
Shu mencoba bangkit dari tempat ia terhempas tadi. Badannya penuh dengan luka dan debu dari puing-puing bangunan yang hancur.
"Tidak kusangka serangga sepertimu masih bisa merayap" hina Verge seraya berjalan mendekati Shu.
Shu berdecak kesal terhadap kesombongan besar yang dimiliki Verge, namun itu membuktikan bahwa kesombongannya tidak sekedar omongan saja, dengan kekuatan yang besar itu dapat menutupi kesombongannya.
"Ice Magic : Frost Spike!"
Shu langsung merapalkan sihirnya, namun sebelum mengenai Verge.
Verge terlebih dulu menghilang atau lebih tepatnya menghindar dengan kecepatan abnormal hingga mata Shu tidak bisa melihatnya.
"Lemah…" Verge tiba-tiba muncul didepan Shu dengan mengarahkan tendangannya langsung.
Shu yang terkejut untuk kedua kalinya hanya bisa menggunakan kedua lengan tangan untuk menahan dampak serangan Verge.
Tendangan Verge membuat Shu sekali lagi terpental jauh hingga menghancurkan dua tembok dan akhirnya membuat Shu keluar dari bangunan itu. Shu yang hampir tidak mempunyai tenaga mencoba berdiri dengan susah payah.
"Lucy, Miry, dimana kalian?"
Shu mencoba memanggil Lucy dan Miry hingga lima kali namun tak kunjung ada sebuah jawaban dari mereka, tidak sama sekali.
Ia berpikir bahwa hal itu adalah salah satu efek dari pertarungannya dengan Carissa beberapa waktu lalu. Terlebih Shu sekarang tidak bisa menggunakan sihir tingkat tinggi.
"Kenapa lalat sepertimu tidak segera mati?"
Verge dengan kesombongan yang menjulang tinggi, ia menatap Shu bagaikan sampah rendahan dan berjalan kearah Shu.
"S-ial" Shu berdecak kesal akan keadaannya saat ini.
"Dengan ini akan berakhir…" Verge mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan bersiap menebas Shu yang sudah tidak mempunyai tenaga untuk bergerak sedikitpun.
"Art Magic : Black Fire!!"
Tiba-tiba muncul api hitan disekeliling Verge, namun dengan cepat dia menghindar dan sedikit mengambil jarak.
Ia melihat dua orang gadis kembar berpakaian murid SMP Tokyo lah yang tadi mengeluarkan sihir api hitam.
"Kak Shu!"
"Kakak!!"
Haruka dan Haruki langsung menghampiri Shu dan menahan badannya agar tidak jatuh. Shu yang terkejut akan kedatangan Haruka dan Haruki, merasa lega mereka berdua baik-baik saja. Namun, dalam situasi saat ini begitu buruk.
"Haruka, Haruki, pergilah…"
Ia tahu Haruka dan Haruki tidak mungkin atau mustahil bisa menang melawan Verge dengan kekuatan mereka saat ini.
"Tidak! Kami pasti akan melindungimu, Kak Shu!" tolak tegas Haruka yang menatap tajam kepada Verge.
"Itu benar, Kakak. Lagi pula kami tidak bisa memaafkan orang yang telah melukaimu" Haruki juga sependapat dengan saudari kembarnya.
"Jangan perdulikan aku! Cepat kalian pergi saja!" Shu tahu rasa ingin melindungi dari Haruka dan Haruki, namun keadaan saat ini sangat tidak memungkinkan untuk dimenangkan oleh Haruka dan Haruki.
"Maaf, Kak… Ayo, Haruki!" Haruka maju terlebih dulu dan diikuti oleh Haruki.
Sementara itu Verge menjadi sedikit tertarik dengan Art Magic milik Haruka dan Haruki yang mereka lafalkan tadi hingga tersenyum kecil.
"Fire Magic : Fire Seal Chain!" Haruka mengeluarkan sihir yang mengikat kedua tangan dan kaki dari Verge.
"Fire Magic : Inferno!" memanfaatkan kesempatan saat Verge tidak bisa bergerak karena segel rantai api dari Haruka, Haruki langsung melafalkan sihir api tingkat tinggi.
Inferno adalah salah satu sihir tertinggi dari elemen api yang merupakan sihir tipe Area yang melelehkan segalanya dalam radius sihir tersebut.
Tak peduli itu adalah benda sekeras apapun, pasti akan meleleh hingga tidak tersisa bila terkena sihir berbahaya itu.
Sebelum sihir itu aktif sepenuhnya, Verge telah terlebih dulu terlepas dari segel rantai api dari Haruka dan langsung menjauh hingga berada diluar radius aktif Inferno.
"Inferno kah? Sihir yang sangat berbahaya, terlebih lagi yang merapalkan adalah manusia rendahan. Kenapa makhluk rendahan itu bisa merapalkan sihir yang bahkan Elf, Vampir dan Demon sangat sulit untuk dikuasai?"
Verge tidak ingin percaya, akan tetapi matanya melihat sendiri kenyataan bahwa seorang Human bisa merapalkan salah satu sihir tingkat tinggi dari elemen api.
Namun Verge menjadi sedikit tertarik pada Haruka dan Haruki, karena bisa melakukan apa yang tidak dapat Verge lakukan.
"Apa kalian berdua tertarik menjadi bawahanku?" tawar Verge dengan senyum bersahabat.
Mendengar omong kosong yang berdengung ditelinga mereka. Shu, Haruka dan Haruki menganggap itu seperti sebuah candaan yang sangat tidak lucu.
"Kami menolak!" tolak tegas dari Haruka dan Haruki.
Verge sedikit terkejut akan penolakan dari Haruka dan Haruki. Ia tidak menyangka kebaikannya ditolak mentah-mentah oleh Human rendahan dan terlebih lagi Verge merasa terhina akan penolakan itu.
"Dasar makhluk hina, beraninya kalian menolak kebaikanku! Akan kubuat kalian menyesali telah hidup didunia ini!!" murka Verge.
Pedang hitam yang berada digenggamnya mengeluarkan aura kegelapan yang lebat dan pekat.
"Haruka, Haruki, pergilah!" Shu berteriak dengan khawatirnya.
Dia mempunyai firasat yang sangat buruk pada pedang Verge yang semakin lama semakin terselimut aura kegelapan.
Namun kekhawatiran Shu tidak dihiraukan oleh Haruka dan Haruki. Jika mereka pergi maka serangan itu pasti akan mengenai Shu yang berada dibelakang.
Maka dari itu, Haruka dan Haruki bertekad melindungi Shu meskipun nyawa taruhannya.
"Holy Magic : Seven Virtue Defense!" ucap serentak Haruka dan Haruki.
Seven Virtue Defense adalah sihir pertahanan tingkat tinggi dari elemen cahaya yang membuat 7 pelindungan suci.
"Wahai kegelapan, berkumpulan di pedangku, berilah kekuatan pada pedangku, lapisi bilahku dengan kegelapanmu yang abadi, dan hancurkan segala yang menghalangimu…"
Shu merasa mengetahui sihir apa yang sedang Verge rapalkan, tapi ia baru pertama kali mendengarnya dan tidak tahu dimana terakhir kali mengingatnya.
"Cepat kalian pergi!! Kalian tidak akan mampu menahan sihir itu! Haruka, Haruki!!!" Shu berusaha keras untuk memberitahu kepada Haruka dan Haruki agar pergi jauh-jauh.
"Sial! Bergeraklah! Sialan!!! Sial! Sial! Sial! Bergeraklah!!"
Shu mencoba berdiri, namun semua usahanya sia-sia belaka. Ia bahkan kesulitan untuk menggerakkan setiap anggota tubuhnya yang sudah terluka parah itu.
"… Darkness Magic : Dark Hermit Slash!"
Begitu selesai merapalkan sihirnya, Verge mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan melakukan tebasan diudara.
Sesaat kemudian terbentuklah tebasan kegelapan yang membelah apapun benda apapun yang berada di jalurnya dan semakin lama tebasan kegelapan itu semakin besar dan meluas.
"Sial!!!!"
*Kreekk…criarrr!
Satu demi satu sihir tujuh pelindungan suci dari Haruka dan Haruki mulai hancur berkeping-keping.
"HARUKA!!!!! HARUKI!!!!!"
bersamaan dengan teriakan Shu, lapisan terakhir dari pelindungan suci milik Haruka dan Haruki hancur.
Secara langsung Haruka dan Haruki terkena serangan mematikan itu. Walau dampak tebasan itu telah berkurang, namun kekuatan tebasan itu masih terlalu besar hingga mencapai tempat Shu.
Shu yang tersadar ternyata ia masih terkena serangan Verge, langsung mencari keberadaan Haruka dan Haruki.
Ia menemukan mereka tergeletak tak berdaya dengan luka parah. Shu langsung berdiri lalu berlari menuju tempat Haruka dan Haruki berada.
Ia memaksakan setiap anggota tubuhnya untuk bergerak, walau terasa sangat sakit, tapi Shu sama sekali tidak menghiraukannya.
Shu lebih sakit bila melihat kedua adiknya menderita, terluka, atau sedih. Begitu sampai, dada Shu merasakan sesak yang sangat luar biasa.
"HARUKA!! HARUKI!!! ARGHHHHH!!!!"
Ia melihat luka tebasan yang cukup lebar di tubuh masing-masing dari Haruka dan juga Haruki. Air mata nya tak tertahankan, rasa marah yang meluap-luap bagaikan lahar panas.
"Holy Magic : Heal! Holy Magic : Heal! Holy Magic : Heal!"
Shu berusaha keras menyembuhkan luka pada kedua adiknya, tetapi sihirnya sama sekali tidak bekerja. Bahkan tidak sedikitpun bisa menyembuhkan luka pada tubuh Haruka dan Haruki.
"BEKERJALAH! SIALAN!! SIAL!!!"
Shu yang menyentuh tangan dari Haruka dan Haruki mulai merasakan hawa tubuh mereka yang mulai mendingin, karena kehilangan banyak darah.
"Kenapa sihirku tidak bekerja?!! Kenapa aku selemah ini?!! Kenapa kalian berusaha melindungi kakak kalian yang tidak berguna sepertiku?!! Kenapa?!!!"
Shu sangat menyesal akan ketidakberdayaan dirinya saat ini hingga tidak mampu melindungi orang-orang yang berharga baginya.
"Jika dunia ini memiliki dewa, kenapa mereka tidak menolong?! Apa mereka tidak peduli pada Human yang selalu memuja dan menyembah mereka?! Apa mereka berpikir bahwa Human tidak pantas untuk dilindungi?!"
Jika keberadaan dewa betul ada, tetapi kenapa mereka tidak melindungi makhluk yang lebih lemah dari mereka. Layaknya rumput liar, walau disingkirkan akan tetap tumbuh kembali.
Shu beranggapan seperti itulah pikiran para dewa seperti Olympus dan Asgard. Sudah menjadi kewajiban untuk yang kuat melindungi yang lemah, akan tetapi…
Justru yang lemah tertindas, terabaikan, tersingkirkan, terasingkan oleh yang kuat. Itu membuat muak Shu, jika saja para dewa menolong, tentu semua ini tidak akan terjadi.
Haruka dan Haruki tidak akan terluka parah, serta Shu masih bisa melihat senyuman mereka berdua.
"Akhh…"
Saat tengah berpikir tiba-tiba kepala Shu mendadak pusing, pandangannya menjadi kabur sehingga melihat sebuah halusinasi yang nampak asing, namun sangat dia kenal sekali. Nampak seperti sebuah pecahan ingatan.
"Hahhh…, sayang sekali kalian harus mati. Padahal tadinya aku sedikit tertarik, seharusnya kalian terima saja tawaranku tadi" ejek dengan penuh kesombongan Verge.
Ia berjalan dengan santai ke arah Shu seraya memanggul pedang hitamnya di punggung. Shu yang tersadar jika saja Verge tidak ada, maka Haruka dan Haruki tidak akan terluka parah.
Ia menatap Verge dengan tatapan kemarahan, rasa benci, hawa membunuh yang sangat besar.
"AKAN KUBUNUH KAUU!!!!!"
Shu berlari ke arah Verge seraya ditangannya menciptakan sebuah Shadow Blade.
Ia tak memikirkan rencana apapun, ataupun strategi, yang terpenting saat ini adalah Shu bisa membunuh Verge dengan tangannya sendiri.
"Menyedihkan sekali…"
Dimata Verge semua hal yang dilakukan Shu adalah usaha yang sia-sia saja. Saat jarak Shu dengan Verge semakin dekat. Shu bisa mengingat setiap senyuman, candaan, kemarahan yang ia rasakan dari kedua adik kembarnya, Haruka dan Haruki.
Namun kini semua itu lenyap, bagaikan pasir yang tertiup oleh hembusan angin. Haruka yang biasanya tersenyum manis dan ceria, kini tak menampakan senyumannya dan terdiam.
Haruki yang biasanya tak mau mengalah dan selalu sama dengan Haruka, kini tak berkutik dan terbaring ditanah. Mereka berdua bagaikan cahaya kehidupan untuk Shu dan alasan kenapa Shu hidup.
"Maaf, Haruka, Haruki…"
*Jleebbb…
"Guhak!"
Shu memuntahkan darah segar dari mulutnya, karena perutnya tertusuk pedang hitam milik Verge.
"Enyaplah, serangga" setelah itu Verge mencabut pedangnya dan meninggalkan Shu terkapar ditanah dengan luka tusukan yang parah.
Shu mulai merasakan hawa dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, dikarenakan luka pada perutnya.
Matanya begitu berat untuk tetap terjaga, hawa dingin yang menusuk membuat tubuh mengigil kedinginan. Secara pelahan mata Shu mulai menutup dan tubuhnya sudah tidak dapat bergerak lagi.
Beberapa saat kemudian Shu merasakan hawa hangat dan angin sejuk yang berhembus pelan.
Shu membuka matanya dan melihat sebuah pemandangan yang nampak asing, namun entah kenapa Shu seperti mengenalnya.
"Ini… dimana?"