The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 23 : Pangeran Underworld Vs Putri Olympus



Alex tersenyum sombong, walau Rein sudah tahu identitasnya yang asli dan memperlihatkan sebuah wajah kejam pada Rein.


"Bagaimana bisa kau masih hidup?!! Seharusnya kau sudah mati 2000 tahun yang lalu!" tanya Rein dengan marah sekaligus bingung.


Seorang pemuda yang sudah mati lama sekali dan kini tiba-tiba hidup kembali, akan membuat bingung siapapun itu. Bagaimana caranya bangkit dari kematian yang mutlak hukumnya? Itulah pertanyaan terbesar yang akan didebatkan.


"Aku direnkarnasikan, Kak Rein. Tidak, Demigod Rein" jawab singkat Alex dengam senyum misterius.


"Oleh siapa?" tanya lagi Rein.


"Entahlah... kenapa kau tidak tanyakan pada kakek buyutmu itu? Dia pasti tahu siapa yang telah merenkranasikan aku" jawab Alex dengan membalikkan pertanyaan Rein pada dirinya sendiri.


"Jangan berani kau menyebut kakekku seperti itu!!!! Terlebih Pangeran Underworld sepertimu sangat tidak pantas untuk menyebut nama kakekku dan keberadaanmu tidak layak di Midgard atau dunia ini sekalipun!" ucap Rein dengan marah seraya mengeluarkan tombak petirnya.


"Mendengar itu dari Putri si tua bangka, membuat telingaku sakit sekali. Apa kau tau?" ejek Alex dengan senyuman menghina.


"ALEXANDER LUTHER LOUISE! Aku akan membunuhmu sebab kau telah berani menghina nama besar kakekku!! BERSIAPLAH!!!!" ujar Rein dengan amarah yang semakin membesar.


Aura petir disekitar Rein semakin banyak menyambar seiring ia semakin marah akan ucapan Alex yang menurutnya telah mengejek nama dari Dewa Zeus.


"Ide yang bagus. Aku juga berencana untuk membunuhmu juga, Kak Rein" ujar Alex dengan mengeluarkan pedang hitamnya, yang dulu pernah ia pakai saat melawan Demigod Erick.


"Pedang itu?" gumam Rein dengan sedikit takut setelah mengetahui hawa kegelapan apa yang telah menusuknya dari tadi, hawa itu bukan berasal dari Alex, namun dari pedang hitamnya.


"Sepertinya kau tahu pedang apa yang kugunakan ini. Tapi, jangan khawatir, Kak Rein. Aku tidak akan menggunakan kekuatan pedang ini, bila kau masih belum bisa membuatku bertarung dengan serius" jelas Alex dengan senyum sombong.


Setiap perkataan Alex seperti sebuah penghinaan besar ditelinga Rein yang merupakan cucu dari Pemimpin para Dewa Olympus, Zeus, dan membuatnya semakin marah serta benci kepada orang yang memiliki gelar Miracle Child.


"Divine Magic : Half-God Mode!!!!"


Begitu Rein berteriak seperti itu, rambutnya yang semula berwarna pink kini berubah menjadi kuning keemasan dengan cahaya yang memancar dan disekelilingnya memancarkan aura lembut tapi sangat kuat berwarna emas, serta matanya juga mengalami perubahan sama dengan rambutnya.


"Half-God Mode kah? Lagipula aku juga dapat menggunakannya. Divine Magic : Half-God Mode..."


Muncul tiga pasang sayap putih suci dibelakang Alex, kini ia mengenakan zirah ringan berwarna putih, mata seputih susu, serta membawa pedang hitam.


"Bagaimana bisa kau dapat menggunakannya juga!?" tanya Rein dengan bingung dan heran akan Alex yang dapat menggunakan Half-God Mode, sama sepertinya persis. Tapi dengan wujud perubahan yang berbeda.


Hanya keturunan dewa lah yang bisa menggunakan Half-God Mode, dan selain itu maka tidak akan ada yang bisa menggunakannya. Yang menjadi pertanyaan terbesar bagi Rein untuk Alex adalah, apakah Alex salah satu keturunan dewa juga? Jika iya, siapa orang tua dewanya?


"Entahlah..." jawab Alex dengan singkat padat dan jelas.


"Hah? Bagaimana bisa kau tidak tau?! Kau memiliki kekuatan para Demigod, tapi kau sendiri tidak tau kenapa kau memiliki kekuatan itu. Apa kau sedang bercanda padaku?!!" tanya Rein lagi dengan marah karena merasa dibodohi oleh Alex.


"Memang aku tidak mengetahuinya ditambah ingatanku tentang kehidupan yang sebelumnya sangat buram, jadi aku tidak ingat apa-apa" jawab jujur Alex tanpa ragu ke Rein, meskipun kini mereka saling bermusuhan.


"Hilang ingatan?" tanya ulang Rein untuk memastikan.


"Benar... kita akhiri pembicaraan yang membosankan ini. Mari kita mulai pertarungan ini" seru Alex dengan bersiap dengan pedang hitamnya tanpa melepaskan bilah pedangnya yang masih mengenakan sarung pedang.


"Sebaiknya kau jangan terlalu meremehkanku, Alexander Luther Louise!" seru Rein dengan marah akan Alex yang ia pikir terlalu meremehkan kekuatannya.


"Justru kau yang telah meremehkanku, Kak Rein. Jangan pikir aku tidak mengeluarkan bilahku, maka aku akan kalah 100%. Jika kau berpikir seperti itu, maka kau yang jelas akan kalah..." jelas Alex dengan bersiap untuk menyerang.


Rein hanya diam dan ikut bersiap dengan mengeluarkan tombak petir emasnya, ia tidak mau meladeni omongan Alex karena itu hanya akan menambah amarahnya saja.


Rein maju duluan dengan mencoba menusuk Alex menggunakan tombak petirnya yang sangat bersinar, tidak seperti saat pertandingan pagi tadi, karena Half-God Mode nya juga memberikan kekuatan tambahan yang sangat besar namun tidak untuk waktu yang lama.


Serangan Rein dengan mudah ditangkis oleh Alex, kemudian ia balas dengan tebasan. Tentu saja Rein dapat menghindari tebasan Alex itu dengan melompat mundur seraya waspada jika ia mendapatkan serangan kejutan dari Alex.


Pada saat menjaga jarak dengan Alex, Rein berpikir Alex dengan mudah menangkis serangannya yang bahkan telah diperkuat dengan Half-God Mode sekalipun, itu sangat berbeda saat ia menghadapi Alex pada duel pagi tadi. Rein yakin Alex dengan sengaja menyerah demi menyembunyikan kekuatan aslinya itu, jika tidak maka Rein akan tahu lebih cepat bahwa Alex adalah musuhnya.


"Jadi inilah kekuatanmu yang sebenarnya, ya?" tanya Rein.


"Kurang lebih? Hanya aku sedikit menahan diri sekarang ini, Kak Rein" jawab Alex dengan sombong seraya tersenyum penuh kemenangan.


Rein kembali kesal akan kesombongan Alex serta karena ia diremehkan oleh orang yang paling Rein benci sekarang ini. Kemudian ia kembali bersiap dengan kuda-kuda gaya bertarung tombak.


"Lightning Magic : Rain Thunder Lance!"


Rein melempar tombak petirnya hingga setinggi awan malam dan timbulan awan-awan badai petir yang bergemuruh, lalu beberapa saat kemudian turunlah ratusan sampai ribuan tombak petir yang berjatuhan kearah Alex dengan cepat.


"Holy Magic : Divine God's Barrier..."


Sedetik sebelum hujan tombak petir itu mengenai Alex, Alex terlebih dulu membuat pertahanan suci dewa yang bersinar putih suci didepannya.


Alhasil semua serangan Rein tidak ada yang sedikitpun dapat mengenai Alex karena terhalang oleh barier dari cahaya dewa.


"Hanya segitu kah?" ejek Alex dengan senyuman yang menghina Rein.


"AKAN KUBUNUH KAU SEKARANG JUGA, PANGERAN BUSUK!!!! WAHAI SANG PENGUASA OLYMPUS, BERIKAN AKU SEBUAH SENJATA YANG AKAN MEMBUAT TAKUT SIAPAPUN YANG MELIHATNYA DAN MUSNAHKAN DIA DALAM PETIRMU YANG MULIA NAN AGUNG, ZEUS LANCE!"


Tombak itu memiliki warna emas yang bersinar disetiap sudut, serta ujung tajam tombak itu bagaikan berlian putih dan bagian dalam bersinar kuning keemasan redup yang Indah sekaligus menawan setiap mata yang melihatnya. Di keadaan yang gelap di Moon Arena itu, kini bersinar terang akibat cahaya ilahi yang dipancarkan Zeus Lance.


"Ternyata kau dapat menggunakan tongkat berjalan kakek buyut itu ya?" ejek Alex dengan heran.


Rein tersulut lagi api emosinya bertambah besar, itu terlihat dari jumlah kerutan yang ada di keningnya.


"Divine Magic : God Mode!!!!"


Karena sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, tanpa ragu Rein mengeluarkan God Mode nya pada saat itu juga. Rein sudah tidak peduli akan kerusakan akibat ledakan Mana yang ditimbulkan akibat dari God Mode.


Arena disekitar Rein mulai retak lalu hancur serta angin yang berhembus kuat hanya karena ledakan Mana dari tubuhnya yang kini memiliki aura petir yang menyambar.


Divine Magic adalah sihir yang bisa digunakan oleh God's, Demigod, dan Angel saja, selain dari ketiga ras atau keturunan darah asli, tidak akan ada yang bisa menggunakan Divine Magic. Karena sihir itu adalah berkah dari para God's.


"Akhirnya kau serius juga, Kak Rein" ucap Alex yang masih santai seraya tersenyum sombong serta penuh dengan kemenangan.


"Sekarang aku akan benar-benar akan membunuhmu, Pangeran Underworld!!" ujar Rein dengan amarah yang meluap bagai lahar panas.


"Membunuhku? Hahahaha, jangan buat perutku lebih sakit dari ini, Kak Rein. Kau pikir dengan God Mode lalu tongkat itu kau bisa menang dariku? Sadarilah posisimu, Bocah tengik" balas Alex dengan ketawa sombong lalu disertai dengan sedikit marah akan Rein yang terlalu meremehkannya.


"Bocah tengik? Beraninya kau menyebutku seperti itu!!!"


Amarah Rein semakin meledak-ledak akibat Alex yang menyebutnya dengan nama 'bocah tengik'.


"Sekarang kuberi kau hadiah, karena sudah membuatku sakit perut akan omong kosong tadi. Wahai pedangku, bangkitlah dari dasar dunia, bawalah kehancuran yang akan menyelamatkan dunia ini dan tenggelamkan segala sesuatu dalam kegelapanmu yang abadi nan mulia, Dark Noble Eternity Sword…"


Hadiah yang dimaksud Alex adalah Dark Noble Eternity Sword, pedang terkuat yang Alex miliki, sekarang ia memanggil pedang itu untuk melawan Rein dan itu tanda Alex sudah mulai serius juga.


"Sekarang matilah!!!! Art Skill : Thunder Shooter Dragon!"


Rein mengarahkan tombaknya ke Alex bagai memegang senjata api, kemudian diujung tajam tombak itu mengeluarkan petir berwarna kuning keemasan yang semakin lama semakin membesar hingga membentuk kepala naga dengan mulut terbuka, bersiap untuk mengembuskan nafas petirnya kepada Alex.


"Dalam mimpimu… Art Skill : Ability Breaker."


Begitu Alex mengucapkan kalimat Art Skill itu, kepala naga di ujung tombak milik Rein yang siap untuk menembak Alex, kini pecah menjadi serpihan-serpihan persegi kecil sebelum sempat dapat menembak.


"Apa?!! Bagaimana bisa?!!! Art Skill milikku dibatalkan!?" ucap Rein dengan melebarkan pandangan matanya.


"Benar sekali…" jawab Alex yang masih tersenyum sombong.


Ia nampak menikmati ekspresi terkejut dari Rein saat Art Skill nya hancur berkeping-keping. Rasanya bagaikan menghancurkan harapan seseorang.


"Hah! Aku tinggal merapalnya lagi maka kau akan mati! Art Skill : Thunder Shooter Dra--"


*Ctiaarrrrr!


Sebelum sempat menyelesaikan Art Skill nya, Rein dikejutkan dengan hancurnya tenaga petir yang sempat terkumpul di ujung tajam tombaknya, itu seperti saat Alex merapalkan Art Skill milinya.


"Bha-hahahaha! Lucu sekali! Kau pikir aku sebodoh itu, Kak Rein? Mana mungkin aku hanya memasang satu kali Ability Breaker pada tongkat itu?"


Alex yang semula ingin menahan ketawanya, akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bingung serta terkejut dari Rein yang bagi Alex itu sangat lucu.


"Jangan-jangan kau membuat senjataku ini tidak bisa mengeluarkan Art Skill untuk beberapa saat?!" ujar Rein yang akhirnya sadar akan maksud Alex.


Alex tersenyum penuh kemenangan lalu berkata "selama satu jam penuh tongkat itu tidak akan bisa mengeluarkan Art Skill apapun…"


"Kekuatan macam apa itu?! Dan sebenarnya pedang apa yang kau punyai hingga memiliki kekuatan seperti itu!?" tanya Rein dengan sangat heran serta bingung akan kekuatan tidak masuk akal yang dimiliki oleh Alex dan pedangnya itu.


"Pengetahuanmu sekarang tidak lebih dari bayi yang baru lahir kemarin sore, Kak Rein" balas Alex dengan serius.


"Tcih!"


Rein berdecak kesal, memang benar dengan dikatakan Alex. Ia sama sekali masih belum atau bahkan belum pernah tahu sedikitpun kisah dari Pangeran Underworld, karena tidak ada satupun buku yang menjelaskan baik asal usulnya, kekuatan, sejarah, senjata atau bahkan penyebab kematiannya, semua itu tidak tertulis. Seperti ada yang sengaja merahasiakannya dan tertulis di beberapa buku yang letaknya pasti sangat amat tersembunyi.


"Bolehkah aku berkata 'sekarang waktumu untuk mati', Kak Rein?" tanya Alex dengan senyum penuh kemenangan dan kesombongan setinggi langit.


Rein hanya bisa terdiam sambil bersiap, kini dia telah kehilangan satu-satunya kartu AS nya. Ia hanya bisa bergantung pada God Mode untuk memberikan energi serta Mana tambahan untuknya.


Alex maju dengan cepat seraya menyampingkan pedangnya dan begitu dekat ia bersiap menebas Rein tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Sword Empire Art Style : Triple Judgement Slash…"


Alex melancarkan tiga kali serangan beruntun yang berbentuk 'x' serta serangan terakhir yang membelah vertikal diantara titik 'x' itu.


*Trangg… traangg… slinggg!


Rein menangkis dengan sempurna setiap tebasan dari Alex, walau yang terakhir sedikit terkejut karena tidak mengira masih ada lanjutan dari tebasan kedua menuju tebasan ketiga.


"Bagaimana kalau ini? Holy Magic : Divine chain."


Rein yang tidak diberi kesempatan diberi untuk mengambil nafas, terjerat rantai berwarna putih bersinar terang di kedua tangan dan kakinya, yang secara otomatis tidak dapat membuatnya bergerak.


"Fire Magic : Hell Fire Explosion."


Alex hanya menjentikkan jarinya, lalu muncul ratusan titik api kecil yang semakin besar disekitar Rein. Sebelum meledak, Alex sudah terlebih dulu menyingkir dan meninggalkan Rein bersama sihirnya.


*Jdiarrr! Blediarrrr! Kdiaeer!!!


Ledakan besar itu menciptakan lubang yang sangat besar di Moon Arena dan ditengah kubungan terdapat sosok Rein yang masih berdiri dengan menjadikan tombaknya sebagai alat membantunya untuk tetap bisa berdiri.


Rein terlihat mengalami luka bakar serius dan pakaiannya sedikit terbakar, walau dirinya memiliki aura dari God Mode serta sempat mengerahkan Absolute Defense. Namun itu semua belum cukup untuk melindunginya dari luka yang cukup serius itu.


Alex berjalan santai ke arah Rein yang kini hanya bisa diam dan bermuka kesal akibat luka bakar yang dideritanya, serta tidak lupa Alex masih tersenyum sombong pada Rein yang kini bukan lagi ancaman untuknya, melainkan sebuah hama yang harus dibersihkan atau dengan kata lain, dibunuh.


"Sekarang kau mengerti perbedaan kekuatan diantara kita berdua, Kak Rein?" tanya Alex dengan mengejek Rein yang sudah ada di dekatnya.


Jika Rein bisa bergerak, sudah pasti pada saat itu juga ia akan memukul keras Alex atas ucapnya yang sangat sombong itu.


"Aku tidak mau berlama-lama lagi. Jadi… selamat tinggal, Kak Rein. Titipkan salamku pada kakek tercintamu itu ya…" ujar Alex dengan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan bersiap untuk membunuh Rein tanpa ada kata ragu sedikitpun dihatinya.


Rein yang sudah tidak dapat bergerak hanya pasrah menerima kematian yang sebentar lagi akan menjemputnya itu.


*Triiiingggg!!!!


Saat pedang Alex akan menebas Rein, tiba-tiba sebuah katana berwarna biru es menahan serangannya serta sosok wanita pemilik katana itu sudah berada disamping kanan dari Rein.


"Siapa kau? Aku belum pernah melihat pengguna Dimension Magic, selain diriku" tanya Alex dengan bingung akan identitas wanita bertopeng serta memakai pakaian serba hitam.


"Salam kenal, Alexander Luther Louise… aku adalah Evil Nightmare, sahabat masa kecilmu, kekasihmu, serta istrimu juga."