
Begitu nama Alex dengan Fu disebutkan, mereka berdua maju kedalam Moon Arena, bersamaan dengan itu duo kembar Kunikou juga mulai memasuki dari kedua sisi lain dari Moon Arena.
Disaat mereka berempat bertemu ditengah, kini Alex bisa melihat seperti apa wajah dari duo kembar itu. Mereka berdua memiliki penampilan, wajah, bola mata yang mirip yang membedakan hanya warna rambut mohawk nya saja. Dimana Dashi memiliki warna rambut putih sedangkan saudaranya, Danshi, berwarna abu-abu.
Mereka memakai kostum layaknya seorang ahli beladiri karate profesional, ditambah dengan muka seram yang daritadi mereka pasang untuk menakuti setiap orang yang menjadi musuhnya.
Dalam Battle Royale, setiap siswa diperbolehkan membawa sebuah senjata dan memakai baju pertarungan yang masing-masing disiapkan oleh murid itu sendiri.
Sementara Alex dengan Fu masih memakai pakaian seperti hari biasanya, tanpa membawa satupun senjata sama sekali. Berbanding terbalik dengan duo Kunikou yang tampil sedikit mencolok.
Saat kedua pasangan itu sudah bertemu ditengah Moon Arena, mereka sontak langsung bersalaman dengan membalas tatapan antara satu sama lain. Namun beberapa saat kemudian mata dari duo Kunikou teralihkan ke Fu.
Alex yang melihatnya wajah macam apa yang dipasang duo Kanikou itu berdecak kesal, karena mereka berdua sedang memasang muka mesum dengan terus melihat lengkung tubuh Fu.
Alex sudah tidak tahan dengan tatapan mesum mereka berdua, langsung bertindak dengan menarik Fu lalu menyembunyikan dibelakangnya. Duo Kanikou itu langsung kesal melihat Alex yang sudah mengganggu mereka.
"Dasar kauu!!" seru kesal Dashi dengan mengepalkan tangan didepan muka Alex.
"Begini saja, bagaimana aku yang akan menjadi lawan kalian berdua?" tawar Alex dengan senyuman kecil.
"Apa kau meremehkan kami?!!! Kami dapat membuatmu tinggal dirumah sakit selama sebulan utuh!!!" jawab Dashi dengan sangat marah akan senyuman Alex yang bermaksud mengejeknya itu. Sementara saudara kembarnya Danshi hanya diam sambil menatap penuh kemarahan.
"Kalau begitu, apa perlu aku menggunakan satu tangan saja? Atau tidak menggunakan tanganku sama sekali?" Alex semakin memancing emosi dari duo Kanikou itu dengan terus meremehkan mereka berdua.
"Apa yang kau bilang??!!!! Beraninya kau!!? Apa kau cari mati disini?!!" Dashi semakin marah seperti api yang diberi kayu bakar yang sangat banyak hingga apinya semakin membesar.
"Tidak mungkin… aku disini ingin mendampingi Fu saja, apa kalian takut?" tanya Alex dengan senyuman mengejek.
Ejekannya itu berhasil membuat api yang tidak bisa padam oleh air sekalipun. Itu terbukti dengan beberapa kerutan tercipta di kedua kening mereka.
"Dasar Kepara--"
"Cukup!!" Akhirnya Danshi ikut berbicara dengan menghentikan adiknya disaat dia ingin memukul wajah Alex saking emosinya.
"Kenapa kau menghentikanku?" tanya Dashi akan tindakan yang dilakukan saudaranya itu. Ia juga heran apa Danshi tidak marah setelah menerima ejekan bertubi-tubi dari Alex.
"Memang saat ini aku menghentikanmu, karena pertandingan belum dimulai. Tetapi, jika sudah berbunyi, maka kita bisa dengan puas menghajarnya… Walaupun kau memohon ampun, kami akan membuatmu menyesal seumur hidup" ujar Danshi dengan senyum licik sekaligus penuh kemarahan.
"Mari kita lihat siapa yang akan memohon ampun nanti. Meskipun kau memohon ampun, aku tetap tidak mengampunimu" balas Alex dengan senyum kejam disertai hawa membunuh yang sangat besar.
Duo Kunikou itu sempat bergidik ketakutan, karena merasakan hawa membunuh yang sangat kuat, hingga membuat bulu kuduk berdiri. Saking besarnya hawa membunuh itu, seperti seorang pembunuh yang sudah membunuh ratusan atau bahkan ribuan orang sekaligus.
Seperti itulah gambaran mereka berdua terhadap Alex tadi, bukannya mereka berdua merasa takut dengan Alex. Justru mereka berdecak kesal, karena merasa telah diintimidasi dengan tujuan menakut-nakuti saja.
Setelah usai bersalaman dan bertatap muka, kedua pasangan itu saling mengambil jarak dengan saling menjauh hingga 100 meter. Mereka langsung bersiap dengan menunggu aba-aba dimulainya pertarungan pertama Battle Royale di Moon Arena yang sudah disaksikan lebih dari 150 ribu orang secara langsung dan ditonton oleh jutaan orang melalui saluran TV.
"Aku akan menghadapi mereka berdua. Fu-fu tunggu saja disini ya?" ujar Alex dengan setengah jongkok didepan Fu seraya tersenyum kecil padanya. Fu pun hanya mengangguk setuju dengan dibalas senyuman yang lebar serta manis.
"Baiklah!!!! Kita mulai! Pertandingan pertama hari ini dibabak penyisihan. Kirihara L. Shu dengan Himetsuki Fu Versus Kunikou Dashi dengan Kanikou Danshi, Start!!!
Seketika suasana Moon Arena menjadi lebih meriah daripada sebelumnya, karena akhirnya pertandingan yang mereka tunggu-tunggu telah dimulai. Mereka semua sudah menanti penampilan dari Alex yang sebagai murid terbaik angkatan ke-125 melawan duo Kanikou dengan aliran beladiri yang terkenal di Tokyo.
Seperti yang Alex katakan pada Fu tadi, dia sekarang sedang berjalan maju tanpa ada sebuah kuda-kuda untuk bertarung. Berbeda dengan duo Kanikou yang bersiap-siap menggunakan kuda-kuda dari aliran dojonya.
Mereka berdua yang merasa benar-benar diremehkan, langsung berlari kencang ke arah Alex dengan penuh kemarahan serta hawa membunuh. Disaat sudah cukup dekat, mereka berdua mengepalkan tangannya serta berusaha melayangkan pukulan ke muka Alex dengan secepatnya.
"Art Martial Imperial Style : Counter…"
Dengan waktu yang sangat singkat, Alex berhasil menangkis semua serangan yang ditujukan padanya serta melancarkan serangan cepat pada kedua tubuh dari duo Kanikou.
Mereka berdua yang terkena serangan langsung mengambil langkah mundur dengan wajah kesakitan serta terkejut akan apa yang barusan dilakukan oleh Alex.
Beberapa saat kemudian, duo Kanikou itu merasakan rasa sakit yang menunjukkan kalau beberapa tulang mereka telah patah akibat serangan cepat Alex. Tepatnya tulang rusuk, tulang kering serta betis mereka patah dan retak.
Sontak mereka tidak percaya akan Alex yang bisa melancarkan serangan mematikan dalam waktu singkat. Duo Kanikou itu berdecak kesal, karena tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Alex tadi.
Semua begitu sangat singkat dan cepat, hingga tidak disadari oleh mereka berdua. Tetapi yang pasti semua itu sebabkan jurus beladiri milik Alex.
"Padahal aku hanya menggunakan satu tangan saja, apa kalian masih kesusahan? Apa perlu aku hanya menggunakan kaki?" tanya Alex dengan menyinggung duo Kanikou.
"Apa yang kau lakukan tadi, hah?!!" Dashi langsung meluapkan emosinya. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih akan serangan tak masuk akal dari lawannya itu.
"Beladiri… sama seperti kalian semua, apa kalian tidak tahu?"
"KAUUU!!!!" Dashi langsung berlari secepat yang dia bisa, berusaha mendaratkan pukulannya pada Alex melalui kekesalan.
"Dasar makhluk bodoh… Art Martial Imperial Style : Counter" Alex langsung membalikkan serangan Dashi dengan menangkis bersamaan mematahkan tangan kanan dan tulang rusuknya.
Dashi langsung teriak kesakitan dan berusaha mundur dari Alex, menjaga jarak mereka sejauh mungkin. Ia masih tidak tahu teknik beladiri apa yang digunakan Alex daritadi.
Yang ia ketahui serangannya terlalu cepat untuk diliat oleh mata manusia biasa dan hanya orang yang memiliki penglihatan tajam bisa melihat serangan balik milik Alex.
"Apa kalian akan memohon ampun sekarang?" tawar Alex dengan nada sedingin es.
"Jika kami menang, kami akan membuat semua perempuan bertekuk lutut dengan menjadikan sebagai budak kami!!! Dengan ini kami akan menjadi raja disini!!!" lanjut Dashi dengan wajah penuh nafsu akan keinginan yang dia impikan jika mereka berdua menang.
Sementara itu semua penonton di Battle Royale menjadi jijik akan keinginan atau impian dari pasangan duo Kanikou, terutama para perempuan yang merasa benci melihat lelaki mesum seperti itu. Dan membuat mereka lebih mendukung pasangan satunya, yaitu Alex dengan Yuki.
Danshi yang menyadari teriakan kebencian dari semua penonton dari Battle Royale berusaha menyadarkan saudaranya agar tidak berbicara lebih parah lagi. Namun, semuanya sudah terlambat.
Nama mereka berdua sudah terlanjur di cap buruk oleh semua penonton Battle Royale dan akan menjadi bahan pembicaraan hingga ada seseorang yang melupakannya kejadian saat ini.
"Jadi itu jawabanmu…? Tadinya aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran saja… tapi ternyata kalian harus benar-benar aku hukum agar sampai akhir hayat kalian. Kalian berdua akan selalu menyesalinya telah berkata-kata seperti itu pada orang-orang berhargaku" balas panjang Alex dengan dikutin tatapan mata tajam dari seorang pembunuh.
Untuk kedua kalinya duo Kunikou itu bergetar ketakutan melihat serta merasakan aura membunuh yang sangat luar biasa. Aura itu sudah tidak berada dilevel manusia biasa, tapi sudah selevel dengan ras tinggi seperti dewa dan lain-lainnya.
Mereka berdua tidak bisa bergerak sama sekali akan tekanan yang sangat besar itu dan intimidasi yang mereka dapatkan, membuat tubuh seolah-olah membatu akan ketakutan pada sosok Alex.
"Sekarang berakhirlah… Kirihara Art Martial Style : Moon Cleaver…"
Alex langsung memaafkan kesempatan saat duo Kanikou itu terpaku akan auranya dengan langsung berlari sangat cepat dan memberikan serangan dari jurus mematikan yang ia ciptakan sendiri.
"P-Pemenangnya adalah Kirihara L. Shu dengan Himetsuki Fu!!!!!"
Serangannya itu membuat hampir setengah dari Moon Arena hancur berantakan dengan batas dari tribun penonton. Semua penonton serta komentator sontak terdiam sejenak akan serangan Alex yang liar biasa itu dan mereka langsung bertepuk tangan dengan meriah akan Alex berhasil mengalahkan duo Kanikou secara telak.
Sementara duo Kanikou itu terlempar hingga menabrak tembok dari tribun penonton, yang membuat mereka pingsan dengan luka yang sangat serius.
Alex yang mengetahui dirinya dengan Fu sudah memenangkan babak pertama, langsung mengajak Fu pergi untuk melihat pertandingan selanjutnya yang sebentar lagi akan diumumkan.
Sesampainya dibagian tribun sebelah kanan, kini Alex tahu seberapa besar tadi kekuatannya. Serta memutuskan agar lebih hati-hati lagi bila ingin menggunakan jurus beladiri yang tadi, agar tidak ada korban tak bersalah terluka karenanya.
Ditambah sekarang Alex harus menunggu Moon Arena diperbaiki dulu supaya bisa dipakai seperti semula dengan tujuan kenyamanan peserta Battle Royale lainnya.
Setelah 30 menit lebih menunggu, akhirnya Moon Arena telah selesai diperbaiki dengan sempurna menggunakan teknologi pembangunan cepat serta mutakhir, hingga bisa memperbaiki kerusakan yang lumayan parah itu kembali seperti baru.
"Pertandingan yang bagus, Kirihara Shu" seru seseorang dari belakang Alex.
Mendengar itu Alex langsung menengok kebelakang dan menjumpai Alicia bersama Leonardo yang ada disampingnya. Mereka berdua datang dengan mengucapkan selamat atas lolosnya Alex dari pertandingan pertama Battle Royale.
"Terima kasih…" balas Alex dengan kembali fokus kedepan Moon Arena.
"Tapi bukannya kau sedikit berlebihan? Serangan itu bisa saja membunuh mereka berdua, apa kau tahu?" tanya Alicia yang menuntut jawaban Alex.
"Ini bukan urusanmu. Jadi berhentilah ikut campur, tuan putri" jawab dingin Alex yang membuatnya berpindah tempat, karena tidak ingin diganggu oleh komentar siapapun.
########
Setelah menonton semua pertandingan Battle Royale akhirnya Alex memutuskan untuk pulang saat mentari sudah jauh dari tadi terbenam.
Alasan kenapa Alex menonton semua pertandingan Battle Royale adalah untuk menganalisis data kekuatan setiap tim yang lolos babak penyisihan di hari pertama.
Hasilnya pun tidak percuma akan Alex yang terus mengamati setiap pertandingan dengan mewaspadai dua tim saja, yaitu Alicia dengan Leonardo dan Yuki dengan Sherlinia.
Dua tim itu merupakan tim yang paling merepotkan disaat menjadi musuh Alex, dikarenakan kedua tim itu lebih mengutamakan serangan langsung dengan senjata daripada sihir. Sedangkan hanya Alex saja yang bisa menggunakan senjata, tidak dengan Fu yang lebih mengutamakan sihirnya.
Oleh karena itu, Alex harus menyiapkan strategi yang matang disaat dirinya dengan Fu melawan salah satu dari mereka atau mungkin mereka semua. Jika tidak maka kemungkinan besar Alex akan kalah, karena tidak bisa menunjukkan kekuatan sejatinya didepan orang banyak secara terang-terangan.
"Hahhh……" hela nafas Alex dengan berat.
hawa yang begitu dingin serta pikiran yang berat membuatnya mengantuk dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah lalu tidur nyenyak tanpa ada gangguan sedikitpun.
"Mati!!!"
Tiba-tiba Alex mendengar suara yang cukup familiar ditelinganya dan beberapa saat kemudian ada dua orang yang menyerangnya dari kegelapan malam menggunakan beladiri khas daerah Tokyo.
Alex yang sedikit terkejut akan kemunculan orang menyerangnya menjadi sedikit waspada, pasalnya tadi ia tidak merasakan hawa keberadaan seseorang sejauh 100 meter didepan. Dan dirinya dikejutkan oleh serangan dari dua orang yang berhasil melabuinya itu, walau kedua serangan tadi berhasil Alex tangkis dengan respon abnormal.
Disaat awan di langit bergerak yang membuat sinar bulan kembali mencerahkan cahaya lagi. Pada saat itu juga Alex bisa melihat sedikit demi sedikit siapa kedua orang yang telah menyerangnya tadi.
Ternyata dua orang itu adalah Dashi dengan Danshi, duo Kanikou yang Alex kalahkan tadi pagi dengan seni bela dirinya. Mereka berdua menatap Alex dengan muka penuh kebencian serta kemarahan akan sosok didepan mereka.
Namun yang Alex tidak mengerti adalah bagaimana caranya Alex tidak bisa mendeteksi keberadaan mencolok dari mereka serta harusnya sekarang mereka. masih dirawat, karena luka serius yang dialaminya.
Tetapi kini, mereka berdua muncul dihadapan Alex dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Alex juga melihat aura hitam menyelimuti seluruh tubuh mereka, aura hitam itu seperti aura orang mati.
Tapi bila dipikirkan lagi tidak mungkin ada orang yang bisa melakukan hal semacam pembangkitan serta merasuki tubuh seseorang. Hanya ada seseorang dewa yang bisa melakukan itu semua tanpa ada kata mustahil.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana, Alexander Luther Louise, si Betrayer Hero… ahahaha" ucap mereka berdua dengan sangat kompak seraya menunjuk Alex.
Ternyata dugaan Alex benar, kalau dalang dibalik semua itu adalah dewa yang menguasai dunia kematian serta Underworld. Hanya dia yang bisa melakukan hal semacam itu. Dia adalah…
"Hades…"