The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 33. Kisah Lama...



Gazbiyya tersenyum lega kala Vilash mengatakan jika kondisinya sudah normal kembali, Vitamin serta makanan penambah darah yang 1 minggu dia konsumsi telah berhasil memperbaiki kondisinya.


Dan terima kasih juga pada Vilash yang telah memberikannya obat penghilang bekas luka, tak hanya sebagai dokter.


Vilash juga pandai meracik obat-obatan dengan tanaman herbal yang dia sulap menjadi obat ajaib.


"Senangnya lihat Kak Biyya sudah sembuh total" ujar Kinara sembari memeluk tubuh Gazbiyya dengan raut senang


Akhirnya mereka bertiga bisa berpetualang lagi. Akhir-akhir ini Allgar terlalu posesif dengan kondisi Gazbiyya, lelaki itu kembali melarang Gazbiyya untuk melakukan banyak kegiatan.


"Iya nih, akhirnya aku bisa bebas dari keposesifan Kak Allgar. Rasanya benar-benar bosan karna tak bisa kemana-mana" keluh Gazbiyya


"Oh ya, Claretta kemana?" tanya Gazbiyya ketika dia dan Kinara sedang berjalan keluar dari ruang pemeriksaannya tadi


Mansion THE IMMORTAL memang luar biasa, entah berapa luas keseluruhan dari tempat ini.


Mansion utama yang berlantai tiga menjadi tempat istirahat, lalu di bagian belakang juga ada bangunan rumah khusus para pelayan.


"Sepertinya Claretta lagi ada masalah sama Kak Gavin deh Kak, soalnya sudah dua hari ini mereka terlihat sedang menjaga jarak" jelas Kinara dengan lesu


Jujur Kinara juga merasa bosan dan kesepian karna Claretta yang mendadak mengurung diri.


Padahal kan masalahnya dengan Gavin, tapi Claretta seolah menjadikan semua orang sebagai mahkluk yang harus dihindari.


"Masalah apa? Memangnya Claretta tidak cerita sama kamu?"


Kinara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Gazbiyya.


Meski hubungan persahabatannya bersama Claretta sudah lumayan lama, namun selain cuek, Claretta juga tipe pendiam.


Claretta lebih memilih untuk menyimpan semuanya sendiri...


"Coba nanti aku tanyakan, siapa tahu dia mau cerita"


Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk menghampiri Claretta yang mengurung diri didalam kamar.


Bukan dikamar yang selama ini Claretta tinggali bersama Gavin, namun perempuan yang terlihat cuek itu berada didalam kamar Allya.


"Claretta kalau lagi marahan sama Kak Gavin, dia sering mengurung diri dikamarnya Kak Allya" bisik Kinara pada Gazbiyya


Karna sekarang mereka berdua sudah sampai didepan pintu kamar Allya, keduanya mulai mengetuk pintu dan berharap Claretta mau membukanya.


Tok..tok...tok..


"Claretta, ini aku Gazbiyya sama Kinara. Kami berdua mau masuk, boleh kan?"


2 menit berlalu sejak Gazbiyya mengetuk pintu didepannya, namun Claretta belum juga merespons mereka.


"Apa mungkin dia lagi tidur ya, Nara"


"Kayaknya enggak deh Kak, sekarang masih jam 9 pagi dan Claretta gak mungkin tidur jam segini"


Lalu ketika Gazbiyya dan Kinara saling menduga-duga, tiba-tiba pintu itu terbuka pelan.


"Masuk" itu suara Claretta yang berucap singkat padat dan jelas


Kemudian Gazbiyya dan Kinara pun masuk ke dalam kamar, dan kesan pertama Gazbiyya saat memasuki kamar mendiang Allya adalah perasaan nyaman.


Kamar yang berdinding baby pink itu terlihat kontras dengan pribadi Claretta, namun sangat cocok dengan pribadi si pemilik kamar itu sebenarnya.


Allya...


Perempuan cantik yang menjadi kekasih dari kakaknya itu adalah perempuan yang memiliki sifat lembut juga penyayang.


Meski Gazbiyya tak terlalu dekat dengannya, namun kebersamaan mereka yang terasa singkat sangat lah membekas dihati Gazbiyya.


Allya lah yang menguatkannya untuk tak terlalu sedih ketika mendapat perlakuan kasar dari Haidar.


Allya juga sering mengatakan jika sebenarnya Haidar sangat mencintainya, karna bagaimana pun Gazbiyya adalah adik dari lelaki itu.


"Cla, aku boleh pegang foto Kak Allya tidak?"


Gazbiyya begitu tertarik dengan sebuah figura berukuran sedang yang tengah menggantung di dinding samping Lemari, figura itu berisi potret Allya dan Haidar yang tengah tersenyum di atas jembatan.


Jembatan yang sama, yang dia lewati ketika dia dan Allgar mengunjungi makam kedua orang itu.


"Boleh, ambil saja" jawab


Gazbiyya meraih figura itu, tatapannya seolah melekat pada kedua potret sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.


Ada perasaan sesak yang perlahan menyelinap kala mendapati kenyataan jika Haidar dan Allya telah tiada.


"Kenapa? Kenapa Kak Allgar menentangnya?"


Claretta tersenyum tipis dengan pandangan menerawang, perempuan itu seolah sedang menggali ingatan dimasa lalu


"Karna Allgar sangat menyayangi Allya, dia tidak ingin jika Allya sampai terluka karna cinta" jawab Claretta


"Tapi Kak Haidar adalah orang baik, dia tulus mencintai Kak Allya" ada perasaan tidak terima dihati Gazbiyya, kala mendengar Allgar meragukan Kakaknya


"Iya, pada akhirnya Allgar memang luluh dan menyetujuinya. Haidar dan Allya bisa membuktikan, jika cinta mereka sangatlah tulus dan suci" lanjut Claretta yang tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis


"Apa dulu Kak Haidar sering main kesini?"


Gazbiyya ingin sekali mengetahui kisah percintaan Kakaknya dengan Allya.


Sebagai seorang Adik pada umumya, tentu saja dia merasa senang kala melihat sang kakak menjalin hubungan dengan perempuan baik seperti Allya.


"Jarang kesini, karna dulu Haidar dan Allya lebih sering menghabiskan waktu bersama di Villa Padang Dandelion.


Tempat itu adalah tempat favorit keduanya, bahkan mereka berdua sudah memiliki rencana untuk tinggal disana setelah menikah"


Bicara soal menikah, Gazbiyya memang sudah mendengar rencana itu dari Ezra.


"Namun sayang, pernikahan mereka tidak pernah terjadi.


Allya dan Haidar kecelakaan hingga membuat mereka meninggal, dan yang lebih membuatnya pedih adalah kondisi Allya yang saat itu juga tengah mengandung"


Claretta menghembuskan nafas berat ketika usai menceritakan tentang Allya dan Haidar.


Sedangkan Gazbiyya tanpa dia sadari, air matanya menetes tanpa sepertujuannya.


Karna Gazbiyya baru mengetahui perihal kehamilan Allya,


Seharusnya saat ini dia sudah memiliki keponakan, kan?


Seharusnya saat ini ada yang memanggilnya dengan sebutan tante,


Kepergian Haidar memang terasa seperti mimpi dikala itu.


Saat Gazbiyya masih diselimuti oleh rasa sesak karna perubahan sikap Haidar, kenyataan pahit datang menambah luka.


Kenyataan bahwa dia telah ditinggalkan untuk selamanya oleh sang Kakak.


"Kak Biyya" panggil Kinara di sertai usapan lembut pada pundaknya


Perlakuan Kinara mampu menyadarkan Gazbiyya dari luka lama, tangannya juga dengan cepat mengusap bekas air mata yang tadi mengalir di pipi mulusnya.


Lalu Gazbiyya memasang sebuah senyuman kala mendapati wajah khawatir dari Kinara juga Claretta.


Padahal niatnya datang kesini karna ingin menghibur Claretta, namun dia malah bernostalgia dengan masa lalu.


"Aku baik-baik saja kok. Ini, makasih karna sudah mengijinkanku menyentuhnya" sembari memberikan kembali figura yang tadi dipegangnya kepada Claretta


"Masih ada album yang berisi potret Allya dan Haidar. Kalau kamu mau, aku bisa meminjamkannya" ucap Claretta dengan senyuman tulus


"Makasih ya Cla"


"Hm, sama-sama" balas Claretta kembali


Kinara yang sejak tadi hanya menyimak cerita Claretta, kini dia tengah merangkul kedua sahabatnya itu.


"Sekarang waktunya bersenang-senang, karna sesi galaunya sudah ditutup"


Tawa yang keluar dari bibir Kinara refleks menyalur pada Gazbiyya dan Claretta, ketiganya mengukir tawa setelah sesi sedih melanda.


"Gimana kalau kita pergi ke Padang Dandelion, kita menjenguk Kak Allya dan Kak Haidar sekaligus pergi refresing" ajak Gazbiyya yang dibalas oke oleh kedua sahabatny


"Mari kita kembali berpetualang" teriak Kinara dengan penuh semangat


Kenyataanya waktu pasti bisa menyembuhkan luka, menjadikan kisah lama sebagai kenangan yang tak terlupakan.


Karna di masa yang akan datang, rasa rindu itu pasti datang menghampiri.


Dengan beraninya mengajak kita menyelami kenangan itu.


Dan kita hanya perlu menghadapinya...


...•••...