
"Shu!" ucap Yuki sembari memeluk erat Shu yang baru terbangun dari pingsannya.
Sementara Shu tidak mengerti bagaimana ia bisa kembali ke Midgard dan di sampingnya terdapat Yuki yang kini sedang menangis karena sangat khawatir pada Shu.
"Shu..., aku takut...kau tidak akan...bangun lagi" ucap Yuki seraya tersedu-sedu karena tangisannya.
"Tenanglah, aku baik-baik saja, Kanzaki" Shu pun mengelus-elus kepalanya Yuki untuk menenangkannya.
Beberapa saat kemudian tangisan Yuki sudah mereda dan kini ia sudah melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis pada Shu.
Shu hanya membalas dengan sebuah senyuman kecilnya sembari memikirkan apa yang terjadi saat ini.
"Bagaimana bisa aku kembali kesini?" tanya dalam hati Shu.
Itulah hal yang paling Shu pikirkan saat ini. Ia tidak tau bagaimana bisa kembali ke Midgard dan berada di tempat pertemuannya dengan wanita misterius, Evil Nightmare.
"Lucy, Miry, apa kalian tau apa yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri?" tanya Shu.
"Kesadaran kami ikut menghilang disaat kau pingsan, Shu" jawab Lucy.
"Apa kalian tidak mengingat satu hal sama sekali?"
"Kesadaranmu adalah kesadaran kami juga, Luther" jelas tambah dari Miry.
Shu tidak tahu apa dikatakan Lucy dan Miry adalah sebuah kejujuran atau kebohongan. Memang ia akui mereka berdua adalah sahabat terbaiknya, namun bukan berarti Shu percaya 100% apa yang mereka katakan, dan sebutan mereka itu juga bukan nama asli mereka. Itulah yang membuat Shu heran kenapa mereka begitu merahasiakan nama aslinya, apakah bila seseorang tahu nama aslinya dia akan tahu jati diri mereka langsung? Sampai sekarang Shu masih memikirkan hal itu.
"Shu, kenapa kau diam saja?"
Yuki melihat Shu yang sedari tadi diam dan hanya tersenyum, seolah ia sedang berpikir tentang sesuatu.
"Ah...bukan apa-apa, Kanzaki. Tapi bagaimana kau bisa menemukanku disini?"
Shu ingat bahwa Yuki seharusnya berada bersama dengan Asuka, Haruka dan Haruki di depan pintu masuk festival musim sakura.
"Aku tadi mencarimu karena kau sudah terlalu lama di kamar kecil, disaat itu aku menemukanmu tak sadarkan diri disini."
Jawaban Yuki termasuk masuk akal, namun satu hal yang membuatnya curiga adalah bagaimana dia menemukannya disini padahal arah kamar kecil berlawanan dari tempat Shu pingsan.
"Tapi bagaimana kau bisa ada disini, Shu?" lanjut Yuki
"Emm…, entahlah aku lupa sedang apa disini."
Yang tadi Shu ingin bertanya kenapa Yuki bisa ada disini, tapi Yuki terlebih dulu menanyakan terlebih dahulu. Bagaikan Shu terkena skakmat nya sendiri.
"Baiklah, sudah saatnya kita kembali, aku yakin yang lain sudah mulai khawatir."
Saat Shu mencoba berdiri, dia terjatuh membungkuk. Ia sudah menduga bahwa Mana yang ada didalam tubuhnya tidak cukup untuk membuatnya berjalan maupun berdiri.
"Shu-kun! Apa kau baik-baik saja?!"
Saat melihat Shu terjatuh, Yuki terlihat khawatir dan dia segera memegang tangan dingin Shu untuk memeriksa keadaannya. Dan benar adanya, Shu kehabisan Mana, hal inilah yang membuatnya tidak bisa berdiri dengan benar, selain itu tangannya yang dingin itu juga menandakan bahwa itu efek dari kehabisan Mana.
"Holy Magic : Mana Self to Left."
Kemudian Yuki pun mengeluarkan sebuah sihir yang Shu lebih baik dan tangannya menjadi hangat lagi.
Mana Self to Left adalah sihir yang memberikan Mana dari diri sendiri ke orang lain. Sihir ini adalah sihir tingkat menengah pada elemen Holy.
"Terima kasih, Yuki."
Saat mendengar Shu menyebut nama depannya, wajah Yuki menjadi sedikit memerah tomat. Ia tak mengira akhirnya Shu memanggilnya dengan nama depan dia sendiri.
"Sama-sama, Shu…"
Yuki membalas terima kasih Shu dengan nada yang pelan dan dia menatap kebawah, karena ingin menyembunyikan rasa malu dan senangnya itu.
"Shu ku/ Luther ku!!!"
Tiba-tiba Lucy dan Miry berteriak sedikit keras dengan menyebut nama Shu.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa, dasar bodoh."
Sekali lagi, mereka berdua menjawab dengan kompaknya disertai nada yang cemberut. Sementara Shu tidak tahu kenapa mereka bilang seperti itu dan memutuskan untuk diam saja.
Setelah itu Shu dan Yuki berdiri lalu berjalan menuju gerbang pintu masuk festival musim sakura.
Namun di tengah jalan mereka berdua terdapat segerombolan pria bertubuh kekar dan berotot, mereka semua mengenakan pakaian jas hitam lengkap dengan kaca mata hitam.
Kesepuluh pria kekar itu tersenyum licik pada Shu dan Yuki. Mereka semua merasa bahwa target mereka akan mudah untuk dikalahkan karena berada dalam kondisi yang buruk.
"Sial! Kenapa mereka muncul disaat aku sedang lemah begini?!" pikir Shu.
Ia tidak menduga terdapat permasalahan yang datang menghampirinya lagi.
"Shu, bisa kah kau tunggu disini? Aku akan menghabisi mereka semua dulu" ujar Yuki dengan nada bicara yang terliatan berbeda dari sebelumnya.
"Menghabisi kami? Ahahahaha, jangan buat kami tertawa, gadis kecil."
Salah satu dari 10 pria kekar yang berada didepan Yuki dan Shu, mengejek Yuki yang sontak membuat kesembilan orang lainnya ikut tertawa keras.
"Matilah, gadis kecil!"
Salah satu dari kesepuluh pria kekar itu langsung melancarkan serangan pukulan yang langsung menuju ke wajah Yuki.
Yuki yang melihat pukulan itu datang menghampirinya, dengan cepat dia jongkok lalu merentangkan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan.
"Beri semua musuh-musuhku dengan kutukan mu yang kejam dan hapus mereka dari dunia yang fana ini, Gae Buidhe!"
Dari tangan kiri Yuki, muncul sebuah tombak berwarna emas berkilau.
"Beri semua musuh-musuhku dengan kematian mu yang mutlak dan tenggelamkan lah mereka ke lautan darah, Gae Bolg!"
Dan dari tangan kanan Yuki, juga muncul sebuah tombak merah darah. Tombak itu memiliki ukuran yang lebih panjang daripada tombak yang berwarna emas.
Dengan cepat Yuki langsung melancarkan serangan ke leher pria kekar itu yang langsung membuatnya terpenggal.
"Siapa kau sebenarnya?!!" ucap panik salah satu dari kesembilan pria kekar.
Mereka semua mulai panik dan ketakutan setelah melihat teman mereka terbunuh dengan mudahnya oleh Yuki.
"Untuk apa memberitahu kepada orang yang akan mati?" jawab dingin Yuki.
Ia mulai berjalan ke arah segerombolan pria kekar yang masih akan dia bunuh itu.
"Matilah kau! Fire Magic : Phoenix Blast!"
Dari tangan pria kekar muncul api yang membentuk makhluk legenda burung api, Phoenix, Phoenix itu langsung menyerang Yuki dengan terbang melesat ke arahnya.
Melihat Phoenix itu terbang ke arahnya, Yuki pun menebas Phoenix itu menggunakan tombak emasnya, Gae Bundie.
Seketika sihir api itu langsung lenyap saat menyentuh ujung dari Gae Buidhe.
Mereka kaget sihir tingkat tinggi, Phoenix Blast, tidak berhasil dan justru lenyap ketika bersentuhan langsung dengan Gae Buidhe milik Yuki.
"Giliranku…, Gae Bolg!"
Setelah mengucapkan nama itu, tombak merahnya, Gae Bolg, bersinar merah darah pada huruf rune yang berada disepanjang tombak itu.
Yuki dengan cepat melesat maju dengan sedikit menundukkan badannya ke depan dan dalam posisi siap menyerang.
"Darkness Magic : Shadow Sword."
Semua pria kekar itu mengeluarkan sihir yang sama, Shadow Sword, itu merupakan sebuah sihir pencipta yang membuat pedang dari bayangan, versi rendah dari Shadow Blade.
Dua orang pria kekar langsung datang menyambut Yuki dengan menyerang secara vertikal. Melihat itu, Yuki langsung menebas kedua pedang yang tengah terayun dengan menggunakan Gae Buidhe nya.
Sama seperti sihir api, Phoenix Blast, pedang yang terbuat dari sihir pun ikut lenyap tanpa sisa.
Dengan cepat Yuki melancarkan serangan tepat pada jantung dari kedua pria kekar itu. Setelah mencabut kedua tombaknya dari mayat, Yuki segera menuju ke target selanjutnya.
"Darkness Magic : Dark Protection!"
Ketujuh pria kekar lainnya dengab kompak mengeluarkan sihir pertahanan yang membuat lapisan dari elemen kegelapan.
Pelindung itu mengelilingi 180 derajat dari ketujuhBersinarlah yang masih tersisa.
"Bersinarlah, Gae Bundie."
Tombak emas dari Yuki semakin bersinar terang di tangannya. Semakin lama sinar yang berada di Gae Bundie semakin terang dan begitu sudah merasa cukup, Yuki langsung melempar Gae Buidhe ke arah pelindung itu.
Pelindung itu dengan mudahnya robek seperti secarik kertas yang tipis, ketika Gae Buidhe menembusnya.
Dan seketika itu tiga orang yang berada dalam satu garis lurus terkena serangan Gae Buidhe. Serangan itu langsung menembus badan dari ketiga orang yang terkena serangan Gae Bundie.
Dan tombak itu masih melesat hingga menancap ke dalam tanah, yang membuat area sekitarnya hingga terbentuk sebuah cekungan kecil.
Melihat ketiga rekannya mati dengan mudah, keempat pria kekar yang tersisa, menjadi lebih panik dan takut pada sosok Yuki yang sebelumnya mereka ejek dan remehkan itu.
Tanpa memberi waktu lebih panjang lagi, Yuki langsung menuju keempat orang yang masih hidup.
Disaat mengetahui Yuki sedang mengincar mereka, mereka pun panik dan berusaha kabur dari Yuki. Namun Yuki bukanlah gadis sebaik itu, yang membiarkan musuh atau lawannya kabur dari pertarungan.
"Dasar monster! Earth Magic : Spike!"
Saat Yuki tengah mengejar salah satu dari mereka yang kabur darinya. Tiba-tiba dia melancarkan serangan sihir berupa jarum yang menonjol dari tanah.
*Jlleebb!!!
Dengan sigap Yuki lompat 360 derajat dan melakukan gerakan tusukan yang langsung menebus jantung dari si pria kekar.
Setelah mencabut tombaknya, wajah Yuki terkena cipratan darah merah yang keluar dari luka yang dibuatnya.
Yuki tersenyum kecil dibalik bercak darah yang ada di wajahnya. Ia pun segera melesat ke target berikutnya dengan mengambil tombak emasnya yang menancap tak jauh darinya.
Ketiga orang yang lain pun ia bunuh dengan cara sama yaitu langsung menusuk jantung mereka.
Keadaan hutan pada saat itu sudah penuh dengan bercak darah dimana-mana dan mayat-mayat yang dibiarkan bergeletak dengan darah yang masih mengalir dari luka.
Setelah itu Yuki pun menghampiri Shu dengan sebuah senyuman kecil, dia masih memegang kedua tombaknya yang masih meneteskan darah.
Melihat Yuki mendekat, Shu memasang wajah waspada dan bersiap dalam kuda-kuda. Yuki yang melihat Shu seperti itu, merasa wajar setelah melihat pertarungan tadi.
"Kau tidak usah waspada seperti itu, Shu-kun" ucap Yuki dengan sebuah senyuman manis.
"Apakah kau Faksi Hero, Yuki?"
Faksi Hero adalah kelompok yang berisikan orang-orang Human yang memiliki kekuatan luar biasa hebatnya dan Faksi ini sudah terbentuk lebih dari 3000 tahun lalu.
"Iya, aku dari Faksi Hero dan nama asliku adalah Kanzaki Scathach Yuki."
Shu sudah tahu siapa Yuki sebenarnya dari nama tengahnya, Scathach. Nama Scathach terdapat dalam buku sejarah dunia yang menyimpulkan bahwa dia adalah ahli tombak wanita terbaik sepanjang masa.
Itulah yang menjelaskan kenapa Yuki bisa mengeluarkan Gae Bolg dan Gae Buidhe yang merupakan salah satu dari sekian banyaknya senjata legendaris pembunuh Dewa.
"Jadi apa kau mencintaiku agar aku ikut bergabung ke dalam Faksi Hero?"
Itulah pemikiran Shu saat ini. Ia berpikir dengan menjadi pacar dari Yuki, dia juga akan ikut Faksi Hero yang notabene akan tujuannya masih belum jelas atau hanya memiliki tujuan sementara saja.
"Tidak, aku bahkan tidak akan mengajak atau melibatkanmu dalam Faksi Hero. Jika perlu aku akan keluar dari Faksi Hero!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Yuki benar-benar sebuah perkataan yang jujur tanpa ada sebuah kebohongan sekecil apapun.
Shu bisa membedakan ucapan mana yang jujur dan mana yang berbohong.
Namun Yuki sama sekali tak berbohong pada Shu. Dia begitu jujur dan ingin menyakinkan Shu atas perasaan murninya itu.
"Lalu katakan kenapa kau mencintaiku? Kau bahkan baru mengenalku 24 jam dan kau sudah jatuh cinta padaku, apa alasanmu yang sebenarnya?"
"Karena dulu sejak dulu aku telah mencintaimu, Shu!"
"…Hah?!"