
"Kakak! Kau lama sekali, Kak Shu!" teriak Haruka dari luar kamar Shu.
"Kita akan terlambat, Kak!" tidak hanya Haruka saja yang sedang menunggu Shu, tapi Haruki juga melakukan hal yang sama.
Mereka berdua sedang menunggu Shu ganti baju untuk menemani mereka ke festival tahunan SMP Tokyo sebagai wali murid.
"Baik, aku akan segera turun, kalian tunggu saja diluar duluan" jawab Shu.
Haruka dan Haruki menuruti perkataan Shu lalu menunggu diluar.
"Sial, kenapa mata kiriku masih buta? Sementara mata kananku sedikit membaik dari yang sebelumnya" gumam Shu.
Ia berkali-kali memfokuskan Mana nya pada mata, namun tetap saja tidak bisa memperbaiki penglihatan mata kirinya dan hanya bisa menunggu waktu untuk menjawab.
Shu pun mengambil sesuatu di laci lemarinya, benda itu adalah kacamata. Setelah memakai kacamata itu penglihatan mata kanan Shu sedikit membaik lagi, tapi tidak dengan mata kirinya.
Setelah itu, Shu berjalan menuruni anak tangga dan menuju luar, menemui Haruka dan Haruki yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Kak Shu, kau keliatan beda sekali ketika Kakak memakai kacamata itu" kesan Haruka ketika melihat Shu keluar dari pintu.
"Kakak seperti orang lain saja jika memakai kacamata" tambah Haruki.
Shu tidak bisa membedakan diantara mereka berdua sedang memujinya atau malah mengejeknya.
"Tapi, Kak Shu sangat keren memakai kacamata itu!" tiba-tiba Haruka baru terteriak dengan semangatnya.
"Humn, Kakak terlihat sangat tampan!" tak hanya Haruka, tapi Haruki juga seperti saudara kembarnya.
"Terima kasih, Haruka, Haruki" ucap Shu dengan menaruh tangannya di kepala mereka berdua, "ayo kita berangkat..."
"Ayo Kak Shu/Kakak!" Haruka dan Haruki langsung memeluk kedua tangan Shu.
Sementara Shu hanya bisa menahan rasa malunya selama sehari penuh ini.
Mereka berdua langsung menuju SMP Tokyo dengan menaiki kereta cepat, dikarenakan Shu untuk sementara tidak bisa menggunakan sihir tingkat tinggi seperti Dimension Magic.
>>>>>>
15 menit kemudian, mereka bertiga sampai di SMP ternama di Tokyo.
SMP Tokyo ini merupakan sekolah khusus perempuan, yang berarti semua murid dan gurunya adalah perempuan.
Namun khusus festival ini, SMP Tokyo dibuka untuk umum dan semua orang boleh ikut dalam festival rutinan yang diadakan setiap sekali dalam setahun.
Begitu memasuki gerbang, keramaian festival sudah terlihat dan Shu bersama kedua adik kembarnya masih dalam posisi yang sama. Yaitu keduanya masih memeluk lengan Shu.
Shu melihat sekelilingnya dan menjumpai banyak stand telah berdiri disisi kanan dan kiri jalan. Kebanyakan dari stand yang dapat Shu lihat adalah stand makanan, permainan, edukasi dan lain-lainnya.
Tak mau berdiri lebih lama lagi, Shu, Haruka dan juga Haruki mulai berjalan untuk menikmati festival SMP Tokyo. Lebih tepatnya Shu mengikuti arah tarikan dari Haruka dan Haruki yang sangat kompak.
Saat berjalan, Shu bisa merasakan tatapan tajam dari para pengunjung lelaki. Bagaimana tidak iri? Bila Shu berjalan dengan dua gadis cantik sekaligus yang memeluk lengannya erat-erat.
Ditambah muka Shu yang terlihat sangat tampan, hingga wajar kalau dia didekati dua gadis cantik sekaligus. Ini semakin membuat kesal para lelaki melihat fakta yang menyakitkan.
"Kak Shu, ayo kita makan Takoyaki" ajak Haruka.
"Ayo kita pergi, Kakak" tambah Haruki.
Mereka bertiga pun berjalan menuju stand makanan yang menjual Takoyaki dan Shu hanya bisa pasrah mengikuti arahan tarikan Haruka dan juga Haruki.
"Dengan makan Takoyaki kita bisa meminta Kak Shu menyuapi kita, Haruki" bisik Haruka.
"Ide yang bagus, Haruka. Kita juga bisa melakukan hal yang sama kepada Kakak" jawab bisik Haruki.
"Hah?"
Sekarang Shu tahu alasan mengapa Haruka dan juga Haruki sangat ingin memakan Takoyaki.
Mau tidak mau Shu harus menuruti kedua adik kembarnya yang manis, cantik, dan juga sangat manja itu.
Setelah membeli satu porsi sedang Takoyaki, Shu dan kedua adik kembarnya berjalan-jalan lagi sambil memakan Takoyaki yang telah dibeli tadi.
Lebih tepatnya Shu yang memakan Takoyaki nya, Haruka dan Haruki hanya memakan sesuap saja, itu pun Shu yang menyuapi mereka.
"Ketua? Dan wakil ketua?" ucap seorang siswi berseragam SMP Tokyo.
Ia menghampiri Shu, Haruka, dan juga Haruki ditengah keramaian Festival SMP Tokyo.
Merasa terpanggil Haruka dan Haruki menengok kebelakang lalu melihat ada seorang siswi dari sekolahnya yang sedang berdiri didekat mereka.
"Chichan?" ucap kompak Haruka dan Haruki.
Gadis didepan mereka memiliki tubuh mungil, rambut pink dengan twinstail panjang, mata bagaikan permata pink yang bersinar, dan memakai pakaian SMP Tokyo yang juga berwarna pink.
"Jangan-jangan dia adalah ... Senior Shu?!" ucap Chihara dengan nada yang sedikit histeris.
Shu teringat siapa gadis didepannya itu, dia adalah Nagasawa Chihara, dia adalah junior Shu yang sekarang duduk di kelas 3 SMP Tokyo sebagai Sekretaris OSIS bersama Haruka dan Haruki.
"Kau benar, Chihara" jawab Shu.
"Kau benar-benar berbeda jika memakai kacamata, Senior Shu!" jawab Chihara dengan bersemangat dan juga senang.
Sementara Shu hanya tersenyum masam, dia baru menyadari betapa berbedanya ketika ia memakai sebuah kacamata.
"Jaa~kami pergi dulu, Chichan" Haruka dan Haruki yang langsung menarik kedua tangan Shu.
Shu hanya memberi senyuman kecil sebagai ucapan selamat tinggal kepada Chihara.
Setelah berjalan lima menit, mereka bertiga sampai di gedung olahraga, yang dimana hari ini disulap menjadi gedung drama untuk memeriahkan festival SMP Tokyo.
Mereka pun memasuki gedung drama itu dan duduk di kursi tengah dengan posisi Haruka serta Haruki berada di samping kanan dan kiri dari Shu.
Saat drama dimulai lampu disekitar dimatikan, guna agar penonton ikut masuk dalam alur cerita drama.
Drama itu menceritakan tentang bagaimana dewa-dewi membuat sistem baru untuk kesebelas dunia dan menciptakan beberapa dunia yang sebagian besar masih belum diketahui atau tertulis di buku sejarah manapun. Yang merupakan salah satu misteri dan rahasia para dewa.
Bukan hanya menceritakan tentang itu saja, namun sebuah perjanjian antar ras, termasuk ras dewa.
Perjanjian dimana tidak ada peperangan antar ras atau perebutan kekuasaan antar dunia.
Selesai pertunjukan drama, mereka bertiga keluar dari gedung itu dan menuju ke tempat selanjutnya.
"Kak Shu, Kak Shu! Itu, Kak Shu!" tiba-tiba Haruka menarik tangan Shu dan menunjukkan sesuatu yang dia maksud.
Shu menolehkan kepalanya namun tiba-tiba pandangannya menjadi malas.
"Lagi?"
"Kumohon, Kak Shu..." Haruka langsung memasang wajah memelas kepada Shu.
"Aku juga, Kakak..." Haruki juga seperti biasa mendukung saudarinya, Haruka, sama seperti kakaknya dia juga memasang wajah memelas kepada Shu.
Sementara Shu memandang dengan Poker Face pada kedua adik kembarnya.
"Aku akan melakukannya. Tetapi, lain kali... kalian yang merawatnya, dan bukan aku" tawar Shu.
Setelah menerima jawaban Shu tersenyum kecil dan menghampiri sesuatu yang dimaksud Haruka dan Haruki.
"Lalu, kalian pilih yang warna apa?" tanya Shu.
"Itu!!" ucap serentak secara kompak Haruka dan Haruki.
Shu menghela nafas pendek dan berkata, "kenapa kalian selalu sama dalam hal memilih?" heran Shu.
"Tidak boleh?" tanya Haruka dan Haruki dengan wajah imut nan manis.
Shu yakin melihat aura pink bersinar disertai bintang-bintang berada di sekitar kedua adik kembarnya.
"B-bukan itu maksud aku, jadi... kalian mau ikan itu kan?" Haruka dan Haruki sama-sama mengangguk kecil dengan wajah yang masih memelas.
Hal yang dimaksud Haruka dan Haruki adalah permainan kingyo-sukui, permainan memasukan ikan ke dalam wadah dengan jaring yang terbuat dari kertas tipis.
Alasan kenapa Shu tadi terlihat malas untuk melakukan permintaan kedua adik kembarnya adalah terakhir kali mereka berdua mendapatkan ikan dari Festival Musim Sakura, ujung-ujungnya Shu yang merawat ikan yang diinginkan oleh Haruka serta Haruki
Setelah membayar beberapa yen dan menerima tiga buah jaring untuk mencoba.
Tak butuh waktu lama, Shu berhasil menangkap dua ikan yang diinginkan oleh Haruka dan Haruki. Shu pun berdiri dan memberikan ikan yang ia dapat kepada masing-masing adiknya.
Menerima pemberian Shu, yang merupakan kakak tercinta mereka, Haruka dan Haruki langsung senang.
"Baiklah, selanjutnya kita akan kemana?" tanya Shu.
"Kak Shu, apa Kakak mau mengunjungi stand kelas kami?" tawar Haruka dengan nada penuh semangat.
"Itu benar! Kakak harus pergi ke stand kelas kami" Haruki mencoba meyakinkan Shu agar setuju.
Shu menghela nafas panjang kemudian mengangguk ringan seraya tersenyum kecil. Sebagai seorang kakak sudah tugas Shu untuk membuat kedua adiknya senang. Untuk sekali lagi, wajah senang terpancar dari Haruka dan juga Haruki.
Mereka bertiga pun berjalan menuju tempat stand kelas Haruka dan Haruki. Setelah 10 menit jalan kaki, akhirnya mereka bertiga sudah sampai di stand kelas mereka.
Namun wajah Shu begitu tak percaya dengan stand yang dirikan oleh kelas adik-adiknya itu. Sangat berbeda sekali dengan Image Shu terhadap Haruka dan juga Haruki.
Shu pun duduk diantara meja-meja yang tertata rapi dan terdapat pengunjung lain yang duduk sambil menikmati makanan. Sementara Haruka dan Haruki pergi sebentar untuk mengurus sesuatu urusan.
"Hahhhh..." Shu menghela nafas panjang untuk waktu yang lama.
Sementara itu Haruka dan Haruki sudah kembali dari urusan mereka, telah kembali dengan memakai pakaian yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Mereka berdua duduk di samping kanan dan kiri dari Shu dengan wajah tersenyum.
Shu sekali lagi menghela nafas terhadap kedua adik kembarnya, karena melihat penampilan mereka.
"Haruka, Haruki..." panggil Shu.
"Kenapa, Kak Shu~nyaw" jawab Haruka.
"Ada apa, Kakak~nyaw" jawab juga Haruki.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kalian berpakaian seperti itu, tapi ... kenapa stand kalian mendirikan restoran Maid bertema Skinbeast?" tanya Shu.
Restoran Maid Skinbeast, itulah stand yang dirikan oleh kelas Haruka dan juga Haruki.
Sesuai dengan temanya, para pelayannya memakai pakaian Maid berserta kuping kucing palsu, lengkap dengan ekornya juga.
Haruka dan Haruki juga ikut mengenakan seragam Maid lengkap dengan aksesoris kuping kucing dan ekornya.
"Kita mencoba konsep baru, yang dapat mendatangkan lebih banyak pengunjung~nyaw" jawab Haruka.
"Dan hasil lumayan menjanjikan~nyaw" sambung Haruki. Shu mulai paham dengan apa yang dikatakan oleh Haruka dan Haruki.
Memang benar ide atau konsep menarik akan mendatangkan keuntungan yang lebih banyak lagi.
"Silahkan dinikmati, Shu-senpai" ucap seorang gadis dari samping kanan Shu.
Merasa kenal dengan suara itu, Shu menengok ke kanan dan ternyata ada adik kelasnya, Chihara, yang juga berpakaian seperti Haruka dan Haruki.
Chihara membawakan nampang berisi sepiring Parfait Stoberi dan memeluk nampangnya setelah meletakkan Parfait nya di meja, tempat dimana Shu duduk.
"Terima kasih, Chihara" ucap terima kasih Shu.
"Huum…, oh ya, apa Senior Shu sudah bertemu dengan Kakakku?" tanya
"Kakakmu juga bersekolah di Akademi Tokyo?"
"Iya, dia sekarang kelas 2 dan sudah bergabung di Twelve Paladin's" jawab Chihara. Muka Shu begitu tak percaya setelah mendengar kata "Twelve Paladin's".
Twelve Paladin's adalah kelompok yang berisi 12 murid terkuat di Akademi Tokyo dengan kekuatan besar, hampir setara dengan The Guardian dan Grand Magus.
"Kalau tidak salah, nama kakakmu adalah, Nagasawa Rein 'kan?" tanya lagi Shu untuk memastikan.
"Benar, Senior Shu" jawab Chihara.
"Mungkin aku harus menemuinya nanti" pikir Shu.
"Kalau begitu, aku pergi dlu, Senior Shu. Masih ada pesanan yang harus aku antarkan" dengan berkata seperti itu, Chihara meninggal Shu dengan Haruka dan Haruki.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Shu yang melihat cara memandang Haruka dan Haruki begitu tidak senang, itu terlihat dari muka mereka berdua.
"Bukan apa-apa! Humph..." Haruka dan Haruki secara kompak memalingkan pandangan mereka ke arah lain.
Untuk sekian kalinya Shu menghela nafas, ia tidak menyangka mereka berdua marah karena hal sepele.
"Oh ya, bagaimana kalau kalian makan Parfait ini? Tentu saja, aku akan menyuapi kalian" tawar Shu.
Sedikit demi sedikit wajah Haruka dan Haruki mulai membalik lalu menatap Shu kembali dengan pipi sedikit merah merona.
"Jika Kak Shu/Kakak mau melakukannya, maka kami tidak… keberatan" ucap Haruka dan Haruki dengan nada malu.
Shu tersenyum masam terhadap tingkah kedua adiknya yang begitu manja, namun begitu ia sayangi.
Haruka dan Haruki membuka mulut mereka, tanda untuk Shu menyuapi Parfait ke mereka berdua.
Shu lalu menyuapi mereka berdua dengan yang pertama adalah Haruka dan selanjutnya Haruki.
"Bagaimana?" tanya Shu.
"Enak, Kak Shu" jawab Haruka dengan senyuman.
"Sangat enak, Kakak" Haruki juga ikut tersenyum pada Shu.
"Kalau begitu, syuku--"
"UNTUK SEMUA PENGUNJUNG DAN SISWI SMP TOKYO, SEGERALAH BERLINDUNG! KARENA TERDAPAT SEBUAH PENYERANGAN OLEH SEBUAH KELOMPOK DI DAERAH DEKAT SINI, PARA VAMPIR TELAH MENYERANG. KUULANGI SEGERA TINGGALKAN TEMPAT INI DAN BERLINDUNG!!" Sebuah pengumuman cukup keras terdengar dari pengeras suara di setiap ujung lorong.
Mata semua orang menjadi panik dan takut, setelah mendengar nama "Vampir" yang termasuk ras Undead. Namun ada beberapa orang yang justru bersikap biasa saja, diantaranya adalah Shu.
"Vampir? Untuk apa mereka menyerang disini? Dan apa tujuan mereka?" pikir Shu.