
Angin malam berhembus secara teratur, namun bukan berarti tak meninggalkan rasa dingin.
Buktinya perempuan yang sejak tadi duduk diteras itu sesekali mengelus lengannya yang terbungkus jaket.
Dia sama sekali tak memperdulikan akibat dari tindakannya saat ini.
Dan perempuan itu adalah Gazbiyya.
Gazbiyya tak mengalihkan tatapannya pada langit malam yang kini menampilkan keindahan Bulan Purnama.
Namun Gazbiyya sama sekali tak menyukainya, ada perasaan benci yang perlahan menyelusup dirongga dadanya.
Memikirkan jika saat ini mungkin sang kekasih sedang bersenang-senang bersama wanita lain, membuat Gazbiyya kembali dilanda sesak.
Haruskah dia menyesal karna sudah menerima Allgar sebagai kekasihnya?
Kenyataannya Gazbiyya mengaku kalah, meski sudah berusaha tegar dihadapan lelaki itu.
Namun sesaknya dada hanya dia sendiri yang mengetahuinya..
"Kak Biyya, masuk ke dalam yuk. Nanti kalau kelamaan disini, kamu bisa sakit kak" ajakan masuk, kembali dilontarkan Kinara untuk Gazbiyya
Tapi jawaban Gazbiyya masih sama dengan setengah jam yang lalu, perempuan itu kembali menolak ajakan Kinara.
"Aku tahu gimana perasaan kakak saat ini, namun menyiksa diri sendiri bukanlah hal yang dibenarkan kak" Kinara yang mulanya ingin mengajak perempuan itu masuk, malah kini ikut duduk disamping Gazbiyya.
"Ternyata hubungan antar orang dewasa itu rumit ya, Nara. Terkadang kita dipaksa untuk terlihat baik-baik saja oleh sebuah keadaan" ujar Gazbiyya dengan pandangan kosong ke depan
Bahkan Gazbiyya masih mengingat jelas, bagaimana rasa kecewa yang ditinggalkan oleh Ezra dihatinya.
Bertahun-tahun memendam cinta sepihak bukanlah hal mudah baginya.
Gazbiyya dituntut untuk terlihat baik-baik saja disaat Ezra memperkenalkan pacar barunya, dan itu bukan sekali, tapi beberapa kali dia terjebak pada momen menyakitkan itu.
Bahkan sekarang setelah memiliki seorang kekasih, Gazbiyya juga dituntut untuk terlihat baik-baik saja dikala kekasihnya bersama wanita lain.
"Kak, dalam sebuah hubungan, salah satu hal yang terpenting itu adalah rasa saling percaya.
Jika kita sudah memutuskan untuk memulai, maka seharusnya kita juga tahu resiko yang mungkin saja datang menyapa"
"Mereka yang kita cintai bukanlah manusia biasa seperti kita.
Mereka juga punya kesulitannya sendiri, dan aku yakin jika Kak Allgar sama sekali tak bermaksud membuat kak Biyya terluka"
Kinara tak bermaksud untuk berpihak pada Allgar, dia jelas tahu bagaimana perasaan Gazbiyya karna dia juga perempuan.
Namun membiarkan Gazbiyya larut dalam luka bukanlah hal yang baik, oleh karena itu dia mencoba memberikan pengertian pada Gazbiyya.
"Lagi pula, percuma kak Biyya cemburu. Toh nanti wanita-wanita itu akan berujung pada maut, mereka hanya mendapatkan kesenangan untuk sesaat sebelum ajal menjemput" tambah Kinara dengan santainya
Tanpa sadar Gazbiyya mengangkat bibirnya sehingga mencipta sebuah senyuman tipis.
Meski ucapan Kinara terdengar jahat, namun ada benarnya juga.
Mungkin tak seharusnya Gazbiyya terlarut dalam rasa cemburu, karna dia hanya akan menambah luka.
"Hubungan kamu sama Kak Vilash gimana, Nara? Kapan kalian bisa menyalip Claretta dan Kak Gavin?" Kinara terperangah dengan pertanyaan dari perempuan disampingnya itu,
Wajah mendung Gazbiyya perlahan berganti santai, dan Kinara bersyukur melihatnya.
"Kalau Claretta sama Kak Gavin itu memang sudah Suhunya. Kita-kita sebagai pasangan baru tidak mungkin bisa mengimbanginya kak" ujar Kinara yang langsung mengundang tawa Gazbiyya
Saat keduanya tengah tertawa bersama, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh kedatangan seseorang.
"Lagi pada menertawakan apa sih? Seru banget kelihatannya"
Gazbiyya dan Kinara sontak mengentikan tawanya,
"Hih, Sayang. Ngagetin aja sih" seru Kinara tak suka
Orang yang tiba-tiba hadir mengganggu itu adalah Vilash, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu malah tersenyum tanpa merasa bersalah.
Bayangkan saja, di sebuah Villa terpencil di pinggir pantai.
Tiba-tiba ada sosok yang datang tak di undang, dan sudah dipastikan jika Vilash datang menggunakan kekuatannya sebagai seorang Vampir.
Karna tak ada suara mobil atau pun motor yang dikendarai lelaki itu untuk menuju ke sini.
"Eh, tapi Kak Vilash kok bisa ada disini?
Kamu gak ada maksud jahat sama kita berdua kan kak?" tanya Gazbiyya dengan raut bingung campur khawatir
Vilash yang mendengarnya malah tertawa cekikikan, membuat Gazbiyya kesal dibuatnya.
"Kak Biyya tenang saja, dia gak mungkin mencelakai kita kok. Kak Vilash itu dokter, dan dia sudah terbiasa berurusan dengan darah manusia.
Jadi Bulan Purnama gini gak akan berpengaruh buatnya" Kinara menjelaskannya sambil memeluk lengan Vilash
Sudah tahu jika saat ini dia sedang mencoba berdamai dengan luka, tapi Kinara dan Vilash malah kompak membuatnya iri.
"Kalian berdua sengaja membuatku iri ya? Jahat banget sih" semprot Gazbiyya sembari menunjuk wajah pasangan didepannya itu
"Aku gak ikut-ikutan loh kak, aku juga gak tahu kalau Kak Vilash datang ke sini?"
Kinara segera menjauhkan diri dari pacarnya, kedua tangannya terangkat seolah meminta ampun.
"Udah ah, aku mau tidur saja. Kalian berdua jangan berisik ya, tolong hargai yang lagi galau ini"
Setelah itu Gazbiyya langsung masuk ke dalam Villa.
Sejujurnya Gazbiyya tak merasa keberatan dengan kedekatan yang ditampilkan oleh Kinara dan Vilash.
Hanya saja, Gazbiyya memang membutuhkan waktu sendiri tanpa gangguan orang lain.
Malahan dia bersyukur karna kedatangan Vilash, setidaknya fokus Kinara bukan pada dirinya lagi, melainkan pada pacarnya itu.
...•••...
Saat Gazbiyya tengah dilanda rasa galau, maka di Mansion Allgar juga tak kalah berbeda dengan perempuan itu.
Allgar masih terdiam didalam kamarnya sendiri, padahal seharusnya dia sudah berada didalam kamar yang biasanya dia habiskan di malam Bulan Purnama.
Mengabaikan wanita yang sudah dipersiapkan oleh Elvan seperti biasanya.
Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Gazbiyya. Meski reaksi tubuhnya sudah mulai terlihat, namun Allgar tak tergerak sama sekali.
Dibanding pergi menemui wanita bayaran yang disiapkan oleh Elvan, dan menuntaskan hasrat berburunya sebagai Vampir.
Allgar malah berkeinginan untuk berlari ke tempat kekasihnya itu.
"Sial, jika seperti ini terus. Aku bisa gila" gumam Allgar
Tanpa berpikir panjang, Allgar segera melesat ke tempat Gazbiyya berada.
Dia ingin menemui kekasihnya itu sekarang juga.
Dalam hitungan detik, Allgar sudah sampai didepan Villa.
Dan ternyata kedatangannya sudah disambut oleh Vilash, kini sahabatnya itu tersenyum miring menatapnya, seakan tak merasa kaget dengan kedatangannya.
"Sudah ku duga" ujar Vilash dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Allgar
Sebenarnya alasan Vilash datang ke Villa juga karna ingin membuktikan dugaannya.
Dan seperti apa yang telah dia pikirkan, Allgar tetap nekat menemui Gazbiyya.
"Apakah kegiatanmu sudah selesai?" sindir Vilash
"Aku ingin menemui Gazbiyya" ucap Allgar tanpa menanggapi sindiran dari sahabatnya itu
Vilash terkekeh pelan setelah mendengar ucapan Allgar, dirinya tidak merasa kaget sama sekali.
Bagaimana pun Allgar sudah pernah merasakan tubuh serta darah Gazbiyya, dan semua itu pasti membuat Allgar ketagihan.
"Apa kamu ingin membuatnya berada dalam bahaya? Keadaanmu yang sekarang sangat tidak memungkinkan untuk kalian bersama" ucap Vilash penuh peringatan
"Aku hanya ingin menemuinya, sekarang dia pasti sedang merasa sedih" elak Allgar yang dibalas tawa oleh Vilash
Sebelumnya mereka berdua sudah pernah membahasnya, Vilash menolak rencana Allgar dan Gazbiyya karna tak ingin mengambil resiko.
Vilash masih mencoba meneliti tentang Gazbiyya, tentang kenapa perempuan itu masih baik-baik saja meski sudah pernah dihisap darahnya oleh Allgar.
"Lebih baik dia merasakan sedih dari pada berada dalam bahaya, All"
"Tapi aku ingin mencobanya, kali ini aku pasti bisa mengendalikan diriku. Karna aku tidak mungkin membahayakan nyawa kekasihku sendiri"
Vilash yang tadinya masih menanggapi dengan candaan, kini wajah lelaki itu telah berganti serius.
Ditatapnya wajah Allgar yang juga tengah menatapnya penuh permohonan, lalu setelah berpikir ulang, Vilash pun mengangguk lemah
"Ingat untuk tidak bermain kasar! Kendalikan dirimu saat menghisap darahnya.
Jangan sampai membuatnya dalam bahaya! Aku dan Kinara akan berjaga di kamar sebelah" putus Vilash pada akhirnya
Allgar yang mendengarnya pun tersenyum lebar, dia pasti bisa mengendalikan dirinya.
Dia tidak akan membuat sang kekasih dalam bahaya,
Dan yang terpenting, Allgar tidak menyakiti perasaan Gazbiyya...
...•••...