The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 16 : Musuh Terkuat



Verge tak begitu percaya akan apa yang dilihat dan ia rasakan.


Tapi ia yakin, wujudnya dan hawa keberadaannya masih sama persis, walau sudah 2000 tahun telah berlalu.


Dia adalah, sosok yang paling Verge takuti dari dulu hingga sekarang. Dia memiliki rambut putih salju, mata merah darah, mempunyai tanduk hitam di dahi, memiliki lima pasang sayang hitam berseling putih dipunggung, memakai zirah hitam ringan dan pedang hitam pekat.


Aura kegelapannya begitu pekat dan mencekam, siapapun yang tidak bisa menahan aura kegelapannya itu akan pingsan seketika.


Louise berbalik dan menghampiri Haruka dan Haruki yang tergeletak di tanah.


"Darkness Cursed Magic : Regretless..."


Luka yang berada di tumbuh Haruka dan Haruki seketika langsung lenyap, seakan-akan luka itu hanya mimpi belaka.


Darkness Cursed Magic adalah salah satu jenis sihir terkuat sekaligus terlarang. Sihir itu sudah menghilang selama lebih dari 2000 tahun lalu, karena hanya dua orang saja yang dapat menguasainya.


Darkness Cursed Magic adalah sihir gabungan antara Darkness Magic dengan Cursed Magic.


Karena itulah sihir ini berada dilevel mustahil untuk dikuasai oleh orang biasa, bahkan Dewa pun mustahil bisa untuk menguasai sihir itu.


Sementara Regretless adalah sihir yang lebih mirip membalikkan waktu sebelum terluka daripada menyembuhkan luka pada tubuh, separah apapun luka itu. Namun, hanya bisa digunakan tiga kali saja dalam sehari.


"K-kenapa anda berada disini?" tanya Verge dengan ketakutan.


"Seharusnya itu pertanyaanku, Verge. Apa yang kau lakukan disini?" Louise bertanya dengan aura intimidasi yang besar.


Bahkan seorang Verge pun bergemetar ketakutan akan aura intimidasi yang Louise keluarkan.


"Saya memiliki sedikit urusan disini" jawab Verge dengan berupaya menyembunyikan alasan yang sebenarnya


Louise mengerutkan alisnya dan menatap tajam kearah Verge.


"Apa urusanmu disini?" tanya lagi Louise dengan nada sedingin es.


Verge hanya diam membisu. Ia tidak bisa memberitahukan tujuannya berada di Midgard bersama pasukannya dan seseorang lagi.


"Sudahlah..., berarti kau bertindak seperti ini diluar perintah Veronica, ya?"


Verge terdiam lagi, karena dugaan Louise benar adanya.


Ia melakukan semacam deklarasi perang dan pelanggaran pakta perdamaian antar ras, terlebih Verge melakukan itu diluar pengetahuan Ratu nya atau bisa dikatakan seperti seorang pengkhianat.


"Jadi benar ya? Kau bahkan telah mengkhianati kepercayaan Veronica yang telah dia berikan padamu, terlebih kau telah berani dan lancang menyerang mereka, Verge" Louise mulai mengeluarkan aura membunuh yang besar.


'Mereka' yang dimaksud Louise adalah Haruka dengan Haruki. Verge bertambah ketakutan, tubuhnya semakin gemetar akan hawa membunuh dari Louise.


"Aku melakukan semua ini demi Veronica-sama! Bukan seperti kau yang meninggalkan Veronica-sama dan menghilang lebih dari 2000 tahun!" tiba-tiba Verge marah dan ketakutannya lenyap tak tersisa.


Louise menghela nafas, karena apa yang dikatakan Verge benar adanya. Namun ia melakukan itu demi sebuah pengorbanan dan ketidak keinginan melibatkan orang tercintanya dalam bahaya.


"Kau selalu saja lepas kendali saat membicarakan tentang Veronica... lalu, apa tujuanmu melakukan tindakan kekanak-kanakan ini? Jangan bilang kau sama sekali tidak memikirkan tentang segala resiko ya?"


Verge hanya terdiam, ia hanya melakukan apa yang disarankan oleh seseorang, tanpa berpikir dua kali terlebih dulu.


"Sudah kuduga..., siapa yang menyuruhmu melakukan penyerangan ini?"


"Kau tidak perlu tahu!"


"Baiklah. Jauh dari lubuk hatiku paling dalam, aku ingin sekali membunuhmu... tetapi, aku cuma akan memberimu pelajaran saja. Biar Veronica yang memutuskan hukuman apa yang pantas diterima pada pengkhianat bodoh sepertimu, Verge" Louise bersiap untuk menyerang, tapi ia tidak mencabut pedangnya. Justru menggunakan tangan kosong dan sihir saja.


"Jangan khawatir... aku tidak akan menggunakan pedangku, karena kau bukan lawan pantas hingga aku harus mencabut pedang ini" ujar Louise.


Verge mendecak kesal. Ia merasa kesal, karena merasa diremehkan oleh Louise.


"Mati saja, Blood Magic : Accelerator!" Verge langsung menyerang Louise menggunakan sihir kecepatan.


Dalam kurang dari sedetik, Verge sudah berada dihadapan Louise dan langsung melancarkan serangan ke leher Louise.


Namun, pedang Verge terhenti saat jarak antara pedangnya dan leher Louise hanya setipis secarik kertas.


"Lumayan... tapi masih sangat kurang, Verge" bukan hanya bisa melihat Verge saat menggunakan Accelerator, tapi Louise dapat menangkap pedang Verge dengan bermodalkan tangan kosong saja.


Verge terkejut, serangan tercepatnya dapat dihentikan dengan mudah oleh Louise menggunakan dua jarinya saja.


"Dimension Magic : Prison Cube Dimension..."


Sebuah kubus tak kasat mata mengekang Verge hingga tidak bisa membuatnya bergerak sedikitpun. Verge yang tidak tahu sihir apa yang digunakan Louise dan merasa kebingungan kenapa tubuhnya tidak bisa bergerak.


Louise pun mengambil pedang yang masih ditangan Verge lalu melihat seperti apa kekuatan dan ketajaman pedang itu.


*Jrekkk!


"ARGGHHH! Lenganku!!" teriak kesakitan Verge.


Tanpa ragu Louise memotong lengan kanan Verge menggunakan pedang hitam milik Verge sendiri.


"Memang tadi aku bilang, tidak akan menggunakan pedangku. Tetapi aku masih bisa menggunakan pedangmu, Verge..." jelas Louise.


Verge nahan rasa sakit akan lengannya yang terputus. Ia tidak mengira Louise ternyata jauh lebih kuat dari pertemuan pertama mereka dulu.


"Apakah sesakit itu?" tanya Louise seraya melihat pedang hitam milik Verge yang hampir mirip dengan pedangnya sendiri dengan pandangan dingin.


"Saatnya aku mengakhiri ini..., sampaikan salamku pada Veronica. Bilang padanya 'aku akan segera menemuinya', ya?"


Verge hanya mengangguk pelan dan pasrah telah dikalahkan Louise dengan mudahnya.


"Akan aku tempuh ribuan tahun cahaya untuk pulang, Dimensional Magic : Recall!"


Louise mengirim Verge kembali ke dunianya yaitu, Underworld. Untuk menanggung semua resiko atas pengkhianat dan tindakan kekanak-kanakannya menyerang Midgard.


"Hawa keberadaan ini? Aku mengenalinya..."


Louise merasakan hawa keberadaan seseorang yang ia kenali pada dahulu kala. Karena penasaran dan ingin memastikan apakah itu benar atau tidak, Louise pergi menuju tempat ke hawa keberadaan yang ia kenali itu.


Namun sebelum itu, ia terlebih dulu memindahkan Haruka dan Haruki yang masih pingsan kembali ke rumah.


####


Ditempat lain seorang gadis kecil dikepung oleh tujuh pria dan dua wanita dengan pakaian yang mencolok berwarna merah terang.


Walau si gadis itu terkepung, tapi ia tidak sama panik ataupun ketakutan. Justru sangat tenang seolah ia tidak mengalami situasi buruk baginya.


"Lihat gadis Demon kecil ini... dia pasti terpisah dengan pasukannya, hahaha!" ejek salah satu pria.


Gadis itu memiliki ciri-ciri rambut pirang panjang, memakai topeng yang hampir menutup wajahnya kecuali mata kiri, memiliki mata kiri yang berwarna merah darah dan memakai gaun pendek berwarna putih.


"Ayo kita segera habisi Demon itu..." ajak salah satu dari ketujuh pria.


"Benar juga..., ini sudah menjadi tugas dari Grand Magus seperti aku dan Guardian" wanita dalam kelompok itu akhirnya berbicara dan bersiap melawan gadis kecil itu.


"Membosankan..." ujar gadis kecil itu.


"Apa katamu, hah?!" bentak salah satu pria.


"Beraninya kau! Earth Magic : Spike!"


Dari tanah muncul duri-duri tajam yang langsung menyerang gadis kecil itu.


"Ifrit..." tiba-tiba disekitar gadis kecil itu diselimuti api yang melindunginya dari serangan duri-duri tajam tadi.


Kesembilan Human tadi terkejut begitu mendengar nama 'Ifrit' dari mulut kecil si gadis kecil itu.


"T-tidak mungkin!! I-itu adalah roh penguasa elemen api, Ifrit?!" ucap tak percaya salah satu Human.


Mereka melihat sebuah bayangan mengerikan dari belakang gadis kecil itu. Bayangan itu memiliki muka yang tersenyum kejam pada mereka dan hawa yang dapat membuat seluruh bulu kuduk merinding.


"Ifrit's Spirit Magic : Circle Hell Flame..."


Di masing-masing dari sembilan orang muncul lingkaran api yang langsung membunuh mereka hingga hangus menjadi abu.


"Lemah…" ujar gadis kecil itu seraya pergi.


"Ice Magic : Wall of Ice!"


Saat akan pergi, tiba-tiba sebuah tembok es menghalangi jalan gadis kecil itu.


Ia menengok kebelakang dan melihat seorang gadis berseragam Akademi Tokyo, memiliki rambut emas pirang yang terikat, mata kuning emas bagai perhiasan, memakai syal dan membawa pedang bersarung emas berkilau dengan permata biru di pinggangnya. Gadis itu adalah Alicia P. Britania.


"Siapa?" tanya gadis kecil itu.


"Apa kau seorang Demon?" tanya Alicia.


"Entahlah, apakah menurutmu mata ini adalah mata seorang Demon?" tanya balik gadis kecil itu.


Alicia yang terkejut akan pertanyaan gadis kecil itu hanya terdiam dan berpikir secara logis.


"Gadis kecil itu sebenarnya Human atau Demon? Tapi apa yang ia lakukan ditempat seperti ini? Apakah dia juga terjebak di penghalang ini?" pikir Alicia.


Jika terus dipikirkan, Alicia hanya akan menghabiskan waktunya saja. Prioritasnya sekarang ini ialah menyelamatkan para warga yang terjebak di penghalang kabut ini.


Yang perlu diketahui tentang gadis kecil itu adalah, apakah dia teman atau musuh?


"Apa kau teman atau musuhku?" tanya langsung Alicia seraya bersiap mencabut pedang emasnya dari sarung pedang.


"Musuh mungkin…?" jawab dengan ragu dari si gadis kecil.


"Hah?" Alicia menjadi lebih ragu lagi saat ingin melawan gadis kecil itu.


"Maaf, aku tidak punya waktu untuk bermain bersamamu…" ujar gadis kecil itu.


Ia mengambil sebuah kristal berbentuk belah ketupat dan berwarna biru cerah dengan cahaya yang menyilaukan. Alicia yang tahu kristal apa itu langsung berlari dan berusaha merebut kristal itu.


"Teleportation : Eldest World" ucap si gadis kecil seraya membanting kristal biru itu ke tanah.


Wujudnya pun langsung menghilang bagaikan berpindah ke suatu tempat.


"Dia melarikan diri, hahh…" Alicia menghela nafas lega.


Ia tidak tega bila harus bertarung dengan gadis sekecil itu, apalagi kalau harus membunuhnya. Seakan hati nuraninya tidak setuju dengan keinginannya sendiri.


*JJDDAARRR!!


baru sesaat merasa lega, Alicia merasakan sebuah aura keberadaan yang sangat kuat sekaligus mengerikan.


Dari kepulan asap itu muncul sosok Louise yang tersenyum kecil seakan menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.


Alicia bisa merasakan kekuatan orang itu setara dengan kekuatan para God's atau bahkan melebihinya.


Ditambah kelima sayap dipunggungnya membuat dia seperti para Angel dan memiliki kekuatan setara dengan God's.


Alicia langsung waspada dan bersiap akan pertempuran yang sudah tidak mungkin dihindari dengan peluang menang kurang dari 15 persen.


"Siapa namamu?" tanya Louise dengan santai.


"Aku tidak perlu memperkenalkan diri pada musuh sepertimu" tolak tegas Alicia.


Louise tertawa kecil akan sikap waspada yang dimiliki oleh Alicia.


"Apanya yang lucu?!" tanya Alicia dengan sedikit marah.


Ia merasa dibodohi oleh Louise karena tertawa padahal tidak ada hal lucu, terlebih dalam situasi menegangkan seperti itu.


"Jangan terlalu serius begitu, Tuan Putri, tidak, Queen. Benarkan?"


Alicia terkejut akan Louise yang tahu dirinya adalah calon Ratu selanjutnya dari United Kingdom.


"K-enapa kau bisa tahu?" Alicia masih terkejut, kenapa Louise bisa tahu padahal mereka baru pertama kali bertemu.


"Mudah saja. Tidak ada yang tidak mengenali pedang legendaris dan kisah pedang itu, yang katanya merupakan pedang terkuat didunia. Legend of Victory Sword, Excalibur" jawab Louise dengan tatapan menyakinkan.


Alicia tidak menyangka ada orang yang bisa mengetahui jati diri pedangnya dalam sekali pandang, terlebih ia masih belum mencabut pedang Excalibur dari sarungnya.


"Alicia Pendragon Britania, itulah namaku" ucap Alicia dengan akhirnya mencabut Excalibur dari sarung pedang emasnya dan bersiap.


"Alicia kah? Nama yang Bagus, lalu siapa nama aslimu dalam kerajaan yang sebenarnya?" tanya lagi Louise.


AN : Yang dimaksud author adalah nama asli yang digunakan dalam kerajaan


"Aku tidak punya hak untuk memberitahumu… jika kau seorang kesatria, katakan namamu!" tegas Alicia.


"Aku bukanlah kesatria… tapi akan katakan namaku. Perkenalkan namaku Alexander Louise…" ucap perkenalkan Alex dengan menaruh tangan kanan di dada kiri lalu menunduk sejenak seraya tersenyum


Alicia sebelumnya tidak pernah mendengar nama Alexander Louise, namun sekarang, ia akan ingat terus nama orang dengan kekuatan yang melebihi God's sekalipun.


"Bersiaplah, Alexander Louise!! Art Skill : Flash Slash…"


Alicia mengarahkan sisi tajam pedangnya lalu langsung melesat cepat dengan menggunakan pedang sebagai pendorong angin dan mencoba menebas Alex.


Alex hanya memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan Alicia. Tak hanya itu Alicia kembali melancarkan serangan secara horizontal.


Seperti tadi, Alex hanya menghindari serangan Alicia dengan melompat mundur beberapa langkah tanpa memberi serangan balasan.


"Kenapa kau hanya melarikan diri? Apa pedang di pinggangmu hanya pajangan?" Alicia merasa kesal serangannya dihindari terus oleh Alex tanpa memberi serangan balasan.


"Semua seranganmu tadi tidak dapat membuatku serius hingga harus menggunakan pedangku ini" jawab Alex seraya menunjuk pedang hitam di pinggangnya.


"Apa kau meremehkanku? Dimana harga dirimu sebagai kesatria?!" kesal Alicia.


"Kesatria ya? Baiklah… aku akan pertarung secara kesatria bila itu maumu" pada saat itu lima pasang sayap dipunggung dan tanduk di kepalanya menghilang serta mata merahnya menjadi abu-abu dan rambutnya menjadi hitam legam. Pedangnya pun bertambah satu lagi. Penampilan Alex sekarang sangat mirip seperti seorang kesatria sejati.


Apa kau sudah bersiap, Queen of Knight?" ujar Alex dengan kuda-kuda seni pedang ganda seraya tersenyum.


Alicia membalas senyuman Alex, akhirnya pertempuran antar kesatria yang dinantikan akan mulai.