The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 06 : Satu Malam Panjang



Shu sama sekali tidak tahu siapa wanita didepannya ini dan mengapa dia bisa menggunakan sihir dimensi sama persis dengannya.


Shu semakin tertekan oleh si wanita itu, dengan pelahan Shu mencoba menekan balik dari adu pedang mereka yang menimbulkan percikkan es dan kegelapan.


"Fire Magic : Force Explosion!"


Shu mengucapkan sebuah mantra yang membuat kepalan api besar diantara ia dan si wanita itu.


Secara respon cepat mereka berdua langsung mundur kebelakang untuk menghindari ledakan api besar dari sihir yang Shu ucapkan.


"Darkness Magic : Illusion Weapon."


Ucap Shu dengan wanita itu secara bersamaan.


Dari tangan kiri mereka berdua muncul sebuah pedang yang sama tapi berbeda, pedang yang ada di tangan kiri mereka adalah pedang dari masing-masing musuh mereka sendiri.


Illusion Weapon adalah sihir kegelapan untuk meniru senjata dari lawan mereka, efek dan kekuatannya pun sama dengan aslinya.


"Cih, dia juga memikirkan hal yang sama denganku juga" ucap dalam hati Shu.


Ia tak menduga si wanita itu memikirkan hal yang sama dengannya yaitu menggunakan sihir kegelapan untuk bisa meniru kekuatan pedang dari lawan.


"Shu ku, berhati-hatilah dia bukan orang biasa yang akan mudah kau kalahkan" ujar Lucy dengan nada yang khawatir pada Shu.


"Aku bisa merasakan dari tekanan mananya, dia adalah seorang Demon" tambah Miry.


"Iya, aku mengerti. Sejak awal kemunculannya sudah kuduga ia sangat kuat, bahkan dia bisa menggunakan Dimensional Magic sepertiku. Tapi siapa dia sebenarnya??"


Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Shu tentang siapa wanita yang sedang ia hadapin ini. Namun sekarang yang terpenting baginya adalah bagaimana cara ia bisa membalikkan keadaan yang kurang menguntungkan bagi Shu.


"Heee, kau memikirkan hal yang sama denganku, siapa kau?" tanya sang wanita.


"Seharusnya itu kata-kataku, siapa kau sebenarnya?!" balas Shu. Kemudian ia bersiap dengan kuda-kuda nya "aku tahu kau bukanlah seorang manusia" lanjut Shu.


Wanita itu melepaskan posisi saat akan menyerang Shu dan membiarkan kedua pedangnya bergantungan di tangan.


"Memang benar aku bukanlah manusia, kau bisa memanggilku dengan nama Evil Nightmare" jawab sang wanita.


"Evil Nightmare?"


Shu tidak pernah mendengar nama Evil Nightmare sebelumnya. Namanya pun tidak ada dalam catatan sejarah dan tidak ada dalam DPO.


"Darkness Magic : Alchemist weapon" ucap sang wanita.


Dari yang semula pedang ganda kini dia memegang sebuah katana berwarna hitam dengan ujung bilah berwarna biru es yang berkilau.


"Katana art style : Void Attack."


Secara tiba-tiba sosok si wanita itu menyerang dengan kecepatan abnormal, ia menghunuskan katana nya ke depan dan tepat mengarah ke jantung Shu.


Shu yang masih bisa melihat gerakan wanita itu langsung menghindari serangan fatal itu dengan menyerongkan badannya ke kanan. Alhasil serangan wanita melewati dirinya namun-


"Blink...Katana Art Style : Middle Slash."


Setelah serangannya meleset, dia menggunakan Blink dan mengangkat tinggi katana nya ke atas lalu menyerang secara vertikal ke bawah tepat ke kepala dari Shu.


"Perfect Defense!"


Dengan cepat Shu menyilangkan kedua pedangnya lalu mengangkat ke dekat kepalanya untuk menahan serangan dadakan itu.


*Traangggg!


Perfect Defense adalah skill pertahanan sempurna yang bisa menahan semua serangan fisik secara tunggal saja. Namun Shu tetap mendapatkan luka walaupun sudah menggunakan Perfect Defense nya. Ia mendapat sebuah luka goresan dipipi kanannya.


Ujung bilah katana itu sudah sangat dekat dari wajah Shu yang membuat luka kecil pada pipinya, jarak antara Shu dan katana itu hanya setipis kertas.


Si wanita itu kemudian mencoba menekan Shu lewat adu pedangnya. Shu yang berada dibawah hanya bisa menahan tekanan dari si wanita yang semakin berat dan kuat hingga dirinya semakin tenggelam didalam tanah. Jika dia bergerak maka serangan itu akan langsung mengenai kepala lalu ia pasti akan terpenggal dalam sekejap mata.


"Akan aku tempuh jarak ribuan mil cahaya untuk pulang, Dimensional Magic : Recall."


Shu terpaksa menggunakan sihir dimensi nya lagi yang sudah keempat dalam kurung waktu 24 jam. Sang wanita yang berada didekat Shu tidak bisa lepas dari sihir yang mempunyai diameter 10 meter itu.


Sesaat muncul cahaya berwarna putih menyilaukan mata dari si wanita itu dan saat ia membuka matanya, sosok Shu sudah berada di depannya dengan kedua pedangnya yang menancap ke dalam tanah.


Shu sedikit membungkuk karena mengalami kelelahan yang berlebihan dengan mulut yang keluar sedikit darah. Penyebab mulut Shu keluar darah adalah ia terlalu banyak menggunakan mana hingga tubuhnya terkena dampak dari sihir Shu sendiri.


"Shu, apa kau baik-baik saja? Kau sudah menggunakan sihir dimensi hingga empat kali, tubuhmu tidak akan kuat menahan efek dari sihir itu" ucap Lucy.


Ia begitu khawatir pada Shu karena ia juga tau bagaimana kondisi dari Shu sendiri.


"Aku tidak apa-apa, Lucy. Kau tidak perlu secemas itu" jawab Shu.


"Jika kau mau kau boleh menggunakan kekuatanku ini, Luther."


"Itu benar, Shu. Jika tidak kau aka-"


"Miry, Lucy, aku tidak akan mati ditangan wanita itu. Aku masih memiliki cara agar bisa menang darinya."


Walaupun Lucy dan Miry bersikeras agar Shu menggunakan kekuatan salah satu dari mereka, tapi ia masih bersikeras menolak permintaan mereka berdua.


Ia tidak akan menggunakan kekuatan sebenarnya, kecuali bila Shu ingin melindungi sesuatu hal yang sangat berharga bagi dirinya sendiri.


Mereka berdua pun terpaksa menurut dan menghormati apa yang sudah menjadi keputusan dari Shu sendiri.


"Mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya, Darkness Magic : Dark Territory."


Dari sekitar Shu muncul hawa kegelapan yang luar biasa pekat dan begitu hitamnya.


Dark Territory adalah sebuah sihir kegelapan yang membuat area kegelapan berdiameter 4 meter dengan titik tengahnya yang berada pada orang yang melafalkan mantra itu.


"Sudah sekian lama aku tidak melihat sihir itu, Ice Magic : Frost Aura."


Disekitar dari sang wanita muncul aura yang sangat dingin, mengelilinginya. Bahkan rumput dan pohon-pohon yang berada di dekatnya langsung membeku seketika.


Frost Aura adalah sihir skala ruang yang dapat membuat benda disekitarnya menjadi beku seketika, sihir ini merupakan sihir tingkat tinggi yang sebanding dengan Dark Territory milik Shu.


"Blink..." ucap serentak mereka berdua.


*Traangggg!!!


Suara benturan keras terjadi antara katana dan kedua pedang dari si wanita dan juga Shu. Benturan itu memercikkan butiran-butiran es yang Indah.


"Ice Magic : Frost Prison."


Muncullah sebuah bongkahan es besar yang langsung membeku Shu ketika ia sedang beradu pedang dengan si wanita.


Saat melihat Shu membeku diam di penjara es itu, si wanita bisa menarik nafas lega dan merasa sudah menang. Karena melihat Shu sudah tidak bergerak sedikitpun didalam penjara es miliknya.


"Dia sungguh merepotkan sekali" gumam sang wanita.


"Baiklah akan aku akh-ehh??!"


Ia begitu tak percaya penjara esnya mengalami keretakan akibat Dark Territory milik Shu yang semakin membesar seiring berjalannya waktu.


*Krackkk...Ctiaarrr!


"Jangan pikir kau dapat menang dengan mudah dariku, Fire Magic : Breath Fire Dragon."


Saat itu juga si wanita langsung melompat mundur untuk menghindari nafas api dari sihir milik Shu tersebut. Kemudian ia merentangkan tangan kanannya ke udara dan menciptakan sebuah Katana yang terbuat dari es yang bersinar indah.


"Bekukan semua musuh-musuhku, bersinarlah di kegelapan yang abadi ini. Tunjukkan kekuatanmu pada dunia ini, bawakan kutukan pada dunia ini, Scared Cursed Snow."


Katana itu makin bersinar berwarna biru terang yang Indah. Di sekitaran wanita itu terdapat butiran-butiran salju yang keluar dari Katana salju itu.


"Kurasa sudah cukup main-mainnya, Holy Magic : Faster Move."


Dengan cepat si wanita menendang tanah dan meluncur lurus ke arah Shu yang sedikit terkaget akan gerakan yang cepat itu.


"Art Skill : Snow Breaker."


Saat si wanita mengucapkan skill itu, katana menjadi lebih bersinar lagi dan mengeluarkan hawa dingin yang sangat luar biasa. Ia mengayunkan Katana nya menyerong ke arah Shu.


"Perfect Defense!"


Shu secara spontan melancarkan pertahanan terkuatnya untuk menahan serangan dari si wanita, namun-


*Krakkk...jdarrrrrr!


Shu terhempas jauh kebelakang, skill pertahanan nya tidak dapat menahan aura kekuatan dari katana salju itu. Ia terhempas sejauh 10 meter lebih hingga merobohkan beberapa pohon besar sekaligus.


Secara perlahan Shu mulai berdiri lagi dengan tubuh yang sedikit terluka serta luka patah tulang dibeberapa bagian tubuhnya. Namun bagi Shu itu hanya luka kecil, ia sudah menggunakan sihir penyembuhan seperti Heal dan Cure.


"Sial, walau aku sudah menahan serangan nya. Tapi aku masih bisa terpental hingga sejauh ini" gumam kesal Shu.


Ia tidak menyangka skill Perfect Defense yang merupakan skill pertahanan sempurna nya dapat dipatahkan hingga Shu terhempas jauh ke belakang, walau sudah menahan serangan itu.


"Apa sejauh ini saja kemampuanmu?" ucap ejek sang wanita.


Mendengar ejekan itu, Shu tersenyum kecil dan berkata "Tentu saja tidak, Cursed Magic : Eye of Demon."


Seketika mata kanan Shu berubah layaknya seorang Demon. Kekuatan Shu langsung meningkat puluhan kali lipat dalam sekejap, hingga membuat tanah di sekitarnya retak dan hancur beterbangan.


"Giliranku, Cursed Magic : Demon Mode."


Tepat setelah mengucapkan sihir itu, tubuh dari si wanita terselimuti aura kegelapan yang luar biasa muncul secara tiba-tiba. Dan setelah aura kegelapan itu menghilang, si wanita muncul dengan 5 pasang sayap hitam legam dipunggungnya dan dari balik topeng kaca hitamnya mata merah demonnya menyala terang.


Demon Mode adalah evolusi dari Eye of Demon dan Wings of Demon. Demon Mode ini meningkatkan kekuatan pengguna hingga beribu kali lipat kuatnya dan sihir ini hanya dapat dilakukan oleh Demon kelas atas saja, seperti keluarga tertinggi Demon.


Mata Shu begitu tak percaya bahwa musuhnya dapat menggunakan Demon Mode. Aura yang dikeluarkan wanita itu semakin besar dan kekuatannya bertambah ribuan kali lipat dari Shu.


Si wanita itu sudah tidak berdiri lagi, dia melayang sekitar satu meter dari permukaan tanah dengan 5 pasang sayap hitamnya.


"Bagaimana kita mulai pertarungan yang sebenarnya, Human?"


"Blink..." ucap mereka berdua dengan kompak.


*Traaangggg! Triinnggg…Crasshhh…


Kedua senjata mereka saling beradu keras hingga menciptakan gelombang kekuatan yang sangat besar ketika kedua senjata mereka saling berbenturan.


Shu berusaha menahan keras tekanan pedang dari si wanita yang memiliki kekuatan yang berjumlah ribuan kali lipat kuatnya. Bahkan si wanita menyerang Shu dengan menggunakan satu tangannya saja, dan nampaknya dia hanya menggunakan sebagian dari total kekuatannya pada saat ini.


"Earth Magic : Earth Prison Seal! Fire Magic : Hell Fire Explosive."


Sebelum melancarkan dua sihir secara beruntun, Shu terlebih dahulu mundur beberapa langkah agar dia sendiri tidak terkena sihirnya.


Setelah itu muncul sebuah penjara dari tanah dan batu yang di setiap sisinya terdapat relief sihir untuk menyegel sesuatu. Penjara itu langsung mengurung si wanita tanpa membiarkannya kabur dan dari bawah muncul rantai-rantai besar yang terbuat dari logam. Rantai-rantai itu mengikat pada setiap sisi dari penjara bawah dan menariknya ke pusat bumi.


Tak cukup disitu dari sekitar penjara yang sedang tertarik ke dalam bumi, muncul ratusan butiran-butiran api yang lama kelamaan menjadi semakin membesar dan akhirnya.


Jdiaaarr! Blearrr! Kdiaaar!


Sebuah ledakan besar terjadi yang sontak menghancurkan segala sesuatu yang ada disekitarnya.


Sementara Shu yang melihat ledakan itu hanya bisa membungkuk kelelahan karena baru saja menggunakan dua sihir tingkat tinggi yang banyak mengkonsumsi Mana dan energinya. Bahkan dia sudah melepaskan Eye of Demon, namun masih menyisahkan dua pedang yang kini jadi penopangnya agar Shu tidak jatuh karena kelelahan yang berlebihan.


"Shu, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tetap bersikeras untuk tidak menggunakan kekuatan kita berdua?! Kau bisa saja mati, apa kau tau itu?!"


Lucy begitu khawatir akan keadaan Shu yang sudah sangat parah. Dia sudah melebihi batas kekuatannya dengan menggunakan dua sihir area skala besar yang banyak menggunakan Mana dan juga energi. Ditambah Shu sejak awal sudah kelelahan karena sudah menggunakan sihir dimensi tiga kali dalam sehari. Dan Shu hanya tinggal memiliki sedikit Mana saja dan sejumlah energi untuk tetap bisa tersadar dan bicara.


"Bila kau masih bersikeras, maka suatu saat nanti kau akan mati, Luther. Dan bila kau mati, siapa yang akan melindungi orang-orang yang berharga bagimu?!"


Tak hanya Lucy yang sangat khawatir pada Shu, tapi Miry juga merasakan apa yang dirasakan oleh Lucy. Yaitu ketakutan ketika mereka berdua kehilangan Master nya.


"Tenanglah kalian berdua, aku yakin sekarang wanita Demon itu sudah mati."


Shu mencoba untuk menenangkan perasaan khawatir pada diri Lucy dan Miry. Ia mengakui memang benar apa yang dikatakan mereka berdua. Shu bisa saja mati terbunuh oleh wanita itu, namun sekarang ia yakin bahwa wanita itulah yang terlebih dahulu terbunuh olehnya.


"SHU/LUTHER!!!" ucap panik Lucy dan Miry.


Pada saat itu juga Shu langsung melihat ke arah kepulan asap bekas ledakan sihirnya. Disitulah mata Shu seperti melihat suatu kebohongan dan kemustahilan. Ia melihat sosok wanita yang terlihat samar-samar diantara kepulan asap, bahkan dia masih bisa terbang dengan sayapnya dan tidak mengalami luka ditubuhnya itu. Dia pun masih memegang Katana dari es yang masih ada di genggamannya.


Shu tidak tahu bagaimana dia bisa lolos dari serangan sihir tingkat tinggi itu, tanpa terluka sedikitpun.


Sesaat kemudian si wanita mengepakkan sayapnya dengan kencang dan melesat ke arah Shu disertai posisi siap menyerang.


"Perfec- guhaak!"


Saat akan mengeluarkan skill pertahanan, wanita itu telah terlebih dulu memukul keras ke perut Shu dengan menggunakan pangkal dari Katana nya itu.


Shu yang menerima serangan itu mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya dan tersungkur di tanah sembari memegang perutnya yang terpukul keras itu.


Tak membiarkan Shu istirahat, si wanita itu mengangkat Shu dengan mencengkeram kerah lehernya hanya dengan satu tangannya saja.


Saat ia diangkat oleh si wanita, Shu tahu kenapa wanita itu bisa lolos dari ledakan besar itu. Shu yang terangkat masih bisa tersenyum kecil. Sementara si wanita bingung, kenapa dia masih bisa tersenyum seperti itu.


"Tenyata sayapmu lah yang melindungimu dari ledakanku ya?" ucap Shu dengan melirik sayap hitam dari si wanita.


"Perkataan kau benar, sudah lama aku tidak menerima serangan sehebat dan semengerikan itu."


Tebakan Shu benar adanya, dia tahu dari bekas bulu yang sedikit terbakar di beberapa bagian. Ia tidak mengira bahwa sayap itu bisa melindungi penggunanya dari sihir apinya.


Kemudian si wanita melemparkan Shu ke atas dan mengucapakan sebuah sihir :


"Space Time Magic : Gravity Falls."


Ketika Shu berada di udara, tiba-tiba ia terhentak ke tanah langsung dengan kecepatan yang abnormal. Seketika itu ia mengeluarkan darah segar dari mulutnya dan mengalami benturan yang keras pada punggung dan tengkuk lehernya.


Semakin lama pun Shu semakin kehilangan kesadarannya. Pandangannya mulai menghitam dan telinganya sedikit mendengung.


"SHU!!"


Saat akan kehilangan secara penuh kesadarannya, Shu mendengar secara samar-samar seorang wanita lain meneriaki namanya. Shu tidak tahu siapa itu karena suara itu terdengar dengan samar-samar, namun suara itu tidak terdengar asing baginya. Beberapa detik kemudian Shu sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.


######


"Shu, bangunlah! Shu! Shu!"


Sebuah suara yang familiar terdengar oleh Shu. Kemudian dia membuka matanya secara perlahan-lahan dan melihat seorang gadis, dia adalah teman Shu sendiri. Dia adalah--


"Kanzaki?"