The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 03 : Kejutan Tak Terduga



"Maaf, tapi aku tidak tertarik, Tuan Putri" Shu pun kembali berjalan keluar dari aura dengan mengabaikan Alicia.


Alicia terkejut akan sifat Shu yang begitu acuh kepadanya. Ia pun kembali berjalan menyusul Shu yang sudah setengah jalan untuk keluar dari aula tempat upacara penerimaan murid baru Akademi Tokyo.


*Cekkhh!!


Alicia memegang lengan jaket Shu. Yang membuat langkah Shu sekali lagi terhenti, ia menengok ke arah belakang. Dan melihat muka Alicia yang memerah saat tangannya memegah lengan jaket milik Shu.


Shu tidak bisa membedakan ekspresi yang Alicia alami sekarang, entah itu malu atau marah atau mungkin dua-duanya. Karena Alicia memegang lengan jaket Shu dengan dilihat oleh ratusan siswa dan juga para perwakilan guru.


"Tuan Putri, bisakah kau melepaskan lengan jaketku?" bukannya bertanya kenapa dia memegang lengan jaket, Shu malah meminta Alicia untuk melepaskan lengan jaketnya.


"Berduellah denganku, Kirihara L. Shu!" tegas kembali Alicia.


Shu tidak tau, kenapa Alicia bersikeras untuk menantangnya berduel. Padahal seingatnya ia masih belum membuat masalah dengan siapapun.


"Mengapa aku harus melakukannya?"


"Jika kau menang mak-"


"Maka aku boleh meminta satu permintaan apapun kepadamu?" potong Shu dengan cepat.


Alicia terdiam sejenak oleh ucapan Shu yang ingin dia katakan tadi.


"Tuan Putri, ini adalah dunia nyata, janganlah kau samakan dengan anime dan manga. Dimana sang heroine menawarkan sebuah permintaan apapun kepada sang protagonis. Ini adalah kenyataan, jangan merendahkan martabatmu sampai seperti itu. Bila aku menang dan memintamu untuk menjadi budakku,  apakah kau mau? Pasti kau tidak mau, kan? Dan perlu kau ketahui aku adalah tipe laki-laki yang tidak mau melukai seorang wanita tanpa alasan."


Setiap lontaran kata-kata Shu membuat Alicia tersadar akan sosok Shu yang bisa dibilang adalah tipe laki-laki idamannya selama ini. Seorang laki-laki yang memiliki idealis yang cukup tinggi, seorang yang pintar dalam mengambil keputusan, menghormati seorang wanita, seorang yang sabar, dan paling penting adalah dia seorang yang berhati baik.


Tanpa sadar tangan Alicia yang memegang lengan jaket Shu mulai melonggar dan akhirnya terlepas. Shu pun tersenyum pada Alicia yang mau memikirkan tindakannya kembali.


Sekarang wajah Alicia menjadi merah tomat, bukan karena marah. Tapi karena ia malu begitu melihat senyuman dari Shu. Alicia mencoba mengalihkan pandangannya dari Shu dengan menunduk kebawah.


"Saya tahu Anda berada disini, Nyonya Carissa. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Anda."


Shu bicara seraya memandang ke salah satu sudut panggung di depannya.


Sontak semua orang bingung siapa yang Shu ajak bicara itu? Dan para guru tau siapa yang sedang Shu bicarakan.


"Ara ara ra, tidak aku sangka, kau bisa mengetahui hawa keberadaanku."


Seorang wanita muncul dari sisi gelap panggung. Wanita itu memiliki rambut putih abu-abu sepanjang pinggang, mata kuning keemasan, memakai sweater dengan ditutup jas berwarna merah maron, dan memakai rok hitam sepanjang lutut.


Wanita itu tersenyum kecil seraya berjalan dengan aura kedewasaan kearah tempat dimana Alicia dan Shu sedang berdiri sekarang.


Semua orang termasuk para guru dan murid baru terkejut, dengan kehadiran sosok wanita yang bahkan mereka tidak sadari sama sekali. Bahkan seorang Alicia pun tidak menyadari bahwa ada seseorang di sana.


Carissa adalah kepala sekolah dari Akademi Tokyo. Dia merupakan anak dari pendiri Akademi Tokyo, namun tidak ada yang tau persis soal kepala sekolah sebelum Carissa.


"Sebenarnya saya hampir tidak bisa menyadarinya, tapi saya masih bisa merasakan tekanan mana dari Anda, Nyonya Carissa."


"Kau memang pemuda yang menarik" puji sekali lagi dari Carissa.


Ia tidak begitu menyangka ada murid baru yang bisa menyadari sihir ilusi tingkat tingginya. Carissa tadi hanya lengah sedikit saja dan langsung diketahui oleh Shu.


Ini membuktikan bahwa Shu bukanlah murid baru yang biasa. Carissa menduga Shu mempunyai kekuatan yang luar biasa, walau sebuah sistem mencegah seseorang melebihi batas kekuatannya. Ia berpikir Shu mungkin bukanlah seorang manusia.


"Lalu ada hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Carissa dengan berjalan ke tempat Alicia dan Shu tengah berada sekarang.


"Saya ingin menyerahkan gelar murid terbaikku pada dia" ucap Shu sambil menunjuk Alicia dengan menaruh tangan kanannya ke pundak kanan Alicia.


"HAH?!!!"


Bukan hanya semua murid, para guru saja yang terkejut, tapi Alicia ikut terkejut hingga melebarkan pandangannya.


Sementara Carissa hanya sedikit terkejut lalu tersenyum pada Shu. Ia tidak mengira bahwa Shu akan memberikan gelarnya pada Alicia.


"Coba katakan alasanmu, kenapa kau memberikan gelar itu pada Alicia?" tanya Carissa.


"Saya hanya tak ingin kena masalah gara-gara gelar bodoh itu, Nyonya Carissa."


'Gelar bodoh' begitulah Shu menyebutnya, dia tidak mempermasalahkan ketika ia memberikan gelar itu pada Alicia. Justru ia bersyukur, jika Alicia mau menerimanya.


Dan menurut Alicia, baru kali ia bertemu dengan orang yang benar-benar sangat bodoh di seluruh dunia. Ia malah memberikan gelar murid terbaik kepada orang lain. Padahal gelar itu, dapat menjadikan seseorang sebagai calon Grand Magus.


"Baiklah, aku akan memberikan gelar itu pada Alicia-chan" jawab Carissa dengan diakhir senyuman kepada Shu dan Alicia.


Sementara Alicia hanya bisa menerima keputusan dari Carissa sebagai kepala sekolah Academy Tokyo. Sebenarnya dia senang menerima gelar itu, tapi di sisi lain ia merasa tidak enak kepada Shu yang seharusnya penerima gelar itu. Namun karena itu merupakan keputusan Shu, maka Alicia hanya bisa menerima dan berkata di dalam hati "Terima kasih, Kirihara L. Shu."


Ia terlalu malu untuk berterima kasih secara langsung kepada Shu.


"Baiklah, saya undur diri. Sampai jumpa, Nyonya Carissa, Tuan Putri" ucap Shu seraya berjalan keluar pergi dari aula.


"Siapa namamu?" tanya Carissa saat melihat Shu pergi dari aula.


"Kirihara Luther Shu" ucap Shu seraya menengok ke belakang dan tersenyum kecil pada Carissa dan Alicia.


Entah kenapa wajah Carissa terbeku setelah mendengar nama tengah Shu yaitu "Luther". Ia nampak familiar dengan nama tengah dari Shu.


Dan Alicia juga sepertinya pernah mendengar nama "Luther" dari suatu tempat. Tapi ia lupa, darimana ia pernah mendengarnya.


'Itu tidak mungkin…' pikir Carissa.


Ekspresi wajahnya seolah tak percaya akan pemikirannya sendiri. Carissa pun mencoba berpikir lebih jernih dan rasional.


'Sepertinya aku harus memastikannya' pikir Carissa dengan kembali ke panggung bersama Alicia.


 #####


"Hah..."


Shu sekarang berada di atap Akademi Tokyo, ia sedang menikmati hembusan angin yang nyaman.


Ia hanya berdiri dengan kedua tangan yang menjadi penyaga di tepi atap. Shu lebih suka berada disini daripada harus mengikuti acara yang membosankan baginya.


"Kenapa kau, Shu ku?"


Terdengar sebuah suara wanita yang berasal dari kepala Shu, suara itu begitu, manis, lembut, dan sedikit menggoda.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tapi aku merasakan sesuatu yang begitu hangat setelah bertemu dengan dia" gumam Shu.


Shu tidak tahu akan perasaan yang membingungkan itu. Di sisi lain, ia merasa kenal akan sosok dia. Namun inilah kali pertama Shu bertemu dengannya.


"Omong-omong, kau tadi hanya diam saja, Lucy?"


Lucy adalah roh yang tinggal di tubuh Shu sejak Shu masih bayi. Lucy adalah suatu roh yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, terutama pada elemen kegelapan atau Darkness.


Di seluruh dunia terdapat 8 elemen yang berbeda-beda yaitu Fire, Water, Earth, Lightning, Ice, Wind, Holy, dan Darkness. Masing-masing elemen mempunyai kelemahan dan kelebihan terhadap elemen lainnya, seperti api lemah akan air, tapi kuat jika disatukan dengan tanah.


Hampir semua orang di seluruh alam semesta memiliki energi sihir yang sering disebut Mana. Mana dalam diri seseorang memiliki jumlah kapasitas yang berbeda-beda satu sama lain.


"Aku? Aku tadi hanya tidur sebentar saja karena acara yang membosankan itu."


Sama halnya dengan Shu, Lucy juga merasa bosan akan acara yang membosankan. Ia memilih untuk tidur daripada mendengar atau melihatnya.


"Lalu, dimana dia?" tanya Shu dengan heran.


"Kau tahu kan? Dia sama denganmu, sama-sama merasa bosan dan dari tadi ia hanya bermain main dengan syal kesukaannya" ejek Lucy dengan nada menyinggung seseorang.


"Siapa bilang aku bermain-main, Lucy?!"


Terdengar lagi sebuah suara wanita selain Lucy, dia memiliki suara yang lembut, ringan, dan juga manis.


"Miry, darimana saja kau?" tanya Shu.


"Aku…hanya sedang…bermain dengan…syalku, Luther ku" jawab Miry dengan pelan sekaligus malu.


'Luther ku' begitulah cara Miry memanggil Shu sejak dulu, Shu sendiri tidak tahu alasan kenapa Miry memanggilnya seperti itu. Yang jelas dia dan Lucy memiliki suatu alasan tersendiri kenapa Shu dipanggil berbeda seperti itu.


Sama halnya dengan Lucy. Miry juga merupakan suatu roh yang telah tinggal di dalam diri Shu, sejak dia masih bayi.


*Tap tap tap tap…


Terdengar langkah kaki ringan dari belakang Shu yang berasal dari pintu yang berada di tengah atap.


Shu pun menengok ke belakang dan tenyata yang berjalan menghampirinya adalah Carissa. Ia berjalan ke arah Shu dengan senyuman kecil pada Shu.


"Sedang apa Anda berada disini, Nyonya Carissa?" tanya Shu ketika Carissa sudah berada didekatnya.


"Seharusnya itu pertanyaanku, Luther" jawab balik Carissa.


Shu tidak tahu mengapa Carissa memanggilnya dengan nama tengahnya yang merupakan nama manga keluarganya.


"Saya hanya merasa bosan saja" jawab Shu dengan melihat ke arah kumpulan pohon sakura yang sedang mekar dengan indahnya.


"Heh…dan juga tidak perlu seformal itu, Luther."


Carissa ikut berdiri di samping Shu dengan menyandangkan tangannya di pinggiran atap. Ia terus tersenyum dengan melihat senyuman Shu yang memandang ke depan.


"Tapi bisakah kau tidak memanggilku dengan nama tengahku, Carissa-sama?" tanya Shu dengan melihat ke samping kanan di mana Carissa sedang memandanginya dengan sebuah senyuman manis.


"Kenapa tidak boleh? Aku suka memanggilmu dengan nama 'Luther'" jawab Carissa dengan wajah yang sedikit memerah.


Shu langsung menelan ludahnya ketika mendengar jawaban yang manis dari Carissa. Ia pun langsung memalingkan mukanya ke arah lain dan berusaha tak melihat Carissa.


"Shu ku, jangan-jangan kau suka dengan wanita tua itu, ya?" tanya Lucy dengan nada yang cemburu.


"Apa itu benar, Luther ku?" tambah Miry.  Dia juga mengeluarkan nada cemburu pada Shu.


"Bisakah kalian berdua diam sebentar? Hatiku merasa sakit mendengar perkataan kalian itu" Shu sedikit kesal terhadap sifat Lucy dan juga Miry yang sedikit berlebihan.


"Kenapa kau memanggilku seperti itu, Nyonya Carissa? Bukan kah kau bisa memanggil dengan nama depan atau nama belakang?" tanya Shu dengan masih mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Itu karena kau mirip dengan ayahmu, Luther."


"Hah?!" Shu sedikit terkejut.


Dia tak pernah mengetahui bahwa ayahnya adalah teman dari seorang Grand Magus, Carissa. Karena ia sendiri pun jarang melihat ayahnya ataupun bicara kepadanya.


Tanpa sadar Shu menoleh kearah Carissa dengan muka yang sedikit terkejut, sedangkan Carissa hanya tersenyum kecil pada Shu.


"Apakah kau kenal dengan ayahku, Nyonya Carissa?"


"Dia adalah teman terbaikku" jawab Carissa yang masih memandangi wajah Shu dengan sebuah senyuman manis.


Sementara Shu heran kenapa Carissa dari tadi terus melihatnya. Shu pun berpikir apa karena ia mirip dengan ayahnya sehingga Carissa terus melihatnya ataupun alasan yang lainnya.


*Kriiingggg.....


Terdengar suara bel tanda pelajaran dimulai, dengan cepat Shu pergi meninggalkan Carissa sendiri, dan pergi ke kelas barunya. Tapi sebelum itu, ia terlebih dulu pamit undur diri kepada Carissa.


 ~~


Sekarang Shu sedang berjalan ke kelas 1-A, itu merupakan kelas barunya di Akademi Tokyo.


Akhirnya Shu sampai didepan kelasnya yang diatas pintunya terdapat papan yang bertuliskan "Class 1-A". Saat Shu akan membuka pintu kelas, ia mendengar suara dari dalam kelasnya. Itu petanda ia sudah telat masuk dan sudah ada guru di dalamnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya Shu memberberanikan dirinya untuk membuka pintu kelasnya dan--


"Permisi...?"


Suara didalam kelas sekejap langsung sunyi ketika Shu masuk. Semua mata di kelas itu menatap Shu dengan wajah kaget.


Sementara guru yang sedang menulis di papan pun ikut terdiam Shu masuk kelas itu. Guru wanita itu pun tersenyum kecil pada Shu dan menyuruh Shu untuk duduk di kursi yang ada dibagian pojok belakang sebelah kanan dekat jendela.


Shu langsung berjalan ke kursi yang dimaksud oleh guru itu dan sekali lagi semua mata mengikuti pergerakan Shu saat berjalan menuju kursinya.


Ia pun heran kenapa semua orang selalu melihatnya dengan mata yang terukir gambar love itu, namun tidak untuk satu orang. Ia adalah Alicia P. Britania.


Shu mengetahuinya karena dia duduk di pojok depan di deret tempat Shu duduk. Matanya yang begitu fokus melihat apa yang ditulis oleh guru itu.


Akhirnya Shu ikut dalam pembelajaran pertamanya di Akademi Tokyo.


"Bu Guru!" ucap salah satu murid wanita dengan mengangkat tangannya di saat guru tengah memberi pelajaran tentang mana.


"Apa ada hal yang kau belum mengerti, Yuki?" tanya guru dengan berhenti menulis dan melihat ke arah Yuki duduk.


Ia memiliki mata berwarna emas cerah, rambut sepinggang yang berwarna violet cerah serta memakai hiasan kain merah di kedua sisi kepalanya dan memakai jaket biru kehijauan.


 


"Tidak, Bu! Tapi aku ingin mengajukan Kirihara-kun sebagai ketua kelas" jawab Yuki dengan keras dan bersemangat.


"HAH?!" Shu yang semula tertidur karena bosan kini dia bangun dengan wajah kaget akan perkataan Yuki yang mencalonkan dirinya sebagai ketua kelas.


Yuki pun menengok Shu dengan senyuman manis karena tempat duduknya berada disamping sebelah kiri Shu.


"Saranmu bagus juga, Yuki" guru itu pun menyetujui saran Yuki.


Sementara Shu hanya bisa menghela nafas panjang sebenarnya ia tidak mau, tapi karena dia satu-satunya laki-laki di kelas ini. Terpaksa dia menjadi ketua kelas dan seharusnya sudah menjadi tugas laki-laki untuk memimpin.


"Baiklah, Bu Guru" jawab Shu dengan pasrah.


Semua murid pun senang mendengar jawaban Shu yang mau untuk menjadi ketua kelas, termasuk Alicia dengan gayanya yang pura-pura tidak peduli.


 #####


Di saat ini Shu sedang melamun dengan melihat ke arah luar dari jendela di sampingnya, penyebab ia begitu karena ia lupa tidak membawa bekal makanan sendiri. Sedangkan semua murid wanita sedang memakan bekal mereka masing-masing, kecuali dengan dua orang yaitu Alicia dan Yuki.


Mereka berdua saling melihat Shu yang sedang melamun dan mereka menyadari Shu tidak membawa bekal makanan, itu terbukti dengan tidak adanya kotak bekal di atas mejanya.


Yuki pun mendekati meja Shu dengan membawa bekal makanannya yang masih terbungkus dengan kain. Tak mau kalah, Alicia juga menghampiri Shu dengan meletakkan bekalnya di samping milik Yuki.


Shu pun heran, ada apa dengan dua gadis di sampingnya itu. Mereka saling melempar tatapan pesaingan yang tinggi satu sama lain.


"Kirihara, kau boleh memakan bekalku" ucap Yuki dengan muka yang sedikit merah tomat.


"Kirihara L. Shu! Aku akan memberimu bekalku, tapi jangan salah paham dulu! Aku melakukan ini agar kau bisa menjalankan tugas sebagai ketua kelas dengan baik dan benar, aku tidak mau kau lemas gara-gara tidak makan" ucap panjang lebar dari Alicia.


"Apa susahnya gadis ini untuk lebih jujur?" pikir Shu.


"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga tidak makan?" tanya Shu dengan melirik ke Alicia dan Yuki.


Mereka semua sama-sama mengeluarkan bunyi "emmnn..." sesambil mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Shu.


"Sudah kuduga, mereka sendiri tak memikirkan dirinya sendiri" pikir Shu.


"Lebih baik kalian makan bekal kalian masing-masing. Kalian tidak usah pikirkan aku, aku baik-baik saja" ucap Shu dengan di akhiri senyuman manis kepada Alicia dan Yuki.


Mereka berdua pun menuruti perkataan Shu dengan memakan bekal masing-masing. Shu pun kembali melihat pemandangan bunga sakura dari jendela.


 ######


Sementara itu, Carissa masih berada di atap. Ia masih di tepi atap dengan wajah yang sedang berpikir keras.


"Call..."


Call adalah sebuah sihir komunikasi yang dapat menghubungi seseorang dari jarak jauh. Jangkauan sihir ini tergantung pada konsentrasi dari penggunanya, semakin jauh jaraknya semakin membutuhkan daya konsentrasi tinggi untuk tetap terhubung.


"Lea-chan?" ucap Carissa ketika sihirnya sudah terhubung.


"Carissa kah? Sudah lama aku tidak mendengar suaramu, sebenarnya ada hal apa hingga kau menghubungiku?" tanya wanita yang menjadi lawan bicaranya.


"Aku sudah menemukannya, Lea-chan."


"Aku akan mendengarkanmu."