
"Baiklah, aku akan menjadi pengawalmu, Kak Nagasawa" ucap setuju Alex dengan entengnya.
"Heh? Apa kau tidak keberatan sama sekali dengan permintaanku, Shu?" tanya heran Rein karena Alex begitu mudah menerimanya.
"Apa aku boleh menolak?" tanya balik Alex.
"T-tentu saja tidak!" tolak tegas Rein.
"Kalau begitu, mau tidak mau aku harus menerimanya. Karena itu salah satu dari peraturan duel yang harus dilaksanakan" ujar Alex.
Ketika itu Rein menyadari kebodohannya dan langsung tersipu malu, "mulai saat ini kau akan menjadi pengawalku, Shu! Dan kau harus mengikutiku kemanapun aku pergi. Kecuali! Di kamar mandi, toilet, dan kelas!" jelas Rein untuk tugas Shu sebagai mengawalnya.
"Tidak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu, Kak Nagasawa" balas Alex.
"B-baguslah..." ucap Rein dengan sedikit malu akan apa yang ia ucapkan tadi pada Alex adalah hal konyol.
"Tunggu! Apa aku juga harus mengawalmu hingga rumah, Kak Nagasawa?" tanya Alex yang baru menyadari bahwa Rein tidak melarangnya untuk kerumahnya.
"Itu benar. Serta panggil aku dengan nama depanku, Shu" jawab Rein dengan senyum penuh kemenangan.
"Baiklah, Kak Rein..."
Alex terpaksa menyetujuinya dengan pasrah. Ia juga merasakan hawa iri serta dingin yang menusuk dirinya.
Hawa itu tidak lain berasal dari Asuka yanh sedang tersenyum seperti biasanya. Namun senyuman itu mengisyaratkan bahwa Alex tidak boleh sekalipun macam-macam dengan sahabatnya, yaitu Rein.
Alex sedikit mengangguk pelan, karena mengerti atas kode yang diberikan oleh kakaknya itu dan berusaha untuk mematuhinya.
"Aku akan ke kelas dulu, jam istirahat sudah hampir berakhir…" ujar Alex yang hendak beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kelas.
"Temui aku sepulang sekolah, Shu" pinta Rein dengan terburu-buru, karena melihat Alex pergi dengan cepat.
Alex tidak menjawab namun ia melambaikan tangannya, tanda kalau ia mengerti dan akan melakukannya sesuai perintah dari Rein.
Seusai sampai dikelas, Alex langsung disambut oleh muka penasaran dari seluruh gadis dikelasnya. Khususnya Alicia dan Yuki dengan tambahan wajah yang bercampur kesal.
"Kenapa kalian semua?" tanya heran Alex melihat tingkah laku Alicia dan Yuki serta gadis dikelasnya yang seperti tidak biasanya.
"Apa kau baru saja makan bersama dengan Kak Nagasawa, Shu?!" tanya Yuki dengan nada kesal.
Alex heran bagaimana bisa kabar tentangnya dapat tersebar secepat itu? Padahal ia baru saja selesai makan dengan Rein, apakah seseorang ada yang meng stalking dirinya?
"Itu benar, memangnya ada apa dengan itu?" tanya Alex yang masih tidak mengerti hubungan dirinya makan bersama Rein dengan kekesalan Alicia dan Yuki serta pandangan yang diberikan semua murid dikelasnya itu.
"Karena itulah semua murid di akademi Tokyo membicarakanmu! Mereka mengira kau sedang berpacaran dengan murid gadis terkuat di Akademi Tokyo! Apa kau sekarang tahu? Kenapa semua murid melihatmu seperti itu, Shu?????" jelas panjang lebar dari Yuki dengan nada bercampur kesal akan ketidak pekaan dari Shu.
"Siapa yang mengarang hal konyol seperti itu?!!" ucap kejut Alex dengan kabar burung yang telah tersebar hingga ke seluruh Akademi Tokyo.
"Bukannya aku peduli kau mau pacaran atau tidak. Tapi! Sebaiknya jaga predikatmu sebagai ketua kelas yang terhormat, Kirihara!" tambah Alicia yang sama kesalnya dengan Yuki.
Alicia dan Yuki langsung kembali ke tempat duduknya dengan marah, tanpa menjawab pertanyaan dari Alex tadi.
Alex hanya menghela nafas pasrah aka gosip yang beredar tentang dirinya dan harus menahan gosip itu selama setahun utuh, lalu tidak mencoba untuk memperparah gosipnya yang sedang menyebar sekarang ini.
#########
Hari sudah mulai sore, lonceng tanda pulang sudah dibunyikan.
Sedari tadi Alex sedang menunggu Rein didepan gerbang akademi Tokyo selama lebih dari dua jam yang lalu, namun hingga kini ia belum melihat Batang hidung Rein sedikitpun dan Alex sudah mulai mencapai batas kesabarannya.
"Maaf, Shu! Aku telat" panggil Rein dari kejauhan sambil berlari kecil kearah Alex dengan wajah bersalah.
"Tidak apa-apa. Kita mau kemana?" tanya langsung Alex.
"Eh? Apa kau tidak mau mendengarkan penjelasanku, Shu?" tanya Rein dengan heran akan sifat Alex yang tidak peduli dengan alasan terlambatannya.
"Tidak. Paling Kak Rein sedang mengerjakan tugas dari guru kan?" tebak Alex dengan mudah.
"Humn, itu benar. Tapi darimana kau tahu itu, Shu?" Rein heran atas tebakan Alex yang benar adanya itu.
Sebelum menemui Alex digerbang Akademi Tokyo, Rein tadi mendapatkan tugas dadakan dari para guru sekaligus dan ia tidak bisa menolaknya. Karena identitasnya sebagai murid terkuat sekaligus teladan membuat ia terkekang dalam tugas itu.
"hanya menebak saja. Lalu, kemana kita pergi, Kak Rein?" tanya lagi Alex akan tujuan Rein ingin pergi, sekaligus ia akan mengawalnya sebagai kesepakatan dari duel tadi pagi.
"Mall. Aku ingin belanja terlebih dulu sebelum pulang" jawab Rein dengan pasti dan yakin.
"Baiklah" ucap setuju dari Alex.
Mereka berdua pun menuju mall terdekat dari akademi tokyo dengan menaiki taksi untuk mempercepat perjalanan, karena matahari mulai berada diujung barat.
Tidak sampai 15 menit, Alex dan Rein sudah tiba ditujuan. Kini mereka mulai memasuki mall itu, lalu menaiki eskalator untuk menuju lantai yang menjadi tujuan Rein.
"Disini, Shu" seru Rein dengan berhenti tepat didepan pintu masuk toko itu.
"Disini? Apa kau yakin, Rein-senpai?" tanya Alex akan toko yang dimaksud oleh Rein.
"Aku sangat yakin. Ayo" ajak Rein dengan menarik tangan Alex.
"Tidak. Sebaiknya aku menunggu diluar saja, Kak Rein" tolak Alex dengan berusaha menahan tarikan dari Rein yang begitu bersemangat.
"Kau pengawalku, maka dari itu kau harus ikut kemana saja denganku. Walaupun itu toko pakaian wanita!" jelas Rein tentang tugas Alex sebagai pengawalnya.
"Baik, aku akan ikut…" pasrah dari Alex yang langsung Rein tarik untuk masuk ke toko pakaian wanita.
Begitu masuk, Alex disambut oleh beberapa macam pakaian wanita, mulai dari kaos, baju, rok, celana, sampai pakaian dalam sekalipun.
Ia di dalam juga mendapatkan tatapan menyakitkan dari pengunjung wanita lainnya dan ingin cepat-cepat keluar dari toko itu.
Satu jam kemudian, Alex akhirnya bisa keluar dari tempat terlarang itu, setelah Rein mendapatkan barang yang ia inginkan.
Kini Alex sedang menarik nafas untuk menenangkan pikiran dan hatinya terlebih dulu. Namun sebelum tenang sepenuhnya, Rein kembali mengajaknya untuk keliling mencari belanjaan lainnya.
"TOLONG!!!"
Pada saat tengah berjalan, terdengar suara teriakan minta tolong keras dari seorang wanita yang meminta tolong, karena bayinya jatuh dari gendongan yang disebabkan kelalaian saat akan mengambil barang.
Rein yang mendengar teriakan itu langsung mengeluarkan tekanan mana besar, karena sang bayi jatuh dari lantai empat.
Namun, saat ingin bergerak untuk ikut melompat dan menangkap bayi yang jatuh tadi. Ia dikejutkan oleh sosok Alex yang sudah terlebih dulu menangkap bayi dari sang wanita dengan aman hingga terjun ke lantai paling dasar.
Rein langsung bingung bagaimana caranya Alex sudah sampai sana dengan begitu cepat? Padahal jaraknya begitu jauh dilantai delapan, tempat dia berdiri tadi bersama Rein. Terlebih Rein tidak sama sekali mendengar atau bahkan melihat pergerakan Alex saat menuju ke bawah, dia seolah menghilang lalu tiba-tiba bisa sampai disana dengan sekali kedipan mata. Seperti dia menggunakan sihir teleportasi, yang sudah lama hilang dan tidak ada penggunanya hingga ribuan tahun.
Cuma satu orang yang bisa menggunakan sihir itu dan ia telah lama mati ribuan tahun yang lalu. Mustahil kalau orang itu masih hidup hingga sekarang, begitulah tanggapan Rein.
Tapi ia masih bingung cara Alex bisa sampai sana dengan begitu cepat hingga Rein sendiri tidak sedikitpun menyadarinya.
Seraya memikirkan itu, Rein menghampiri Alex dengan turun lewat eskalator bersama dengan ibu dari si bayi.
"Terima kasih, telah menyelamatkan bayiku. Kau sungguh penolongku! Sekali lagi terima kasih banyak!" ucap si ibu dengan banyak bersyukur bahwa bayinya masih bisa terselamatkan oleh Alex, serta ia sangat menyesal akan kelalaian hingga hampir membuat anaknya sendiri terbunuh.
"Iya. Sama-sama" jawab Alex dengan senyum kecil.
"Tapi kau sungguh hebat! Kau seperti melakukan teleportasi dari lantai atas sampai ke bawah. Kau pasti kelak akan menjadi seorang Grand Magus" ujar tambah dari si ibu itu.
Ternyata tidak hanya Rein saja yang berpikir bahwa Alex menggunakan teleportasi untuk menangkap bayi yang jatuh tadi, ibu dari bayi itu juga dapat berpikiran yang sama dengannya.
"Anda bisa saja" balas singkat dari Alex.
"Baiklah, aku pergi dulu. Terima kasih sudah menyelamatkan bayiku, nak" ucap ibu itu dengan pergi seraya memberi hormat pada Alex karena sudah menyelamatkan anaknya.
"Shu, kita akhiri saja hari ini. Namun sebelum itu ada satu tempat yang ingin kunjungi sekarang ini" ujar Rein dengan nada serius.
Alex hanya mengganguk tanpa bertanya kemana ia akan dibawah pergi oleh Rein di malam hari seperti saat itu.
Selepas keluar dari mall, mereka berdua menaiki taksi lagi dan tidak lama kemudian taksi itu berhenti.
Alex dan Rein melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ditengah malam yang penuh Bintang. Disepanjang jalan otak Rein terus berpikir secara keras akan keputusan serta logikanya tentang sosok Alex.
Kenapa ia tidak mengeluarkan kemampuannya saat berduel? Kenapa bisa ia menyerah secepat itu? Dan bagaimana bisa ia dapat bergerak secepat itu saat menangkap bayi itu? Itulah serangkaian pertanyaan yang sedang Rein pikir dengan keras.
"Apakah disini tempat yang kau maksud, Kak Rein?" tanya Alex untuk memastikannya agar Rein tidak salah tempat.
"Benar. Disinilah tujuan terakhir kita" jawab Rein untuk menghilangkan keraguan Alex.
"Tapi, kenapa kita di Moon Arena?" tanya heran dari Alex akan tujuan Rein datang malam-malam ke Moon Arena.
Mereka sekarang tepat berada ditengah Moon Arena, yaitu tempat duel antara Alex dengan Rein tadi pagi dan sekarang mereka disana lagi.
"Aku akan bertanya padamu dan jawab dengan serius serta jujur pertanyaanku ini" ujar Rein dengan tatapan mata tajam kearah Alex.
"Baiklah…" jawab Alex dengan perasaan tidak enak.
"Siapa nama lengkapmu?" tanya Rein.
"Kirihara Luther Shu" jawab Alex dengan berbohong.
"Kau berbohong padaku, Alexander Luther Louise!" balas Rein dengan sangat marah seraya mengeluarkan tekanan Mana yang berwujud petir emas menyambar.
"Hahaha, memang hebat cucu dari Dewa penguasa Olympus, Zeus, bisa mengetahui identitas asliku secepat ini…"