The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 05 : Tamu Tak Diundang



"Hah..." Shu menghela nafas panjang di dalam kamarnya.


Ia sekarang akan pergi melihat festival musim sakura bersama kakak dan kedua adiknya.


Sebenarnya ia tidak ingin pergi, namun ia tidak bisa menolak. Karena jika ia menolak, maka Haruka dan Haruki pasti akan menangis. Shu pun secara terpaksa harus menerima ajakan dari kedua adiknya yang manja itu.


"Shu, Haruka dan Haruki sudah menunggumu didepan. Jadi cepatlah turun" ucap Asuka dari balik pintu kamar Shu.


"Iya, aku akan segera turun, Kak" jawab Shu dengan memakai sebuah jaket berwarna putih dengan garis hitam.


Shu segera turun bersama dengan Asuka untuk menjumpai Haruka dan Haruki yang sudah menunggu di depan rumah sejak tadi.


Mereka memakai pakaian bagaikan seorang perempuan dewasa dengan sebuah payung. Yang membuat mereka nampak beda adalah Haruka yang pakaian warna hitam dan Haruki yang berwarna putih.


"Kak Shu, kau lama sekali" ucap Haruka saat melihat Shu keluar dari rumah bersama dengan Asuka.


"Itu benar. Kakak lama sekali" tambah Haruki.


Mereka sama menggembungkan pipinya dengan ekspresi yang sedikit lucu bagi Shu.


Shu berjalan dan berhenti di tengah-tengah antara Haruka dan Haruki. Kemudian ia menaruh masing-masing tangannya di kepala kedua adiknya dan berkata "Maaf membuat kalian menunggu, Haruka dan juga Haruki. Tapi kalian tampak cantik dengan pakaian itu."


Wajah Haruka dan Haruki seketika langsung memerah semua mendengar pujian dari Shu. Sementara Asuka yang di belakang Shu menggembungkan pipinya karena sedari tadi ia tidak dipuji oleh Shu, justru Shu malah memuji kedua adiknya.


"Shu-kun, bagaimana denganku?"


Asuka sedikit berpose saat Shu melihatnya. Ia ingin mendengar apa pendapat Shu tentang pakaiannya.


"Kau terlihat cocok dengan Yukata itu, Kak Asuka" puji Shu seraya tersenyum kecil kepada Asuka.


Wajah Asuka tidak bisa menahan malunya hingga memerah merona. Ia senang dengan pendapat Shu tentang pakaian yukata nya yang berwarna putih dengan motif bunga merah.


Saat akan pergi dari rumah, tangan Shu langsung dirangkul oleh Haruka dan Haruki. Sementara Asuka harus menahan rasa iri dan cemburunya terhadap hal itu. Karena hampir dalam setiap hal atau kegiatan mereka bertiga selalu membagi waktu tentang siapa yang boleh berdekatan dengan Shu. Seperti dalam makan bersama, mereka bertiga berganti giliran untuk bisa duduk disamping Shu dan giliran itu dibuat untuk satu hari penuh. Mereka menyebutnya dengan "Shu Time".


Dan sekarang giliran Haruka dan Haruki lah yang boleh berdekatan dengan Shu. Asuka hanya bisa berjalan dibelakang Shu dengan sedikit memegang jaketnya.


#####


Di suatu tempat di hutan dekat dengan festival musim sakura. Terlihat sekumpulan laki-laki berbadan kekar dengan penampilan yang menyeramkan sedang hormat bagaikan kesatria kepada seseorang wanita yang tengah duduk di dahan pohon.


"Apa kalian sudah menemukannya?" tanya sang wanita.


"Maaf, Nyonya. Tapi kami masih belum bisa menemukannya" jawab salah satu dari 10 pria kekar.


Ia menjawab disertai keringat dingin karena sang wanita mengeluarkan aura intimidasi dan hawa membunuh yang besar.


"Cepat temukan! Akan aku beri kalian waktu hingga akhir kembang api meluncur di udara, jika tidak, kalian akan aku jadikan makanan untuk para anjingku" sang wanita itu berkata dengan sedikit marah dan di setiap kalimat yang ia lontarkan bukanlah suatu candaan belaka.


Kesepuluh pria kekar itu langsung mengeluarkan keringat dingin disertai rasa ketakutan yang luar biasa hebatnya pada wanita itu, seakan tubuh mereka yang kekar itu tidak ada bandingan dengan tubuh dari sang wanita yang terlihatan lebih kecil dan seksi.


"Baik!" ucap serentak para pria kekar.


"Kalian juga bebas membunuh siapapun yang menghalangi kalian. Mereka hanyalah manusia rendahan, sisa sampah yang dulu harusnya di bersihkan."


Semua pria kekar itu tersenyum dengan senangnya mendengar perintah dari sang wanita.


"Cepat laksanakan perintahku" perintah sang wanita.


Para pria kekar itu langsung melesat pergi keseluruh penjuru mata angin.


"Cih! Dimana mereka berdua? Seharusnya mereka memberitahuku terlebih dulu" sang wanita nampak sedikit kesal dengan 'mereka' yang ia maksudkan.


######


Sekarang Shu, Asuka, Haruka dan Haruki berada di daerah Okayama, Jepang.


Alasan mereka di Okayama adalah untuk pergi ke festival bunga sakura di sana. Sebenarnya di Tokyo terdapat festival bunga sakura, tetapi mereka ingin ke Okayama dengan alasan ingin ganti suasana. Mereka pun menggunakan sihir dimensi milik Shu untuk lebih cepat dan praktis, tentunya tanpa biaya sedikit pun.


Mereka harus berjalan lagi karena Shu menteleportasikan dekat dari festival bunga sakura. Bisa menjadi gempar bila ada yang melihat Shu bisa menggunakan sihir dimensi. Ia bisa saja ditangkap dan dijadikan alat untuk transportasi jarak jauh. Namun dari semua itu, Shu lebih memilih tidak mau membahayakan kakak atau kedua adiknya. Ia tidak mau melihat keluarganya tersakiti atau menderita karenanya.


"Shu, apa kau baik-baik saja?" tanya Asuka yang sedari tadi memperhatikan Shu sedikit lemas.


"Aku baik-baik saja, Kak. Maaf membuatmu khawatir."


"Baiklah, tapi jika kau merasa kurang baik. Segera beritahu Kakak, ya?" Shu menjawab dengan anggukan kecil seraya tersenyum manis pada Asuka.


"Kak Shu, maafkan kami. Gara-gara Kak Shu menuruti permintaan egois kami. Kakak menjadi kesakitan" ujar Haruka dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Maafkan kami, Kakak" tambah Haruki


"Lihat aku, oke? Aku baik-baik saja dan perlu kalian ketahui, aku juga melakukan ini demi diriku sendiri. Jadi kalian perlu minta maaf. Lebih baik kita bersenang-senang terlebih dulu" Shu mencoba menghapus perasaan bersalah dari Haruka dan Haruki dengan senyuman manisnya.


Mereka kembali bersemangat dan tersenyum kepada Shu karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan kakak mereka.


Sebenarnya yang membuat Shu pusing adalah ia terlalu banyak menggunakan sihir dimensi dalam satu hari, sehingga menguras banyak Mana dan konsentrasi. Karena semakin jauh tempat yang akan dituju maka semakin besar Mana yang dibutuhkan dan daya konsentrasi yang tinggi juga diperlukan. Jarak antara Midgard dan Unknown World adalah 10 ribu tahun cahaya jauhnya.


"Shu-chan, apa kau baik-baik saja?"


Lucy juga terlihatan cemas dan khawatir pada Shu. Dia tahu bahwa Shu terlalu banyak menggunakan kekuatannya sehingga menimbulkan efek kelelahan serta pusing.


"Jika kau mau, akan aku berikan sedikit kekuata-"


"Tidak…" potong Shu.


"Tapi aku tidak bisa melihatmu terus kesakitan seperti ini, Shu."


Lucy yang biasanya memanggil Shu dengan menambahkan "ku", sekarang dia memanggil nama aslinya tanpa tambahan "ku". Itu merupakan tanda bahwa Lucy sudah benar-benar mengkhawatirkan Shu.


"Aku baik-baik saja, Lucy. Kau tidak perlu secemas itu, sekarang aku sedang mengumpulkan Mana Alam untuk mengurangi rasa lelah ini."


Mana Alam adalah Mana yang berasal dari Alam sekitar. Mana terbagi menjadi tiga yaitu Mana yang berada didalam diri, Mana yang berasal dari alam dan Mana yang berasal dari Roh.


"Lagipula aku tidak akan menggunakan kekuatanmu bila itu benar-benar dibutuhkan untuk melindungi orang yang berharga bagiku" lanjut Shu.


Lucy dibuat diam oleh Shu. Dia tidak menyangka Shu hanya ingin menggunakan kekuatan sesungguhnya hanya demi melindungi orang berharganya.


"Baiklah, Shu."


"Ja~bagaimana denganku, Luther ku?" kini giliran Miry yang berbicara pada Shu.


"Kau juga sama, Miry" jawab Shu.


"Tch, baiklah, Luther ku" Miry terlihat kecewa dengan jawaban Shu.


Sementara Shu hanya menghela nafas panjang mengetahui sifat Miry yang sedikit berlebihan itu.


Saat Shu tengah mendengarkan 'ocehan' Miry, tiba-tiba kedua tangannya ditarik kedepan oleh Haruka dan Haruki.


Alasan Haruka dan Haruki tiba-tiba menarik tangan Shu adalah mereka berempat sudah sampai di festival musim sakura.


Terlihat ramai orang sudah datang dengan kebanyakan yang memakai Yukata, ada juga yang memakai pakaian kasual seperti Shu.


Selain itu ada beberapa stand yang berdiri di tepi kanan dan kiri di sepanjang jalan. Stand itu menjual berbagai makan jajanan khas Jepang dan beberapa Stand berisi berbagai macam permainan seperti Kingyo-sukui, Shateki, Wanage dan lain-lainnya.


Tarikan Haruka dan Haruki semakin cepat melihat meriahnya festival musim sakura di Okayama. Shu hanya mengikuti arah tarikan Haruka dan Haruki dengan Asuka yang berada di sampingnya.


######


"Akhh!!" teriak kesal Haruka.


Dia sekarang sedang mencoba permainan Kingyo-sukui. Itu adalah sebuah permainan mengambil ikan mas kecil dengan menggunakan jaring yang terbuat dari kertas yang tipis.


Haruka telah mencoba hingga lebih dari 5 kali, namun selalu gagal. Karena saat ia menyendok ikan, jaringnya sobek terlebih dulu sebelum dia masukan ke wadah plastik berbentuk cup kecil.


Sebelum Haruka mencoba permainan ini, Haruki lah yang terlebih dulu mencoba karena dia terlihatan ingin memelihara ikan mas kecil itu.


"Kak Shu, tolong ambilkan itu!" ucap Haruka dengan menarik-narik Shu ke tempat permainan Kingyo-sukui.


"Apa kau juga ingin mencobanya juga, anak muda?" tanya sang pemilik Stand.


"Berikan, paman" Shu memberi sejumlah uang untuk bermain permainan itu.


Si pemilik memberikan tiga buah jaring yang terbuat dari kertas yang tipis.


"Ingat, nak. Dilarang memakai sihir apapun, bila kau memakai sihir maka permainan dianggap selesai. Kristal pendeteksi sihir ini akan menyala bila kau menggunakan sihir, apa kau mengerti, nak?" jelas si Pemilik Stand.


"Ya, aku mengerti, paman" jawab Shu.


Ia melihat terdapat kristal pendeteksi sihir yang menempel pada setiap ujung kolam ikan mas. Kristal pendeteksi sihir adalah kristal yang dapat mendeteksi suatu sihir apabila seseorang mengeluarkan sejumlah Mana, maka kristal ini akan menyala. Keefektifan kristal pendeteksi sihir ini, tergantung pada kualitas kristalnya sendiri.


"Kak Shu, tolong ambilkan yang itu. Aku mohon, Kak" Haruka menggoyang bahu Shu dan menunjukkan ikan mas yang dia maksud kepada Shu.


"Serahkan ini padaku" ucap Shu seraya tersenyum kecil.


Shu mengambil salah satu dari tiga jaring kertas yang diberikan oleh si pemilik. Dengan hati-hati ia mengarahkan ke dekat ikan mas yang dimaksud Haruka.


Shu menggerakkan jaring kertasnya dengan sangat pelan, mencoba untuk tidak membuat ikan itu kabur.


*Plarrt!


Dengan cepat Shu mengangkat ikan mas itu dengan tepian dari jaring kertas yang terbuat dari plastik.


Si pemilik Stand tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Bahkan ia tidak bisa melihat saat Shu mengangkat ikan mas itu dan kristal pendeteksi sihir pun tidak menyala.


Shu juga melakukan hal yang sama lagi dengan ikan mas yang diinginkan oleh Haruki.


Wajah Haruka dan Haruki terlihat sangat senang, sementara si Pemilik Stand tidak percaya Shu melakukan itu dengan mudahnya dalam satu kali coba.


Setelah menerima ikan mas itu, mereka berempat mulai melangkah kaki untuk menikmati festival musim sakura ini.


"Ara, Kirihara."


Saat tengah menelusuri festival, Shu melihat seorang wanita berambut violet, mata kuning keemasan dan memakai seragam sekolah. Dia adalah Kanzaki Yuki, teman sekelas Shu.


"Kanzaki?" tanya Shu ketika melihat Yuki berada di depannya yang sedang menikmati manisan apel.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini, ya?" tanya balik Yuki.


"Aku rasa begitu."


Asuka, Haruka dan Haruki memasang wajah bingung dan menatap Yuki dengan aura persaingan dan curiga akan hubungannya dengan Shu.


Mereka bertiga seakan tidak senang dengan kehadiran Yuki yang dianggap sebagai pengganggu.


"Siapa mereka?" tanya Yuki.


"Merek-"


"Namaku adalah Kirihara Luther Asuka, aku adalah kakaknya Shu" potong Asuka.


"Aku, Kirihara Luther Haruka. Adik dari Kak Shu."


"Dan aku adalah Kirihara Luther Haruki, adik dari Kakak Shu juga."


Bukan hanya Asuka yang memotong pembicaraan Shu, tapi Haruka dan Haruki juga ikut dalam menyela omongan Shu.


Mereka berdua merasa terancam dengan kehadiran Yuki hingga memeluk erat tangan Shu. Hingga Shu bisa merasakan dada yang memiliki ukuran C itu.


"Perkenalkan, namaku Kanzaki Yuki. Teman sekelas Kirihara" salam kenal dari Yuki.


"Salam kenal…" jawab mereka bertiga dengan kompak.


"Kirihara, apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya Yuki dengan wajah yang imut dan manis.


"Aku tidak keberatan" jawab singkat Shu.


Asuka, Haruka dan Haruki kaget akan persetujuan Shu yang secara sepihak ia terima sendiri tanpa dibicarakan pada mereka terlebih dulu.


"Terima kasih, Kirihara" Shu menganggapinya dengan tersenyum dan mengangguk pelan.


Akhirnya mereka berempat jalan dengan Yuki yang menambah jumlah mereka menjadi lima orang.


######


Sekarang mereka berlima sedang berkumpul di sebuah pohon sakura sambil menunggu pesta kembang api yang akan menjadi penutup sekaligus puncak perayaan dari festival musim sakura tahun ini.


Banyak orang lain yang melakukan hal sama dengan mereka yaitu duduk di tempat terbuka dan hanya beralaskan tikar tipis. Mereka semua juga menunggu puncak festival musim sakura di Okayama.


Shu sedari tadi hanya bersandar di pohon sakura dengan menutupi wajah memakai kerudung jaket putihnya. Sementara yang lain sedang duduk sambil melihat ke langit, tidak sabar akan pertunjukan kembang api.


*Ciuuuu……jdaarrr…jdaarrrr!


Sebuah rentekan kembang api diluncurkan dan menghiasi malam yang indah.


Mata mereka berempat begitu fokus mengarah ke langit, melihat indahnya kembang api yang menghias langit malam. Namun tidak dengan dua orang, yaitu Shu dan Yuki.


Shu yang sedari awal hanya bersandar dipohon, tidak peduli akan kembang api itu. Namun Yuki yang tadinya begitu menanti kembang api, tetapi dia sekarang menghiraukannya dan malah memperhatikan Shu dengan senyum manisnya.


"Shu…" tanya Yuki ditengah pertunjukan kembang api.


Shu yang sedari tadi menutup matanya, kini membukanya dan melihat Yuki sedang tersenyum manis padanya. Ia heran tadi Yuki menyebut namanya dengan nama depannya dan bertanya-tanya, apa mau dia.


"Ada apa?"


"Aku menyukaimu, jadilah pacarku, Shu."


Sebuah pengakuan terucap dari bibir manis Yuki. Ia berkata dengan penuh senyuman manis.


Shu sontak kaget akan pengakuan perasaan Yuki padanya, bahkan Yuki baru kenal Shu dalam beberapa jam saja. Namun sekarang dia malah menembak Shu dengan pengakuan perasaannya.


"Kenapa kau bisa menyukaiku? Apa alasanmu, Kanzaki?" tanya Shu dengan mencoba menganalisis keadaan.


"Karena aku mencintaimu, Shu. Dan alasan aku menyukaimu adalah kau sepertinya orang yang sangat menarik bagiku" jawab Yuki.


Shu tidak mengerti maksud Yuki yang bila dia adalah orang yang menarik. Shu bisa menyimpulkan bahwa Yuki tidak jatuh cinta karena ketampanan, tapi karena suatu hal lain yang tidak dipahami oleh Shu sendiri.


"Maaf, Kanzaki. Tapi aku menolakmu, jadi berhentilah mencintaiku" ucap Shu dengan memohon agar Yuki bisa berpindah ke lain hati.


"Aku tidak bisa berhenti untuk menyukaimu, Shu. Aku akan terus berusaha hingga kau mau menerimaku sebagai pacarmu" tolak Yuki.


Shu terkejut sekali lagi, Yuki bahkan tidak menyerah setelah mendapat penolakan yang sedikit dingin darinya.


"Terserah kau" jawab dingin Shu.


"Terima kasih, Shu" jawab senang Yuki.


Yuki pun masih tidak mundur bahkan ia menjadi bersemangat untuk mendapatkan cinta dari Shu.


######


Setelah pertunjukan kembang api selesai. Mereka berlima pulang dengan hati yang sudah puas, namun Shu tiba-tiba bilang akan ke kamar kecil dulu. Dan menyuruh mereka berempat menunggu di depan pintu masuk festival musim sakura.


Mereka pun setuju dan akhirnya meninggalkan Shu sendirian. Shu langsung berjalan ke arah tempat sepi di sebuah hutan dekat festival sakura. Ia di sana bukan untuk ke kamar kecil, namun-


"Aku tahu kau disana, jadi cepatlah keluar! Kau sudah mengikuti kami sejak dari tadi bukan? Jadi keluarlah, tidak ada gunanya lagi sembunyi dariku" teriak Shu.


Ia selama ini tahu ada seseorang yang mengikuti dan memata-matai nya sejak Shu dan yang lain memasuki tempat festival sakura.


Dan selama itu, Shu hanya menghiraukannya karena tidak mau mengganggu acaranya.


"Ara ara ara ra, tidak kusangka kau bisa menemukanku" ucap seseorang wanita dari balik kegelapan hutan.


Dia memakai pakaian serba hitam dan menutup wajahnya dengan sebuah topeng kaca yang berwarna hitam legam.


"Siapa kau?" tanya Shu.


"Entahlah, siapa ya?" tanya balik si wanita.


Shu tahu si wanita ini berusaha untuk sangat menutupi identitasnya dengan berpakaian serba hitam, sehingga tidak ada yang mengenalinya.


"Ice Magic : Frost Sword."


Dari tangan kosong si wanita, muncul sebuah pedang satu tangan yang terbuat dari es yang tajam dan lancip.


Si wanita itu bisa mengeluarkan sihir tanpa rapalan terlebih dahulu, ini membuat dia bukan orang biasa. Namun seseorang yang memiliki kekuatan yang mungkin menyamai Shu atau bahkan di atasnya.


Si wanita pun mengambil posisi siap menyerang dengan memegang pedangnya dan menempatkannya di depan.


"Darkness Magic : Shadow Blade."


Sama halnya dengan si wanita, Shu juga memunculkan sebuah pedang dari bayangan hitam.


"Blink..."


Sosok wanita itu menghilang tanpa jejak sekalipun.


*Traanggg!!!


Suara dari kedua pedang yang berbenturan keras terjadi. Untungnya Shu berhasil menahan serangan dari si wanita itu, namun satu hal yang paling ia tidak mengerti dan ia tanyakan pada kepalanya. Adalah-


"Siapa dia sebenarnya?! Mengapa dia bisa melakukan sihir dimensi?!" pikir Shu.