
Ketika pintu terbuka, Di dalam sana terdapat tiga mahkluk jablay yang menjadi tersangka pelaku pembuliyan.
Ketiga makhluk tersebut tak lain adalah Wenda, Sherly, dan Rima. Mereka adalah geng yang terkenal cantik, pintar dan sok sultan karena orang tua dari Wenda yang tak lain bos di geng itu adalah seorang pejabat. Mereka menggunakan kekuasaan orang tua Wenda untuk sok berkuasa di sekolah.
Banyak para laki-laki yang mengidolakan seorang Wenda karena selain cantik ia juga kaya. Dan banyak juga yang mencari-cari perhatian dari geng itu untuk sekadar berteman dengan orang terpandang.
Namun bagi Sarya dan gengs, mereka sama sekali tak sudi untuk berteman dengan geng Wenda. Karena ada suatu masalah yang menyebabkan mereka bermusuhan sampai sekarang.
''Ohh ohh rupanya cabe-cabe yang nongol. Ngapain Lo sok mau jadi pahlawan gitu.'' Wenda membalas perkataan Sarya dan the gengs.
''Mendingan Lo semua pergi ke laut aja deh. Gak usah ikut campur urusan kita.'' Sambung Sherly dengan nada tak kalah ngegas.
''Atau Lo juga mau kita ginikan kayak ni cewek gatel.'' Rima berkata sambil mendorong tubuh perempuan yang di bully nya.
Untung saja Nanad dengan cekatan menangkap tubuh perempuan lemah itu jika tidak dia akan terbentur wastafel.
''Woy gak usah main kasar bisa gak. Mentang-mentang bapak Lo pejabat, Lo sok-sok mau berkuasa di sini. Mendingan Lo pulang Sono. Sembunyi di ketek mamak Lo.'' Rini berkata dengan intonasi tak kalah tinggi.
Dan kebetulan toilet tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang ingin masuk namun tidak jadi. Karena melihat kedua geng yang terkenal angker itu sedang beradu mulut. Jadi siswa yang ingin masuk toilet mengurungkan niatnya.
Dan sebagian juga ada yang memilih untuk menonton kejadian itu secara sembunyi-sembunyi.
Sarya yang tak kalah geram dengan kelakuan tidak sopan dari Wenda dan temannya, akhirnya angkat bicara.
''Kita peringatkan sekali lagi ya. Kalau kalian semua masih ganggu orang ini. Kita pastikan kalian gak akan bisa lihat matahari terbenam sore ini.''
''Apa Lo,, cewek centil aja bangga. Dasar tukang cari muka.'' Rima berkata sambil membusungkan dadanya di depan tubuh Sarya.
Mendengar dirinya dihina Sarya benar-benar tak terima. Akhirnya tak mau kalah ia juga dengan bangga membusungkan dadanya bangga hingga kedua perempuan itu saling beradu dada.
''Heleh dada tempos aja dibangga-banggain, Besaran juga punya gue. Lo mau baku hantam ayook lah.'' Tantang Sarya masih membusungkan dadanya.
Mendengar tantangan yang di lontarkan Sarya membuat geng Wenda jadi memanas. Apalagi Rima yang secara terang-terangan di bilang tempos di hadapan banyak orang. Malunya luar biasa.
''Ohh hayook siapa takut. Ternyata kalian belum kapok ya udah pernah kita buat malu. Masih mau lagi?.'' Wenda berkata sambil mendorong pundak Nanad.
''Heeyy jablay, jaga tangan Lo. Sekali lagi Lo sentuh tubuh sahabat-sahabat gue, Sekarang juga gue tenggelamkan Lo di Empang depan sekolah.'' Rini berkata seolah dirinya yang di dorong padahal Nanad yang seharusnya marah.
''Jablay teriak jablay hahaha..'' Kata Sherly diakhiri tawa oleh Wenda dan Rima.
''Gais kita harus balas dendam sekarang juga. Kapan lagi dapat kesempatan buat gantian mempermalukan geng jablay ini. Udah gak usah takut resikonya. Ntar kita tanggung sama-sama pikirin akhiran aja.
Yang terpenting kita tetap harus membela kebenaran.''
Kata Rini sambil merangkul pundak geng nya lalu memprovokasi mereka agar balas dendam kejadian beberapa tahun yang lalu saat geng jablay itu mempermalukan mereka.
Akhirnya mereka menyetujui saran Rini, namun sebelum itu Sarya mencoba menenangkan perempuan yang di bully tadi.
''Kamu tunggu dulu di sini. Dan saksikan saja kita akan membalas perlakuan mereka sama kamu. Udah serahkan aja sama kita, kamu jangan takut okey.''
Sarya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah perempuan itu.
''Tapi.. ini masalah saya.. sa..saya tidak mau kalian terkena hukuman nanti. Sebaiknya kita laporkan saja ke BK.'' Kata perempuan itu dengan nada terbata-bata menahan rasa takut.
Mendengar suara gemetar dari mulut perempuan malang itu, kini Rini mencoba menenangkannya dan memberikan pelukan untuk menenangkan perempuan itu.
Dengan seratus persen kepercayaan diri, Rini berkata dengan lantang.
''Serahkan aja sama kita. Geng jablay kayak mereka gini kalau gak segera di basmi bisa merusak generasi bangsa. Gak ada gunanya juga mau lapor guru. Pasti ujung-ujungnya tetap kita juga yang di salahi. Secara anak lebay itu pasti sembunyinya di ketiak bapaknya tuh." Cibir Rini yang terkenal pedas dengan omongannya.
Emosi sudah meluap-luap dari ubun-ubun Wenda dan geng nya.
Kemudian dengan gerakan cepat Wenda menjambak rambut indah milik Rini.
''Dasar jablay .. sini gua botakin rambut bau kepet loo.''
Tak mau kalah Rini juga ganti menjambak rambut Wenda dengan kekuatan sepuluh tangan super.
Sarya yang ingin memisahkan sahabatnya dari serangan cewek jablay itu, justru dadanya terdorong oleh tangan Rima yang juga ingin memisahkan Wenda dari serangan ganas cewek gesrek itu.
''Kurang ajar Lo berani menyentuh aset berharga ku. Nih rasain cewek jablay.'' Kemudian Sarya menarik lengan Rima dan ikut menjambak rambut nya.
Rima yang diperlakukan seperti itu juga tak terima akhirnya ia membalas serangan Sarya.
Nanad yang melihat Sarya tidak terkendali akhirnya ia memilih untuk memisahkan Rima dengan Sarya.
Namun belum sempat ia menolong Sarya, kaki Nanad justru sengaja diinjak oleh Sherly.
Dan akhirnya Nanad pun berkelahi dengan Sherly.
Suasana di toilet itu benar-benar tegang. Suara teriakan yang dilontarkan Geng gesrek dan geng jablay itu, mengundang perhatian para siswa yang lain. Sehingga mendatangi toilet itu.
Para siswa lainnya yang melihat pertengkaran itu,
mereka lebih memilih menonton saja. Karena bagi mereka saat geng Sarya dan Wenda beradu mulut atau baku hantam itu merupakan tontonan yang tidak boleh dilewatkan.
Hal ini bukan terjadi sekali namun sudah berkali-kali baik diluar sekolah maupun didalam lingkungan sekolah.
Bukannya mencoba melerai justru siswa lainnya malah menambah suasana semakin panas dengan berteriak.
''Ayo ayo ayo.. hajar dia habisi..''
''Go Sarya go Sarya .. tenggelamkan aja di kloset...''
''Ayo Wen, hajar terus jangan kasih ampun..''
Kurang lebih itulah yang diucapkan siswa yang lain. Sebagian ada yang mendukung Sarya sebagian lagi mendukung Wenda.
Sedangkan perempuan yang menjadi korban pembuliyan hanya terdiam karena takut, syok dan trauma.
Mental perempuan itu sangat lemah. Itulah sebabnya dia tidak berani melawan geng Wenda.
Disisi lain seorang laki-laki berlari dengan tergesa-gesa, hingga tak sengaja menabrak beberapa orang yang ada di depannya.
''Eh sorry aku gak sengaja.. maaf ya sekali lagi.'' Kata laki-laki itu ketika menabrak lagi orang yang ada di hadapannya.
Dan begitulah seterusnya hingga laki-laki itu sampai di lokasi tempat Sarya dan Wenda baku hantam.
Saat laki-laki itu masuk ke dalam toilet tiba-tiba..
Buuggghh...
Satu bogeman mendarat di wajah tampan laki-laki itu saat mencoba memisahkan perkelahian antar gadis cabe-cabean itu.
Dia terkena tonjokan wanita serigala dari tangan kekar Rini.
Bersambung......
Jangan lupa tinggalin jejak membaca...😘