The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 14. Dandelion dan Makna Dibalik Kesederhanaannya...



Seperti yang sudah diperkirakan oleh Allgar tadi, setengah jam kemudian mobil yang mereka kendarai telah sampai ditempat tujuan.


Lalu Allgar keluar dari mobil di ikuti oleh Gazbiyya, mereka berdua menenteng bawaan masing-masing.


Gazbiyya membawa keranjang makanannya dan Allgar membawa sebuah tikar gulung.


"Ayo, tempatnya tak terlalu jauh dari sini. Mungkin hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan berjalan kaki"


Gazbiyya mengangguk dan mulai berjalan kaki di samping Allgar.


Kakinya berulang kali bergesekan dengan rumput liar yang tumbuh ditanah, namun dia sangat menyukainnya.


Semua yang terlihat di mata tampak sejuk dengan nuansa kehijauan, mengingatkannya pada jalan menuju kebun buah yang waktu itu dia kunjungi.


Sampai 10 menit kemudian, mereka sampai di sebuah padang bunga Dandelion.


Hamparan luas itu dipenuhi dengan si bunga putih sederhana yang bernama Dandelion.


Bahkan sampai senangnya, Gazbiyya tak sadar jika dirinya sudah memeluk tubuh Allgar yang berada di belakangnya.


"Makasih banget kak, Ini indah sekali" ucapnya dengan kedua tangan yang masih bertengger melingkari punggung kokok milik Allgar


"Sama-sama, bagus lah jika kamu menyukainnya"


Dan Allgar sendiri seakan ikut terhipnotis oleh suasanan, tangannya dengan berani mengelus rambut lurus milik Gazbiyya dengan lembut.


Kemudian dengan salah tingkah, Gazbiyya pun melepaskan pelukannya tadi. Sepertinya gadis itu telah sadar dengan kelancangannya yang telah memeluk tubuh Allgar secara tiba-tiba.


Untuk menutupi pipinya yang terasa memanas, Gazbiyya mulai berjalan mendekat ke arah bunga Dandelion berada.


Sedangkan Allgar, dia memilih untuk menggelar tikar yang dibawanya tadi di bawah sebuah pohon besar. Tangannya dengan cekatan menata berbagai cemilan dan juga minuman yang berada didalam keranjang.


"Kak Allgar, aku boleh memetiknya tidak?" tanya Gazbiyya dengan suara yang dibuat cukup keras,


"Boleh" Jawab Allgar dengan singkat,


Lalu setelah selesai menata semuanya, Allgar duduk manis dia atas tikar. Ada minuman kaleng dingin yang berada ditangannya,


Sebuah senyuman tipis refleks terbit saat matanya memperhatikan gerak-gerik gadis yang berada tak jauh darinya, Gazbiyya terlihat begitu senang.


Bibirnya beberapa kali meniup tangkai kecil yang menopang bunga Dandelion. Dan gadis itu akan tertawa kecil saat bunga-bunga putih itu terlepas dari tangkainya, terbang mengikuti arah angin.


"Mau ku Foto kan?" tanya Allgar yang ternyata sudah berada dibelakang Gazbiyya


"Boleh, tolong foto kan yang bagus ya kak" pintanya dengan tersenyum manis


Gazbiyya mulai memasang berbagai ekspresi dn gaya, ketika Allgar mulai membidik ke arahnya menggunakan ponsel lelaki itu.


Entah sudah berapa foto yang berhasil di ambil oleh Allgar, lelaki itu tampak sabar menuruti berbagai permintaan dari Gazbiyya.


Bahkan tak jarang Allgar juga memberikan saran tentang gaya apa lagi yang akan dilakukan oleh Gazbiyya.


"Ayo kita foto bareng kak, buat kenang-kenangan" ajak Gazbiyya sembari menarik tangan Allgar menuju tempat yang lebih ke arah tengah bunga


Allgar tak menolak, meski ekspresinya hanya berupa senyum tipis.


Namun harus Gazbiyya akui jika Allgar terlihat sangat tampan dengan wajah datar maupun saat tersenyum.


Setelah acara berfoto selesai, Allgar mengajak Gazbiyya untuk kembali ke tempat peristirahatan tadi.


Keduanya memakan cemilan dengan ditemani pemandangan indah milik bunga Dandelion.


"Gazbiyya, apakah kamu tahu makna dari bunga Dandelion?" tanya Allgar sembari matanya lurus kedepan


"Gak tahu kak. Memangnya ada maknannya juga ya?"


"Ada" balas Allgar dengan singkat,


Dulu di masa lalu, ada seseorang yang memberitahukan sebuah makna menyentuh hati milik si bunga sederhana Dandelion.


"Bunga Dandelion memiliki filosofi tentang Pengharapan, Cinta, Kebahagiaan, Keceriaan serta Kesetiaan.


Kamu pasti tidak menyangka jika bunga sederhana itu memiliki arti yang bermakna" ujar Allgar pada Gazbiyya


"Waw... Kak Allgar keren banget. Kakak bahkan tahu banyak tentang bunga itu.


Benar, selama ini yang aku tahu memang sekedar jenis bunga indah, namun aku tidak tahu filosofi dari bunga-bunga itu"


Allgar tertawa kecil mendengar ucapan gadis di sebelahnya. Dulu dia juga sama seperti Gazbiyya, bahkan dia tidak terlalu menyukai bunga jenis apapun.


Namun ada yang merubah dirinya, merubah pandangannya terhadap sebuah bunga.


"Dandelion adalah bunga yang bisa tumbuh dan beradaptasi di mana pun dia berada.


Bahkan bunga rapuh itu bisa tetap mempertahankan bagian bunganya agar tidak rusak meski dalam keadaan terhempas angin, dan bunganya tersebar sekalipun"


Allgar memberikan jeda pada penjelasanynya, ditatapnya sosok Gazbiyya yang terlihat mendengarkan ucapannya dengan khidmat.


"Dandelion juga bunga yang pemberani, bunga itu akan terus terbang sendirian hingga pengaruh angin itu hilang.


Selain itu, Dandelion juga Optimis. Dalam lingkungan yang baru, bunga dandelion pun bisa tumbuh hingga menghasilkan kehidupan yang baru"


"Kak Allgar" panggil Gazbiyya dengan tiba-tiba


"Ada apa?"


"Sebelum kesini, kamu browsing di internet terlebih dahulu ya kak? Kok bisa paham banget sama makna dan filosofi bunga Dandelion"


Dan Allgar dibuat tertawa keras oleh pertanyaan polos dari Gazbiyya, bisa-bisanya gadis itu menuduhnya browsing di internet.


"Bisa aja sih kamu, Biyya. Aku gak mungkin buang-buang waktu, hanya untuk mencari filosofi dan makna dari sebuah bunga" tawanya masih berderai, sembari tangannya dengan refleks mengacak puncak kepala Gazbiyya


"Ya terus, dari mana dong? Gak mungkin kan, kalau bunga Dandelion sendiri yang bilang ke kak Allgar"


"Kamu lucu banget sih, Biyya"


Sedangkan Gazbiyya merasa sebal dengan ulah tangan Allgar yang terus mengacak rambutnya disela suara tawa milik lelaki itu.


Allgar yang memahaminya pun segera menarik tangannya dari puncak kepala Gazbiyya, jangan sampai membuat Gazbiyya marah.


"Bukan browsing di internet, melainkan ada seseorang yang pernah menjelaskannya padaku.


Dia bilang, bunga Dandelion memiliki kehidupan seperti kami. Oleh karena itu, dia memaksaku untuk membuatkan padang bunga berwarna putih itu"


"Dia adalah kakak ku, Biyya. Saat kami harus terpaksa mengasingkan diri di Kota Grissham, Kakak berkata bahwa kami harus hidup seperti bunga Dandelion.


Mudah beradaptasi di mana pun kami berada.


Bisa menjaga diri meski banyak tantangan yang menghampiri.


Menjadi pribadi yang pemberani dan juga selalu berpikiran Optimis"


Allgar pernah menyerah disaat harus kehilangan sang kakak, separuh jiwanya menghilang dan menyisakan sebuah dendam.


Namun sekarang dia merasa lemah, entah dia akan melanjutkan misi balas dendamnya atau lebih memilih berdamai seperti permintaan sang kakak.


"Kak Allgar, kakak yang kuat ya. Aku yakin kalau saat ini, kakak kak Allgar sedang tersenyum di surga sana.


Dia pasti bangga sama kamu, kak. Karna dia bisa melihat jika adiknya hidup dengan baik" ucap Gazbiyya sembari menggenggam sebelah tangan Allgar,


Mulai saat ini, Gazbiyya akan menjadi seperti bunga Dandelion. Dia harus kuat menjalani hidup, lebih berani lagi dan selalu berpikiran optimis.


Supaya Mama, Papa, dan juga kakaknya bangga kepadanya.


...•••...