
"Bagaimana keadaan tuan Putri Alicia, Gawein?" tanya seseorang pemuda berseragam akademi Tokyo dengan sebuah sarung pedang ungu di pinggangnya.
"Dia baik-baik saja sekarang, tetapi tidak dengan mentalnya… Leonardo" jawab orang yang bernama Gawein. Gawein memiliki rambut hitam keabu-abuan, mata merah delima, mengenakan jas hitam dan dipinggang terdapat sarung pedang berwarna hitam.
Dia sedang berdiri sambil memeluk kedua siku tangannya dengan muka sangat serius yang tengah berpikir keras akan sesuatu.
"Jangan yang tidak-tidak kau, Gawein! Lagipula, kenapa kalian malah meninggalkan Tuan Puteri Alicia?! Jika kalian tidak perlu pergi, maka Tuan Puteri tidak perlu berhutang nyawa pada dia!" balas Leonardo dengan sedikit kemarahan.
Ia nampak membenci seseorang yang bahkan tidak ingin sebut namanya itu, karena suatu hal yang membuat orang disukainya mencintai pria selain Leonardo sendiri.
"Tuan Puteri sendirilah yang meminta untuk ditinggal sendirian saat ingin bertemu dengan seseorang di padang rumput dan,Alexapa kau sangat membenci Kirihara Luther Shu sampai sebegitunya?" jawab Gawein dengan kepala dingin dengan diakhiri sebuah pertanyaan.
Sebagai temannya dia ingin tahu penyebab kenapa Leonardo tidak bisa mengendalikan emosinya disaat sedang membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan Alex. Padahal sebelum Alicia pindah sekolah ke Jepang, Leonardo tidak pernah menunjukkan kemarahannya pada siapapun dan kini dia sering emosi ketika mendengar nama Alex atau sesuatu dari dirinya.
"Kau tidak perlu tahu soal itu, ini soal masalahku pribadi saja…" jawab singkat Leonardo dengan pergi meninggalkan Gawein berjalan menuju pintu keluar dari ruangan itu.
"Kau mau kemana, Leonardo?" tanya Gawein.
"Aku hanya ingin jalan-jalan kecil saja…" jawab Leonardo dengan mengangkat tangan lalu sedikit melambai-lambai tanpa menengok kebelakang.
"Jangan lakukan hal tidak perlu kau lakukan" seru peringatan dari Gawein yang curiga akan tujuan Leonardo. Entah kenapa dirinya merasakan firasat buruk pada kepergian Leonardo secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, tetapi dalam hati Gawein berdoa semoga dugaannya salah.
#######
"Shu, apa benar-benar sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Asuka dengan rasa khawatir yang sedikit berlebihan.
"Aku sudah baik-baik saja, kak Asuka. Ayo kita pulang" ajak Alex dengan bangun dari kasur dirumah sakit dan meregangkan otot badannya yang sedikit kaku, akibat terlalu lama terbaring lemah.
"Bukannya kakak harus dirawat sampai besok?" tanya Haruki melihat keadaan Alex sudah seperti biasanya, padahal 30 menit yang lalu dia terlihat masih lemas dan kulitnya sedikit pucat.
"Itu tidak perlu. Aku sudah sembuh sepenuhnya, jadi jangan khawatir ya" jawab Alex dengan naruh tangannya di kepala Haruki seraya tersenyum kecil untuk menenangkannya.
Penyebab sekarang Alex sudah bisa berdiri dan sembuh total lagi adalah Alex bisa menggunakan sihirnya lagi seperti semula. Jadi dirinya langsung melafalkan Regretless, yang membuat semua luka ditubuhnya lenyap dan Alex bisa dikatakan sembuh total.
Alex juga bisa menarik kesimpulan soal kemampuan khusus dari Katana milik Ellies yang bisa membekukan aliran Mana di tubuh melalui luka tebasan sekecil apapun. Bahwa batasan kemampuannya itu memiliki jangka waktu 30 menit untuk membekukan setiap Mana yang berada di dalam rentang waktu tersebut itu saja.
"Baiklah, ayo kita pulang sama-sama…" ujar Asuka dengan senyum lega melihat keadaan Alex sudah benar-benar sembuh total.
Mendengar itu Alex membalas senyuman kecil pada Asuka, dirinya juga akhirnya bisa membuat Asuka, Haruka dan Haruki tidak perlu merasa khawatir lagi. Ia tidak ingin membuat mereka bertiga terus menerus khawatir ketika melihat kondisinya begitu lemah sampai harus berbaring di kasur rumah sakit.
Sepanjang perjalanan mereka berempat saling berbincang serta bercanda seraya tersenyum satu sama lain dengan sebuah kedekatan menunjukkan sebuah ikatan keluarga yang sangat erat hubungannya.
"Miry, apa kau bisa mengecek daerah sekitaranku?" pinta Alex dalam hati dengan nada bicara yang cukup serius.
"Aku bisa melakukannya, tapi kenapa, Luther-ku?" tanya balik Mary dengan bingung akan permintaan Alex.
"Aku dari awal merasakan Mana seseorang yang sudah lumayan jauh membuntutiku sejak keluar dari rumah sakit, jadi aku ingin memintamu melihat daerah dengan luas lingkup 300 meter ini kau awasi. Jika ada seseorang yang mencurigakan segera laporkan kepada aku dulu, jangan lakukan apapun, mengerti?" jelas panjang perintah Alex.
"A-aku mengerti! Mengerti! Hmph… memangnya aku anak kecil apa, tidak usah kau sampai jelaskan seperti itu!" jawab Miry dengan pergi dalam wujud kasat mata untuk menjalankan perintah Alex.
Sementara Alex menghela nafas kecil akan tingkah Miry yang membuatnya khawatir kalau dia akan lupa akan perintah yang barusan saja diterima. Ia tidak ingin Miry melakukan sesuatu hal yang cukup ceroboh dan lebih baik menahan diri serta melaporkan semuanya kepada Alex adalah keputusan bijak. Kecerobohan yang dimaksud Alex adalah Miry akan membunuh orang yang dia kira curigai tanpa ragu-ragu lagi, jika orang itu dinilai berbahaya untuk Alex.
Sekitar 15 menit kemudian, Miry kembali lagi ke Alex dengan membenarkan kalau memang ada seseorang yang terus mengikuti mereka daritadi. Dia juga menjelaskan ciri-ciri orang yang dimaksud dengan lumayan detail, mendengar laporan Miry telah selesai. Alex mengucapkan terima kasih pada dia, lalu ingin mengurus Stalker itu dengan menanyakan tujuan orang itu mengikutinya terus.
Karena ia sendiri curiga kalau orang itu mungkin seorang mata-mata yang diutus oleh pihak tertentu untuk mengoleksi seluruh informasi tentang targetnya dan baru menyerang secara abis-abisan.
"Aku ada urusan sebentar, kalian jalanlah terlebih dulu" ujar Alex kepada Asuka, Haruka dan juga Haruki.
"Urusan apa, Shu?" tanya Asuka.
"Hanya urusan kecil, kak Asuka. Aku akan segera kembali" jawab Alex dengan tersenyum untuk menyakinkan Asuka agar memperbolehkan dirinya memberi 'sapaan halus' pada penguntit itu.
"Baiklah, tapi jaga dirimu baik-baik, Shu. Ingat kau baru saja pulih ya" pinta Asuka yang seperti menyadari niatan Alex yang sebenarnya. Sementara Alex hanya tersenyum kecil seperti mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja.
"Kami ikut, kak Shu!" seru Haruka dan Haruki dengan sedikit keras seraya mengangkat tangan seolah menawarkan diri untuk maju kedepan dan menjawab pertanyaan dipapan tulis.
"Haruka, Haruki, temanin kak Asuka saja ya? Aku nanti ada hadiah buat kalian. Tentu, untuk kakak juga ada" bujuk Alex supaya mereka berdua tidak ikut dengannya.
"Baiklah…" jawab Haruka dan juga Haruki dengan sedikit kecewa. Asuka pun langsung mengajak mereka berdua untuk meneruskan perjalanan terlebih dahulu.
Walau Alex merasa tidak enak membuat Haruka dan Haruki menjadi seperti murung begitu, tetapi dia tidak ingin membahayakan nyawa mereka berdua untuk tetap menemani Alex menjumpai penguntit itu.
"Jaga mereka bertiga, Miry. Jika ada yang mencoba menyakiti atau membahayakan nyawa salah satu dari mereka, langsung bunuh saja tanpa meninggalkan bukti" perintah Alex yang langsung disetujui oleh Miry dengan cepat.
Alex pun langsung menuju ke tempat dimana dirinya merasakan Mana dari penguntit itu dengan bersiap-siap akan serangan kejutan, jika penguntit itu menyadari kedatangannya. Setelah sampai cukup dekat dengan keberadaan si penguntit, Alex langsung menggunakan blink untuk berpindah lokasi di belakang dari penguntit itu.
"Ternyata yang mengikutiku adalah Sir Leonardo yang terhormat rupanya… kenapa kau mengikuti, Sir Leonardo sang penguntit?" tanya Alex dengan nada yang sangat menyinggung.