The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 26. Bersamamu...



"Jadi, itulah alasan kenapa waktu itu aku sama Kinara harus mengungsi di Villa Pantai?"


Allgar menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan dari Gazbiyya.


"Karna Bulan Purnama sangat spesial bagi kami kaum Vampir" tambah Allgar


"Ya jelas lah spesial, kan bisa meniduri banyak wanita" sindir Gazbiyya dengan pelan, juga raut wajah yang terlihat kesal


Meski di ucapkan dengn suara pelan, namun Allgar yang memang berada sangat dekat dengan kekasihnya itu, dengan jelas bisa mendengarnya.


"Sudah takdirnya, sayang" sahut Allgar sembari mengacak gemas rambut sang kekasih


"Jujur saja deh kak, kamu juga menyukainya kan?"


"Kalau sebagai lelaki normal, kami jelas menyukainya. Karna bisa dibilang, itu adalah sebuah kebutuhan khusus sebagai lelaki dewasa" jawab Allgar dengan santai


Dan tak lama setelah itu, Allgar menerima konsekuensi dari ucapannya barusan.


Di sampingnya, Gazbiyya terlihat begitu bersemangat untuk terus melayangkan pukulan dilengan kokoh milik Allgar.


Namun bukannya mengeluh sakit, Allgar malah menanggapinya dengan sebuah tawa.


Karna bagi lelaki itu, pukulan dari sang kekasih sama sekali tak terasa sakit.


"Dasar nyebelin. Memang ya, otak cowok tuh isinya mesum semua" teriak Gazbiyya dengan sebal


Entah kenapa, Gazbiyya merasa kan ngilu pada hatinya.


Membayangkan jika sang kekasih sudah pernah menghabiskan malam bergairah bersama banyak wanita, rasanya begitu sesak di dada.


Meskipun Allgar melakukannya sebelum berstatus menjadi pacarnya, tapi tetap saja Gazbiyya tak menyukainya.


"Tapi terkadang, aku juga sering merasa bersalah pada mereka. Karna aku sudah membuat mereka kehilangan nyawa, aku penyebab mereka meninggal"


Pengakuan sesal yang keluar dari mulut Allgar, seketika menghentikan Gazbiyya dari acara memukulnya.


Kekasih dari Allgar itu ikut merasakan rasa penyesalan dari sang kekasih, bagaimana pun Allgar hanya menjalankan takdirnya sebagai seorang Vampir.


Demi bertahan hidup dan menjaga kekuatannya untuk tetap abadi, Allgar harus rela mengorbankan nyawa orang lain.


"Sebentar lagi Bulan Purnama akan kembali datang, oleh karena itu aku mau bertanya sesuatu sama kamu, Biyya" kini wajah Allgar sudah berganti serius


"Mau tanya apa?"


"Bulan purnama nanti, aku jelas akan melewatinya seperti malam-malam sebelumnya.


Namun apakah kamu baik-baik saja, jika aku menghabiskan malam bersama wanita lain?" tanya Allgar dengan ragu


"Ya enggak lah kak, jelas aku merasa tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin aku biasa saja, saat melihat kekasihku main bersama wanita lain" sungut Gazbiyya dengan kesal


Suatu kegilaan jika Gazbiyya mengatakan baik-baik saja. Meski rasa cinta mungkin belum tumbuh dihatinya, namun tetap dia tidak akan pernah rela jika harus berbagi dengan wanita lain.


"Memangnya tidak ada cara lain ya kak? Misalnya melakukannya denganku?


Lagi pula sebelumnya kita juga pernah melakukannya kan, jadi menurutku tidak ada salahnya untuk mencoba lagi"


Dan sepertinya Gazbiyya memang sudah gila, bagaima mungkin dia dengan lancar mengatakan itu. Sepertinya, urat malunya juga sudah putus.


Padahal dulu saat Claretta dan Kinara membahas tentang hal yang berbau dewasa, Gazbiyya selalu protes dan menyarankan untuk membahas hal lain.


Lalu sekarang, sepertinya otak polosnya sudah tercemar virus mesum.


"Enggak, aku tidak mungkin menjadikan nyawamu sebagai percobaan.


Cukup sekali saja aku merasa takut melihatmu berbaring tak sadarkan diri selama berhari-hari" tolak Allgar


"Tapi aku baik-baik saja kak, mungkin waktu itu aku hanya kelelahan dan juga kamu yang terlalu banyak menghisap darahku.


Tidak ada salahnya untuk kita mencoba lagi, asal kamu bisa mengendalikan diri untuk tak terlalau rakus, aku yakin, aku pasti akan baik-baik saja"


Gazbiyya masih mencoba untuk meyakinkan kekasihnya itu.


Mungkin saja dirinya dan Allgar memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan sejati, dia ditakdirkan untuk melengkapi Allgar dan membantu lelaki itu.


Allgar masih diam dengan banyak pikiran. Menghabiskan malam bersama Gazbiyya adalah hal yang sangat menakjubkan baginya, namun jika rasa menakjubkan itu harus ditukar dengan nyawa sang kekasih.


"Lebih baik kita bicarakan ini lain kali saja, aku akan berdiskusi terlebih dahulu dengan Vilash.


Dan kamu, gak boleh terlalu banyak pikiran sayang" putus Allgar pada akhirnya


"Jika kamu tak mengijinkanku untuk menghabiskan malam Bulan Purnama seperti biasanya, aku janji akan mencari cara lain.


Dan yang pasti bukan dengan membahayakanmu" lanjutnya sembari mengelus pipi mulus milik sang kekasih


Setelah mengatakan itu dan dibalas anggukkan oleh Gazbiyya, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang ke Mansion.


Karna waktu sudah berganti menjadi sore, dan penjelajahannya bisa diteruskan pada hari berikutnya.


...•••...


Menghabiskan waktu setengah jam untuk berkendara, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan Mansion.


Seperti pasangan kekasih pada umumnya.


Allgar pun melakukan hal sama dengan melarang Gazbiyya untuk keluar terlebih dahulu, karna Allgar akan membukakan pintu mobil untuknya.


"Silakan tuan putri" ujar Allgar sekaligus dengan gerakan tangan mempersilahkan Gazbiyya keluar


Sontak saja Gazbiyya tertawa mendapatkan perlakuan manis dari Allgar.


"Terima kasih" ucapnya dengan tulus, juga tawa kecil masih berderai dari bibirnya


"Sama-sama sayang"


Lalu saat mereka akan melangkah memasuki Mansion, Allgar dengan sengaja membawa telapak tangan Gazbiyya kedalam genggaman.


"Kak, gak usah kayak gini. Aku malu kalau dilihatin sama yang lainnya" bisiknya dengan pelan


"Udah gak papa, mereka juga pasti senang melihat kita yang seperti ini" balas Allgar yang sudah kembali berjalan, tentunya dengan genggaman tangan yang masih bertaut


Gazbiyya hanya bisa merutuki sikap Allgar dalam hatinya.


Kalau seperti ini caranya, bisa-bisa dirinya akan menjadi santapan empuk oleh Claretta dan Kinara.


Kedua orang itu pasti tak hentinya menjahili dan menggodanya, menjadikannya sebagai bahan gosip.


Kedatangan Allgar dan Gazbiyya disambut cuitan heboh oleh Elvan, sahabat Allgar yang paling tengil itu terlihat sedang membawa segelas minuman.


"Wah, sepertinya akan ada pesta perayaan hari spesial nih" sindir Elvan dengan muka tengilnya,


Genggaman tangan Allgar pada Gazbiyya sudah menjelaskan, jika kedua orang itu sedang menjalin hubungan serius.


Dan berita besar ini akan dengan senang hati Elvan sebarkan pada sahabatnya yang lain.


"Kak, lepas. Di lihatin sama kak Elvan, aku malu" bisik Gazbiyya dengan wajah malunya


Pasti sekarang kedua pipinya sudah bersemu merah,


"Udah biarkan saja, kamu kayak gak kenal aja sama tingkah Elvan"


Elvan memperhatikan dua orang didepannya dengan dahi berkerut tak suka, Allgar dan Gazbiyya malah sibuk saling berbisik, keduanya dengan kompak mengabaikannya.


"Eh, kenapa kalian malah bisik-bisik gitu. Gak lihat apa, kalau didepannya masih ada orang lain" sungut Elvan dengan kesal


"Soal pesta, kamu bisa langsung mengurusnya Van. Aku sama Gazbiyya pamit, mau ke atas dulu"


Setelah mengucapkannya, Allgar segera berlalu pergi dari hadapan Elvan.


Meninggalkan Elvan sendiri bersama rasa kagetnya.


"Pesta? Itu artinya, Allgar dan Gazbiyya memang sedang menjalin sebuah hubungan" gumam Elvan pada dirinya sendiri


Lalu setelah tersadar, Elvan pun berteriak kencang pada Allgar dan Gazbiyya sebelum kedua orang itu menghilang dibalik pintu lift.


"Pokoknya masalah pesta, kalian tenang saja. Aku pasti akan mengaturnya sebaik mungkin, kalian tidak perlu khawatir" teriak Elvan yang dibalas


"Hm, oke" balas Allgar tak kalah keras


...•••...