
Tepat dihadapan Alex sekarang ada seorang wanita Elf berambut biru laut terang, mata berwarna biru langit dan memakai pakaian layaknya seorang bangsawan dari Elf.
Alex terlalu bersantai dan bersenang-senang tadi hingga melupakan keberadaan dari seseorang yang seharusnya tidak dia lawan atau dijadikan musuh.
Dia adalah Azarlea Darklue Saphira, Ratu penguasa seluruh dunia Alfheim dan sudah berkuasa selama lebih dari 2000 tahun lalu. Azarlea merupakan ratu terkuat dalam sejarah kuno Elf karena dapat menguasai 4 elemen spirits sekaligus dan dirinya adalah satu-satunya Elf yang mempunyai kehidupan abadi, yang tidak akan bertambah tua sedikitpun.
Azarlea juga memiliki sejarah terkenal dan mempunyai berbagai macam julukan karena kekuatannya yang melegenda hingga mungkin tidak ada orang yang tidak mengetahuinya. Dan sekarang Azarlea sedang berdiri didepan Alex sebagai lawannya.
Alex jujur tidak ingin melawan Azarlea dengan kekuatannya yang sekarang, sebab dirinya sendiri masih belum yakin bisa menang melawan ratu dari Alfheim. Bahkan kemungkinan menangnya tidak akan lebih dari 40% walau sudah menggunakan kekuatan seluruhnya.
Ditambah ia tidak ingin membuang waktu serta tenaganya sia-sia dan lebih ingin menyimpan untuk Battle Royale yang akan dimulai besok pagi dengan diumumkannya nama-nama pasangan serta lawan mereka.
Pilihan satu-satunya Alex sekarang adalah menghindari pertarungan melawan Azarlea dan kabur dari Alfheim menggunakan sihir teleportasinya. Akan tetapi Alex sendiri yakin tidak akan kabur semudah rencananya, karena Azarlea pasti akan menggagalkan setiap usaha melarikan diri dari dia.
"Maaf tapi aku tidak ingin membuang waktuku disini, Earth Magic : Earth Prison Seal!" bersamaan dengan itu, Alex langsung mengepakkan sayapnya dan menjauhi Azarlea sebisa mungkin lalu segera merapalkan mantra untuk sihir teleportasi.
Saat akan terjebak dalam penjara tanah, Azarlea langsung mengayunkan tangannya dengan cepat. Penjara segel itu langsung terbelah dua oleh angin yang dibuatnya sebelum menutup sempurna.
Alex yang melihat sihirnya dihancurkan dengan mudah hanya dengan ayunan tangan semakin merasa yakin kalau kekuatan diantara mereka berdua sudah berbeda level. Bahkan Azarlea tidak memerlukan waktu lebih dari sedetik untuk bebas.
"Aqua Magic : The Tsunami…"
Alex langsung membuat tsunami besar yang mengarah cepat ke Azarlea dengan tinggi ombak mencapai 15 meter dan lebar 20 meter. Kalaupun dia bisa menghindari sihirnya, pasukan Faksi Elf yang berada dibelakang Azarlea akan terkena imbasnya dan bisa mati tenggelam didalam tsunami.
Terlebih Alex juga yakin bahwa Azarlea tidak akan membiarkan anak buahnya mati tenggelam, oleh karena itu dia pasti akan menahan semua ombak tsubami demi keselamatan bawahannya. Dan memanfaatkan celah itu, Alex mungkin dapat segera kabur secepat mungkin.
"Undine Spirit Magic : Aqua Spirits Seal."
Ketika itu semua ombak tsunami yang mengarah ke Azarlea tiba-tiba terhenti dan berubah arah menuju Alex yang sedang terbang.
Melihat itu Alex berusaha kabur dari ombak tsunami yang dibuatnya tadi, tsunami-nya seakan-akan sedang dikendalikan oleh Azarlea. Itu terbukti dari gerakan tangannya yang seolah sedang mengendalikan ombak itu untuk menangkap Alex.
"Ice Magic : Frost Breath!" sebelum ombak tsunami menangkapnya, Alex langsung membekukan seluruhnya dengan cepat. Kemudian saat dia hendak menjauh dari Azarlea, ia termakan umpannya.
"Ifrit Spirit Magic : Dark Flame…"
Tanpa disadari Alex ternyata digiring oleh Azarlea menuju jebakan sihirnya yang sebelumnya telah terpasang. Dan disaat Alex sudah berada diatas jebakannya, Azarlea langsung menggunakan jebakannya dengan memunculkan lingkaran yang berada disekitar Alex lalu lingkaran itu langsung mengeluarkan api hitam yang menyembur keluar.
Alex secara reflek cepat menutupi semua tubuhnya dengan kelima pasang sayapnya sedetik sebelum api hitam itu keluar. Begitu jebakan Azarlea sudah selesai, Alex langsung membuka sayapnya dan dia hanya menderita luka bakar ringan saja.
Seandainya ia terlambat sedetik saja untuk melindungi tubuhnya dari api hitam tadi, pasti saat ini Alex akan mengalami luka bakar yang sangat parah. Itu semua berkat sihir dari Wings of Demon yang bisa melindungi penggunanya dari serangan berelemen api, besarnya perlindungan tergantung pada jumlah Mana yang disalurkan ke sayapnya sebagai perlindungan.
Karena itu juga menjadi penyebab dari Evil Nightmare yang tidak terluka setelah menerima sihir Hell Fire Explosion dari Alex. Semua itu karena Wings of Demon-nya.
"Gnome Spirit Magic : Rope Plant Seal."
Belum ada sedetik setelah Alex lolos dari api hitam yang hampir membunuhnya, dia kembali lagi terjerak akar tanaman yang mengikat kedua kaki serta tangannya, sehingga Alex sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Waktunya hukumanmu, Slyph Spirit Magic : Slyph Judgement…"
Tiba-tiba angin berhembus kuat sekali dan seperti berkumpul disamping Azarlea, lalu terbentuk tubuh dari roh angin, Slyph, sedang membawa sebuah busur yang diarahkan kepada Alex.
Roh angin itu menarik tali busurnya, kemudian tercipta anak panah dari pusaran angin yang sangat kencang sekali. Ia membidik tepat kearah Alex dengan arah tangan Azarlea yang dijadikan patokan kemana roh anginnya itu akan menembak.
"Blink! *blzaattt…"
Sebelum ditembakan kearahnya, Alex langsung menggunakan Blink untuk berpindah tempat agar tembakan dari roh angin itu meleset darinya. Akan tetapi sesaat setelah berpindah tempat, Alex dikejutkan dengan anak panah yang masih mengenainya hingga terpental sangat jauh akibat dorongan angin yang kuat.
"Bagaimana bisa?" gumam Alex dengan mencoba langsung bangun.
Ia tidak mengerti bagaimana caranya Azarlea bisa mengetahui lokasi dimana Alex akan berpindah dengan cepat. Sangat tidak mungkin jika itu adalah hasil dari keberuntungan dengan menebak disuatu tempat.
Kemampuan Azarlea itu lebih mirip seperti memprediksi masa depan, namun lebih akurat lagi dari pada God Mode yang hanya bisa memperlihatkan masa depan dengan jarak interval 5-6 detik saja. Alex pun mencoba menyerang Azarlea untuk memutuskan apa dugaannya itu benar atau tidak.
Ia akhirnya menarik pedang hitam di pinggangnya, lalu menggunakan Blink untuk menyerang titik buta dari Azarlea. Namun saat sudah berada didekatnya, Alex dipentalkan lagi oleh perlindungan dari roh angin yang masih berada disampingnya.
"Ternyata kau bisa melihat masa depan ya?" tanya Alex dengan nada serius.
Semua itu menjelaskan bahwa Azarlea memiliki kemampuan dapat melihat masa depan, terbukti dengan cara bagaimana Azarlea menemukan Alex, cara bagaimana dia mencegah sesuatu dan rencana yang sempurna serta matang. Bukan keberuntungan yang dibutuhkan, akan tetapi kemampuan untuk melihat masa depan.
"Ini pertama kalinya seseorang bisa mengetahui kemampuanku secepat ini…" Azarlea sedikit tersenyum kecil pada Alex, seolah dia sedang memujinya.
Namun yang menjadi masalah seberapa jauh Azarlea bisa melihat masa depan hingga tidak ada satu kesalahan sekalipun dia perbuat. Semakin jauh seseorang bisa melihat masa depan, maka akan semakin diuntungkan dalam pertarungan untuk menghindari namanya kekalahan.
Dan untuk melawan orang yang mempunyai kemampuan melihat masa depan, cara terbaik adalah melawannya dengan cara yang sama. Yaitu menggunakan Future Sign dari God Mode.
Tetapi yang menjadi masalah besar adalah cara Alex mengimbangi Azarlea dalam melihat masa depan, ia harus terus membuat rencana baru secara cepat dan mendadak agar Azarlea tidak bisa selalu bergantung pada kemampuannya itu.
Ditambah Azarlea memiliki julukan di salah satu cerita kuno yang menyebutnya sebagai Goddess of Spirits, yang berarti dia sangat terampil dalam menggunakan kekuatan keempat elemen roh sekaligus.
Alex harus bisa memutar balikkan keadaan yang sangat merugikan dirinya saat ini atau dia akan ditangkap dan melewatkan pembukaan Battle Royale.
"Mari kita mulai babak keduanya, wahai Ratu Alfheim" hal pertama yang Alex lakukan adalah menghilangkan wujud Demon Mode nya dan menggunakan Future Sign saja, lalu menciptakan dua buah pedang dengan berkuda-kuda aliran seni pedang ganda.
Alasan kenapa Alex tidak menggunakan Dark Noble Eternity Sword adalah akan percuma saja bila ingin melafalkan kekuatan sejati dari pedang hitamnya, karena Azarlea pasti akan menduga hal itu, lalu mencegahnya dengan 1000 cara supaya gagal dalam melafalkan sihir World of Phantams.
"Apa kau akan menyerah sekarang, Kirihara Luther Shu?" tanya Azarlea yang tidak paham maksud Alex mengubah wujudnya menjadi seperti seorang manusia.
"Sebaiknya mulai sekarang, kau jangan terlalu bergantung pada kemampuanmu itu. Sebab jika tidak, maka kekalahanmu tidak dapat dihindari lagi…" seru peringatan Alex dengan senyum kecil.
Sementara itu Azarlea semakin tidak mengerti akan keputusan yang menurutnya sangat bodoh itu untuk melepaskan Demon Mode milik Alex. Jika dia hanya menggunakan dua pedang putih panjangnya, Alex tidak akan bisa bertahan melawan sihir roh. Itulah yang dipikirkan oleh Azarlea, karena ilmu sihir dan seni pedang memiliki perbedaan yang sangat jauh.
Namun melihat dari wajah tersenyum Alex, Azarlea yakin dia pasti menyembunyikan suatu rencana yang memungkinkan untuk mengalahkan dirinya.
"Kau ingin mengadu ilmu sihirku dengan seni berpedangmu itu?" tanya Azarlea yang ingin memastikan dugaannya itu benar.
"Entahlah… mungkin benar?" jawaban Alex membuat Azarlea semakin bingung akan maksudnya yang sebenarnya. Terbilang sangat tergesa-gesa bila ingin melawannya menggunakan ilmu berpedang saja.
Terdapat perbedaan cukup besar diantara ilmu sihir dengan seni berpedang, perbedaan itu tergantung dari seberapa besar seseorang menutupi kelemahannya dan mengubahnya menjadi kelebihan.
Pada saat itu Azarlea menggunakan kemampuan untuk melihat masa depan, lalu memprediksi segala sesuatu yang mungkin terjadi dan mencegah kekalahannya secara mutlak.
"Kau sudah ditakdirkan kalah denganku, Kirihara Luther Shu. Segala sesuatu yang akan kau lakukan hanya membuahkan kegagalan saja…" seru peringatan dari Azarlea dengan nada serius akan keputusan bodoh yang diambil Alex.
"Lalu apa yang salah dengan itu?" tanya balik Alex dengan tersenyum kecil. Sementara Azarlea sedikit terkejut akan pertanyaan balik yang diajukan padanya, ia tidak mengira kalau Alex sama sekali tidak merasa ketakutan atau keputusasaan.
Kebanyakan orang bila sudah mendengar hal yang berkaitan dengan takdir dan itu diucapkan oleh mulut Azarlea sendiri, mereka hanya akan pasrah menunggu takdir itu datang sendiri, tanpa berbuat apapun atau berusaha untuk mengubahnya.
Dan jujur, Azarlea tidak suka melihat orang-orang yang mudah menyerah serta pasrah menerima takdirnya begitu saja. Jauh dalam hati Azarlea ingin mereka semua mengubah takdir masing-masing daripada berdiam diri saja.
Namun sepertinya percuma saja, apa yang dikatakan Azarlea terkait takdir akan hampir 100% menjadi kenyataan. Karena itulah banyak dari mereka merasa pasrah, sebab berusaha pun menurut mereka hanya akan sia-sia saja, jika takdir mereka sudah dipastikan.
"Apa maksudmu? Apa kau tidak dengar?" Azarlea seperti mendengar sebuah omong kosong akan perkataan Alex yang terdengar seperti menyepelekan takdirnya atau lebih tidak percaya akan takdir yang berkata Alex akan kalah melawan Azarlea.
"Sudah kubilang… lalu apa yang salah dengan itu? Jika aku tidak suka dengan takdirku, maka tinggal kuhancurkan saja, lalu aku akan mengubah takdirku sendiri. Hanya aku yang boleh menentukan seperti apa takdirku sendiri, siapapun tidak akan bisa memaksaku baik itu, dewa sekalipun…" jelas panjang Alex dengan senyuman yang menyakinkan Azarlea akan tekadnya sudah matang.
Perkataan Alex membuat Azarlea terdiam, dia tidak bisa menjawab apapun lagi. Karena setelah ribuan tahun lamanya, akhirnya Azarlea bisa mendengar kalimat itu lagi. Sebuah kalimat yang dulu pernah diucapkan oleh orang tercintanya.
"Sudah lama aku menunggumu. Selamat datang kembali, suamiku…" ujar Azarlea dengan perasaan sangat senang dan bahagia.