The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 50. Suara Hati Claretta...



Kata orang, cinta itu sebuah rasa yang rumit. Cinta membuat seseorang yang merasakannya menjadi mengharap lebih.


Mengharap jika rasanya mendapat balasan dan mengharap untuk bisa saling memiliki.


Sama halnya seperti Claretta, dia pun mengharapkan hubungannya akan abadi selamanya bersama Gavin.


Claretta masih teringat jelas, saat pertama kali dia merasakan degup didada karna ungkapan cinta dari Gavin. Saat lelaki itu memintanya untuk menjadi sepasang kekasih.


Namun Claretta melupakan hal penting. Dia melupakan kenyataan bahwa orang yang berbagi rasa cinta bersamanya, ternyata hatinya masih terbagi untuk seseorang dimasa lalu.


Adibrata Gavin, si pelaku dari timbulnya rasa rumit itu. Claretta tersihir oleh rasa yang tiba-tiba menyusup direlung hatinya, dan semakin mengharap lebih pada hubungan yang mereka jalani.


"Aku capek, Cla. Aku lelah bila harus bertengkar denganmu terus.


Kenapa kamu tidak pernah mau berubah dan mencoba mengerti" ucapan dari mulut Gavin, kembali menyadarkan Claretta dari lamunan rumitnya tentang cinta


Claretta masih bertahan dengan sikap diamnya, perempuan itu seolah mempersilahkan Gavin untuk mengungkapkan segala keluh kesahnya sampai merasa puas.


"Kamu gak seharusnya melukai Brianna seperti itu. Kapan kamu akan berhenti bersikap kekanakan sih, Cla? Kapan kamu mau berubah untuk bersikap lebih dewasa lagi?" ujar Gavin dengan raut putus asa


Namun sekali lagi Claretta tetap diam terpaku. Haruskah Claretta berteriak dengan keras pada tunangannya ini, bahwa dia membenci segala hal tentang wanita bernama Brianna itu.


Claretta membencinya hingga begitu dalam.


Claretta benci dengan sikap Brianna, yang seolah tak merasa bersalah, karna sudah terlampau sering membuat keretakan dalam hubungannya bersama Gavin.


Brianna sering memanfaatkan kebaikan Gavin, seolah itu semua adalah hal yang wajar.


"Kamu harus meminta maaf pada Brianna, dan cobalah bersikap baik terhadapnya" tegas Gavin yang mana dibalas tatapan datar oleh Claretta


Lalu Claretta mulai berjalan mendekati tunangannya itu.


"Sudah? Apakah kamu sudah selesai berbicara? Sekarang giliran aku yang mengatakannya" ucap Claretta sembari tersenyum miris


Ditatapnya kedua mata Gavin dengan lekat, Claretta masih tidak menyangka jika hari ini akan tiba.


Hari dimana dia benar-benar merasa lelah mencintai seseorang bernama Gavin ini.


"Apa kamu tahu Vin? Kamu adalah pemenang dari segala hal dalam hidupku.


Kamu yang mendapatkan cinta pertamaku.


Kamu yang pertama mengajarkan ku tentang segala kerumitan cinta.


Dan kamu juga orang pertama yang ku ijinkan untuk menyentuhku dalam artian lebih"


"Kamu selalu bilang kalau aku itu terlalu posesif, pencemburu, selalu bersikap kekanakan, dan sering berlaku kasar.


Seharusnya kamu itu sadar kalau kamu adalah orang yang paling egois.


Kamu selalu ingin dimengerti, tapi kamu sendiri lupa caranya mengerti perasaanku.


Kamu terlalu mendalami peran menjadi sahabat Brianna yang selalu ada untuk melindunginya" tanpa sadar suara Claretta kian melirih dan serak


Kedua matanya pun mulai memanas, padahal Claretta sudah berusaha untuk menahannya.


Karna dia benci menangis didepan Gavin, dia benci terlihat lemah dihadapan tunangannya itu.


Gavin yang semula diam memperhatikan Claretta, kini tenggorokannya mulai tercekat kala matanya mengikuti gerakan tangan Claretta yang berusaha melepas kalung dileher perempun itu.


Dan dadanya langsung dihantam rasa sesak, ketika Claretta menyerahkan kalung itu padanya.


"Kamu capek? Sama, aku juga capek Vin" ungkapnya sembari perlahan melepaskan cincin yang semula melingkar dijari manisnya


"Mungkin lebih baik kita berjalan masing-masing saja. Karna kita sudah tidak cocok untuk terus bergandengan tangan.


Kita terlalu sering saling menyakiti, selama ini kita berdua juga hanya memaksa untuk terus bertahan"


Tanpa sadar tangan Gavin bergetar pelan, kala Claretta mengembalikan cincin yang dulu dia sematkan dijari manis perempuan itu sebagai tanpa pertunangan mereka.


"Mulai sekarang, kamu tidak akan lagi direpotkan oleh si posesif ini.


Kamu sekarang sudah bebas Vin, kamu bebas menemani dan melindungi Brianna tanpa takut aku larang"


Claretta mengatakannya dengan tertawa miris, tangannya pun berulang kali menipis lelehan air yang mengalir dipipinya.


Karna mulai sekarang, tempat ini bukan lagi area yang bisa sesuka hati dia tempati.


"Kamu lah yang egois, Cla. Kamu memutuskan semuanya sendiri, tanpa tahu bahwa aku setuju apa tidak" gumam Gavin dengan tatapan hampa ke arah pintu kamarnya yang baru saja menghilangkan sosok Claretta


...•••...


Claretta langsung menghamburkan tubuhnya kala dirinya telah masuk kedalam kamar Allya.


Ranjang berukuran Quen size itu menjadi sandaran kala dirinya berada diambang kewarasan.


Bohong jika dirinya baik-baik saja saat harus memutuskan hubungan dengan Gavin. Keadaan lah yang memaksanya untuk yakin dalam mengambil keputusan ini.


"Claretta" panggil sebuah suara lembut yang sangat dia kenali


Claretta refleks menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, disana dia melihat Gazbiyya sedang menyembulkan kepalanya dibalik pintu.


"Apa aku boleh masuk, Cla?" tanya Gazbiyya meminta ijin terlebih dahulu


Gazbiyya bisa saja langsung masuk tanpa harus meminta ijin dulu. Namun dirinya bukanlah orang kurang ajar yang seenaknya asal nyelonong masuk dikamar orang lain.


Apalagi saat ini keadaan Claretta sedang tidak baik-baik saja.


"Masuk saja Biyya. Tapi tolong, sekalin pintunya dikunci ya" Gazbiyya segera masuk dan mengunci pintu seperti perintah Claretta


Entah kenapa hati Gazbiyya ikut merasakan sesak kala matanya mendapati kondisi Claretta yang berantakan.


Claretta yang dia kenal, adalah sosok yang sangat jarang memperlihatkan air matanya.


Dari sini Gazbiyya meyakini, bahwa masalah yang menimpa hubungan Claretta dan Gavin kali ini mungkin sudah diluar batas.


Gazbiyya masih mengingat dengan jelas, bagaimana Claretta terlihat begitu berambisi saat bertarung dengan Brianna di ladang.


Berulang kali dia melihat Claretta terus menargetkan area perut Brianna, untuk dipukuli.


Dan ternyata, baru Gazbiyya tahu jika Brianna memiliki masalah dengan kondisi perutnya. Wanita itu pernah melakulan aborsi yang mengakibatkan kerusakan pada area rahimnya.


Mungkin menurut Claretta, terus melukai area perut Brianna dapat membunuh lawannya itu.


"Jangan ditahan Cla, menangis bukan berarti kamu terlihat lemah" kata Gazbiyya dengan suara bergetar


Setelah itu, Claretta benar-benar menuruti ucapan Gazbiyya. Perempuan itu menghambur ke pelukan sahabatnya, dengan isak tangis yang terdengar memilukan.


"Semua, sudah berakhir, Biyya. Aku... aku hancur" kata Claretta disela isakannya


Tanpa sadar, Gazbiyya tak bisa menghentikan laju air matanya.


Dia pun ikut menangis dalam diam, sembari tangannya terus mengelus punggung Claretta. Berharap sang sahabat menjadi kuat, setelah semua yang terjadi.


"Gavin, dia terus membuatku, seolah menjadi yang paling bersalah"


"Kenapa dia selalu egois, Biyya? Kenapa harus aku yang selalu mengerti dia, kenapa dia tidak mau mencoba mengerti aku" racau Claretta penuh emosi


Gavin si brengsek itu, sudah membuatnya menjadi orang bodoh yang diperbudak oleh cinta. Claretta sungguh dibuat gila karna tak bisa berhenti mencintainya.


"Gavin jahat, Biyya. Dia sudah menghancurkan semua impian, yang sudah aku susun dimasa depan nanti.


Dan kenapa dia harus membawa Brianna dalam hubungan kami?"


"Sabar, Cla. Kamu perempuan yang kuat, kamu pasti mendapatkan pengganti yang lebih baik darinya" hibur Gazbiyya


"Kamu harus bisa membuktikan, bahwa kamu bisa baik-baik saja tanpa ada dia lagi. Karna kamu bukan perempuan lemah"


Karna dulu Gazbiyya pernah berada diposisi ini. Dia berulang kali memiliki niat untuk berhenti mencintai Ezra, karna Gazbiyya jelas tahu bahwa perasaannya berlabuh pada hati yang salah.


Namun berulang kali juga dia gagal. Gazbiyya tak cukup yakin pada dirinya sendiri. Dia sudah merasa nyaman dengan cinta yang dia pendam selama ini.


Terkadang, kita hanya perlu membangun keyakinan penuh atas keputusan yang akan kita ambil nanti.


Memusnahkan segala pikiran yang membuat diri kita goyah, dan kita hanya perlu mengingat bahwa kita bisa.


...•••...