The Legend Of Betrayer Hero

The Legend Of Betrayer Hero
Bab 10 : Guru Vs Murid



"APAAAAA??!!!!" ucap kaget seluruh siswi.


Mereka semua terkejut akan penyataan duel Shu pada Carissa yang merupakan kepala sekolah Academy Tokyo dan memiliki gelar Grand Magus.


Sementara itu, Carissa masih tersenyum manis pada Shu sambil menyangga dagu menggunakan tangannya.


"Apa kau tau arti perkataan itu, Kirihara?" tanya Carissa.


"Tentu, aku tidak sebodoh itu menantang penyihir yang bergelar Grand Magus dan merupakan kepala sekolah Academy Tokyo tanpa berpikir terlebih dulu, Nyonya Carissa" balas Shu.


"Katakan apa alasanmu menantangku, Kirihara?"


"Hanya hal sederhana saja, aku ingin melihat seberapa kuat orang yang menyandang gelar Grand Magus itu" jawab Shu dengan tersenyum.


Carissa tertawa kecil mendengar alasan Shu yang begitu sederhana, namun memiliki suatu tujuan sendiri lagi.


"Ternyata kau cukup menarik juga, Kirihara. Ahahaha, baiklah, akan aku terima tantang duelmu. Akan tetapi jangan terlalu berharap untuk tidak terluka" nada suara Carissa berubah menjadi dingin dan sedikit kejam.


"Tentu saja tidak, lagi pula saya tidak berharap seperti itu, Nyonya Carissa."


"Baiklah, kita lakukan saat ini juga dan pemenang ditentukan bila salah satu lawan menyerah atau tidak mampu lagi. Bagaimana? Apakah kau setuju, Kirihara?"


"Tentu saja, saya setuju, Nyonya Carissa" Shu langsung setuju dengan penyaratan dari Carissa.


"Shu! Apa kau serius menantang seorang Grand Magus seperti Nyonya Carissa?!" ujar Yuki yang berada dibelakang Shu.


Shu langsung berbalik dan menuju sisi ujung dari Moon Arena.


"Apapun yang kulakukan, bukanlah urusanmu untuk mencampurinya…" jawab dingin Shu.


Yuki sedikit terkejut akan ucapan Shu yang begitu dingin, ini pertama kali Shu bersikap sangat dingin dan cuek padanya.


"Kalian yang lain, silahkan menyingkir ke tribun penonton!" perintah Carissa.


Para siswi yang lain langsung menuju tribun untuk melihat duel antara Carissa, The Grand Magus melawan Shu, The Miracle Child.


Beberapa menit kemudian, Carissa dan Shu berada di masing-masing ujung dari Moon Arena.


"Apa kau siap, Kirihara?" tanya Carissa.


"Sebelum itu, boleh saya minta sesuatu bila menang dari anda, Nyonya Carissa?" tanya balik Shu.


"Boleh saja, lagian kau tidak akan menang melawanku…" Carissa tersenyum penuh kemenangan.


"Miry, kumohon pinjamkan kekuatanmu…"


"Kekuatanku?!" Miry sedikit terkaget ketika Shu bilang seperti itu.


Sejujurnya dia tak percaya akan Shu yang bilang ingin meminjam kekuatannya dan terakhir dia menggunakan kekuatannya sudah lama sekali hingga Miry lupa kapan terakhir Shu meminjamnya.


"Iya…kumohon aku membutuhkannya"


"Tunggu, Shu ku! Mengapa kau menggunakan kekuatan Miry?! Bukankah lebih baik milikku saja?!"


Lucy yang tidak menerima keputusan Shu untuk menggunakan kekuatan Miry, akhirnya angkat bicara dengan sedikit marah.


"Untuk saat ini aku tidak bisa menggunakan kekuatanmu, Lucy. Dan juga Miry, apa kau bisa meminjamkan kekuatanmu?"


Lucy terpaksa menerima keputusan Shu dan memilih mengalah untuk saat ini.


"Tentu saja, Luther ku!" Miry terlihat senang dengan Shu yang ingin meminjam kekuatannya.


"Terima kasih banyak, Miry…"


"Apa kau sudah siap, Kirihara?"


Shu menutup matanya sesaat dan membukanya, pada saat itu mata kirinya. Tepat pada bola mata terdapat sebuah salib berwarna putih muncul, dari kejauhan terlihat samar-samar. Namun bagi Carissa itu terlihat sangat jelas.


Carissa tersenyum kecil, karena telah menemukan lawan yang begitu menarik seperti Shu.


"Holy Magic :  Light Sword."


Dari tangan kanan Shu muncul sebuah pedang cahaya berwarna emas keputihan. Cahaya yang terpancar dari pedang itu sangat indah.


"Giliranku, Holy Magic : Light Lance."


Sementara itu, Carissa memunculkan tombak cahaya yang hampir memiliki panjang dua kali lipat dari pedang Cahaya milik Shu.


Dengan irama yang sama, mereka berdua langsung melangkahkan kakinya dan berlari kencang.


Begitu dekat Shu langsung menyerang dengan tebasan miring kanan dan horizontal secara cepat.


Carissa langsung memegang tombak menggunakan kedua tangan lalu membelokkan setiap serangan Shu dengan memiringkannya.


Setelah berhasil menahan serangan Shu, Carissa langsung melakukan serangan balasan berupa menusuk mengarah ke kepala Shu.


Menghindari dengan cepat, itulah cara Shu agar kepalanya tidak tertusuk tombak tajam itu. Menanti saat tombak Carissa ditarik, Shu langsung melancarkan serangan vertikal dengan cepat, namun…


*Slashh…tringgg!


Shu tidak menduga Carissa dapat menahan serangannya dan memberi luka gores dipipinya, ketika dia menarik tombaknya tuk menahan serangan Shu.


"Tak kuduga, anda dapat menahan seranganku dan secara bersamaan bisa melukaiku" Shu berkata dengan sedikit senyum.


"Itu masih bukan apa-apa, Kirihara. Apa kau akan menyerah sekarang?" tawar Carissa.


"Lelucon anda sama sekali tidak lucu, Nyonya Carissa, Ice Magic : Barrier."


Shu langsung mundur sesaat sebelum sekelilingnya tertutup kubah es dan menjebak Carissa yang berada didalamnya.


"Fire Magic : Meteor Attack."


Dari atas jatuh sebuah meteor bercepatan tinggi yang langsung mengarah ke barir es.


"Ice Magic : Seven Pillar."


Dari samping barrier muncul tujuh pilar es yang menjulang tinggi ke satu titik dan mengarah ke meteor milik Shu.


*Jjjdddaaarrrrrr!


Ledakan terjadi diantara pilar es dan meteor saling bertubrukan. Akibat ledakan itu muncul serpihan-serpihan salju yang bertebaran.


Dan barier yang menahan Carissa kini telah hancur terbelah oleh tombak cahayanya. Ia berjalan dengan menyampingkan tombaknya ke arah kanan.


"Permulaan yang bagus, Kirihara-kun. Tapi…"


Pada saat itu juga Carissa menghilang dan muncul didekat Shu, lalu langsung mempersiapkan serangan.


"…itu masih sangat kurang untuk mengalahkanku, Holy Magic : Light Attack."


Karena mata kirinya yang dapat melihat masa depan secara singkat, Shu dapat melihat kejadian itu dan menanggulangi dengan mempersiapkan pertahanannya.


"Perfect Defense!"


Carissa terkejut Shu dapat menahan serangan cepatnya, yang seharusnya mustahil untuk tahan.


Shu sedikit terkejut, Carissa dapat mengetahuinya dalam satu kali lihat saja.


"Earth Magic : Trap Hole."


Tanah yang diinjak Shu, secara ajaib menghilang dan ia terperosok ke dalam lubang yang memiliki dalam 4 meter dengan ukuran 2×4 meter.


"Shu ku/Luther ku atasmu!" teriak Lucy dan Miry.


Shu spontan menggunakan kemampuan mata kirinya saat melihat keatas untuk melihat secara sekilas ke masa depan.


"Earth Magic : Rock Barrier."


Sebuah Barier dari batu menutupi bagian atas dari lubang yang kini menjebaknya.


"Lightning Magic : Thunder Dragon."


Carissa mengeluarkan sebuah sihir yang menciptakan sebuah naga petir raksasa.


Naga itu langsung melesat ke arah tempat Shu terjebak, yang sebelumnya dia sempat membuat sebuah pelindung dari batu.


*Jdarrrr! Kzztt…


Semua siswi terpanah akan ledakan besar itu, mereka memastikan bahwa bintang kelasnya baik-baik saja. Dan diantara mereka Yuki dan Alicia lah yang paling mengkhawatirkan Shu.


Mereka mencari sosok Shu diantara kepulan debu yang betebaran di sekitar area itu.


"Apa kau berniat serius untuk membunuhku, Nyonya Carissa?"


Shu muncul diantara debu yang bertebaran dan terdapat luka serta sobekan pada seragamnya, karena serangan yang bersifat penghancur itu.


Dengan penglihatan sekilas ke masa depan, Shu dapat mengetahui serangan apa yang akan dilakukan Carissa serta dia dapat mencegah atau menghindarinya agar bisa lolos dari luka parah.


"Aku yakin kau dapat bertahan dari seranganku, Kirihara. Apa kau akan menyerah sekarang?" tawar Carissa sekali lagi.


Shu tersenyum sambil membersihkan debu-debu yang menempel di bahunya.


"Sebaiknya kau bercanda, Carissa-sama. Aku akan baru akan serius sekarang…" Shu tersenyum seperti seorang iblis.


Tangan kanannya menutup mata sebelah kanan dan ketika membukanya bola matanya terdapat sebuah mata reptil berwarna hitam legam.


"Darkness Magic : Illusion Dimension."


Illusion Dimension adalah skill yang membuat ilusi area berskala besar dan luas.


Orang yang berada di dalam area ilusi tidak akan bisa keluar kecuali memiliki sihir penetrasi berelemen cahaya. Dan orang yang berada di luar hanya meliat sebuah pertarungan ilusi belaka.


"Apakah ini kekuatanmu yang sebenarnya, Kirihara?" tanya Carissa.


Carissa sama sekali tidak bergemetar sedikitpun melihat tekanan Mana Shu yang berkali-kali lipat ganda lebih banyak dari yang sebelumnya.


"Entahlah…, bersiaplah, Nyonya Carissa."


Shu langsung berlari dengan cepat sambil bersiap untuk mengayunkan pedang cahayanya ke Carissa, yang sedikit terkejut akan perubahan kekuatan yang cukup drastis.


Setelah mencapai dekat Carissa, Shu memberikan dua tebasan mematikan yang mengarah ke leher dan dada.


Mata Carissa yang melihat serangan cepat itu, langsung menahannya dengan cepat lalu dia merentangkan tangan kanannya ke depan.


"Art Magic : Dark Thunderbolt."


Dari tangan kanannya muncul petir kegelapan yang berwarna hitam bercampur putih.


Art Magic adalah sihir yang menggabungkan dua atau tiga lebih elemen yang saling berbeda dan menciptakan sebuah sihir baru.


Dalam jarak sedekat itu, mustahil Shu dapat menghindari serangan cepat dan mendadak dari Carissa. Namun, berkat mata kirinya, Shu dapat menghindarinya dengan menggunakan Absolute Defense.


"Art Magic : Rain Ice Lightning."


Dari belakang Shu muncul puluhan portal sihir berwarna biru es. Lalu muncul bongkahan es yang kecil dan lancip. Bongkahan es itu langsung melesat ke arah Carissa.


"Earth Magic : Wall of Stone!"


Tangan Carissa menyentuh tanah dan muncul sebuah tembok besar terbuat dari batu sepanjang 2,5 meter dan tinggi 2 meter.


Puluhan bongkahan es itu langsung hancur ketika bertabrakan dengan tembok batu yang keras itu.


Begitu hujan bongkahan es berhenti, tembok batu itu runtuh kembali ke dalam tanah.


Carissa langsung melempar tombak di tangannya, dengan mudah Shu mengelak serangan tombak itu.


"Art Magic : Twins Black Lightning Chain."


Kedua tangan Carissa memunculkan sebuah rantai dari petir hitam. Yang langsung mengejar ke arah Shu.


Karena tak sempat menghindari rantai itu, kaki kiri dan kanan kirinya terkena jeratan rantai, yang membuat Shu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.


"Art Magic : Dark Laser."


Dari atas sebuah laser berwarna hitam muncul dan bergerak kearah Shu yang sedang terjatuh.


"Ice Magic : Mirror."


Shu langsung menciptakan lempengan es yang berbentuk seperti layaknya sebuah cermin.


Seketika laser itu berbelok ke atas setelah bersentuhan dengan lempengan es karena daya pantulnya.


Shu langsung memotong kedua rantai yang mengikat tangan kiri serta kaki kirinya dengan menggunakan pedang cahayanya.


Melihat Carissa tak memiliki pertahanan, Shu langsung berupaya menyerang Carissa dengan mengincar kepalanya. Carissa yang melihatnya menghindarinya dan hanya terkena beberapa helai rambutnya saja.


Carissa langsung menahas tangan Shu yang baru saja melewati wajahnya dan Shu juga menahan tangan kiri Carissa yang akan memukul perutnya.


Wajah mereka begitu dekat, hingga Carissa dapat merasakan helangan nafas Shu dan dapat melihat kedua mata Shu yang telah berubah serta senyuman seorang iblis.


Ini bukan sosok Shu yang dikenal Carissa, dia seperti seorang yang sangat berbeda. Shu benar-benar serius untuk membunuh Carissa, ini diketahui dari setiap serangan yang Shu lancarkan.


"Maafkan aku, tapi hal ini harus aku lakukan, S…"


Carissa tersenyum manis dan seketika itu sebuah cahaya menyilaukan muncul ditengah-tengah mereka.


>>>>>>


Dilain tempat, Alicia dan Yuki serta siswi kelas 1-A begitu khawatir akan Shu yang telah berani menantang Carissa yang merupakan penyihir bergelar Grand Magus.


Sepanjang waktu mereka hanya melihat kepulan debu yang bertebaran di seluruh Area pertarungan, ini adalah efek dari Illusion Dimension. Yang menipu mata orang yang berada di luar efek ilusinya.


"Kirihara/Shu!?"


Akhirnya mereka bisa melihat sosok Shu, setelah debu yang berada di arena telah menghilang.


Namun dia pingsan dalam pelukan Carissa yang begitu hangatnya.