
Sinar Matahari yang menerobos masuk di sela-sela gorden, membuat Gazbiyya mengerutkan dahi tak suka.
Perlahan Gazbiyya membuka mata lentiknya, keadaan kamar yang terasa asing membuat Gazbiyya terdiam seaaat.
Dan beberapa detik kemudian, perempuan itu menepuk keningnya pelan. Lalu kepalanya menengok kesamping dimana Allgar sedang tertidur dengan damainya.
Terlalu larut dalam pesona sang kekasih, Gazbiyya sampai tak sadar jika tangannya sudah mulai berani mengelus alis sang kekasih.
"Ganteng banget sih" gumamnya yang terdengar seperti sebuah bisikan
Disaat tangannya mulai turun untuk mengelus bibir Allgar, dengan secepat kilat Gazbiyya menariknya kembali.
Sekarang bukan saatnya untuk mengagumi kesempurnaan wajah sang kekasih, tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk kabur dari sini.
Rasanya pasti akan sangat canggung saat dia dan Allgar saling bertatapan, dengan keadaan tubuh yang sama polosnya.
Jadi, mumpung Allgar masih tertidur, dirinya harus memanfaatkan waktu baik ini untuk segera keluar dari kamar sang kekasih.
"Untungnya kamu masih tidur, gak kebayang kalau aku harus bertatapan langsung sama kamu" gerutu Gazbiyya sembari memakai kembali gaun yang semalam dia pakai
"Sampai ketemu lagi sayang,,, aku kabur dulu ya"
Setelah membubuhkan ciuman singkat di pipi kanan Allgar, Gazbiyya pun segera berlalu pergi dari sana.
Saat tubuh Gazbiyya telah sepenuhnya menghilang dibalik pintu kamar, dengan santainya Allgar merubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar diranjang.
Senyuman manis terukir dibibirnya...
Sebenarnya Allgar sudah bangun terlebih dahulu sebelum Gazbiyya.
Lelaki itu juga sempat mengagumi wajah cantik sang kekasih.
Dan juga sempat mengecup bibir Gazbiyya, dan karna kecupan itu lah yang akhirnya membuat Gazbiyya terbangun.
Lalu dengan sengaja Allgar berpura-pura untuk tidur kembali, Allgar ingin melihat respons kekasihnya itu dikala menemukan mereka berdua berada diranjang yang sama dengan keadaan polos.
Karna Allgar memiliki keyakinan jika kekasihnya itu sama sekali tidak mengingat malam panas yang sudah mereka lalui bersama.
Gazbiyya terlalu mabuk untuk mengingat semuanya...
Namun harus Allgar syukuri karna dia berhasil mengendalikan diri untuk tak kehilangan kendali.
Allgar bisa menahan keinginan untuk kembali mencicipi darah manis milik kekasihnya itu.
Teringat jika dirinya masih memiliki pekerjaan yang harus segera di urus, Allgar segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar 10 menit kemudian, Allgar sudah rapi dengan setelan khasnya. Kemeja berwarna navy dan juga celana jins panjang yang berwarna sama.
Meskipun seorang Vampir, namun Allgar juga memiliki pekerjaan seperti manusia yaitu Pengusaha.
Allgar memiliki beberapa pabrik yang memproduksi berbagai jenis Makanan dan Minuman, dia juga memiliki Restoran yang bernama THE IMMORTAL.
Sedangkan di Kota Ainsley, Allgar juga memiliki usaha penginapan yang berupa rumah-rumah kecil mirip disebuah negri dongeng.
Penginapan itu juga menyuguhkan wisata Air Terjun, padang rumput hijau dan padang Bunga Lavender.
Tak jauh dari penginapan juga ada desa penduduk yang menawarkan berbagai makanan enak dan juga pernak-pernik unik lainnya.
Lalu untuk agenda Allgar hari ini adalah pergi ke salah satu Pabrik baru miliknya, Pabrik yang baru beroperasi sekitar 3 bulan lalu.
Pabrik itu memproduksi kain dan juga pakaian jadi.
Hasil Pabrik itu yang nantinya akan dikirimkan ke tempat asalnya, sebuah tempat yang sangat jauh.
"Mau berangkat jam berapa kita All?" tanya Kevlar pada sepupunya itu
Allgar lantas mengechek jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sekarang sudah pukul 8 pagi.
Hari ini seluruh penghuni Mansion melewatkan acara sarapan bersama, mereka terlalu lelah dengan pesta semalam.
"Setengah jam lagi kita berangkat, aku akan menemui Gazbiyya terlebih dahulu" ujar Allgar sembari menyuapkan kembali makanannya kedalam mulut
Kevlar yang mendengarnya pun terkekeh pelan,
"Bukan kah tadi malam kalian pergi bersama? Apakah yang semalam masih belum cukup?" tanya Kevlar dengan senyuman mengejeknya
"Tadi pagi sekali dia meninggalkanku di atas ranjang sendiri. Dia kabur, dan kami belum sempat bicara lagi"
Kevlar yang semula hanya terkekeh pelan, kini berganti dengan tawa keras.
"Serius? Sebuah fenomena langka, dimana seorang Allgar Kavindra ditinggal pergi oleh teman tidurnya"
"Aku turut bersedih hati, Bro" lanjut Kevlar dengan tawa yang masih berderai
Sedangkan Allgar sendiri hanya membalasnya dengan sebuah senyuman, apa yang dilakukan Gazbiyya memang lah hal baru untuknya.
Jika biasanya dialah yang terlebih dahulu meninggalkan wanita-wanita murahan itu, maka bersama Gazbiyya, Allgar akan mengalah.
"Sejujurnya, sampai sekarang aku masih belum mengerti. Kenapa kamu menjadikan Gazbiyya sebagai kekasihmu, All?"
Gazbiyya manusia biasa dan kamu adalah Vampir murni.
Hubungan kalian hanya akan mengulangi kesalahan itu lagi, All"
Bukan berarti Kevlar membenci Gazbiyya atau menolak kehadiran peempuan itu disini.
Malahan Kevlar sudah mrnganggap Gazbiyya seperti adiknya sendiri, sama seperti Claretta dan Kinara.
Namun hubungan antar dia dan Allgar memang tak seharusnya terjadi, Gazbiyya hanya akan memupuk luka.
"Aku sudah selesai, aku akan menemui Gazbiyya dulu"
Allgar sengaja menghindar, dan Kevlar tahu itu.
Hanya saja Kevlar masih tidak bisa mengerti jalan pikiran sepupunya itu, Allgar terlalu misterius dan pendiam bila menyangkut perasaan.
...•••...
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu kamar Gazbiyya, perempuan yang baru saja menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang itu pun harus bangkit kembali.
Ketika pintu sudah terbuka, wajah tampan Allgar menjadi pemandangan pertama yang Gazbiyya lihat.
"Pagi" sapa Allgar sembari tersenyum
"Pagi juga" Gazbiyya membalasnya dengan salah tingkah
Niatnya hari ini dia akan menghindari kekasihnya itu, bahkan Gazbiyya dengan sengaja melewatkan sarapannya.
Namun siapa sangka jika Allgar malah menghampirinya duluan.
"Kenapa gak turun ke bawah buat sarapan?"
"Emb, itu, aku belum lapar kak. Mungkin nanti saja sekalian bareng Kinara" jawab Gazbiyya dengan gelagapan
Allgar tampak terdiam sesaat, sembari menatap wajah sang kekasih dengan lekat. Lelaki itu teringat dengan ucapan Kevlar di meja makan tadi,
"Hari ini aku mau pergi sama Kevlar, kami akan mengunjungi salah satu Pabrik.
Kamu gak papa kan, kalau aku tinggal?"
Gazbiyya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum manis, dia sama sekali tak keberatan jika harus ditinggal Allgar kerja.
Lagi pula, sebelumnya juga dia hanya ditemani Claretta dan Kinara.
"Jangan lupa sarapan! Kalau males turun ke bawah, kamu bisa minta tolong sama pelayan untuk membawakan sarapan ke sini"
"Iya kak, kak Allgar gak perlu khawatir. Aku pasti sarapan kok"
Allgar mengelus rambut panjang kekasihnya yang kini tergerai indah, rambut yang bahkan belum sepenuhnya kering.
Perpaduan antara aroma sampo dan juga body lotion menguar dari tubuh Gazbiyya.
Jika seperti ini, rasanya Allgar ingin membawa Gazbiyya bersamanya saja.
Tak ingin berpisah barang sebentar saja.
Mungkinkah Allgar sudah jatuh cinta pada sosok didepannya ini?
"Memangnya kak Allgar mau pergi berapa lama?" tanya Gazbiyya yang berusaha mencairkan suasana,
"Nanti malam sudah pulang kok"
"Oh, aku kira mau pergi beberapa hari gitu"
Allgar mengerutkan dahi tak suka, ucapan Gazbiyya seolah menginginkan dirinya pergi untuk waktu yang lama.
"Kamu senang kalau aku pergi lama?" tanya Allgar dengan nada kesal
"Eh, bukan gitu maksud aku kak. Aku cuma.. itu.." Gazbiyya dibuat gelagapan demi menjawab pertanyaan Allgar
Padahal Gazbiyya tak memiliki niat apapun, yang tadi itu hanya ucapan biasanya baginya.
Namun Allgar malah memaknainya berbeda,
"Udah, gak usah dijawab. Karna kamu menginginkan aku pergi, kalau gitu aku pamit dulu" ujar Allgar dengan suara dingin
Meski sekarang wajah ramah Allgar telah berganti dingin, namun sebelum pergi, Allgar masih menyempatkan diri untuk mencium kening Allgar.
Membuat Gazbiyya bingung dibuatnya.
Sebenarnya, kekasihnya itu sedang marah atau tidak sih?
...•••...