The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 19 : Pertanyaan Serta Jawaban



Yuki tidak percaya akan jawaban Alicia yang bilang bahwa mayat didepan itu adalah seorang Demigod, berarti manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan luar biasa hebat seperti dewa, sekarang terbaring tak bernyawa dengan kepala yang terpenggal.


"Apa kau bercanda, Alicia?" tanya lagi Yuki untuk memastikan.


"Bagaimana bisa aku bercanda dalam situasi seperti ini?! A-aku bahkan melihat semuanya!" Alicia menjadi sedikit emosi karena jawabannya dinilai candaan oleh Yuki yang tidak tahu apa-apa, soal pertarungan yang baru saja terjadi ditempat itu.


Seharusnya Yuki tahu bahwa Alicia bukan tipe orang yang akan bercanda disituasi seperti sekarang.


Ia menghilangkan kedua tombaknya dan membantu Alicia untuk berdiri dengan mengalungkan tangan Alicia dilehernya.


Saat itulah Yuki menyadari Alicia ternyata bergemetar ketakutan, ia bertanya-tanya apa yang membuat dia sampai ketakutan seperti itu.


"Alicia, siapa orang yang telah membunuhmu Demigod itu?" tanya Yuki saat tengah berjalan seraya menuntun Alicia yang lemas.


"Alexander Louise… dia seorang Demon yang memiliki lima pasang sayap sekaligus" jawab Alicia dengan nada sedikit berat.


"Alexander Louise?" Yuki merasa pernah mendengar nama yang hampir sama dengan nama yang disebutkan oleh Alicia, tapi ia tidak ingat darimana ia merasa mendengarnya.


"Apa kau mengenal dia, Kanzaki?" tanya Alicia saat melihat raut muka Yuki yang sedang seperti mengingat dan berpikir.


"Tidak… cuma perasaanku saja" jawab Yuki dengan senyum kecil.


Alicia merasa Yuki seperti menyembunyikan sesuatu darinya, sesuatu yang mungkin berkaitan dengan identitas Alexander Louise.


######


(untuk karakter bernama Shu sekarang akan ditulis dengan nama Alex karena itu adalah nama aslinya sendiri)


"Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku…" ujar Alex digang sempit yang tempatnya jauh dari pertemuannya tadi dengan Alicia.


Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok digang sempit itu, Alex bukan lelah akibat terlalu banyak menggunakan Mana. Akan tetapi…


"Alex ku, kau hampir kehilangan kendali atas kekuatanmu tadi!" ujar Lucy dengan nada yang sedikit marah.


"Benar itu. Jika kau kehilangan kendali, bisa-bisa satu benua ini akan hancur. Kau seharusnya tidak perlu sampai mengeluarkan World of Phantams mu…" tak hanya Lucy yang khawatir dan marah pada Alex, Miry juga ikut menasehatinya.


"Asal kalian tahu, aku berada di tengah-tengah kota tadi. Bila aku menggunakan sihir area besar dengan daya ledak tinggi, maka tiga sampai empat kota bisa hancur dan korban jiwa akan sangat banyak. Tapi memang aku tadi hampir saja kehilangan kendali. Maaf…" ucap maaf Alex yang sedikit membuat Lucy dan Miry menjadi terkejut.


Namun yang menjadi pertanyaan besar buat Alex adalah siapa dia sebenarnya? Ia hanya mengingat bahwa dia seorang renkarnasi dari seorang yang bernama Alexander Louise, orang yang hidup 2000 tahun lalu dengan kekuatan yang luar biasa hebatnya.


Oleh karena itu Alex atau namanya sekarang, Shu, tidak ingat apa-apa lagi selain nama aslinya sendiri.


"Aku harus menjemput Haruka dan Haruki…" ujar Alex dengan berjalan yang sedikit sempoyongan, itu adalah efek dari penggunaan berlebihan dalam kekuatan lamanya.


"Alex ku, jangan kau paksakan. Lebih baik beristirahatlah dulu" ujar khawatir dari Lucy.


"Mereka berdua pasti baik-baik saja sekarang, Luther ku. Jadi istirahatkan tubuhmu terlebih dulu ya?" seperti biasa Miry juga mengkhawatirkan kondisi Alex.


Karena efek kekuatan dari World of Phantams yang menyebabkan kelelahan berlebihan walau baru terwujud beberapa menit, ditambah kekuatannya hampir lepas kendali.


*Bragghhkkk…


Alex terjatuh, karena sudah tidak dapat menahan rasa lelahnya lebih lama lagi ditambah pandangannya mulai buram dan hampir tidak bisa melihat apapun.


"Kalian benar… bangunkan aku dalam dua sampai tiga jam lagi, Lucy, Miry" Alex menyandarkan badannya pada dinding gang itu dan langsung terlelap dalam tidurnya, sebelum Lucy dan Miry menjawab.


######


"Kakak…" Alex mendengar suara gadis yang lembut dan manis sedang memanggilnya.


Ia pun membuka mata dan melihat sosok gadis kecil berambut hijau limau, mata merah delima, memakai jaket pink dengan kerudung berbentuk kuping kucing, rok pendek berwarna merah tua dan dia memeluk sebuah boneka kucing.


"A-akhirnya Kakak… bangun" ujar gadis kecil itu dengan sedikit ketakutan.


Alex bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh gadis kecil didepannya itu hingga berada di gang sempit.


"Kenapa kau bisa disini?" tanya Alex seraya memegang kepalanya  yang masih sedikit pusing, namun keadaannya sekarang jauh lebih baik daripada tadi.


"Ettoo… aku tadi melihat Kakak berjalan digang ini… l-lalu…"


"Lalu apa?" tanya lagi Alex.


"Lalu… tanpa sadar aku mengikutimu, Kakak" jawab lanjut gadis kecil itu.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Alex dengan menggunakan nada yang lembut.


Ia melihat gadis kecil itu sedikit ketakutan, oleh karena itu Alex lebih lembut dalam bertanya.


"Ka-karena… karena Kakak terlihatan kesakitan dan tidur disini. Kakak baik-baik saja?" tanya gadis kecil itu dengan khawatir.


Alex merasa bersalah telah curiga pada gadis semanis dan sebaik sepertinya, dia sangat baik, bahkan untuk orang yang dia tidak kenali sekalipun.


"Aku sudah baik-baik saja, terima kasih telah mengkhawatirkanku" jawab Alex dengan senyuman kecil.


"Sama-sama Kakak" gadis kecil itu ikut tersenyum manis pada Alex dengan senangnya.


"Lolicon…" ucap Lucy dan Miry secara bersamaan.


Mendengar itu bagaikan ada dua buah pedang besar yang menusuk Alex dengan sakitnya. Namun, ia lebih memilih mengabaikan perkataan Lucy dan Miry.


"Oh, ya. Dimana tempat tinggal mu?" tanya Alex.


"Tentang itu… aku sendiri tidak tahu, bagaimana ini Kakak?" tanya gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca.


"Dimana terakhir kali kau berada?" tanya Alex.


"Emmnn… festival" jawabnya singkat.


"Festival SMP Tokyo kah? Baiklah, akan kuantarkan kesana" ajak Alex.


"Sungguh Kakak akan mengantarkanku?" tanya ulang gadis kecil itu dengan senangnya.


"Iya, anggap ini balasanku ya" jawab Shu dengan menaruh tangannya sejenak di kepala gadis itu dan kemudian ia berdiri.


"T-angan…" ujar gadis kecil itu dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Alex dengan kembali jongkok didepan dari si gadis kecil.


"Boleh… kupegang tanganmu?" tanya gadis kecil itu dengan sangat manis.


Alex tersenyum akan permintaan gadis kecil itu dan memberikan tangannya.


Si gadis kecil sangat senang, sebab Alex mau menerima permintaannya. Ia pun memegang tangan Alex dengan senyum penuh kesenangan.


Mereka berdua pun akhirnya bergerak ke SMP Tokyo dengan berpegangan tangan.


######


Jari tangannya terus bergerak naik turun dengan seirama di tangan kursi, seakan dia tengah menunggu sesuatu dengan tidak sabarnya.


*Klleeennggkk…


Tiba-tiba pintu ruang takhta terbuka dan seseorang berpakaian seperti jas hitam masuk dengan langkah yang terburu-buru.


Sesampainya didepan gadis itu, si prajurit langsung setengah jongkok layaknya kesatria dihadapan Ratu nya.


"Lapor, Ratu Veronica…" ujar si prajurit Vampir dengan sopan sekaligus sedikit ketakutan.


"Jadi?" tanya Veronica dengan suasana hati yang buruk.


"Tuan Verge telah dipastikan menyerang suatu tempat di Midgard dengan berkerja sama dengan seseorang" jawab si prajurit Vampir.


"Dengan siapa Verge berkerja sama?" tanya Veronica.


"Tentang itu… kami… sama sekali tidak mengetahuinya" jawab prajurit Vampir itu dengan ketakutan.


"Maka cepat cari tahu siapa dia!" perintah Veronica dengan marahnya.


"B-baik!" prajurit Vampir itu langsung pergi keluar dari ruang takhta dengan ketakutan untuk melaksanakan perintah dari Veronica.


"Dasar bocah bodoh! Kenapa dia malah menyerang Midgard?!" Veronica tidak abis pikir, kenapa Verge dengan bodohnya menyerang Midgard. Itu sama saja mendeklarasikan sebuah perang besar yang seharusnya dilarang dalam pakta.


*Klleeennggkk…


Pintu ruang takhta terbuka lagi, seorang prajurit Vampir lainnya masuk dengan berlari dan langsung menghampiri Veronica.


"Ada apa?" tanya Veronica yang penasaran dengan kedatangan prajurit itu yang terlihat panik.


"Saya melaporkan bahwa Tuan Verge telah kembali" jawab prajurit Vampir dengan nafas yang saling terburu-buru.


"Apa?! Dimana dia sekarang?!!" Veronica tidak menyangka Verge telah kembali ke Underworld.


"Verge-sama telah kami penjarakan dan dia kembali dengan luka parah ditangannya" dari jawaban prajurit Vampir, Veronica bisa menebak mungkin Verge lari dari pertempuran karena melawan orang yang lebih kuat darinya.


Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah, siapa orang yang telah mengalahkan Verge?


"Cepat antar aku sekarang" ujar Veronica dengan nada sedingin es.


"Baik!"


Veronica pun mengikuti langkah prajurit Vampir itu ke tempat dimana Verge ditahan.


Sesampainya ditempat dimana Verge dipenjarakan, Veronica melihat Verge dalam keadaan tubuhnya terpaku dalam salib dengan lengan kanannya yang terputus.


"Verge…" panggil Veronica dengan nada dingin.


Mendengar namanya dipanggil, Verge mengangkat wajahnya yang tadinya tertunduk.


"Kenapa, Ratu Veronica?" tanya Verge dengan nada lemah akibat tubuhnya yang terpaku disalib.


"Siapa orang yang berkerja sama denganmu?" tanya Veronica yang masih dengan suasana hati yang sangat buruk.


"Saya… tidak tahu" jawab Verge dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak tahu ya? Jangan main-main denganku, Verge!!!" Veronica langsung meluapkan emosi karena mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan dari Verge.


"Kau dengan bodohnya menyerang Midgard tanpa ada persetujuan dariku! Dan tindakan bodohmu itu bisa membuat perang seperti 2000 tahun lalu! Apa kau mengerti?!!" lanjut Veronica dengan marahnya.


"Saya mengetahuin-"


*Jdiaaarrrr! Braghkkkk!


Sebelum sempat menyelesaikan omongannya, Verge telah dipukul oleh Veronica tepat diwajahnya hingga menembus tembok penjara yang ada dibelakang.


"Kalau kau mengerti, mengapa kau melakukannya?!" Veronica berjalan ke arah Verge yang terbaring tersakitan akibat pukulannya.


"Demi… anda, Ratu Veronica…" jawab Verge dengan menggeram kesakitan.


"Kau tidak perlu melakukan segala sesuatu untukku dan biar kuperjelas, aku hanya mencintai satu orang saja untuk seumur hidupku" ujar Veronica dengan kembali menggunakan nada dingin.


Mendengar itu membuat hati Verge merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Aku ingin kau menjawab pertanyaan ini, siapa yang telah mengalahkanmu?" tanya Veronica dengan pandangan yang tajam.


Walaupun Verge lebih lemah darinya, namun untuk mengalahkan Verge. Tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengalahkannya.


Orang yang telah mengalahkan Verge mungkin sangat kuat dan dia bukan orang sembarangan, itulah yang Pikirkan oleh Veronica.


"Suami anda, Tuan Louise…" jawab Verge tanpa ragu dan jujur.


"Hah?! Kau tidak berbohong padaku kan?!" Veronica sontak terkejut karena mendengar nama dari orang tercintanya disebut oleh Verge.


"Tidak… sama sekali, Ratu Veronica."


Veronica tidak merasakan kebohongan dari setiap kata yang keluar dari bibir Verge.


"Dan dalam waktu dekat Tuan Louise akan mendatangi anda, Ratu Veronica" tambah Verge.


Seketika itu semua suasana buruk didalam hati Veronica lenyap bagai pasir yang terhembus angin. Kini hatinya penuh dengan perasaan senang dan bahagia tiada batasnya.


"Baiklah…" Veronica pun berjalan meninggalkan Verge untuk kembali ke tempatnya berada.


"Mama…"


Ditengah jalan, Veronica bertemu gadis kecil dengan rambut pirang, mata berwarna merah Mawar dan berpakaian gaun mini berwarna hitam.


"Kenapa, Putri ku?" tanya Veronica dengan lembut dan halus seraya menghampiri gadis kecil itu dan berlutut didepannya.


"Mama sedang apa disini?" tanya gadis kecil itu dengan polos.


"Mama sedang berjalan-jalan disini" jawab Veronica dengan senyum kecil.


"Ohh ya, kapan Papa akan pulang, Mama?" tanya gadis kecil itu dengan bersemangat.


"Sebentar lagi Papa akan pulang…" Veronica menaruh tangannya diatas kepala anaknya seraya tersenyum manis.


"Sungguh!?" gadis kecil itu sangat senang dan tersenyum lebar.


"Tentu, Sayang" jawab Veronica dengan senyum lembut


"Aku akan menunggumu pulang, Suami ku…" batin Veronica.