The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 18 Say You Love Me!



Meratapi nasibku yang malang....


Malam ini adalah malam kedua dalam perkemahan, orang lain bersuka cita menyambut segala acara, sementara aku, aku kembali duduk di tepi danau dekat perkemahan sembari mendongakkan wajahku memandang langit kosong tanpa bintang seperti aku tanpanya yang hilang segala tujuan.


Aku menutup mataku dan mencoba untuk menghilangkan wajahnya perlahan-lahan agar segera menghilang dalam hatiku, sayup-sayup desiran angin menerpa wajahku membawaku kembali pada sosok bayangan semu yang tak mau hilang dari pikirku.


Katup bibir dan mata indahnya masih terngiang jelas dalam dunia imaji-ku, sangat sulit tuk mengabaikannya, namun aku harus mampu meyakinkan diriku bahwa aku bisa melupakannya. Aku terus mengingatkan hatiku agar aku kuat menghadapi ujian cinta ini.


Mengapa melupakan seseorang sesulit ini ?!


Satu-satunya cara untuk menghapus jejaknya adalah aku harus menjauhinya, aku tidak mau melihatnya lagi dan aku takkan menyapanya lagi, aku akan melupakan semua hal kecil tentangnya, hal kecil ketika aku amat bahagia melihatnya, jantung yang berdegup kencang ketika ia di dekatku, akan ku musnahkan sekarang juga akan kubuang semua rasaku jauh-jauh, tapi aku tak tahu bagaimana jadinya hidupku jika tanpa dia walau hanya sehari saja.


" Apakah aku harus memberitahumu bahwa aku mencintaimu melebihi luasnya samudera? Apakah kau tahu bagaimana rasaku ketika aku bertemu denganmu di setiap hari? Jantungku berdegup dahsyat setiap kali aku melirikmu, jantungku serasa akan meledak ketika kau sebut namaku, dan jiwaku terbang menuju langit ke tujuh ketika kau juga ikut menatapku, apakah kau pernah merasakan rasa sehebat itu? hanya satu permintaan sederhanaku tentangmu, aku hanya ingin kau selalu ada di sisiku, kurasa permintaanku ini amat berat dan sulit tuk kau lakukan." gumamku sendirian dengan melempar batu ke dalam air danau.


" Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku, mengapa sangat sulit tuk mendapatkan jawabannya, semuanya telah ku lakukan demi kau. Tapi, sepertinya kau hanya mempermainkan perasaanku saja, Juno. Aku tak pernah melihat ataupun merasakan bahwa kau menerima semua perasaanku yang ada kau malah menolak dan mengacuhkan ku." tambahku dengan meneteskan air mataku untuk ke sekian kalinya.


Malam semakin larut aku tetap dinaungi langit kosong tanpa bintang, aku terpaku melamun sendirian mencoba tuk mengingat kembali segala hal yang telah pria itu lakukan padaku, dari ia mencoba mengacuhkan segala perhatian kecilku sampai ia memeluk mesra diriku dan mengucap agar aku tetap mencintainya.


" Tatapan dingin yang selalu kau berikan padaku dan cara berbicara cuekmu kepadaku, tidak penting lagi bagiku setelah aku benar-benar mencintaimu, yang aku lihat adalah kau sangat bersinar di manapun kau berada, saat kau ada di sana aku merasa semua orang menghilang dan aku hanya melihatmu di manapun aku berada. Kau tahu, aku mencintaimu, lebih dari siapapun yang ada di dunia ini, aku hanya mencintai satu orang di hatiku yaitu kau, Juno. Itu kau!!" Kali ini aku menjerit menangis sendirian dengan memukul-mukul rumput yang ada di bawahku sebagai pelampiasan kekesalan yang ada dalam batinku.


.


" Alana?" ucap seseorang dengan suara serak basah menghampiriku yang tengah duduk di dekat danau. Aku mulai terperangah melihat Juno yang berdiri kokoh di belakangku bayangannya muncul di depanku.


Sudah sejak kemarin aku mogok berbicara dan mogok memandanginya, aku sudah tak mau lagi bicara dengannya, karena aku masih teringat bagaimana insiden mematikan malam itu antara dirinya dengan sang Diva, Rebecca Hong.


" Untuk apa kau kemari?" cetusku yang membuang mukaku dari pandangannya dan mengusap derai air mataku.


" Aku mohon, ikutlah denganku." Ia mulai menarik lenganku dan mengajak paksa diriku untuk pergi ke sebuah pondok di mana di sana masih ada sisa-sisa lilin dan taburan bunga mawar bekas kemarin malam.


Kini aku dan Juno berdiri tepat di atas puing-puing sisa lilin putih dan mawar merah yang nampaknya tak sempurna lagi bentuknya.


" Apa lagi yang kau inginkan dariku? Mengapa kau membawaku kemari? Apakah kau tidak puas menyakiti seluruh hatiku? Apa kau ingin menunjukkanku bahwa kau menciumnya di sini tepat di depan mataku. Aku sudah lelah menyiapkan semua ini agar kau terkesan, tapi apa yang kudapatkan? Kau dan Rebecca malah bermesraan dan kau hancurkan semuanya. Apa kau tidak pernah membayangkan bagaimana posisiku saat itu? Aku hancur, Juno. Aku hancur!" ucapku yang mulai terisak tangis dan melepaskan genggamannya dengan keras mengeluarkan segala uneg-uneg yang kupendam sejak semalaman. Ia hanya mematung menatapku yang menangis tersedu-sedu. Ia mencoba menghapus air mataku dengan tangannya.


" Cukup Juno, aku tak mau lagi mendengar apapun darimu, semuanya sudah jelas. Apa dengan kata maaf darimu mampu membuat otakku lupa, kau menciumnya di depan mataku, semuanya membekas jelas di ingatanku, saat kau peluk dia. Apa ekspresiku ini tak membuatmu yakin bahwa aku benar-benar mencintaimu? Tak bisakah kau hargai aku sedikit saja, jangan terus menerus kau mempermainkan perasaanku." sahutku dengan dercak kesal dan diiringi isak tangis yang dalam dan menutupi bibirku dengan telapak tanganku.


Sungguh malam ini aku tak bisa mengontrol emosiku, ku luapkan segala kekesalan dan kekecewaan yang ada pada hatiku.


Tiba-tiba Juno memelukku seperti ia mendekap Rebecca malam itu, hangat itulah yang kurasa, tangisku menjadi semakin parah, air mataku mengalir deras hingga membasahi dada bidangnya. Ia masih terus mendekapku sampai tangisku mereda hari itu.


" Kau tahu, aku tidak menciumnya, saat kau pergi , ia juga kuusir pergi. Percayalah, Alana aku tak pernah mempermainkan semua rasamu." Juno mulai melepaskan dekapannya dan mengalungkan lengannya pada leherku sambil ia menatapku dalam-dalam.


" Aku hanya mencintaimu, Alana. hanya saja aku tak bisa tuk mengungkapkan semuanya." Bisiknya dengan mulai mengecup keningku dengan mesra. Aku terdiam membatu.


" Jadilah kekasihku untuk hari ini, esok dan selamanya. Agar kau percaya bahwa rasaku ini nyata padamu." ucapnya dengan mengeluarkan setangkai bunga ke arahku.


"Aku memendam karena aku tak berani mengutarakan semuanya padamu."


Aku hanya diam menatapnya ia menghapus air mata kesedihanku dan memintaku untuk tersenyum dan menerima cintanya.


Aku mengangguk mengiyakan menerima bunga beserta cinta laki-laki yang kuidamkan sekian lama. Walau banyak lika-liku yang terjadi, tapi kali ini kebahagiaan telah datang menghampiriku.


Tiba-tiba terdengar suara petasan yang di sulut dan meletup indah di angkasa, beberapa orang keluar dari semak-semak dan memberikan tepuk tangan, Mia dan Yui membawakan sebuah kue kecil lengkap dengan lilin mereka memintaku dan Juno untuk meniup dan mengucap harapan bersama. Juno mulai membuka kedua tangannya lebar-lebar.


" Apa kau tak ingin memelukku lagi?" goda Juno yang kala itu meledekku terus menerus.


Aku kembali memeluknya, kali ini aku takkan melepaskan pria ini begitu saja, ia harus menjadi milikku selamanya. tak boleh ada yang menggangguku dalam mencintainya.


....


Namun, tunggu dulu dimana Ji Hoon. Aku tak melihat batang hidungnya di antara kawanan orang yang bersembunyi di balik semak-semak belukar itu. Kemanakah dia? Kurasa ia akan sangat terkejut melihat kasihku terbalaskan, tapi bagaimana dengan rasanya padaku?


Apa aku benar-benar menyakiti perasaan Ji Hoon?