
"Aku tidak menyangka kalau Hermes akan mati secepat itu, tetapi lawannya 'dia' wajar saja kalah. Namun, berkat dia kita tahu kalau 'The Seed' masih belum sempurna" ujar seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang.
"Tapi, apa kau yakin dengan ini?" tanya seorang lelaki lainnya yang hampir memiliki tatto disekujur tubuh.
"Biarkan saja. Lagipula salahnya sendiri terlalu percaya diri bisa mengalahkan 'dia' dan Hermes hanya seorang New Gods saja, kehilangan dia tidak akan mempengaruhi sedikitpun kekuatan kita."
Lelaki tua itu dengan santainya menyepelekan apa yang ditanyakan oleh si lelaki bertatto. Mendengar jawabannya, dia hanya dia dan percaya akan keputusan yah diambil dari orang yang di hormatinya.
"Bagaimana tentang gadis itu? Apa adiknya itu masih mencoba untuk membangkitkan 'dia' sepenuhnya?" tanya lagi dari si lelaki bertatto.
"Entahlah… tapi dia tidak pernah berhasil melakukan" jawab lelaki tua itu dengan gampang seraya menengok kebelakang memandang si lelaki bertatto.
"Kenapa kau bisa seyakin itu, Zeus?" tanya lelaki bertatto yang terlihat bingung kenapa orang yang dia ajak bicara itu sangat yakin dengan pemikirannya.
"Karena 'kunci' kebangkitannya berada digenggaman tanganku…, Poseidon" jawab Zeus dengan tersenyum licik seraya mengepal tangan kanannya kuat-kuat.
#######
Selepas dari kejadian penyerangan di kedua dunia--Alfheim dan Midgard--Alex kini berada di Unknown World, tengah berbaring dipadang rumput yang sangat luas sambil ditemanin oleh angin sepoi-sepoi.
Ia sedang berpikir serta mengingat-ingat kembali ingatan baru yang muncul saat pertarungannya melawan Hermes. Alex melihat seorang gadis kecil tergeletak bersimbah darah dengan rambut pirang emas, gadis itu mirip seperti adiknya, Ellies.
Namun, bagaimana bisa? Lalu siapa Ellies yang maksud Hades? Apakah dia benar Ellies, adiknya?
Semua pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Alex, membuatnya semakin bingung dengan apa yang terjadi dikehidupan sebelumnya. Jika sedikit saja ada sebuah informasi lainnya, mungkin semua pertanyaan akan terjawab sekaligus.
"Bisakah kalian berhenti memeluk kedua tanganku?" tanya Alex dengan sedikit terganggu dengan kehadiran dua gadis cantik yang daritadi terus memeluk tangannya.
Sebenarnya daritadi Alex tidak sendirian, dirinya ditemanin oleh dua gadis cantik yang dengan sengaja terus memeluk erat tangan Alex seraya tersenyum kecil.
Gadis disebelah kanannya memiliki mata kuning tua, rambut pirang pucat, di kepalanya terdapat sebuah mahkota hitam serta sebuah bunga violet kecil, memakai kasual gaun kecil hitam dan dipunggungnya terdapat sepasang sayap hitam legam.
"Apa kau tidak puas dengan caraku memeluk, Alex-ku?" tanya gadis itu dengan menggoda Alex seraya tersenyum nakal kepadanya.
"Bukan begitu maksudku, tetapi bisa kah kau melepaskan tanganku, Lucy? Aku sedang ingin berpikir sendirian" jawab Alex dengan sedikit kesal akan tingkah Lucy yang terus mencoba menggodanya.
"Benar itu! Lepaskan tangan Alex, Lucy" kini gadis yang memeluk tangan kiri membela Alex tanpa memandang apa yang dilakukan olehnya sendiri.
Dia memiliki mata kuning keemasan, rambut putih panjang dengan poni lurus didepan, memakai gaun layaknya gaun pengantin dan juga memiliki sepasang sayap suci putih yang indah.
"Kau juga sama, Miry" ujar Alex yang menyadarkan Miry dengan apa yang dilakukannya sama saja seperti Lucy perbuat.
Kedua gadis cantik yang menemani Alex adalah dua sahabat kecilnya, Lucy dan Miry. Bangkitnya salah satu kekuatan Alex melepaskan belenggu pada mereka berdua dan membuat mereka berdua mempunyai wujud fisik.
Karena itulah, Lucy dan Miry terus menerus menempel pada Alex ketika tidak ada orang disekitarnya. Begitu kesempatan itu datang, mereka langsung memanfaatkannya dengan apa yang dilakukan Lucy dan Miry sekarang ini.
Selain itu, Alex berhasil menggunakan sihir tingkat tertinggi, Awakens Magic. Awakens Magic membuat seseorang membangkitkan kembali kekuatannya terdahulu atau menciptakan sebuah sihir yang melewati batasan takdir mereka masing-masing.
Semua orang bisa menggunakan Awakens Magic, tetapi masih belum tentu berhasil. Karena harus ada api pemicu yang sangat besar agar bisa membesarkan persentase keberhasilan. Adapun seseorang yang berhasil menggunakan Awakens Magic masih bisa dihitung jari.
Bila berhasil menggunakan Awakens Magic, maka orang itu akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa hebatnya. Yang selama ini berhasil atau memiliki kemampuan untuk menggunakannya adalah The Five Catastrophe.
Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan sebuah dunia, karena itu wajar saja mereka bisa menggunakan Awakens Magic.
Sementara sihir yang bernama, 'Abyss Form', itu merupakan sihir yang membuat Alex meningkatkan kekuatan fisik serta mempertajam semua Indra ditumbuhnya hingga tahap melewati batasan maksimal. Karena inilah Alex bisa melihat serta menahan semua serangan Hermes dengan sempurna, kecepatannya melebihi kecepatan cahaya dibandingkan Hermes yang masih dalam kecepatan cahaya.
Itulah yang menjadi penyebab kekalahan terbesar dari Hermes, serta dia terlalu menyombongkan kekuatannya hingga tidak segera mengambil kesempatan untuk membunuh Alex dan menjadikan sebagai mainannya.
Lalu mainannya kini berubah menjadi sebuah gerbang kematian untuk Hermes sendiri, melahirkan kembali sosok yang harusnya tidak dibangunkan oleh Hermes. Membuat salah satu dari pemicu tentang ramalan 2000 tahun lalu telah membunyikan sirene peringatan pada semua dewa.
Ditambah para dewa Olympus telah melanggar berat dengan penyerangan ke dunia lain dibawahnya. hal yang dilakukan para dewa sudah tidak bisa ditoleransi lagi oleh semua ras disepuluh dunia lainnya.
Para dewa juga membuat ras lain semakin membenci mereka setelah bencana 2000 tahun lalu, karena para dewa juga menjadi akar penyebab bencana yang terdahulu. Kini mereka juga telah melakukan hal yang sama seperti dulu, tanpa memperdulikan konsekuensi pada ras lain dan melanggar perjanjian yang telah disepakati oleh semua ras di kesebelas dunia.
Hanya tinggal menunggu waktu saja semuanya memuncak pada tahap klimaks dan terjadilah sebuah bencana sesuai dengan apa yang diramalkan 2000 tahun lalu. Dimana mungkin akan terjadi kehancuran dunia kedua kali dimulai dari detik-detik sekarang.
"Tentu bisa saja, tetapi aku minta imbalan sebagai balasannya…" jawab Lucy dengan senyum misterius. Dari senyumannya Alex tahu Lucy menginginkan sesuatu yang nampak besar, sesuatu yang mungkin sudah lama diinginkannya.
"Apapun yang kau minta, akan kuturuti semua, asal aku bisa melakukannya" walau senyuman Lucy terkesan sangat misterius, tetapi Alex tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan padanya.
"Kalau aku, Luther-ku?" tanya Miry dengan muka memelas kepada Alex.
Ia terlihat menginginkan kalau Alex juga memberikan tugas seperti yang dia beri ke Lucy dengan balasan dirinya boleh meminta sesuatu sebagai imbalan
"Saat ini aku hanya ingin meminta pada Lucy saja" jawaban Alex membuat Miry menggembungkan pipinya, lalu dia memalingkan wajahnya kearah lain. Alex yang melihatnya sedikit tersenyum kecil akan tingkah Miry ketika sedang kesal.
"Tapi selanjutnya, aku pasti akan meminta sesuatu padamu, Miry" lanjut Alex sambil tersenyum kecil.
"Benarkah?" tanya Miry yang melihat wajah Alex lagi dengan muka sangat senang.
"Iyaa…" jawab Alex dengan menyakinkan Miry. Miry yang kini sudah tidak merasa kesal lagi, tersenyum senang.
Ia tadi merasa cemburu kepada Lucy, karena Alex seperti memperlakukannya berbeda dengan Lucy. Tapi ternyata dugaannya salah, Alex memercayakan tugas yang diberikan kepada orang yang tepat saja.
Namun, yang paling membuat Alex bingung adalah tentang bagaimana kebenaran yang sesungguhnya, apakah sebenarnya Ellies yang sekarang adalah palsu? Atau sebaliknya?
Alex sama sekali tidak mengetahui kelanjutan ingatan lebih dari terakhir yang dirinya ingat, jika ada ada sesuatu yang bisa membuat Alex ingat lagi, sudah pasti dia tidak akan kebingungan seperti sekarang ini.
######
Disuatu tempat yang memiliki pemandangan hamparan hijau rumput luas ada dua gadis yang tengah berdiri. salah satu dari mereka menatap tajam ke seseorang yang lainnya.
Dia memiliki rambut pirang dan mata emas yang indah bak kotak perhiasan, di pinggangnya terdapat sebuah pedang istimewa miliknya yang merupakan warisan turun-temurun dari leluhur dan ia memakai baju layaknya seorang kesatria kerajaan.
"Aku kesini hanya untuk berbicara saja padamu…" ujar gadis satunya lagi dengan santai.
Gadis itu memiliki rambut pirang keemasan dengan warna mata biru langit yang indah menawan, dan memakai pakaian gaun pendek berwarna putih salju.
Entah kenapa gadis kesatria itu tetap tidak bisa sedikitpun memercayai kata-kata dari lawan bicaranya. Ia tetap mewaspadai secara penuh segala potensi, jika dia menyerang secara tiba-tiba.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Ellies?" tanya si gadis kesatria dengan masih waspada penuh.
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau 'dia' sudah bangkit, walau belum sepenuhnya" jawab Ellies dengan sedikit tersenyum.
"Hah? Bagaimana bisa kau melakukannya? Lalu siapa namanya sekarang?" tanya gadis kesatria dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Sebelum itu, kau harus bersedia membantuku untuk melawan para dewa busuk itu dan membangkitkan kembali dia secara sempurna" seru Ellies dengan masih tersenyum kecil seraya menunjuk si gadis kesatria.
"Kenapa kau tidak langsung memberitahuku? Apa jangan-jangan kau ingin menipu, Ellies?" tanya dia dengan rasa curiga yang semakin tinggi.
"Tidak mungkin aku berniat menipumu, aku akan melakukan apapun demi kakakku, termasuk mengorbankan nyawa siapapun dan aku sendiri" balas Ellies tanpa memperdulikan rasa bersalah atas ucapannya.
"Apa maksudmu?" tanya ulang gadis kesatria itu.
"Sudah kubilang. Demi mewujudkan rencanaku, aku tidak peduli seberapa banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk tujuanku" jelas singkat Ellies yang masih bisa tersenyum.
"Jangan bilang bahwa kaulah yang membawa Cerberus ke tengah kota Tokyo" tanya gadis kesatria itu dengan nada mulai tidak senang akan sifat Ellies.
Ia sangat tidak setuju dengan sifat egois serta ketidakpedulian Ellies demi tujuannya, yang tanpa ragu mengorbankan nyawa orang tidak bersalah hanya untuk memenuhi semua keinginan akan membangkitkan kembali kakaknya itu.
"Kalau iya, memang kenapa?" tanya lagi Ellies dengan menyepelekan masalah yang telat dibuat.
"Kau!? Puluhan orang mati karena ulahmu, apa kau tau?!" si gadis kesatria sudah terpancing emosinya.
"Aku tidak peduli sama sekali, aku hanya peduli dengan kakakku saja. Sebanyak apapun Human mati, mereka akan terus bertambah banyak layaknya rumput liar" Ellies kini sudah benar-benar tidak peduli atas semua orang yang mati, karena ulahnya sendiri selama tujuannya tercapai.
"Sudah kuduga kita memang tidak cocok. Ellies, aku tidak akan membantumu dan aku akan menghentikan kau sekarang juga!" seru gadis kesatria itu yang langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya yang memiliki siluet emas.
"Kau ingin melawanku, The Catastrophe, King of All Knight?"