
Hari yang paling menegangkan adalah hari dimana ujian diadakan.
Mentari mulai bersinar dengan cerah menyambut hari baru yang penuh dengan berkah, hari ini adalah hari yang paling menegangkan untukku, pelajaran Bahasa Inggris beserta ujiannya.
Rasanya aku masih gerogi dengan ujian nanti walau kemarin Juno sudah mengajariku mati-matian dan semalaman aku juga telah mengulang pelajarannya, tapi tetap saja aku tak bisa tenang, pikiran dan otakku mulai kacau tak karuan seperti ada beban berat yang mengganjal. Ini adalah harapan terakhirku, jika aku bisa menaikan nilaiku dan masuk dalam peringkat 15 besar di kelas, aku pasti bisa berpartisipasi dalam ujian masuk perguruan tinggi dan peluangku untuk satu universitas dengan Juno semakin besar walau aku tahu Juno memilih Universitas yang tak mudah untuk siapapun bisa masuk, tapi aku akan berusaha demi menggapainya. Entah bagaimanapun hasilnya nanti aku tak peduli, setidaknya aku sudah berusaha semaksimal mungkin.
“ Alana, apa kau tidak berangkat sekolah?” teriak Ibuku dengan lantangnya dari lantai bawah.
“ Iya, bu, aku sedang bersiap-siap.” jawabku yang terus menyisir rambutku menatap pantulan bayangan dari cermin.
“ Cepatlah, nanti kau terlambat!!”
Ibuku, Hwang Jane beliau selalu menjadi alarm pribadiku, setiap menit bahkan detikpun ia selalu meneriakiku untuk bangun dari tidur, makan, belajar bahkan untuk mandi sekalipun ia selalu berteriak menyuruhku, dialah wanita yang paling perhatian dalam hidupku walau terkadang juga ia sering memarahiku tanpa sebab yang jelas, tapi aku tahu ia melakukannya karena ia menaruh harapan besar padaku.
Kali ini aku harus bisa membuatnya bangga, aku harus bisa masuk dalam 15 besar peringkat di kelas, setidaknya tidak melulu dalam peringkat 39 dari 40 siswa, ya akulah siswa dengan peringkat nomor dua dari bawah. Ini memalukan sekali, bukan? Jika kalian tahu, Juno adalah bintang kelas di kelasku dia selalu menjadi yang nomor satu di sekolah dan sementara aku, aku selalu menjadi nomor satu dari bawah. Memang hidup ini tak adil.
Pagi itu dengan diiringi hembusan angin pagi yang menerpa sejuk, aku bergegas pergi menuju sekolah dengan mengayuh sepedaku. Hari ini, Juno tak datang untuk menjemputku, ia berkata bahwa ia tidak akan berangkat bersamaku karena ia takut jika konsentrasiku terganggu karena ia ada di dekatku, sebenarnya ini sangat berlebihan tetapi memang benar adanya jika Juno ada disisiku, aku selalu lupa dengan hal yang penting dihidupku. Pagi ini, aku benar-benar mengayuh sepedaku sendirian, sepi, sendiri tanpa orang yang menemani. Di sepanjang perjalanan, aku mencoba mengingat kembali materi yang kupelajari semalam tentang tenses-tenses yang Juno telah jelaskan. Semoga kali ini aku bisa mengerjakannya dan mendapat hasil yang memuaskan.
“ Hai, Alana.” sapa Mia dengan lantangnya yang penuh semangat api yang berkobar dalam jiwanya, sepertinya ia sangat siap menghadapi ujian Bahasa Inggris hari ini. Aku hanya menoleh menatapnya dan sesekali aku juga menguap.
“ Alana, Apa kau tidak tidur semalaman?” tanya Mia yang mulai panik melihat kantung mataku yang semakin menebal dengan mata yang memerah. Kini ia duduk menyerongkan tubuhnya ke arahku.
“ Apa kau sakit?” tambah Yui sembari tangannya memeriksa suhu tubuhku.
“ Tidak, semalaman aku belajar. Aku ingin nilaiku meningkat.” jawabku dengan nada yang sedikit lesu menahan kantuk. Aku benar-benar belajar tanpa henti semalaman.
Yui dan Mia mulai menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa heran.
“ Kau selalu bersusah payah demi Juno, benarkan? Ya Tuhan, sampai kapan kau terus begini, kau juga harus membatasi diri, Alana. Kau tidak bisa terus menerus memaksakan dirimu, kau punya batasan, ada kalanya manusia diberikan kekurangan dan kelebihan untuk saling melengkapi bukan untuk saling menyakiti seperti ini.” nasihat Yui yang mulai merangkulku dengan penuh rasa heran akan semua sikapku.
“ Apa aku salah?” tanyaku dengan mengerucutkan bibirku menanggapi ucapan Yui yang nampaknya mulai membuatku berpikir berlebih.
“ Kau tidak salah tapi sikapmu yang salah, kau boleh saja mencintai Juno tapi janganlah berlebihan seperti ini. Segala sesuatu yang dilakukan dengan berlebihan itu tidak baik, Alana. Kau juga jangan terlalu mencintai dan terobsesi dengan Juno, apa dengan kau bersikap demikian kau bisa menjamin bahwa Juno itu adalah jodohmu? Tidak, bukan? Berpikir logislah, Alana.” tegas Yui yang mulai merasakan sesuatu hal yang aneh yang kini menjangkit diriku. Aku hanya diam sembari menaruh kepalaku di atas meja.
“ Maafkan aku, aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku sendiri, aku buta karena cinta.” jawabku dengan penuh rasa bersalah.
“ Ya sudahlah, tak apa, Alana. Aku dan Yui memaklumimu. Sudahlah, jangan kau pikirkan, sekarang lebih baik kita fokus pada ujian nanti. Bukankah kau harus meningkatkan nilaimu untuk ikut tes perguruan tinggi?” cetus Mia dengan melempar senyum manis sembari tangannya mulai membelai halus punggungku dan menjadi sosok penengah antara aku dengan Yui yang tengah berdebat argumen. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Kulihat Juno beserta keenam jongos-jongos tampannya itu mulai memasuki ruang kelas, pagi ini ia juga tak menyapaku bahkan ia juga tak mau melirikku. Ia bersikap dingin sedingin es sikapnya sama seperti saat aku mengejar cintanya beberapa bulan bahkan tahun yang lalu. Kumencoba tuk memberanikan diri menoleh ke arahnya, ia hanya menyodorkan senyum ke arahku, sepertinya senyuman inilah yang menjadi sapaan selamat paginya untukku.
Bel sekolah mulai berdering nyaring, waktu ujian akan segera dimulai, Madam Yerin selaku guru Bahasa Inggris mulai mengeluarkan sebuah kertas lengkap dengan lembar jawaban dari sebuah amplop besar berwarna coklat. Hatiku semakin berdegup kencang tak karuan, sesekali aku juga menelan ludahku karena gerogi yang kini tengah berkecamuk dalam dadaku.
Aku tak pernah merasakan rasa sedahsyat ini, ini pertama kalinya aku merasakan gerogi yang tiada tara. Ujian ini adalah ambang dari harapanku, jika aku bisa menaikan nilai dalam nilai Bahasa Inggrisku maka aku bisa ikut ujian masuk perguruan tinggi.
Terlihat Juno mulai melemparkan sebuah kertas putih ke arah mejaku.
“ Tenanglah, tarik napas lalu buang. Kau pasti bisa mengerjakannya. Semangat, sayang!” bacaku dalam hati kulihat ada emoticon cinta yang tergambar dalam gulungan kertas yang Juno lempar. Aku tersenyum-senyum malu membacanya rasanya 100 persen semangatku kembali terisi dan rasa gugupku kini mulai menghilang, kurasa ini semua sebab Juno dan hanya Junolah obat dari segala macam penyakit yang ada pada diriku. Lebay? Tidak, ini kenyataan.
Madam Yerin mulai membagikan soal dan lembar jawabannya ke mejaku.
“ Alana, kerjakan dengan serius dan jangan lupa berdoa.” pesan Madam Yerin padaku sembari tersenyum menatapku. Aku hanya menganggukan kepala dan mengucap kata terima kasih padanya. Madam Yerin adalah guru yang paling baik dan perhatian yang pernah kutemui, ia sangat lembut, jika diibaratkan sebuah benda beliau seperti sebuah kapas, lembut dan ringan ya beliau adalah orang yang easy going terhadap muridnya.
“ Baiklah, kerjakan sebisanya, jujur dan jangan mencontek.” Tegasnya yang berdiri di depan kelas.
“ Baik, madam.” jawab serentak murid satu kelas.
Kubuka lembar soal itu, kulihat ada 50 pertanyaan yang memenuhi kertas putih nan kosong itu. Kubaca dengan seksama satu persatu soal yang ada, nampaknya ini sangat mudah. Aku mengerjakan soal itu dengan sangat mudah, semua materi yang diajarkan oleh Juno benar-benar masuk dalam soal ujian. Dia sangat pandai dalam memprediksi soal yang keluar. Melihatku yang cepat dalam mengerjakan soal, Mia yang sedari tadi duduk di sampingku mulai merasa heran.
“ Alana, kau mengerjakannya atau kau malah asal menjawabnya?” bisik Mia dengan nada yang heran melihatku sangat cepat mengerjakan dan menjawab soal yang ada.
“ Aku menjawabnya, kau tahu Mia soal ini sangat mudah. Aku menuyukainya.” Jawabku dengan melempar senyum sumringah dan kembali berbisik pada Mia.
“ Ini? Mudah? Kau bilang mudah? Wah, kau benar sudah tidak waras, Alana.” sindirnya sembari mengangkat soalnya dan tetap terperangah menatapku.
“ Mi Ya Jung, kerjakan sendiri.” teriak Madam Yerin yang memanggil keras nama Mia
“ B..baik, madam. Maaf.” responnya dengan nada yang sedikit menahan malu karena satu kelas menatapnya.
Juno yang sedari tadi menoleh ke arahku memeriksa apakah aku benar-benar mengerjakan soal itu atau tidak, tapi aku hanya fokus mengerjakan soalnya tanpa memandang Juno dan sekitarnya. Aku merasa otakku sangat ringan tuk di ajak berpikir.
“ Waktu habis, silahkan lembar jawaban di kumpulkan.” ucap Madam Yerin dengan lantangnya yang membuat gaduh satu kelas.
“ Mengapa cepat sekali.”
Murid-murid mulai berhamburan mengumpulkan ujian. Beberapa diantaranya masih mencari jawaban kosong kesana kemari. Aku merasa sangat tenang dalam ujian kali ini, aku benar-benar mempersiapkan dengan matang ujianku, aku yakin nilaiku akan memuaskan.
“ Alana, mengapa kau bisa secepat itu mengerjakannya?” tanya Mia dengan menatap penuh rasa penasaran. Aku hanya menyeringaikan bibirku membalasnya.
“ Sebenarnya Juno yang mengajariku, saat Madam Yuri memanggilku ke ruangannya kemarin. Tiba-tiba saja ia datang dan menawarkan diri untuk menjadi guru privatku, dia mengajariku hingga aku bisa mengingat semua materi yang ada.”
Mia dan Yui hanya terperangah dan menganggukan kepalanya.
“ Juno yang mengajarimu?” tanya Yui
Aku hanya mengangguk mengiyakan .
“ Ini mengagumkan, kalau seperti ini kau pasti bisa menaikan nilaimu, Alana.” gumam Yui dengan bertepuk tangan. Aku tersenyum manis membalasnya.
Kulihat Juno mulai berjalan menuju pintu kelas.
“ Juno!” panggilku dengan keras sembari melambaikan tangan kananku padanya.
“ Apa?” jawabnya dengan nada sedikit cuek.
“ Bolehkah aku ikut denganmu?”
“ Baiklah.” responnya dengan menganggukan kepalanya. Aku bergegas pergi bersama Juno menuju kantin sekolah. Mia dan Yui lagi-lagi kuabaikan, kali ini aku ingin berbicara banyak pada Juno dan berterima kasih atas semua pelajaran yang ia jelaskan kemarin.
“ Duduklah.” pinta Juno yang mulai mendorongkan sebuah kursi kantin untukku duduk di sana, aku hanya tersipu malu menatapnya. Jika seperti ini aku seperti seorang tuan putri.
“ Ceritakan padaku, bagaimana dengan ujianmu?” tanyanya yang mulai membuka topik pembicaraan sembari menyodorkan sebuah minuman kaleng padaku.
“ Ujiannya sangat mudah, kau tahu aku mampu mengerjakan semuanya dengan mudah tanpa hambatan sedikitpun dan otakku serasa ringan saat berpikir. Kau itu hebat Juno, kau bisa memprediksi soal-soal ujian dengan mudah. Aku beruntung sekali bisa memilikimu.” cerocosku dengan terus menatap kagum sosok pria yang kini duduk terdiam mendengarkan semua ocehanku.
Juno hanya tersenyum menatapku yang terus berbicara tanpa henti, sesekali ia juga meneguk minumannya dan menatapku dengan mata yang indah.
“ Kalau begitu, apa kau yakin bisa masuk 15 besar?”
Ucapan Juno kali ini membuatku berhenti berbicara seakan senyumku juga ikut memudar. Juno masih terus menatapku yang tiba-tiba saja terdiam.
“ Aku tidak tahu.” ucapku dengan menundukan kepalaku.
“ Baiklah, aku berjanji padamu, Jika namamu masuk dalam peringkat 15 besar aku akan mengajakmu pergi berkencan.” ujar Juno yang membuat hatiku kembali berdegup dengan kencang.
“ Satu ujian lagi menunggumu, Alana. Kau harus belajar, kau tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berkencan denganku, bukan?” tambahnya dengan membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku di tengah keramaian kantin sekolah.
Aku mulai tertegun mendengar perkataan mengejutkan yang Juno ucapkan, ia akan mengajakku berkencan jika aku masuk dalam peringkat 15 besar, apa aku bisa?
“ Juno berkata seperti itu?” kejut Mia dan Yui sembari tangannya menggebrak meja hingga membuat para pengunjung perpustakaan menoleh sadis.
“ Iya, esok adalah ujian matematika. Aku takut tak bisa berkencan dengannya.”
“ Kalau begitu kau harus belajar dengan giat, Alana. Mulai sekarang kau harus banyak berlatih soal matematika.” saran Yui dengan menyodorkan sebuah buku matematika.
“ Tapi, matematika itu sulit. Aku tidak bisa.” rengekku dengan menyanggah kepalaku dengan tanganku. Mia dan Yui mulai mengangguk mengiyakan seakan ia setuju dengan pernyataan yang kuutarakan.
“ Alana, biar aku yang membantumu dalam belajar matematika.” ucap seorang pria dengan suara yang serak basah yang tiba-tiba saja datang tanpa undangan. Aku dan kedua sahabatku mulai terperangah kaget melihat sosok pria gagah yang menjulang kokoh dengan menawarkan jasa untuk mengajariku matematika.
Siapakah sosok misterius itu? Mengapa ia mau mengajariku belajar matematika? Akankah aku bisa masuk dalam peringkat 15 besar dan bisa pergi berkencan dengan Juno