The Immortal_Allgar&Gazbiyya

The Immortal_Allgar&Gazbiyya
Bab 23. Keajaiban...



Allgar langsung keluar dari mobil, ketika Elvan baru saja menghentikan mobilnya.


"Allgar, pelan-pelan" teriak Elvan saat melihat sahabatnya itu seperti orang kesetanan


Bahkan lelaki itu sama sekali tak menghiraukan ucapan Elvan. Tujuannya saat ini adalah ruang kesehatan, dimana Gazbiyya sedang dirawat.


Tadi saat Allgar dan Elvan sedang perjalanan menuju Kota, tiba-tiba ditengah jalan dihubungi oleh Claretta.


Sepupunya itu menyuruhnya untuk segera kembali ke Mansion,


Saat Allgar berada dilorong menuju ruang kesehatan, lelaki itu mempercepat langkahnya menjadi lari.


Dan ketika langkahnya telah sampai didepan pintu, dengan tidak sabaran, Allgar membukannya.


Sontak perbuatannya itu langsung mengagetkan orang-orang yang berada didalam ruangan.


"Allgar" seru Vilash ketika melihat keadaan Allgar, yang datang dengan wajah panik juga helaan nafas yang saling berkejaran


"Bagaimana keadaan Gazbiyya? Dia baik-baik saja kan?" Allgar bertanya dengan tidak sabaran


Claretta, Kinara dan Vilash yang melihatnya berusaha untuk menahan tawa.


Lelaki yang slalu bersikap dingin itu terlihat lucu menggemaskan dimata mereka bertiga.


"Kak Allgar" terdengar panggilan lirih sembari di ikuti gerakan Kinara yang perlahan menyingkir dari posisinya


Dan sekarang, Allgar sudah bisa melihat Gazbiyya yang tengah bersandar di kepala ranjang pasien.


Perempuan yang memiliki pesona menarik itu, kini sedang menatap Allgar dengan senyuman manisnya.


"Gazbiyya" lirih Allgar sembari berjalan pelan mendekati Gazbiyya


"Kak Allgar, apa kabar?"


Dari sekian banyak kata, Gazbiyya lebih memilih untuk menanyakan kabar dari lelaki itu.


"Kamu, kamu beneran sudah sadar Gazbiyya?" sembari menggenggam tangan Gazbiyya


"Seperti yang kak Allgar lihat sekarang, aku sudah kembali" jawab Gazbiyya dengan senyuman yang setia menghiasi bibirnya


Keduanya sama-sama terdiam dengan pandangan saling menatap satu sama lain. Tak ada lagi ucapan, namun senyuman dan sorot mata seakan sudah mewakili segalanya.


Allgar terlalu syok dengan kenyataan yang terjadi sekarang. Saat mendengar kabar dari Claretta tadi, pikiran Allgar hanya dipenuhi dengan kemungkinan buruk yang telah terjadi pada Gazbiyya.


Namun ternyata dia salah, sekarang Gazbiyya telah sadar. Perempuan yang membuat khawatir semua orang itu sudah kembali lagi.


"Sepertinya kita mesti keluar dulu deh Cla, soalnya gak kuat kalau harus berubah jadi nyamuk" celetukan dari Kinara menyadarkan Allgar dan Gazbiyya jika disekitarnya masih ada orang lain juga


"Ya udah, kita keluar dulu ya Biyya. Nanti kita kesini lagi kok" pamit Claretta kemudian


Vilash pun ikut pamit keluar. Namun sebelum pergi, dia juga berpesan pada Allgar untuk memanggilnya jika ada masalah dengan Gazbiyya.


Sepeninggalan dari ketiga orang tadi, kini yang tersisa hanya Allgar dan Gazbiyya.


"Mau minum?" tanya Allgar yang tiba-tiba menawarkan minuman untuk Gazbiyya,


Terlihat sekali jika Allgar merasa sedikit canggung dan salah tingkah, entah apa yang sudah terjadi padanya.


Meski tak merasa haus, namun Gazbiyya tetap menerima tawaran minum dari Allgar.


"Kata Claretta, tadi kak Allgar sama kak Elvan mau pergi ya? Gara-gara aku, kalian harus terpaksa putar balik deh"


"Gak papa, lagi pula gak terlalu penting juga" balas Allgar yang kini sudah mulai terlihat santai


"Kamu beneran sudah merasa baikan? atau masih ada yang sakit?"


"Aku beneran udah merasa baik-baik saja kok kak. Badan aku malah rasanya lebih enteng, seperti baru bangun tidur" balas Gazbiyya dengan tawa kecil


"Kamu bukan habis terbangun dari tidur, Biyya. Tapi kamu baru terbangun dari koma"


Gazbiyya tertawa kecil mendengar ucapan Allgar, Vilash juga tadi menjelaskan jika dirinya sudah koma selama 3 hari lebih.


Dan entah keajaiban dari mana, tiba-tiba dirinya terbangun dari masa kritisnya itu.


"Tapi kak, aku masih bingung deh. Kenapa aku bisa tiba-tiba Koma ya.


Padahal seingatku, pas di kamar Kendrick. Yang luka cuma tanganku, dan itu pun cuma goresan kecil"


Allgar terdiam mendengar ucapan Gazbiyya. Apa mungkin Gazbiyya lupa dengan apa yang sudah terjadi diantara mereka?


"Gazbiyya, kamu, apakah kamu masih ingat dengan kejadian di Villa malam itu?" tanya Allgar dengan ragu


Kala itu tubuhnya merasakan hal aneh yang selama ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. Lalu dia meminta tolong pada Allgar, dan akhirnya lelaki itu mau menghampirinya.


Allgar menghisap tangannya yang saat itu mengeluarkan darah akibat goresan luka.


Dan selanjutnya... dia mencium lelaki itu..


Kemudian mereka....


Ah Gazbiyya... sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan pada malam itu..


Kenapa kamu berbuat seperti wanita murahan didepan Allgar..


Gazbiyya refleks menutup wajahnya menggunakan tangan, saat dirinya diserang oleh rasa malu.


Kenapa juga dia mesti mengingatnya, padahal akan lebih baik jika dia hilang ingatan saja. Meski tak terlalu jelas, namun Gazbiyya tahu jika malam itu dia dan Allgar sudah bercinta.


"Gazbiyya, kamu kenapa?" Allgar bertanya dengan nada khawatir


Allgar sama sekali tak menyadari jika saat ini Gazbiyya tengah menyembunyikan rasa malunya.


"Apakah ada yang sakit? Atau kepala kamu pusing? Mau aku panggilkan Vilash sekarang?" pertanyaan itu dengan lancar keluar dari mulut Allgar


Sedangkan Gazbiyya membalasnya dengan gelengan cepat, sembari kedua tangan yang masih menutupi wajahnya.


"Aku baik-baik saja kak, gak ada yang sakit"


"Terus kenapa wajahnya ditutupi seperti itu, Biyya?" ujar Allgar dengan gemas


"Aku malu kak" seru Gazbiyya pelan


Awalnya Allgar masih belum paham, kenapa Gazbiyya harus merasa malu padanya. Lalu beberapa detik kemudian dia sadar jika Gazbiyya mungkin malu karna teringat kejadian waktu di Villa malam itu.


Itu artinya, Gazbiyya ingat semua kejadian di Villa.


"Biyya, apakah kamu malu karna kita sudah bercinta dimalam itu?" tanya Allgar dengan jahil


"Kak Allgar" teriak Gazbiyya dengan kesal


Kenapa pula Allgar mesti mengatakannya dengan jelas, apakah lelaki itu tidak tahu jika dirinya setengah mati menahan malu.


"Oke, iya aku minta maaf. Tapi mukanya jangan ditutupi gitu dong, kan cantiknya jadi gak kelihatan lagi"


Gazbiyya menurunkan tangannya yang semula menutupi wajah.


Perempuan itu mendelik tajam pada Allgar, yang malah dibalas suara tawa oleh lelaki itu.


"Biyya, aku mau bicara serius sama kamu" Allgar kembali menarik tangan Gazbiyya untuk kemudian dia genggam


"Soal malam itu, aku minta maaf. Aku sam..."


"Jadi, kamu menyesal kak?" potong Gazbiyya terlebih dahulu


"Kamu dengarkan dulu penjelasanku ya" pinta Allgar dengan lembut,


Akhirnya Gazbiyya pun menganggukkan kepalanya, dia menuruti permintaan dari Allgar.


"Aku gak bilang kalau aku menyesal sudah menidurimu. Karna buatku, malam itu sungguh sempurna"


Tanpa bisa dicegah, kedua pipi Gazbiyya kembali merona. Bahkan dia harus mengigit bibir bagian dalamnya, demi menahan sebuah senyuman.


"Tapi ada hal penting yang belum kamu ketahui tentangku, Biyya.


Dan penyebab kamu Koma adalah aku, aku lah yang sudah membuat kamu berada dalam bahaya" jelas Allgar yang sama sekali tak membuat Gazbiyya paham dengan maksud dari lelaki itu


Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada mereka berdua pada malam itu?


Karna yang Gazbiyya ingat hanya sekadar sentuhan keduanya, dan itu pun juga samar-samar.


Apakah Allgar melukainya? Tapi dia tidak merasakan sakit apapun, bahkan sekujur tubuhnya pun juga tak ada bekas luka parah.


Tapi tunggu dulu, saat mereka melakukannya pada malam itu.


Allgar terlalu sering menempatkan bibir dilehernya, dan rasanya memang sedikit aneh.


Tanpa sadar, Gazbiyya refleks menyentuh lehernya. Kedua matanya menatap Allgar dengan dahi berkerut,


...•••...