
Di sebuah kamar berukuran besar dengan nuansa gelap, seorang wanita tampak menahan rasa sakit dilehernya.
Kenikmatan yang beberapa saat lalu dia rasakan, kini berganti dengan rasa panas yang menjalar diseluruh tubuhnya.
Permohonan ampun yang berulang kali dia rintihkan, sama sekali tak menghentikan niat seseorang yang berada di atasnya.
Terus menghisap sampai dirinya merasa puas.
Sampai akhirnya, tubuh yang sejak tadi terus meronta itu sama sekali tak bergerak lagi. Tubuh dengan keadaan tak berbusana itu telah terbujur kaku,
Si Lelaki yang tadi berada di atasnya segera menyingkir, memandang tubuh kaku itu dengan tatapan datar tak bersalah.
Baginya, pemandangan sepert ini sudah sering dia lihat.
Monster adalah julukan yang cocok untuk seorang Allgar Kavindra. Dia akan menghabisi korbannya setelah usai bercinta.
"Bereskan wanita itu" perintahnya pada dua orang yang sejak tadi sudah menunggu di depan pintu kamar tersebut,
"Baik Tuan"
Tanpa menunggu waktu lama, dua orang itu langsung memberekan kekacauan yang baru saja di lakukan oleh Tuan merek.
Sedangkan Allgar sendiri langsung berlalu pergi dari sana, pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang baru saja memberikan kenikmatan dan juga rasa puas.
Hal seperti ini memang sudah biasa terjadi di Mansion THE IMMORTAL.
Setiap bulan purnama, Allgar akan mencari satu wanita untuk menghabiskan waktu bersama.
Lalu, setelah dirinya puas meneguk kenikmatan dari si wanita. Allgar akan melanjutkan kesenangannya yang lain, yaitu dengan menghisap darahnya.
Tanpa banyak kata, Allgar mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang beradai di ruang santai. Dia hanya melirik datar ke arah Elvan, Kevlar dan Vilash, yang saat ini tengah berpesta dengan minuman berwarna merah pekat.
Cara Allgar dan yang lainnya menikmati darah memang berbeda. Sebagai manusia setengah vampir, Kevlar, Elvan, Vilash, Gavin dan Claretta juga harus meminum darah manusia disaat bulan purnama tiba.
Mereka akan membeli kantung berisi darah segar manusia dari Rumah Sakit,
Sedangkan Allgar yang berstatus sebagai vampir murni. Disaat bulan purnama, lelaki itu harus meminum darah manusia dengan cara menggigit langsung pada leher korbannya.
"Tumben, cepet banget" tanya Kevlar pada Allgar yang hanya dibalas gumaman oleh lelaki itu
"Gimana kalau kita nyusulin Gazbiyya sama Kinara saja" ujar Elvan dengan asal,
Allgar menatap Elvan dengan tatapan tajam, tanda jika dirinya menentang ajakan dari sahabatnya itu.
Malam masih berlangsung, dan insting mereka sebagai vampir sedang kuat-kuatnya. Jika mereka nekat menemui Gazbiyya dan Kinara, mungkin saja kedua gadis itu akan bernasib sama seperti wanita yang beberapa menit lalu menjadi korban Allgar.
Itu karna Gazbiyya dan kinara masih perawan, dan darah mereka akan sangat menggoda untuk para Vampir.
"Jangan berbuat aneh-aneh. Ingat! Gazbiyya masih belum tahu, siapa kita sebenarnya" ucap Allgar dengan sorot tajamnya
"Sebenarnya hampir ketahuan sih. Tadi sore, Claretta cerita kalau dia keceplosan bilang kalau kita semua adalah vampir" Ujar Kevlar
"Gawat, berarti rahasia kita sudah terbongkar dong" sahut Vilash dengan cemas
"Tenang, syukurnya Gazbiyya tidak mempercayai omongannya Claretta. Gadis itu malah tertawa karna menganggap ucapan Claretta hanya sebagai candaan belaka" jelas Kevlar yang tanpa sadar membuat Allgar bernafas lega
Entah kenapa Allgar merasa tidak suka jika suatu saat nanti, Gazbiyya akan mengetahui rahasia mereka sebagai seorang vampir.
Ada perasaan tidak rela yang perlahan menyusup di hatinya.
"Syukurlah kalau gitu. Kalau pun dia beneran mengetahui rahasia kita, aku yakin kita masih tetap aman. karna menurutku Gazbiyya bukanlah tipe perempuan yang suka menyebarkan sebuah rahasia" ucap Elvan
Vilash dan Kevlar pun setuju dengan pendapat Elvan. Mungkin awalnya akan terkejut atau syok.
Tapi lama-kelamaan Gazbiyya pasti bisa memahami mereka.
...•••...
Sedangkan di dalam Villa, Gazbiyya dan Kinara sedang fokus menatap layar persegi yang menampilkan adegan sepasang kekasih yang tengah berciuman.
Pekikan gemas menjadi respons mereka saat adegan itu semakin lama semakin terlihat panas. Kedua pemain itu sama-sama berakhir disebuah ranjang dengan selimut yang membungkus tubuh,
Lalu, tiba-tiba adegan sudah berganti dengan suasanan di pagi hari. Dan itu membuat Gazbiyya mau pun Kinara dapat bernafas lega, meski kedua pipi masih blusing.
"Gila.. kenapa masih blusing gini sih. Padahal udah pernah lihat secara live" ucap kinara dengan kedua tangan yang sibuk menepuk-nepuk pipinya
Dan Gazbiyya hanya bisa terbengong mendengar ucapan dari gadis di sampingnya itu.
Lalu ingatannya berlayar di waktu yang telah lalu, dia pun juga penah tak sengaja melihat adegan sepasang kekasih yang sedang berciuman.
Dan hatinya benar-benar hancur saat itu juga. Mungkin jika orang itu bukanlah Ezra, dirinya tak mungkin merasakan sakit.
"Kak Biyya" Gazbiyya tersadar dari lamunan saat Kinara memanggil namanya
"Iya, kenapa?" jawabnya dengan berusaha tampil sesantai mungkin, tanganya kembali mencomot kripik untuk dimasukan kedalam mulutnya
"Kalau boleh tahu, siapakah pemilik ciuman pertama dari kakak?"
"Ciuman pertama ya? Mungkin, suami ku nanti"
"Hah kok suami..." jeda Kinara dengan kaget "Jadi, maksudnya kak Biyya sampai sekarang belum pernah ciuman?" lanjutnya dengan penasaran
Gazbiyya menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala, fokosnya kembali pada layar menyala yang berada didepan.
"Bisa-bisanya, kak Biyya yang sempurna kayak gini malah belum pernah ciuman" ujar Kinara sembari mengelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan kenyataan dari seorang Gazbiyya
"Memangnya kamu pernah?"
"Pernah dong, tapi gak sampai berakhir di ranjang kok" ucapnya dengan bangga
"Seriusan? Terus, rasanya gimana?"
"Rasanya tuh... Kayak kesetrum listrik, terus deg-degan juga sih" jedanya sembari kembali mengingat ciuman pertamanya bersama Vilash
"Pokoknya, kayak gitu lah. Aku malu kak Biyya" jeritnya dengan suara yang teredam bantal,
Kinara menutup wajahnya menggunakan bantal, dia malu sekali. Tapi Gazbiyya malah menertawakannya dengan keras.
"Aku masih penasaran. Yang merebut ciuman pertama kamu siapa, Nara?" tanya Gazbiyya dengan sengaja, dia tak memperdulikan Kinara yang tengah diserang rasa malu
"Gak mau"
"Ihh,, ayo kasih tahu dong. Aku sudah terlanjur penasaran nih"
Gazbiyya menarik bantal yang digunakan Kinara untuk menutupi wajah gadis itu, namun Kinara mencengkramnya dengan kuat.
Kini keduanya malah saling tarik menarik, mengabaikan si layar persegi yang sedang menayangkan adegan romantis dari sepasang kekasih.
Sampai akhirnya Kinara mengalah, gadis itu membuang bantal yang tadi menutupi wajahnya kesembarang arah.
Lantas bersiap untuk menuju ke kamar mandi. Namun sebelum tubuhnya sepenuhnya menghilang, Kinara menjeritkan satu nama yang membuat Gazbiyya syok.
"Vilash" teriak Kinara sembari tertawa keras
Gazbiyya syok mendengar pengakuan dari Kinara,
Jadi, selama ini Vilash pacaran sama Kinara?
Mereka berdua memang terlihat cukup dekat, tapi Gazbiyya tidak menyangka jika kedua orang itu sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.