The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 26 : Perasaan yang Abadi



Mendengar ucapan bahwa Sherlinia masih mencintainya tidak membuat Alex terkejut, karena ia sudah tahu saat melawan Sherlinia, dia tidak sepenuhnya bersungguh-sungguh untuk membunuh Alex.


Jika iya, maka Alex sudah akan terbunuh daritadi karena perbedaan kekuatan yang besar, ditambah Alex tidak bisa mengeluarkan 100% kekuatannya.


Jumlah kekuatannya bergantung pada seberapa banyak Alex mengingat tentang dikehidupan sebelumnya. Maka dari itu semakin banyak ingatan yang Alex ingat akan semakin besar juga kekuatannya.


Walau Alex sudah mengingat hubungannya dengan Sherlinia dikehidupan sebelumnya. Namun, ia masih belum mengingat hal lainnya seperti, apa saja yang ia lakukan, apa hubungan dia dengan misteri dunia 2000 tahun lalu, bagaimana dia bisa sampai di renkarnasi dan sebagainya. Semua itu terkadang terngiang-ngiang di kepala Alex.


Dan alasan kenapa Alex tiba-tiba bertaruh dan merubah rencananya untuk mewujudkan sihir World of Phantams adalah mengajak Sherlinia untuk berbicara secara baik-baik tanpa adanya lagi pertarungan diantara mereka.


Ditambah Alex tidak bisa membunuh orang yang sangat membantunya dan pernah menjadi penyelamat dikehidupan sebelumnya.


"Maaf, Nia. Tapi aku tidak bisa menerima perasaanmu" ujar minta maaf dari Alex dengan wajah yang tertunduk kebawah.


"Sudah kuduga…, kau akan menolakku sama seperti 2000 tahun lalu… kenapa kau menolakku lagi Alex?! Kenapa??? Apa yang kurang dariku?! Apa kau membenciku?" Sherlinia semakin deras meneteskan air matanya, sampai menjatuhkan kedua senjata demi menutup wajahnya yang tidak ingin memperlihatkan sisi lemah dari seorang Valkyrie.


Ia tahu pasti kalau Alex akan menolaknya lagi, namun perasaannya tidak bisa diubah atau digantikan oleh siapapun dari 2000 tahun yang lalu sampai sekarang.


Selama ini yang Sherlinia punyai hanyalah sebuah harapan, harapan cintanya akan terbalaskan. Tetapi sepertinya kenyataan berkata lain, lagi-lagi yang dia terima hanya air mata kesedihan dan luka yang tidak dapat sembuh.


Bagi Sherlinia itu sudah seakan sudah menjadi makanan sehari-harinya dan ia menangis dimasa dirinya sembunyi lalu berusaha tersenyum walau itu senyuman palsu.


"Jujur kau adalah wanita yang sempurna, Nia… tap--"


"Lalu kenapa kau menolakku?!" Sherlinia menjadi sangat kesal dan semakin sedih, akan Alex yang sudah menolaknya.


"Tapi aku masih mencintai seseorang selain dirimu…" Hati Sherlinia semakin terluka mendengar Alex berkata seperti itu. Rasanya begitu sangat sesak dan sakit sekali, bahkan rasa sakitnya melebihi tusukan pedang ke jantung.


Air matanya sudah tidak dapat tertahankan lebih lama lagi, Sherlinia menangis lebih deras dan ia berusaha menutup wajahnya didepan Alex. Ia tidak ingin memperlihatkan wajah kesedihannya kepada Alex.


"Maafkan aku, Ni--"


"Diam! Sudah cukup!!! Aku tidak mau mendengar apapun lagi! Siapa? Siapa yang kau cintai itu?! Hingga kau menolakku seperti ini… katakan Alex, siapa?!" Sherlinia memperlihatkan mukanya pada Alex dengan meluapkan segala emosi serta amarahnya.


Alex merasa wajar Sherlinia meluapkan semua emosinya pada dirinya, itu lebih baik dikeluarkan semua daripada ditahan didalam hati. Akan sedikit lebih lega bila Sherlinia mengeluarkan segala emosinya kepada Alex, karena dialah yang sudah membuatnya menangis dan tersakiti.


"Aku… tidak tahu siapa dia…" jawab Alex dengan terpatah-patah.


Mendengar itu membuat Sherlinia terasa dibohongi oleh Alex, Ia sekarang merasa kalau Alex hanya menipu demi bisa berbaikan dengannya.


Dan jujur Sherlinia bukannya merasa terpuaskan oleh jawaban Alex, justru dia semakin kesal akan jawaban tidak jelas dari Alex. Seakan-akan Alex hanya membohonginya lalu mempermainkan perasaannya seorang wanita dengan kejam hingga membuat dia menangis kesakitan.


Ditambah Ia tidak bisa menerima sedikitpun jawaban yang tidak jelas itu dan lebih menginginkan alasan sesungguhnya kenapa Alex menolak perasaan dia, daripada sebuah bualan belaka saja.


"Aku lupa ingatan tentang semua kehidupanku sebelumnya…" lanjut Alex.


"Apa maksudmu?" Sherlinia terkejut akan apa yang barusan ia dengar dari mulut Alex.


Ia tidak tahu apakah Alex mengatakan hal sesungguhnya atau sebuah alasan lain untuk membodohi dirinya lagi agar percaya pada Alex. Jika itu hanya sebuah kebohongan lagi, Sherlinia yakin selama ini dia mencintai seorang yang suka mempermainkan perasaan wanita.


"Aku lupa tentang semua ingatanku dikehidupan sebelumnya, hanya sedikit yang kuingat" Sherlinia merasakan sebuah kebingungan dan kesedihan dari nada bicara Alex.


Ia tahu betul mana yang perkataan jujur atau yang bohong. Semua perkataan Alex tadi membuatnya yakin kalau Alex sudah mengatakan hal sesungguhnya tanpa ada kebohongan.


Itu menjelaskan Sherlinia akan Alex yang merubah rencananya untuk mewujudkan sihir World of Phantams, karena dia ingin mengajak dirinya bicara secara baik-baik tanpa harus beradu pedang dan sihir.


Dan Alex sepertinya hanya mengingat sedikit tentang dirinya, namun lupa akan kekaitan hubungan Alex dengan Sherlinia yang mereka lakukan dikehidupan sebelumnya.


"Apa yang kau ingat dariku?" tanya Sherlinia dengan memastikan kalau Alex berkata sejujurnya.


"Yang aku ingat kau adalah penyelamat hidupku, Nia. Itu saja yang kuingat untuk sekarang ini" jawab Alex dengan senyum kecil.


Senyuman kecilnya itu dapat membuat hati serta emosi Sherlinia menjadi luluh, dia sekarang bisa berpikir lebih jernih tentang Alex dan tidak berpikir negatif padanya.


Sherlinia berpikir kalau Alex hanya mengingat sekecil itu dari semua ingatan dikehidupan sebelumnya, maka orang yang ia sayangi dulu akan dilupakan atau lebih tepatnya seperti menghilang keberadaannya dari hati Alex.


Itu berarti Sherlinia masih memiliki kesempatan untuk merebut hati Alex untuk menjadi miliknya seorang saja dan sepenuhnya. Tanpa memikirkan orang lain.


"Maaf aku tidak sempat tidak mempercayaimu, Alex. Maaf juga aku telah melukaimu…" Sherlinia langsung menunduk kepala karena sudah bersalah meluapkan segala emosinya hingga melukai Alex.


"Jangan kau pikirkan. Ini hanya yang luka kecil saja" Alex memperlihatkan bekas luka yang kini sudah sembuh berkat sihir dari Regretless miliknya.


Namun dia masih tetap mengalami kelelahan yang berlebihan sebab petarungan tadi banyak menguras energi serta Mana sepanjang malam ini.


Sherlinia tetap meminta maaf atas ulah yang ia lakukan pada Alex dengan masih menundukkan kepalanya, bagaimanapun dirinya merasa bersalah sudah melukai orang yang ia cintai itu.


Akhirnya Sherlinia setuju dengan pendapat Alex, berusaha untuk memaafkan dirinya dan tersenyum manis didepan Alex. Senyuman itu juga yang membuat Sherlinia harus kembali ke Asgard melalui jembatan sembilan dunia, Bifrost, yang mengantar Sherlinia untuk pulang.


Sebelum kembali ke Asgard, Sherlinia berkata bawa ia akan segera bertemu kembali dengan Alex secepat mungkin dan berada disampingnya untuk menemani Alex.


Alex hanya membalas dengan senyuman kecil tanpa ada sebuah kalimat terucapkan dari mulutnya.


Begitu Sherlinia sudah pergi dari hadapan Alex, seseorang memandanginya dengan tatapan tajam penuh kebencian. Dia adalah Rein yang masih memegang Zeus Lance-nya.


"Apa kau masih ingin lanjut putaran kedua, Kak Rein?" tawar Alex dengan senyum kecil.


"Sudah cukup, hari ini aku memaafkanmu, Alexander Luther Louise. Sampai bertemu besok disekolah, Shu…"


Rein pergi dengan cepat tanpa memberi kesempatan Alex bicara agar bisa menutup mulutnya untuk tidak membeberkan rahasia tentang identitas asli dari Alex. Namun sepertinya itu tidak dibutuhkan, sebab diakhir ucapannya Rein memanggil Alex dengan namanya yang sekarang.


Itu petanda Rein mengerti dan paham, tanpa Alex harus berbicara padanya dan menutup rapat-rapat mulutnya tentang jati diri Alex yang sebenarnya.


Alex bersyukur atas pengertian dari Rein, yang menjadi masalah adalah mau sampai kapan Rein bisa diajak kerja sama dan berdamai. Ia tahu pasti suatu saat dirinya akan bertarung dengan Rein lagi dimana mungkin menjadi pertarungan terakhir diantara mereka.


Ditambah Alex sebisa mungkin harus merahasiakan tentang seberapa banyak ingatan yang harus dirahasiakan dari Sherlinia. Akan sangat merepotkan bagi Alex untuk menghadapi mereka berdua sekaligus.


Dan Alex harus mencari tahu tentang ingatannya yang hilang kepada seseorang bernama, Veronica. Ia yakin jika bisa mendapatkan informasi dari Veronica, maka mungkin Alex akan mendapatkan sedikit demi sedikit ingatannya yang hilang.


Karena hari sudah mulai berganti, Alex memutuskan untuk pulang. Ia tidak mau membuat Asuka, Haruka dan Haruki menjadi khawatir gara-gara dirinya.


"Space Time Magic : Reverse Future."


Sebelum pulang, Alex ingin memperbaiki keadaan Moon Arena yang hancur berantakan karena pertarungannya tadi.


Reverse Future merupakan sihir yang membalikan waktu dari masa depan ke masa lalu dalam kurung waktu 15 jam. Sihir ini dapat membalikan tempat, kejadian, atau semacamnya mundur ke masa lalu. Namun tidak termasuk dengan luka dan kematian.


Begitu selesai, Moon Arena nampak seperti sebelumnya. Bahkan sempurna sekali, tidak ada lubang atau bekas ledakan api. Melihat itu berhasil, Alex akhirnya bisa pulang ke rumah dengan jalan kaki.


Alex tadi hampir menghabiskan seluruh Mana-nya untuk menggunakan sihir Reverse Future dan yang sekarang tersisa, hanyalah tenaga untuk berjalan kaki sampai rumah.


Saat sampai rumah, Alex langsung disambut oleh ketiga saudaranya yang telah menunggu selama berjam-jam didalam rumah, tepat didepan pintu.


Alex yang sudah tidak bisa menghindar dari ceramah Asuka, Haruka dan Haruki, hanya bisa duduk diam didepan mereka bertiga sambil diserang ratusan pertanyaan.


Mereka mengira Alex telah melakukan sesuatu yang mendalam pada Rein seperti hubungan suami-istri dan semacamnya. Alex pun menjelaskan semuanya sebab tidak ingin ada kesalahan pahaman yang parah diantara Asuka, Haruka dan Haruki.


Setelah menjelaskan sejam lebih, akhirnya mereka bertiga mengerti kalau semua yang ada dipikirannya masing-masing hanya hiperbola saja. Tetapi bukan berarti mereka langsung memaafkan Alex karena sudah berduaan dengan Rein hingga larut malam.


Mereka mau memaafkan Alex jika Alex mau tidur dengan mereka berdua hingga pagi di satu kasur, hukuman itu merupakan bentuk pembalasan Asuka, Haruka dan Haruki karena dulu sempat kabur saat ini tidur bersama.


Alex menjawab dengan anggunkan kecil yang pasrah dan terpaksa, jujur dia tidak ingin tidur dengan ketiga saudaranya sekaligus. Bisa terjadi sebuah insiden yang menurut Alex sangat mengerikan.


Mentari mulai menyinari dunia dan Alex masih terbangun dengan mata yang merah akan rasa kantuk yang ia tahan. Alasan Alex tidak tidur ialah, dirinya sama sekali tidak bisa tidur jika Asuka tidur atas dadanya, diikuti oleh Haruka dan Haruki tidur disamping kanan kiri sambil memeluk tangan Alex erat-erat.


Semua itu membuat Alex sedikitpun tidak bisa tidur, walau rasa kantuk menguasainya. Karena sudah pagi, Alex membangunkan kakak serta kedua adik kembarnya untuk persiapan berangkat sekolah.


Setelah mandi dan sarapan selesai mereka berempat lakukan, mereka langsung berangkat bersama menuju ke sekolah masing-masing.


Alex yang sekarang sudah berada ditempat duduknya langsung meletakkan kepalanya diatas meja dengan ditutupi oleh kedua tangan.


Ia merasa sangat mengantuk sekali, karena sudah semalaman tidak tidur. Ditambah Alex masih merasakan kelelahan akibat hampir kehabisan seluruh Mana-nya.


"Apa kau sakit, Shu?" tanya Yuki dengan mendekati meja duduk milik Alex.


Ia melihat Alex terlihat sangat lemas, lesu dan mengantuk sekali dan memutuskan untuk mengecek kondisi Alex dengan bertanya langsung.


"Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir, hanya mengantuk lagi" jawab Alex dengan kepala masih menempel di mejanya.


Yuki tersenyum kecil melihat Alex seperti itu dan berkata, "Ohh, iya. Hari ini dikelas kita akan kedatangan murid pindahan baru dari luar negeri, Shu. Katanya dia sangat cantik dengan rambut kelabu terurai dan mata putih polos yang bersinar" jelas beritahu dari Yuki.


"Ohhh…" Seperti biasa Alex tidak peduli siapa murid baru itu. Namun sepertinya dia mirip dengan seseorang yang Alex kenali. Tetapi tidak mungkin juga dia bisa datang ke Midgard bahkan sampai menjadi murid baru.


"Itu dia, Shu" seru Yuki yang kembali ke tempat duduk asalnya.


Alex yang sedikit penasaran pun memandang kedepan, lalu melihat seseorang yang seharusnya mustahil bisa ada di Midgard, ternyata dia benar-benar datang sebagai seorang murid pindahan baru dikelasnya juga. Dia adalah…


"Salam kenal, semuanya. Namaku Sherlinia Greeice, aku pindah kemari untuk bertemu Kirihara Luther Shu."