
Horay berkemah!!! Apakah kalian suka berkemah? Pernahkah kalian merasakan indahnya bercinta dalam kemah?
Yeay! Pekik semua siswa menyambut datangnya hari perkemahan.
Kali ini perkemahannya sangat berbeda, kami benar-benar berkemah di alam terbuka dekat aliran air yang jernih dan di kelilingi hutan hijau dekat sebuah Gunung Cheonggyesan, kami berkemah di salah satu tempat perkemahan terbaik yang ada di Seoul, Seoul Grand Park Campground.
" Apa kau sudah membawa kembang api?" tanya Mia dengan berbisik
" Sudah." respon jelasku, kali ini aku akan membuat pesta kembang api untuk mengukir kisah dengan Juno di perkemahan.
" Korek api? Kue dan lilin?" tambahnya dengan mengecheck barang dengan bertubi-tubi, aku sudah mengangkat jempolku bahwa aku telah membawa semua peralatan untuk membuat kejutan yang takkan pernah terlupakan bagi hidup Juno.
Di bawah letupan kembang api, aku datang dengan membawa sebuah kue dan lilin, memakan kue bersama dan bersandar di bahu bidangnya, kurasa ini akan menjadi hal yang sangat romantis jika di bayangkan. Aku menjadi tidak sabar untuk segera membuat kejutan ini dan bercengkrama mesra dengan Juno.
Selama di perjalanan, Juno terlihat sangat rupawan dengan jaket hitam yang melekat ditubuh. Andai saja aku yang duduk di sampingnya, betapa nikmatnya bisa bersanding di bahunya.
" Baik semuanya, dengarkan baik-baik, hari ini adalah event kalian, jadi gunakan sebaik-baiknya. Jangan melanggar peraturan yang telah di buat, kalian semua mengerti?" ucap Madam Yuri dengan menggunakan mikrofon dalam memberikan peringatan kepada semua siswa agar tidak sembrono dalam bertamasya.
" Baik, Mam." serentak semua siswa-siswi menjawab.
" Setelah ini, seluruh rangkaian acara akan saya serahkan pada kalian. Nikmatilah refreshing kalian." tambah Madam Yuri dengan tersenyum sumringah.
Hari ini aku sangat senang memandang Juno dengan mengenakan kaos berwarna hitam polos dengan ikat merah di kepalanya, ia terlihat sangat tampan, otot-otot kekar dan urat-urat lengannya terlihat sangat jelas ketika ia mencoba mendirikan tenda. Inilah yang dinamakan lelaki yang perkasa.
Tenda berhasil di dirikan, langit berubah malam dengan sangat cepat. dua hari kami akan berkemah di sini, nampaknya udara semakin dingin memaksa untuk segera membuat api unggun sebagai alat penghilang kedinginan.
Inilah yang kusuka dalam perkemahan, api unggun. Semua peserta menyanyikan lagu api unggun hingga api tersulut menghangatkan.
" Mari kita realisasikan rencana kita sebelumnya dan ini saatnya kita memulai untuk membuat kejutan Juno." bisik Mia dengan ku, aku menganggukkan kepala.
Aku sangat bersyukur karena aku telah di anugerahi sosok sahabat yang mau membantuku dalam memperjuangkan cinta seperti mereka.
" Yui, kau yang akan menata dan menyalakan kembang api, aku akan mencoba menaburi jalanan dengan kelopak bunga mawar dan aku juga akan membantumu untuk menyalakan lilin di atas kue setelah aku selesai aku akan membantu Yui untuk menyulut kembang api dan saat semua selesai sesuai rencana aku akan mengirimkanmu pesan, giliran tugasmu, kau harus mengajak Juno masuk ke hutan dan memintanya untuk mengikuti jalan sesuai taburan bunga mawar, kalian paham?" Ujar Mia sang perancang rencana, aku dan Yui mulai menganggukkan kepala karena paham.
Aku mencoba untuk mendekati Juno yang sedang mengenakan jaketnya, ia sangat indah tuk dipandang dari samping, tercium aroma tubuhnya yang wangi.
Aku tersenyum memandangnya.
Terdengar ponselku bergetar, nampaknya Mia telah berhasil menjalankan rencananya. Sekarang giliran aku mengajak Juno masuk ke dalam hutan, semoga saja dia mau.
" Juno, bisakah kau ikut denganku ke hutan?" bisikku di telinganya, namun ia menggelengkan kepalanya untuk tawaranku.
" Sebentar saja." tambahku dengan serius menatapnya.
" Baiklah." balasnya yang mulai ikut berbisik di telingaku.
" Ikutilah jalan yang bertabur bunga mawar ya." tambahku yang berbisik lagi.
" Baiklah, baiklah sebenarnya ini sangat membosankan, tapi apa yang ingin kau lakukan?" responnya dengan mengangkat jempol tangan kanannya.
" Rahasia, nanti kau juga akan tahu." Ia merespon senyum padaku.
Aku mulai berdiri, begitu juga dengan Juno yang dengan sigap mengikuti instruksiku untuk mengikuti kelopak mawar yang tergeletak di jalanan.
Namun, aku melupakan bahwa Rebecca Hong masih tetap ada di sekelilingku, tetap saja bahaya terus mengintaiku.
Juno telah sampai pada spot rencanaku dan ia berdiri tepat di atas bentuk love yang dibuat dengan kelopak mawar merah dan terhias lilin putih yang menyala di sana, begitu juga dengan Rebecca yang tiba -tiba saja muncul tak di undang dengan segala akting dan tipu dayanya, dia mencoba menarik perhatian Juno.
Jam menunjuk pukul 10 malam, ini adalah waktunya, sesuai rencana yang direncanakan, kembang api mulai tersulut dan meledak cantik di udara. Seketika membuat Rebecca dan Juno terpesona tetapi ekspetasiku hancur Juno tidak berdiri disisiku, aku menatap mereka dengan hati yang hancur semua hal yang di rencanakan ternyata melesat hanya sikap sang diva itu. Juno menatapku yang menangis, aku mencoba memperhatikannya dengan membawa seloyang kue coklat lengkap dengan lilinnya, hingga lilin itu mati tertiup angin bukan karena tertiup oleh napasnya.
Rebecca melirikku dan mulai melancarkan aksinya, ia mulai mendekap Juno dan menciumnya dengan mesra di bawah percikkan kembang api yang meletus di angkasa kue yang kubuat khusus untuknya akhirnya jatuh ke tanah dengan sia-sia. Remuk, kacau dan tak karuan kini hinggap di dadaku.
Tiba-tiba seseorang datang dan mulai mendekap erat tubuhku, aku jatuh dalam dada bidangnya dan tubuhnya kini menutupi momen dimana Rebecca mencium Juno. pria itu mulai membelai halus rambutku.
" J...Ji Hoon?!" ucapku dengan nada lemah dengan mata yang berderai air mata. Ia menatap dan tersenyum padaku dan membawaku pergi dari tempat yang kejam itu.
Juno melihatku dengan bercucuran air mata, dengan sigap ia mendorong jauh Rebecca dari tubuhnya.
" Apa yang kau lakukan?" Ia mendorong keras tubuh Rebecca dan mengusap hasil kecupan Rebecca pada wajahnya.
" Karena aku mencintaimu, Juno." ucap manja Rebecca dengan memeluk erat tubuh Juno lagi. Namun, Juno menahannya dan menolak pelukan gadis centil ini.
"Kau!" bentak Juno dengan nada amat kesal.
" Juno, kau keterlaluan! Kau tahu, Alana menyiapkan segalanya untukmu, tapi kau malah berdua bercumbu mesra dengan gadis ini. Kau kejam, Juno. Kau telah mematahkan hati sahabat kami." ucap Yui dengan membentak Juno keras, ia hanya menatap dengan perasaan yang tidak enak.
" Dan untuk kau Rebecca, apa kau tidak punya malu kau datang tanpa di undang di acara ini, kau bagaikan maling dan tak pantas di sebut dengan Diva sekolah karena sikap busukmu." tambah Mia dengan menunjuk Rebecca dengan jarinya, wajahnya mulai memerah dan meneteskan air matanya. Ucapan Mia seakan menjadi hantaman keras baginya, inilah membuat Rebecca terpukul malu dan pergi meninggalkan Juno.
" Aku sangat membencimu, Juno." tambah Mia dengan decak kesal dan pergi meninggalkan Juno.
....
Aku masih menangis tersedu-sedu, Jungkook mulai memberikan jaket kulitnya padaku dan duduk di sampingku. Aku masih terisak karena peristiwa hari ini, Mia dan Yui nampaknya ada di sekelilingku, kami diam termenung di pinggir danau.
Tanpa terasa aku menghabiskan satu kotak tissue hanya karena menangisi pria cuek itu.
Hatiku benar-benar hancur, aku tak bisa menerima perlakuan ini.
" Aku menjadi tamak, ketika aku ingin memilikimu seutuhnya, menghabiskan waktu untuk hidup menua bersamamu, menggenggam erat tangan keriputmu, merajut sweater di sisimu, dan mengatakan dengan mesra bahwa aku hangat bersamamu. Aku bahagia, ketika setiap hembusan napas mu memanggilku dan hingga ajal menjelang kau akan menjadi separuh jiwaku."
Malam itu aku hanya diam merenung menatap langit dengan air mata masih terus bercucuran dan tak mau berhenti. Aku sungguh tak bisa memejamkan mataku. Mengapa mencinta sesakit ini.
" Alana, kau masih punya aku sebagai labuhan kasihmu." bisik Ji Hoon yang mulai merangkulku dengan membawa segelas coklat panas. Aku hanya terdiam menatapnya, ia mencoba menyibak air mataku yang turun menuruni wajahku.
" Alana, maafkan kami." Mia dan Yui mulai berjongkok di depanku.
" Tak apa, ini menunjukkan padaku bahwa ia mempermainkan rasaku dan ia juga tak mencintaiku."
" Hapuslah air matamu." Yui mulai menepuk punggungku dengan lembut.
Malam itu, aku masih terjaga mataku enggan terpejam, seakan-akan aku masih terhanyut dalam peristiwa mengejutkan barusan.
Tanpa terasa, mentari kembali terbit di ufuk Timur cahyanya kini menghangatkan seluruh penjuru alam. Tapi, tidak bisa menghangatkan hatiku karena sikap dinginnya.
Hatiku masih belum bisa lupa dengan kejadian semalam walau hari telah berganti baru. Aku tak mau berbicara dengan Juno aku tak mau memandangnya. Aku masih marah dan belum bisa menerima kenyataan bahwa ia bersama Rebecca semalam.
" Selamat pagi, Alana. Apa kau tidur nyenyak semalam?" tanya Ji Hoon dengan membawakan sebuah roti sebagai sarapan.
" Ya, nyenyak sekali hingga membuat beban di dadaku sedikit ringan. Terima kasih banyak atas perhatianmu kemarin yang menyelamatkanku dari insiden itu, kau datang tepat pada waktunya sebelum aku benar-benar hancur, Ji Hoon." jawabku dengan berusaha membuka mataku lebar-lebar serasa mataku membengkak karena semalam menangis tanpa henti.
" Ah sudahlah, sudah kewajibanku melindungi dan menghapus rasa sedih di hati seseorang yang ku cintai. Barulah itu yang namanya cinta." ucap Ji Hoon dengan merangkul bahuku dan mengusapnya dengan lembut, aku hanya menatapnya.
Ji Hoon pria yang baik, apakah aku tega jika harus menyakitinya hanya karena lebih memilih sahabatnya yang dingin itu? Apakah aku kuat menahan dosa karena menyakiti pria setulus dia?
" Bolehkah aku bersandar?" tanyaku dengan menatap Ji Hoon, ia hanya menganggukkan kepalanya menyetujui permintaanku.
Aku bergegas menyandarkan kepalaku di bahu bidangnya Ji Hoon sembari menatap danau yang ada di sana. Tiba-tiba air mataku kembali berlinang dan membasahi jaket Ji Hoon.
" Apa kau menangis lagi?" sidik Ji Hoon yang nampaknya mulai merasa bahwa air mataku benar-benar jatuh lagi.
" Tidak, aku hanya pilek."
Ji Hoon mulai merangkulku lebih erat lagi hingga tubuh kami saling berdekatan tanpa jarak, dan memberikan penutup kepalanya padaku agar aku tak lagi kedinginan. Hari itu, aku tak memandang wajah Juno aku mencoba untuk menjauhinya, karena aku tak mau selalu teringat dengan peristiwa itu.
" Aku yang terlalu egois, aku yang tidak bisa mengikhlaskan dirimu untuk bersanding dengan orang lain."
Apakah ini akhir dari kisah cintaku?