
Mengingat pertemuan konyol dengan gadis cabe-cabean itu, tersirat senyum di bibir Lino. Entah apa yang membuatnya bisa sebahagia ini.
Bagaimana sesosok Lino bisa berbicara hal seperti itu, mengajak gadis cabe-cabean menikah? Tentu bukanlah keseriusan. Itu hanyalah sebuah candaan yang ternyata ampuh untuk membungkam bibir gadis cabe-cabean itu.
________
Hari ini Sarya sudah kembali ke sekolah. Baginya dan sebagian murid lainnya, hari Minggu bukanlah hari yang menyenangkan karena mungkin sebagian murid berfikir bahwa hari Minggu adalah awal mula menumpuknya tugas dan bertemunya dengan kekejaman guru yang seolah-olah tak berhenti untuk memberikan soal, soal dan soal.
Tentu hal itu di rasakan Sarya dan kawan-kawan karena sebentar lagi akan mengikuti ujian Nasional dan akhir sekolah. Jadi mereka terus belajar dan belajar hingga hari perang ujian itu tiba.
Sarya dan the gengs sudah sampai di sekolah, mereka segera masuk keruangan kelas.
''Hai Sarya,, Selamat pagi.'' Sapa seorang murid laki-laki pada Sarya, siapa lagi kalau bukan Amar. Dengan senyuman anti kepedean nya dia menyapa gadis itu.
Namun yang menjawab bukan Sarya melainkan Rini, si gadis centil nan genit.
''Hai juga babang tamvan,,.'' Tak lupa dengan sebelah kedipan mata centil.
''Ihh apaan sih, yang di panggil Sarya bukan Surya.'' Kata Nanda, tak kalah geram pada sahabat centilnya itu.
''Heh sembarangan aja ,, namaku Rini bukan Surya. Kalau Surya itu kan kang nasi campur seberang sekolah sana.'' Rini menjawab dengan nada sewot karena kesal dia disebut sebagai Surya.
Sedangkan yang disapa hanya melihat kelakuan dua orang teman yang otaknya sedikit gesrek itu. Dan hanya mengangguk untuk sekedar membalas sapaan Amar.
''Sudah sudah,, kalian ini berisik. Yang aku sapa aja malah diem bae, kok kalian yang heboh.'' Kata Amar dengan sewot.
Tak lama kemudian, bel masukan berbunyi dan mereka segera kembali pada posisi tempat duduknya masing-masing.
Dan para murid abstrak itu, melanjutkan pelajaran dengan membahas soal-soal ujian. Dengan perasaan malas atau bahkan ada juga yang merasa senang tentunya.
Jam istirahat telah tiba, Kini ketiga sahabat anti menstrem itu tengah duduk di bangku kantin, namun kali ini ada yang berbeda. Dalam gengs absrud itu terdapat anggota baru yakni si babang tampan Amar.
''Mau pesen apa nih, biar aku yang teraktir.'' Sebuah kata manis dari Amar yang bisa membuat nafsu makan setiap manusia yang mendengarnya jadi memuncak.
Dengan mata berbinar dan senyum devil Rini menjawab, ''Benerkah bang,, aku tak menyangka kau sangat baik hati pada kita,'' Rini berkata sambil menggenggam tangan Amar, ''Baiklah tanpa malu-malu lagi mari gengs tunjukkan bakat kita.'' Ajak Rini dengan gembira.
''Tunggu dulu,, eehh Amar,, kamu yakin gak takut nyesel? Ini beneran kah? coba pikir-pikir lagi takutnya kamu nanti serangan jantung .'' Sarya mencoba membenarkan ucapan Amar. Bisa saja dia nanti akan berubah pikiran.
Mendengar keseriusan dari ucapan Amar tadi, akhirnya ketiga makhluk tanpa dosa itu segera menunjukkan bakat memesan makanannya yang disebut-sebut melampaui jagad raya bumi Indonesia.
''Haaah!.'' Syok Amar ketika melihat hidangan yang tersaji di meja mereka. Kini dia benar-benar tak menyangka sisi lain dari gadis-gadis dihadapannya ini ternyata kalau soal makanan sangatlah sadis.
Dengan wajah tanpa dosanya mereka tak tanggung-tanggung memesan aneka makanan di kantin, seperti bakso, soto, cilok, batagor, mie kerupuk, pentol bakar, beberapa snake ringan dan jangan lupakan minuman yang beraneka ragam rasa.
''Seriusan ini asupan kalian?.'' Tanya Amar yang hampir saja terkena serangan jantung melihat selera makan gadis-gadis yang beranjak dewasa ini.
''Tuh kan,, apa ku bilang kamu bisa kena serangan jantung. Mar dengerin ya, meskipun kita ini terlihat langsing - langsing dan anggun. Tapi.... soal makanan uhhh jangan di tanya lagi, kita ini yang tukang habisin.'' Kata Nanda sembari membuka bungkusan snake ringan.
Rini menimpali, ''Iyupss benar bangetzzz, dan ya kalau kamu berteman sama kita jangan pelit-pelit kalau urusan makanan, karena ada dua hal yang harus kamu ingat.'' Kini Rini berdiri seolah sedang berpidato di hadapan ketiga kawannya itu.
''Pertama, jangan sekali-kali kamu menyembunyikan sesuatu hal besar pada sesama teman, baik peristiwa menyenangkan atau menyedihkan apapun itu ceritakan semua jangan ada yang ditutupi. Karena sesulit apa pun masalah itu kita akan berusaha mencari jalan keluarnya sama-sama.'' Kata Rini sambil memperagakan gerakan layaknya pejabat sedang berpidato didepan orang banyak.
''Terus yang kedua apa?.'' Tanya Amar.
''Yang kedua tentunya,,, Gak boleh pelit-pelit kalau masalah makanan, dan kalau bisa sering-sering telaktiran.'' Sambung Rini diselingi cengengesan.
''Yasudah para ratu-ratuku,, makanlah.. buatlah perut kalian sekenyang mungkin, biarlah sang raja ini duduk ditemani dengan segelas air segar dari pegunungan Himalaya dan sembari memandangi kalian makan, ayo silahkan dilanjutkan para permaisuri ku.'' Kata Amar dengan pasrah, menghadapi kepolosan para gadis dihadapannya ini.
''Baiklah kaakanda, adinda sekalian akan menuruti perintah kanda dengan senang hati.'' Jawab Rini dan jangan lupakan senyuman ala-ala wanita kerajaan.
''Khusus kau permaisuri utamaku,'' Tunjuk Amar pada Sarya. ''Ini ambilah, makanlah sesuka hatimu dan jika kurang katakanlah pada kanda, Aku akan memberikan lebih banyak lagi.'' Kata Amar sambil meletakkan beberapa tusuk pentol pada mangkuk Sarya, dengan nada khas ksatria kerajaan.
''Ihh apaan sih geli aku denger kelebaiyan kalian nih, dan kamu Mar apaan sih panggil aku pake permaisuri utama lagi, emang siapa yang mau menikah sama raja kek kamu, cuma modal harta doang, males banget.'' Ucap Sarya, sambil memasukkan potongan batagor kemulutnya.
''Iya tau Sar, selera mu kan om-om.. dasar Sarya, Kamu masih kecil suka sama yang om-om." Kata Nanda dengan potongan lagu diakhir kalimatnya itu.
Mendengar kata Om, membuat ingatan Sarya berputar pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Bersambung....
Jangan lupa like dan vote😍