The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 36. Sayang Kamu...



Tak terasa waktu cepat berlalu, terhitung sudah 4 bulan lebih Gazbiyya berstatus sebagai kekasih dari Allgar.


Allgar selalu memperlakukannya dengan spesial, lelaki itu sering memberikannya kejutan-kejutan yang tak terduga.


Terkadang mengajaknya ke tempat-tempat indah, kadang memberikannya hadiah.


Dan yang terakhir, Allgar menyulap jalan menuju Villa pantai menjadi lebih hidup dan berwarna.


Semakin lama, perasaannya semakin teegugah.


Rasa yang semula begitu menguat pada Ezra, kini perlahan mulai menipis.


Perlahan mulai tergantikan dengan nama sang kekasih.


Membicarakan tentang Ezra, entah bagaimana kabar lelaki itu sekarang.


Apakah Freya sudah melahirkan? atau mungkin sekarang mereka berdua tengah berbahagia menyambut buah hati yang sebentar lagi akan lahir kedunia.


Dan apapun itu, Gazbiyya selalu berharap yang terbaik untuk si cinta pertama.


Meski Ezra sudah menciptakan luka yang teramat dalam, namun Gazbiyya tak bisa membencinya.


Bagaimana pun dia dan Ezra pernah tumbuh bersama, lelaki itu juga pernah menjadi sosok penting yang selalu menguatkannya setelah kepergian sang kakak.


Pernah memperlakukannya dengan istimewa juga.


"Pagi-pagi sudah melamun" bisik sebuah suara yang amat Gazbiyya hapal siapa pemiliknya.


Lalu di ikuti dengan gerakan tangan kokoh yang perlahan melingkar di perut ratanya.


Allgar memeluknya dari arah belakang, lelaki itu menyembunyikan kepalanya di lekukan leher Gazbiyya.


"Kenapa bengun cepat, hm? Bahkan di saat sang surya masih belum menampakkan dirinya" ucap Allgar kembali


Posisi kepala Allgar yang berada tepat dilehernya, membuat Gazbiyya bisa merasakan jelas hembusan nafas milik kekasihnya itu.


"Aku pingin lihat sunrise" balas Gazbiyya tanpa mengalihkan tatapannya yang kini masih tertuju ke depan,


Sekitar 1 jam yang lalu, Gazbiyya terbangun karna ingin ke kamar mandi.


Namun setelah menuntaskan keperluannya disana, Gazbiyya malah lebih tertarik untuk menuju balkon dibandingkan kembali bergelung diranjang bersama Allgar.


Perempuan itu hanya duduk termenung di kursi yang ada di balkon tanpa melakukan sesuatu, Gazbiyya hanya diam saja sembari memperhatikan kegelapan.


Baru sekitar 15 menit yang lalu dia memutuskan untuk berdiri dari kursi menuju pagar balkon, tiba-tiba sudah ada yang menghampirinya dengan sebuah pelukan.


Dan pelakunya tak lain adalah kekasihnya sendiri.


"Kenapa tidak bilang dari kemarin?


Padahal tadi malam kita bisa menginap di Villa, supaya kamu lebih puas melihat sunrise di pinggir pantai"


Gazbiyya tersenyum mendengar ucapan sang kekasih, jarinya refleks mengelus tangan kokoh Allgar yang masih melingkari perutnya.


"Mungkin, lain waktu kita menginap di sana" ujar Gazbiyya


"Kamu juga kenapa sudah bangun? Memangnya sudah tidak mengantuk lagi?"


"Masih sayang, tapi kamunya gak ada. Jadi, aku kebangun"


Gazbiyya tertawa kecil kala mendengar balasan Allgar yang terasa seperti sedang merajuk. Beberapa kali Allgar memang sering mengajaknya tidur bersama, dan mereka memang benar-benar tidur dalam artian yang sesungguhnya.


Sepanjang malam, Allgar hanya akan memeluknya dan sesekali mencuri ciuman darinya.


Namun Allgar tak pernah menyentuhnya lebih, lelaki itu seakan menghormatinya. Allgar tidak pernah memaksanya untuk melakukan hal dewasa, kecuali saat malam Bulan Purnama.


"Mau tidur lagi? Aku temani" tanya Gazbiyya


"Tapi kamu kan katanya pingin lihat sunrise" balas Allgar dengan suara berat


"Gak jadi, mungkin lusa saja pas kita menginap di Villa"


Setelah Gazbiyya mengucapkannya, tanpa di duga, Allgar langsung membopong tubuh Gazbiyya untuk kembali masuk ke kamar.


Mencipta tawa kecil yang lolos dari bibir Gazbiyya, Allgar dan hal tak terduga adalah perpaduan yang pas untuk kekasihnya ini.


Dengan cekatan, Allgar kembali menyelimuti tubuh mereka.


Tangan lelaki itu juga dengan setia membawa tubuh Gazbiyya ke dalam pelukan, dan Gazbiyya hanya membutuhkan usapan lembut di kepalanya untuk membuatnya kembali terlelap.


"Selamat tertidur kembali sayang" bisikan manis disertai kecupan di kening, menjadi hal terakhir sebelum Gazbiyya benar-benar menjelajahi mimpi.


...•••...


"Gimana kalau pakai yang ini saja" ujar Gazbiyya sambil memperlihatkan kemeja polos berwarna hitam


Namun Allgar yang hendak menanggapi ucapan kekasihnya itu, terpaksa mengurungkan niat kala Gazbiyya kembali menawarkan warna yang lainnya.


"Atau yang ini saja" sembari memperlihatkan kemeja berwarna Navy


Gazbiyya berjalan menghampiri sang kekasih yang tengah duduk bersandar di sofa single yang ada di walk in closet milik lelaki itu.


Tangannya secara bergantian mencocokkan dua kemeja ke depan tubuh Allgar.


Bibirnya kembali berdecak dan kepalanya menggeleng pelan, membuat Allgar yang sejak tadi hanya diam memperhatikan menjadi tersenyum gemas.


Terhitung hampir setengah jam sudah mereka berdua berada di dalam Walk in closet miliknya.


Tadi ketika mereka berdua kembali terbangun di jam setengah tujuh, Gazbiyya mengajukan diri untuk memilihkan pakaian yang akan Allgar kenakan hari ini.


"Baju kamu kenapa ngebosenin semua sih, masa dari tadi gak ada yang cocok"


Gazbiyya menggerutu sembari memilih-milih pakain mana yang akan dia pasangkan di tubuh sang kekasih.


Matanya terasa jenuh karna melihat pakaian Allgar yang cenderung berwarna gelap semua, Hitam, Navy, Maroon, dan Putih.


Sangat berbeda sekali dengan lemari pakaiannya yang berwarna-warni.


Allgar tanpa sadar tertawa pelan mendengar umpatan kesal milik kekasihnya itu, selama ini dia merasa nyaman-nyaman saja dengan warna-warna itu.


"Udah ya, pakai yang mana saja tetap cocok kok" ucap Allgar dengan lembut


Di elusnya puncak kepala Gazbiyya dengan sayang,


"Nanti aku bakal belanja model lain dan warna lain juga, biar lain kali kamu gak bingung pas memilihnya"


Gazbiyya yang semula berwajah cemberut, kini perlahan menerbitkan senyumnya.


"Aku ikut belanjanya ya" ucapnya penuh permohonan


"Enggak, kamu dirumah saja" putus Allgar yang seketika menghanguskan semangat Gazbiyya


Padahal Gazbiyya ingin sekali pergi ke Kota.


Mungkin hampir setengah tahun ini dia tidak pergi kesana, terhitung sejak pertama kali Gazbiyya memulai persembunyiannya ke tempat ini.


Meski saat itu sempat pulang sebentar dan berakhir di Mansion THE NOXIOUS, namun Gazbiyya menganggapnya seolah tak pernah terjadi.


"Boleh ya, aku juga pingin kembali ke Kota.


Aku kangen sama suasananya" pinta Gazbiyya yang terdengar seperti rengekan


Namun Allgar masih diam saja, lelaki itu dengan santainya memakai salah satu kemeja yang dia ambil secara acak dari lemari.


"Sayang" panggilan Gazbiyya yang terasa manis di telinga Allgar


"Sayang, aku boleh ikut ya?"


Allgar sekuat tenaga menahan bibirnya, agar tak tersenyum kala telinganya merasa gemas dengan panggilan sayang dari sang kekasih.


Sangat jarang sekali Gazbiyya mau memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kan nanti aku bisa pakai masker.


Lagi pula ini sudah cukup lama, dan aku yakin kalau Ezra pasti sudah menyerah untuk mencariku"


Gazbiyya terus mengoceh, perempuan itu mengikuti kemana pun Allgar bergerak.


Sedangkan Allgar sama sekali tak merasa terganggu dengan tingkah kekasihnya itu. Meski wajahnya masih setia memasang wajah datar, namun didalam hati Allgar ingin sekali tertawa.


"Sayang... Boleh ya?" Gazbiyya merentangkan tangannya kala Allgar ingin keluar dari Walk in closet,


Gazbiyya berdiri di belakang pintu demi menahan sang kekasih yang ingin keluar.


Sekarang Allgar sudah rapi dengan setelan kemaja hitam dan juga celana hitamnya, lalu Gazbiyya memperhatikan keadaan dirinya yang terlihat mengenaskan, masih memakai baju tidur dan belum mandi juga.


"Coba panggil lagi!" pinta Allgar dengan tiba-tiba


"Hah" refleks Gazbiyya, mata lentiknya mengedip gemas kala Allgar memangkas jarak diantara mereka


"Panggil sayang lagi, aku mau dengar" ulang Allgar dengn posisi yang masih sama


Satu tangan dia letakkan di samping kepala Gazbiyya yang tengah menyandar di pintu, lalu tangan yang satunya dia gunakan untuk memainkan rambut panjang milik sang kekasih.


Jika seperti ini, bagaimana mungkin Gazbiyya bisa merengek kembali.


Gazbiyya sudah mati kutu duluan kala mendapat sorot lekat milik kekasihnya ini, pipinya memerah dan salah tingkah.


"Sayang" panggil Gazbiyya dengan ragu, bahkan suaranya hampir menyerupai sebuah bisikan


Namun karna suatu tekat yang kuat, perempuan itu meyakinkan diri untuk terlihat berani di depan kekasihnya ini


Pokoknya, kali ini dia harus berhasil meyakinkan Allgar.


Gazbiyya sangat ingin jalan-jalan ke Kota, dia merindukan tempat kelahirannya itu.


"Sayang, aku boleh ikut ke Kota kan?" kali ini ucapan Gazbiyya terdengar tak ragu lagi


Bahkan tangannya dengan berani memainkan dasi yang kini menggantung indah di leher Allgar,


"Lagi pula perginya kan bareng kamu Kak, aku pasti akan tetap aman karna ada Kak Allgar.


Jadi, aku boleh ikut kan sayang?" ucap Gazbiyya dengan nada lembut


Tak menunggu waktu lama, akhirnya Allgar pun menganggukkan kepalanya.


Dan Gazbiyya yang sudah kepalang senang, dengan refleks memeluk tubuh kekasihnya itu.


"Makasih sayang, aku sayang kamu" ucap Gazbiyya di sela pelukan keduanya


Tentu saja sekarang Allgar juga merasa bahagia.


Sebagai balasan, Allgar menghujani Gazbiyya dengan ciuman bertubi-tubi pada puncak kepala kekasihnya itu.


Karna Allgar juga menyayangi sang kekasih yang tengah berada dipelukannya saat ini...


...•••...