagi.
Karena waktu sudah menunjukkan semakin siang, Shu dengan yang lain akhirnya berangkat sekolah setelah menyelesaikan sarapan mereka.
>>>>>>
"Ne ne, Shu..., kenapa kau hari ini begitu terlihat sangat lelah?" tanya Yuki dengan nada yang seperti berbisik pada Shu yang tengah menaruh kepalanya di meja dan menjadikan kedua tangan sebagai tumpuan di bawah kepalanya.
"Aku akan tidur sebentar, bangunkan aku bila ada guru datang" ujar Shu.
Bukannya menjawab pertanyaan Yuki, Shu malah memberikan sebuah pesan.
Dia terlalu lelah dan mengantuk untuk memberikan jawaban kepada Yuki. Karena dari semalam dia belum tidur sama sekali, sebab dia masih memikirkan sosok wanita misterius bernama Evil Nightmare itu.
"Baik, silahkan tidur, Shu ku."
"Terima kasih, Yuki..."
Seketika itu Shu langsung terlelap tidur dan tidak terlalu mendengarkan perkataan Yuki.
Melihat Shu yang sudah terlelap akan tidurnya, Yuki tersenyum manis pada Shu dengan wajah tidurnya yang menurutnya begitu polos.
"Kanzaki, bisakah aku bicara sesuatu denganmu?"
Yuki sedikit terkejut dengan keberadaan Alicia yang kini berada disampingnya dengan muka tak senang serta kedua tangannya yang memegang pinggang.
"Memangnya ada apa, Alicia?" tanya Yuki dengan nada yang sedikit dingin.
"A-apa hubunganmu dengan Kirihara?"
Yuki sedikit terkejut setelah tahu apa yang ingin ditanyakan Tuan Putri dari kerajaan Britania itu.
Terlebih lagi Tuan Putri itu bertanya dengan nada yang sedikit malu, ini membuat Yuki yakin bahwa dia adalah saingannya.
"Aku? Kami hanya sebatas teman masa kecil saja..."
Alicia menghela nafas lega setelah mengetahui jawaban langsung dari Yuki.
"...setidaknya untuk saat ini" tambah Yuki.
Wajah lega Alicia berubah menjadi wajah yang penuh dengan permusuhan kepada Yuki yang tersenyum manis. Itu bukan suatu senyuman biasa, namun senyuman yang menantang dan licik.
Mereka berdua saling menatap dengan aura penuh persaingan dan permusuhan, yang tanpa disadari aura Mana mereka telah memenuhi ruangan kelas itu.
Para murid yang berada di kelas tak berani untuk menghentikan atau memberitahu kepada Alicia maupun Yuki, karena melihat aura Mana yang berwarna kehitaman.
Baik Alicia ataupun Yuki, mereka sama-sama tersenyum kecil dengan mata yang saling memercikkan api permusuhan.
"Kukira ada apa, ternyata mereka lah yang memancarkan Mana yang negatif sampai sebesar ini" ucap guru yang berada di mulut pintu.
Guru itu tersenyum kecil pada Alicia dan Yuki yang masih belum menyadari guru wali mereka telah berada di kelasnya.
Sementara murid lain sudah duduk dengan tenang seraya memandang ke arah Alicia dan Yuki.
"Ehem, bisakah kalian duduk? Alicia dan juga Yuki" ujar guru itu.
Mendengar suara yang cukup familiar untuk mereka, Alicia dan Yuki langsung menengok ke depan dan mendapati seorang guru yang terkenal sudah berada di kelas tanpa mereka sadari.
"Nyonya Carissa?!" ucap kaget Alicia dan Yuki.
Mereka segera duduk di kursinya dan langsung fokus ke depan untuk mengikuti pelajaran pertama mereka di Academy Tokyo.
Semua nampak antusias untuk mengikuti pelajaran dari kepala sekolah dari Academy Tokyo, namun tidak dengan satu orang. Dia adalah Shu, yang masih tidur dengan nyenyak.
Carissa tersenyum kecil pada Shu yang bisa-bisa tertidur dengan nyamannya di kelas yang ia ajar, ini kali pertama ada murid yang berani melakukan hal seperti itu padanya.
Sebuah petir berwarna merah tercipta dari tangan kiri Carissa yang ia angkat dan sejajarkan ke posisi Shu duduk.
Merasakan bahaya yang mendekat Shu terbangun lalu memusatkan Mana nya pada telapak tangan yang ia angkat dengan reflek abnormal.
Petir merah yang melesat ke arah Shu, menghilang setelah bertabrakan dengan tangan yang terpusatkan sejumlah Mana.
Semua siswi terkejut, termasuk Alicia dengan Yuki. Mereka semua tak mengira Shu dapat langsung menangkis serangan cepat itu dengan menggunakan Absolute Defense.
"Reflek yang sangat bagus, Kirihara. Sekarang duduklah" puji Carissa.
Shu yang tadi berdiri untuk menahan serangan Carissa, sekarang duduk dan memandang ke depan.
Shu merasa Carissa sedang tersenyum padanya. Walau di kelas 1-A ini banyak siswi lain, tapi ia yakin bahwa Carissa benar-benar sedang tersenyum padanya.
Seakan-akan dia telah lolos dari sebuah ujian tersendiri dari Carissa, yang Shu tidak tahu maksud dari Carissa memberi sebuah ujian pada dirinya.
"Baiklah, perkenalkan namaku Carissa Deervelt, kepala sekolah Academy Tokyo. Dan aku akan menjadi wali kelas kalian selama tiga tahun kedepan, jadi bersiaplah" ucap perkenalan Carissa dengan diakhir sebuah senyuman kecil.
Semua murid di kelas 1-A tidak menyangka bahwa kepala sekolah Academy Tokyo lah yang menjadi wali kelas mereka. Carissa adalah penyihir terhebat dengan gelar Grand Magus yang ia dapatkan 6 tahun yang lalu. Mendapatkan pelajaran dari orang hebat membuat para murid menjadi semangat dan optimis untuk mendapatkan gelar Grand Magus.
"Baiklah, kita mulai pelajaran pertama kita."
Carissa langsung menulis sesuatu dipapan tulis yang bertuliskan "Mana".
"Seperti yang kita ketahui, Mana terbagi menjadi beberapa macam kategori besar. Seperti : Mana jiwa, Mana kontrak, dan Mana alam.
Kirihara, bisakah kau menjelaskan, apa itu Mana jiwa?"
Shu langsung berdiri dengan tegak, walau didalam dirinya sangat malas dan ingin sekali untuk tidur.
"Mana jiwa adalah Mana yang berasal dari tubuh dan mengalir diseluruh peredaran darah di tubuh. Setiap orang memiliki kapasitas tertentu akan Mana jiwa yang dimiliki" jelas secara singkat Shu.
"Terima kasih atas penjelasan yang singkat dan mudah dipahami itu, Kirihara" Shu kembali duduk setelah selesai dengan penjelasan singkatnya tentang Mana jiwa.
"Seperti yang kalian dengar tadi. Mana jiwa berada berasal dari tubuh dan mengalir diseluruh pereorgan darah. Mana jiwa berpusat pada organ vital jantung dan setiap orang memiliki kapasitas berbeda untuk menampung seberapa banyaknya Mana jiwa pada tubuhnya masing-masing" tambah Carissa.
Semua murid paham atas penjelasan dari Carissa dan Shu, karena ini pelajaran yang mereka dapat di kelas 1 SMP.
"Apa disini ada yang bisa mengetahui hal apa yang dilakukan Kirihara-kun untuk menahan seranganku tadi?" tanya Carissa pada semua murid di kelas.
"Saya!" Yuki langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Carissa mengangguk pelan pada Yuki, yang mempertandakan dia untuk menjelaskannya.
"Hal yang dilakukan oleh Shu adalah Absolute Defense. Absolute Defense adalah sebuah sihir pertahanan yang membuat Mana berkumpul pada satu titik tertentu dibagian tubuh. Sihir ini hampir bisa menahan semua serangan sihir tergantung seberapa besarnya Mana yang dikerahkan untuk menahan sebuah serangan sihir" setelah menjawab Yuki kembali duduk yang semula dia berdiri untuk menjawab.
"Iya, itu memang benar. Terima kasih atas penjelasannya, Yuki-chan."
Sihir Absolute Defense adalah sihir yang bisa dipelajari tergantung kemampuan dari setiap orang. Setiap orang dapat menguasai ketika mereka bisa mengendalikan Mana sirkuit ditubuhnya.
Shu dapat menguasainya ketika masih berumur 5 tahun secara tidak sengaja saat bermain sihir dengan Asuka yang tak sengaja mengeluarkan sebuah sihir sejenis Fireball.
"Baiklah, kita mulai pelajaran sesungguhnya. Tapi sebelum itu, kalian gantilah baju terlebih dulu dan pergilah ke Moon Arena. Untuk penjelasan lebih lanjut, sampai bertemu disana" Carissa pun keluar dari ruangan kelas dengan melambai-lambaikan tangannya.
Semua murid di kelas 1-A langsung menuju ruang ganti, termasuk dengan Shu yang berjalan dengan tidak ada niat untuk mengikuti pelajaran Carissa yang harus berada di tempat bernama Moon Arena.
>>>>>>
Sekarang semua murid kelas 1-A berada ditempat bernama Moon Arena.
Tempat itu memiliki luas sebesar stadion sepak bola dengan tribun yang mengelilingi tempat itu dan diatas terdapat sebuah atap yang bisa terbuka maupun tertutup berbentuk bulan. Karena ini masih pagi makan yang tertutup hanya setengahnya saja.
Semua murid menengok ke kanan kiri mencari keberadaan Carissa yang sedari tadi tidak juga datang.
Shu yang merasa masih ingin tidur, dia berada di area yang tertutup matahari dan bersandar di dinding pembatas antara tribun dengan arena.
Saat tengah mencari-cari guru mereka, dari depan mereka muncul sebuah cahaya menyilaukan muncul secara sekilas dan disana sosok Carissa muncul secara ajaib.
Semua murid kaget akan kemunculan Carissa, termasuk Shu yang menduga itu adalah Dimension Magic : Teleport.
Hal itu membuat Shu teringat pada Evil Nightmare yang kemarin bertarung dengannya. Dia langsung menduga bahwa Carissa adalah Evil Nightmare.
"Maafkan, aku semuanya. Tadi ada urusan sebentar, kita mulai pelajarannya" Carissa meminta maaf sambil mengibaskan rambutnya.
Shu yang berada dibelakang sedang menatap tajam Carissa sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Nyonya Carissa, sihir yang anda gunakan tadi, apakah itu sihir dimensi?" tanya Shu dengan nada yang begitu serius.
Semua murid langsung melihat belakang, tepat ke arah Shu. Mereka melihat Shu mengangkat tangan kanannya, ia juga menatap dingin Carissa.
Semua siswi terpesona akan tatapan dingin dan tajam pada diri Shu. Carissa yang mendapatkan tatapan yang dingin itu masih bisa tersenyum pada Shu.
"Iya, kau benar, Kirihara. Apakah ada masalah?" tanya balik Carissa.
Shu sekarang mulai melangkah kakinya dan berhenti di dekat Carissa, yang masih menatap tajam dengan wajah yang dingin.
"Daripada disebut keluhan, ini mungkin lebih tepatnya sebuah penyataan..." jawab Shu.
"Hmm?"
"Dengan segala hormat, saya menantang Nyonya Carissa untuk berduel."