The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 39. Mau Dibawa Kemana Hubungan Kita?...



Sudah 2 minggu berlalu sejak pertemuannya bersama Tirta dan Amora saat di Mall waktu itu.


Gazbiyya merasakan perubahan dari sikap sang kekasih, sekarang Allgar tak segan menunjukkan keposesifannya didepan banyak orang.


Padahal biasanya, Allgar hanya menunjukkan sikap manjanya saat hanya berduaan bersama Gazbiyya saja.


Namun sekarang, hampir semua penghuni Mansion berpikir jika seorang Allgar begitu mencintai kekasihnya.


"Aku bisa sendiri kok Kak" tolak Gazbiyya dengan suara pelan


Seperti saat ini, ditengah acara berkumpul bersama.


Allgar berulang kali mencoba menyuapinya, padahal Gazbiyya sudah menolaknya secara halus.


Namun Allgar tetaplah Allgar, yang selalu ingin dituruti kemauannya dan tak ingin dibantah.


"All, kalau Gazbiyya gak mau. Mending aku saja lah yang di suapi" celetukan dari Elvan seketika membuat yang lainnya kompak tertawa


Yang mana malah semakin menambah rasa malu pada diri Gazbiyya.


Bukannya Gazbiyya tidak mau menerima semua perlakuan baik dari sang kekasih, namun Gazbiyya ingin membentengi dirinya untuk tak terlalu terbawa suasana.


"Kak Elvan, makannya cari pacar dong. Biar kalau makan ada yang nyuapin" seru Kinara yang di acungi jempol oleh Gazbiyya dan Claretta


"Iya, biar pas tidur juga ada yang nemenin, gitu kan?" balas Elvan seolah tak mau kalah


Dan benar saja, ketiga perempuan itu langsung salah tingkah.


Mereka seolah tersindir dengan ucapan Elvan, meski lelaki itu mengucapkannya dengan nada bercanda.


"Kira-kira, di antara kalian bertiga. Siapa dulu yang akan menikah ya?" tanya Elvan yang kembali berulah


Topik tentang pernikahan seolah menjadi hal tidak nyaman untuk menjadi pembahasan.


Mungkin dari sisi perempuan, mereka bertiga pasti menginginkannya.


Karna sejatinya perempuan butuh kepastian dan juga status yang resmi.


Tapi untuk para lelaki, entahlah bagaimana pandangan mereka tentang sebuah hubungan.


Contohnya seperti Claretta, perempuan yang awalnya selalu bersikap cuek itu sudah menjalin hubungan lama bersama Gavin.


Bahkan mereka sudah bertunangan, namun entah kapan Gavin akan membawa hubungan mereka dalam jenjang pernikahan.


Sedangkan untuk Kinara dan Vilash, mereka berdua masih berada di tahap senang-senangnya karna baru saja menjalin hubungan.


Meski rasa ingin di nikahi juga ada pada diri Kinara, namun perempuan itu juga ingin memberikan waktu bagi keduanya untuk saling mempersiapkan diri terlebih dahulu, sebelum melangkah ke tahap yang lebih serius.


Lalu untuk Gazbiyya dan Allgar, mungkin hubungan keduanya semakin hari semakin terlihat dekat.


Namun sampai sekarang, di antara keduanya masih belum ada yang mengaku cinta.


Selama ini mereka berdua hanya mengikuti alur yang ada. Karna bagi Gazbiyya sendiri, masih banyak rahasia yang belum dia ketahui sepenuhnya tentang sang kekasih.


"Siapa pun di antara kami bertiga yang akan menikah duluan.


Yang pasti, itu bukan kamu yang jomblo akut ini Kak Elvan" ujar Claretta dengan gaya pongahnya


"Lah, belum tentu Cla. Mungkin saja dalam waktu 2 bulan ini, aku bakal bawa pasangan terus kami menikah" balas Elvan


"Iya bawa pasangan, tapi ujung-ujungnya cuma di bawa di atas ranjang. Terus setelah itu, menghilang"


Semua orang tertawa mendengar ucapan dari Claretta, sedangkan Elvan hanya bisa memaki kesal karna dibuat kicep oleh kekasih dari Gavin itu.


"Udah, nih makan. Dari tadi nyerocos mulu" tanpa perasaan, Vilash menjejalkan roti ke dalam mulut Elvan kala lelaki itu masih sibuk mengumpat.


"Kalian semua memang berkonspirasi untuk membully ku ya.


Kev, sebagai sesama orang yang jomblo, sudah seharusnya kita bersatu untuk melawan mereka" ucapnya pada Kevlar


Elvan menepuk pundak Kevlar untuk mencari dukungan, namun yang Elvan dapat malah sebuah sikap tak peduli dari Kevlar.


Ah, sudah lah.


Sepertinya memang sudah nasib Elvan sebagai jomblo, dia harus berlapang dada kala melihat keromantisan yang sering diperlihatkan oleh teman-temanya.


Dan juga harus rela ditertawakan...


...•••...


"Kamu kenapa?" tanya Allgar ketika melihat wajah sang kekasih yang beberapa kali kedapatan sedang melamun


Saat ini, mereka berdua sedang berjalan-jalan di bibir pantai.


Setelah makan malam tadi, Allgar memang membawa kekasihnya untuk dia ajak jalan-jalan.


Sekarang area pantai sudah tak terlalu gelap seperti pertama kali Gazbiyya datang ke sini. Sekarang sudah ada penerangan yang berasal dari lampu-lampu yang sengaja di pasang Allgar.


Mengetahui jika sang kekasih sangat suka menikmati suasana pantai, oleh karena itu Allgar mencoba memberi kenyamanan bagi kekasihnya itu.


"Kalau ada hal yang mengganggu pikiran, kamu bisa cerita sama aku" ucap Allgar sembari memainkan jari-jari lentik milik Gazbiyya


"Kak, apa kamu akan selamanya berada disini?


Apa suatu saat nanti kamu akan kembali pulang ke tempat asalmu?"


Gerakan tangan Allgar yang semula sedang memainkan jari-jari sang kekasih pun refleks terhenti begitu mendengar pertanyaan kekasihnya itu.


Allgar tidak pernah mengira jika suatu saat nanti Gazbiyya akan bertanya seperti itu padanya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Gazbiyya tersenyum tipis kala yang dia dapat malah pertanyaan balik dari Allgar.


Tak bisakah kekasihnya itu langsung menjawab pertanyaannya tadi?


Bukan malah memberikan pertanyaan balik.


"Karna aku ingin tahu. Seberapa lamakah waktu yang masih kita punya untuk menghabiskan kenangan bersama" jawab Gazbiyya sembari menatap langsung pada kedua mata Allgar


"Kamu kepikiran soal omongan Elvan tadi?" tanya Allgar yang sekali lagi membalas ucapan Gazbiyya dengan sebuah pertanyaan


"Enggak juga. Namun dari pertanyaan Kak Elvan tadi, aku jadi berpikir kalau mungkin gak sih, kita berdua akan terus selamanya berasama"


"Soal omongan Elvan tadi, seharusnya kamu gak perlu memikirkannya terlalu dalam sayang.


Yang penting kan sekarang kita masih bersama dan baik-baik saja" ucap Allgar sembari mengelus puncak kepala Gazbiyya dengan lembut


Lihat kan, Allgar sama sekali tak terpengaruh oleh omongan Elvan dan juga pertanyaan Gazbiyya tadi.


Allgar terlihat baik-baik saja, namun tidak dengan Gazbiyya.


"Jadi, apakah itu artinya kamu akan tetap disini terus Kak?" tanya Gazbiyya yang masih keukeuh dengan pertanyaannya tadi


Allgar melepaskan tangan Gazbiyya yang semula tengah dia mainkan, tubuhnya menghadap hamparan laut lepas yang berujung dengan kegelapan.


"Jujur, aku juga gak tahu Biyya.


Dulu alasanku datang kesini karna suatu tuntutan. Namun aku juga sadar, kalau cepat atau lambat pasti akan ada hari dimana aku diharuskan untuk kembali pulang"


Allgar tahu betul jika akan ada masa dimana orang tuanya akan memintanya untuk kembali pulang.


Meski Allgar tidak tahu, kapan kah hari itu akan tiba?


Jika boleh memilih, Allgar pasti menginginkan untuk tinggal disini selamanya.


Di tempat ini, dia dan Allya tumbuh bersama. Dan di tempat ini juga, Kakak kembarnya menghembuskan nyawa terakhir.


"Jika hari itu tiba, apakah Kak Allgar juga akan membawaku bersama?" tanya Gazbiyya untuk kesekian kalinya


Tanpa Gazbiyya sadari, akibat pertanyaannya, tubuh Allgar berubah menegang.


Bibirnya seakan terkunci rapat seolah takut jika jawabannya mungkin akan menyakiti sang kekasih.


Allgar kembali teringat ucapan Kevlar saat dimeja makan tempo lalu.


Sepupunya itu pernah mengingatkannya untuk tak terlalu terbawa perasaan saat bersama Gazbiyya.


Kevlar juga menyesalkan keputusannya karna sudah mengikat Gazbiyya untuk menjadi kekasihnya.


"Gak usah dijawab" ujar Gazbiyya bersama dengan gerakan tangannya yang melingkar di tubuh sang kekasih


Gazbiyya menenggelamkan wajahnya di punggung kokok milik Allgar.


Ada perasaan menyesal yang perlahan menyusup akibat mulut lancangnya, tak seharusnya dia bertanya seperti itu pada Allgar.


Karna yang tersisa sekarang adalah perasaan bimbang, sesak dan juga takut.


...•••...