
Alex sama sekali tidak tahu kalau gadis kecil di pangkuannya merupakan anggota dari Twelve Paladins, Himetsuki Fu, Paladins of Two. Yang berarti gadis ini mungkin lebih kuat dari Asuka yang menduduki Paladins of Three.
Ditambah Alex tidak sama sekali mengerti bagaimana gadis sekecil itu bisa menjadi anggota dari Twelve Paladins yang berisi orang-orang paling kuat di Akademi Tokyo. Dan kalau diliat secara penampilan, Fu masih berumur diantara 9 sampai 11 tahun.
"Hmmnn?" Fu melihat Alex dengan mendongakkan kepalanya keatas dengan polosnya.
Melihat tingkah yang begitu polos seperti kebanyakan anak kecil seusianya, membuat Alex semakin tidak percaya bahwa Fu merupakan anggota dari Twelve Paladins. Ia tidak tahu kenapa gadis sekecil Fu bisa mendapatkan gelar kedua terkuat setelah Rein.
"Emnnn, Fu?" Namun Alex yakin dalam satu hal bahwa Fu memiliki umur dibawahnya, karena itulah Alex langsung memanggil Fu dengan nama depan.
"Fu-fu…" balas singkat Fu yang masih melihat keatas.
"Fu-fu?" tanya balik Alex yang bingung akan jawaban Fu.
"Kak Shu panggil Fu dengan Fu-fu!" seru Fu dengan sedikit berteriak seraya menggembungkan pipinya. Alex akhirnya mengerti kalau Fu menyuruhnya memanggil dia dengan panggilan khusus, Fu-fu.
"Kenapa kau bisa ada disini, Fu-fu? Dimana penjagamu?" tanya Alex. Ia berpikir tidak mungkin Fu selama ini sendirian, pasti ada seseorang yang menjadi pengawas atau penjaganya.
"Emnnn, Fu-fu melarikan diri dari penjaga" Sekarang Alex bisa tahu bagaimana Fu bisa sampai dikelasnya sendirian tanpa ada seorang yang menjaga dia.
"Siapa penjagamu itu, Fu-fu?"
"Kakak cantik yang mempunyai rambut kuning petir ketika sedang marah" jawab Fu sambil memperlihatkan gambaran seperti apa rambut petir yang dimiliki penjaganya.
Dari jawabannya Alex sepertinya mengetahui siapa kakak cantik itu, kalau tebakannya benar maka penjaga dari Fu adalah Rein. Karena mungkin hanya dia yang memiliki perubahan seperti itu.
"Baiklah, lalu kenapa Fu-fu ada disini?" tanya lagi Alex yang membuat Fu tiba-tiba menjadi salah tingkah dan menundukkan mukanya, seolah dia sedang menyembunyikan malunya dari Alex.
"E-emnnnn, etto, u-untuk cepat-cepat bertemu dengan Kak Shu…" Fu benar-benar menyembunyikan rasa malunya dari Alex. Ia tidak ingin Alex melihat mukanya yang sekarang.
"Sekarang Fu-fu sudah bertemu denganku kan?" Alex menaruh tanganya dikepala Fu dan sedikit mengusap-usap pelan. Fu begitu menikmati usapan dari Alex, terbukti dari ekpresi wajahnya yang terlihat senang sekarang dan nyaman.
"Lolicon…" ucap Lucy dengan Miry secara bersamaan. Perkataan mereka berdua bagaimana dua pedang besar yang langsung menancap di jantung Alex. Ia berusaha menghiraukan luka batin karena julukan yang begitu tajam dari mereka berdua.
Sementara murid sekelasnya hanya bisa kaku terdiam melihat betapa harmonisnya Alex dengan Fu yang terlihat seperti kakak beradik sungguhan. Mereka semua menjadi lebih menginginkan Alex menjadi kakaknya daripada seorang pacar. Itu semua karena melihat cara Alex yang memanjakan Fu.
Namun bagi Alex sendiri, ia sudah terbiasa memanjakan anak kecil seperti Fu. Karena ia mempunyai dua adik kembar yang selalu ingin dimanja jauh dari Alex lalukan pada Fu.
"Ternyata kau ada disini, Fu" ucap Carissa yang langsung melihat Fu sedang duduk dipangkuan Alex.
Semua murid termasuk Alex langsung melihat kearah depan begitu mendengar suara Carissa yang ternyata tanpa mereka semua sadari sudah berdiri didepan kelas.
"Fu-fu tidak mau pergi dari sini! Fu-fu ingin selalu dekat kak Shu! Tidak mau dengan kakak petir atau nenek putih!" Fu langsung memasang muka cemberut dan marah serta memegang seragam Alex lalu memeluknya erat-erat. Seakan-akan dia tidak ingin menjauh dari Alex walau sedikitpun hingga bertingkah seperti itu.
Sementara Carissa hanya bisa menahan rasa kesal ketika dipanggil 'nenek putih' oleh Fu secara langsung dan terdengar keras, apalagi semua murid dikelas mendengar bagaimana Fu menyebutnya.
"Tapi kak Rein mencari-carimu, Fu. Bagaimana jika kau temui dulu ya?" bujuk Carissa yang mencoba tersenyum kecil menghadapi tingkah Fu yang sedikit mengesalkan.
"Tidak!! Fu-fu maunya dengan kak Shu saja!! Bukan dengan kakak petir atau nenek tua putih!!! hmphh" Fu semakin erat memeluk Alex serta menjulurkan lidahnya untuk mengejek Carissa yang sekarang ini tengah menahan amarahnya setelah disebut 'nenek tua putih'. Itu lebih parah daripada sebelumnya, Carissa hanya bisa menahan kemarahannya didepan semua murid dan banyak-banyak bersabar.
Ternyata tebakan Alex benar, kakak petir yang dimaksud oleh Fu adalah Rein. Mungkin itu yang bisa menjelaskan kenapa Rein menyuruh Alex untuk datang ke kantin Akademi Tokyo. Rein bermaksudkan untuk mempertemukan Fu dengan Alex, namun Fu sendirilah yang langsung mendatanginya.
"Biar aku saja yang menjaga Fu, Nyonya Carissa" tawar Alex sambil menaruh tangannya dikepala Fu seraya tersenyum kecil.
"Apa kau yakin bisa menjaga Fu, Luther?" tanya Carissa yang berusaha membuat Alex lebih mempertimbangkan tawarannya tadi.
"Percayakan padaku, lagian Fu-fu tidak akan nakal kan?" tanya Alex pada Fu yang langsung dia jawab dengan anggukan pelan serta memasang muka Baby Face.
"Liat kan?" lanjut Alex dengan yakin bahwa ia dapat menjaga Fu dengan baik.
"Aku akan menanggung semuanya" Alex tersenyum kecil untuk menyakinkan bahwa Fu aman bersamanya. Tetapi ia menjadi penasaran seperti apa kekuatan Fu hingga menjadikannya sebagai Twelve Paladins dan membuat Carissa khawatir.
Fu yang mendengarnya tersenyum manis dengan mendongak keatas. Ia terlihat sangat senang sekali karena yang menjaga dia adalah Alex, oleh karena itu Fu terlihat bahagia sekali. Sementara Alex membalasnya dengan tersenyum kecil.
"Baiklah, pelajaran hari ini akan kita mulai sekarang…" seru Carissa kepada semua murid. Mereka langsung memfokuskan pandangannya kedepan untuk mengikuti jam pertama pelajaran.
########
"Coba sebutkan ada berapa banyak sihir khusus yang sangat langka penggunanya. Luther?" ditengah pelajaran Carissa menunjuk Alex untuk menjelaskan. Karena sedari tadi yang tidak memperhatikan pelajarannya hanyalah Alex yang sedang asik bermain dengan Fu. Carissa sudah kesal akan kelakuan mereka berdua yang mengabaikannya sejak tadi.
"Ada 7 jenis sihir khusus seperti, Dimension Magic, Space Time Magic, Cursed Magic, Divine Magic, Spirits Magic, Blood Magic dan terakhir--"
"Awakens Magic" lanjut Fu yang menjulurkan sebuah kertas kepada Alex dengan maksud agar dibuatkan sebuah origami.
"Terima kasih sudah memberitahu kita, Luther, Fu" Carissa tersenyum kecil melihat semua murid dikelas termasuk Alex menunjukkan ekspresi terkejut. Mereka tidak menyangka Fu tahu tentang pengetahuannya yang luas, tidak seperti anak seusianya.
Sementara Carissa sudah tidak heran lagi akan pengetahuan luas yang dimiliki Fu, itu sebab tuntutan dari keluarganya, Himetsuki. Himetsuki ialah sebuah keluarga kuno yang sudah memiliki cabang pohon keluarga lebih dari 2000 tahun lamanya. Semua anggota keluarga Himetsuki terutama perempuan memiliki pengetahuan yang sangat luas sekali, ketimbang orang-orang pada umumnya.
Seperti layaknya Fu yang masih kecil, namun dirinya memiliki pengetahuan tentang sihir yang sangat luas, tidak seperti anak seumurannya. Selain itu terdapat sebuah misteri dikeluarga Himetsuki yang mengatakan kalau semua keturunan darah murni keluarga itu, adalah perempuan.
Misteri itu terbukti dengan semua bayi yang lahir dari keluarga Himetsuki selalu berkelamin perempuan. Oleh karena itu, keluarga Himetsuki merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di sejarah Jepang dengan Midgard.
"Seperti yang kalian dengar tadi. Semua sihir itu merupakan sihir khusus yang hanya ada sedikit penggunanya atau hanya ras tertentu saja yang bisa menguasainya, contoh mudahnya Blood Magic. Blood Magic adalah sihir yang dapat digunakan oleh ras Vampir dan sihir ini tidak menggunakan Mana, tetapi menggantinya dengan darah dari si pengguna. Ditambah tidak semua Vampir bisa menggunakan Blood Magic. Apa kalian semua mengerti?" jelas panjang lebar Carissa. Semua murid menjawab 'iya', kecuali Alex dengan Fu yang masih asik bermain.
"Baiklah, karena ada urusan yang mendadak. Aku akan undur diri terlebih dulu. Sebelum ada tanda istirahat, kalian dilarang meninggalkan kelas" seru Carissa dengan langsung pergi meninggalkan kelasnya Alex.
"Kak Shu, aku lapar" Fu menarik-narik seragam Alex dengan memasang Baby Face nya.
Alex yang tidak bisa menolak Fu, menyetujui permintaannya untuk membelikan makanan ke kantin Akademi Tokyo. Walau Carissa tadi melarang siapapun untuk meninggalkan kelas. Tetapi disisi lain Alex tidak tega melihat Fu kelaparan karena harus menunggu.
Sebelum Alex pergi, ia terlebih dulu ijin atau bilang kepada Alice, Sherlinia dan Yuki. Begitu mengetahui alasan kenapa Alex pergi, mereka bertiga tidak bisa menahannya untuk mengantar Fu makan di kantin Akademi Tokyo.
Ditengah perjalanan, Fu selalu memegang erat tangan Alex dengan terus tersenyum senang. Ia kini benar-benar tidak ingin lepas dari Alex walau untuk beberapa menit saja. Sementara Alex sendiri merasa nyaman ketika didekat Fu, seperti dirinya benar-benar mempunyai adik sungguhan.
Sesampainya di kantin Akademi Tokyo, Alex langsung memesan satu porsi paket anak-anak dengan minuman jus jeruk serta es kopi untuknya. Fu yang tidak mau jauh-jauh dari Alex, duduk disampingnya hingga menempelkan kursi dia dengan kursi Alex.
Begitu makanan sudah sampai di meja, tanpa tunggu lebih lama lagi Fu langsung makan dengan lahapnya. Dan Alex hanya melihat Fu yang sedang makan membuatnya ingat pada Haruka dengan Haruki disaat masih kecil dulu.
Namun, mendadak mata Alex seperti melihat sosok lain yang ia tidak kenali. Tetapi Alex seperti pernah melihat sosok itu disuatu tempat. Sosok itu memiliki rambut kuning keemasan dan mata biru langit yang indah.
"Kaka--"
"Kak Shu!!!!" tiba-tiba gambaran sosok itu langsung menghilang ketika Fu memanggil keras namanya, karena telah menyadarkan dirinya sendiri.
"Kenapa?" Alex langsung bangun dengan sedikit terkejut akan teriakan dari Fu.
"Aku sudah selesai makan terlebih duliu" seru Fu dengan menunjuk porsinya yang telah habis disaat Alex tengah melamun. Mengetahui itu Alex menaruh tangan dikepala Fu lalu mengusapnya pelan-pelan.
"Shu!! Hah…… ternyata… kau ada disini… hahh…" ujar Rein yang datang dengan kelelahan. Mungkin ia telah menggunakan tenaganya untuk berlarian keluar masuk Akademi Tokyo untuk mencari Fu yang menghilang dari awal pelajaran sampai sekarang ini.
Rein pun langsung duduk didepan Alex dengan Fu dengan senyuman yang misterius setelah menatap mereka berdua lebih lama. Melihat orang yang Fu tidak sukai datang, ia dengan sigap memeluk erat dan cepat tangan Alex.
"Ada apa mencariku, kak Rein? Yang pasti bukan soal Fu kan?" tanya Alex. Ia tahu kedatangan Rein mungkin bukan hanya soal dirinya menjaga Fu, jika tidak maka Rein sendiri tidak usah repot-repot mencari Alex.
"Kau benar, Shu. Tujuan utamaku disini adalah memintamu menjadi pasangan Fu dalam Battle Royale bulan depan…"