
Pernahkah kalian merasakan indahnya bercinta?
Benar kata orang, jatuh cinta itu sejuta rasanya, kini aku mulai merasakan getaran indah yang menjalar di setiap hembusan napas.
" Alana, jadilah kekasihku hari ini esok dan selamanya...." ucapan Juno itu masih terngiang jelas di telingaku.
Perkemahan itu benar-benar membawa cinta untukku, aku tak menyangka bahwa Juno juga sangat mencintaiku dan mengakui semua rasanya padaku.
Pagi hari yang cerah mentari bersinar dengan ramah, hari ini adalah hari Senin dimana aku harus pergi ke sekolah. Jam sudah menunjuk pukul 6, tapi aku masih terbaring di atas kasur biru kesayanganku, rasanya sangat malas untuk bangkit pagi ini karena tubuhku masih terasa pegal karena perkemahan kemarin.
Drrrr..Drrrr..
Kudengar ponselku bergetar, seperti ada sebuah pesan yang baru saja masuk.
" Selamat pagi, sayangku. Sepertinya masih agak canggung ya jika kau ku panggil sayang." gumamku yang membaca isi pesan dari sosok pangeran dambaanku, Kwon Juno. Aku tersenyum-senyum sendiri membacanya bagaimana bisa ia selucu ini padahal yang kutahu dia sangat cuek dan tak peduli. Dia memang pria yang penuh misteri.
Benar saja, aku kira malam itu hanyalah mimpi ternyata ini nyata, aku benar-benar menjalin hubungan dengan pria dingin yang dulu kuperjuangkan. Bagaimana bisa, sekarang sang takdir cinta mulai berpihak padaku.
Membaca pesan singkatnya membuat tubuhku bugar kembali, rasanya pegal-pegal semuanya pergi tanpa permisi. Kurasa dialah obat dari segala penyakit yang ada pada tubuhku.
Hari ini, hari Senin aku akan berdandan cantik ke sekolah.
Kukayuh sepedaku kuat-kuat demi mencapai sekolah, semoga aku tak terlambat datang bisa-bisa mati karena kena hukuman dan bentakan.
"Alana!" teriak seseorang memanggil namaku dari kejauhan, dengan sigap ku tarik rem sepedaku tuk memberhentikan laju sepeda dan ku mencoba menoleh ke belakang.
" Juno?" gumamku yang tak percaya melihat Juno kini mengendarai sebuah sepeda.
"B..Bagaimana bisa? mobilmu?" tanyaku yang masih terkejut melihat perubahan drastis dari sosok laki-laki yang kini menjadi kekasihku.
" Mulai sekarang aku akan menemani kekasihku mengayuh sepeda, kita akan pulang dan pergi ke sekolah bersama. jadi kau takkan pernah sendirian lagi karena ada aku yang selalu di sisimu." jawab Juno dengan tersenyum lebar menatapku.
" Juno, apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" sidikku yang mencoba menyentuh dahi licinnya itu.
Ia hanya tertawa melihatku yang tengah kebingungan.
"Sudahlah, ayo kita berangkat." sarannya yang mengayuh sepeda tepat di hadapanku.
Ini sungguh luar biasa, setiap waktu yang ada aku akan menghabiskannya bersama Juno. Hidupku menjadi kian berwarna.
" Bagaimana menyenangkan, bukan?"
aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan Juno yang berjalan di sampingku. Kini kami berdua memasuki sekolah dengan bersamaan. Terlihat beberapa kaum hawa mulai menatapku dengan penuh tatapan aneh dan tajam seakan ia tak rela bahwa Juno kini menjadi kekasihku. Aku tertegun menatap mereka.
" Jangan takut, ada aku di sini." bisik Juno dengan suara lirih tepat di gendang telingaku, aku tersenyum menatapnya. Lagipula saat ini Juno adalah milikku dan akan selamanya menjadi punyaku.
" Alana!" teriak histeris kedua sahabatku yang tiba-tiba memelukku erat
" Ya sudah, karena sudah ada dua ekormu. aku pergi ya. Sampai jumpa pulang sekolah nanti, Sayang." desis Juno lagi yang kali ini mulai menggodaku dihadapan kedua sahabatku, Mia dan Yui
Yui hanya menyenggol lenganku mendengar ucapan "sayang" yang diucapkan Juno padaku.
" Bagaimana kau dengan Juno?" tanya Mia yang tidak jelas maksudnya
" Apa yang kau maksudkan? aku tak mengerti."
Mereka adalah anugerah terbesar yang diberikan untukku, Mia dan Yui selalu ada dimanapun aku berada, susah senang mereka selalu mendampingiku.
Hari ini aku tak melihat batang hidung Ji Hoon, sejak perkemahan kemarin aku juga tak berbicara padanya. Apakah dia baik-baik saja?
" Mia, Yui apakah Ji Hoon belum datang?" tanyaku sembari memandang bangku Ji Hoon yang masih kosong dan tak ada tas miliknya yang tergeletak disana.
Yui menggelengkan kepalanya.
" Sejak perkemahan kemarin dia menghilang dan sikapnya berubah drastis, Alana. akupun tak tahu mengapa." jawab Mia dengan menggigit kukunya menatapku yang diam melamun menatap kursi kosong tempat duduk Ji Hoon.
Tak seperti biasanya Ji Hoon datang terlambat seperti ini, biasanya dia selalu datang lebih awal dan menyapaku dari bangku itu. Pagi ini, ia tak ada. kemanakah dia sebenarnya? apa mungkin dia sedang sakit.
Tiba-tiba seseorang datang dengan wajah yang lesu tanpa gairah
" Ji Hoon!" sapaku padanya
Ia hanya menyeringaikan bibirnya dan melambaikan tangannya padaku, tak biasanya dia seperti ini. Sepertinya ada sesuatu hal yang disembunyikan olehnya.
" Ji Hoon, apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya yang berusaha tuk menghampirinya yang tengah duduk menyendiri.
Ji Hoon hanya mengangguk mengiyakan sebagai responnya pagi ini.
" Ji Hoon, jika kau ada masalah bicaralah padaku jangan kau pendam sendiri." nasehatku padanya
" Sudahlah, Alana kau kembali pada tempat dudukmu. Jangan ganggu aku, Juno-mu nanti cemburu." Ji Hoon mencoba mengusirku.
" Baiklah."
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ji Hoon. Jika aku memiliki salah padamu, aku sungguh minta maaf. Aku tak tahu, apa yang menyakiti hatimu hari ini.
Kau tak mau berbicara padaku, kau memilih tuk pindah ke meja makan lain ketika di kantin, kau mengacuhkanku, dan kau juga tak hadir bersama Ex Boys, Kau lebih memilih tuk menyendiri. Ada apa denganmu, Ji Hoon?
" Ji Hoon." panggilku dengan halus menyebut namanya
" Mengapa kau selalu mengikutiku, Alana?" tanyanya dengan nada yang sedikit tinggi, nampaknya kini ia sedang terbawa emosi.
" Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja, Ji Hoon. Aku mengkhawatirkan mu. " jawabku dengan sedikit menundukkan kepalaku menatap Ji Hoon yang ada di hadapanku.
" Sudahlah Alana kau pergilah, suasana hatiku sedang kacau sekarang. Kau tahu hatiku hancur, Alana. Hancur karenamu." ucap Ji Hoon yang spontan membuatku terbelalak kaget atas perkataannya
" Apa maksudmu?"
" Mengapa kau lebih memilih Juno dibanding diriku? Aku cemburu melihatmu dengan Juno, Alana. Aku terbakar api cemburuku sendiri." jawab Ji Hoon dengan tegas dan jelas menatapku dengan sorot mata yang tajam namun ada sedikit tatapan kekecewaan padaku.
"J..Ji Hoon." gumamku yang terbata-bata, kini air mataku mulai menetes.
" Alana, bukan maksudku untuk melukai hatimu."
Aku menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Ji Hoon yang menyakiti hatiku aku tak menyangka bahwa ia akan berkata demikian padaku.
Dia cemburu melihatku dengan Juno. Apa yang ada dipikirannya itu?
Apa yang terjadi padamu, Ji Hoon? Aku merindukan sikap hangatmu yang selalu ada untukku. Mengapa kau berubah hanya karena cinta yang terjadi diantara kita bertiga?