The Hidden Love

The Hidden Love
Pasar



Tiba di pasar Sarya dan Mamanya langsung menuju ke penjual sayur, ikan dan buah-buahan. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang lain Mama Luna juga suka menawar bahkan menawarnya pun tak tanggung-tanggung.


"Mas mas, udangnya berapa sekilo." Tanya mama Luna kepada mas penjual ikan.


''Murah aja ni buk, sekilo 60 ribu,, bagus ini buk masih seger-seger kali lah.'' Kata mas penjual ikan.


''Ah mahal banget, saya waktu itu beli cuma 25 ribu aja kok.'' Kata mama Luna sambil membolak-balikan udang dihadapannya.


''Lah kenapa bisa gitu buk, saya aja jual ini untungnya cuma 10 ribu. Orang mana lah yang jual? Mungkin itu udang gak berkualitas buk.''


''Enggak kok, malah kata anak saya udangnya enak, Iya kan Sar.'' Mama Luna bertanya pada Sarya.


Yang ditanya pun hanya mangguk-mangguk sembari menatap fokus layar handphone nya. Entah apa yang dibicarakan Sarya sama sekali tak paham.


''Macam mana bisa begitu?.'' Tanya mas penjual ikan yang kini sedang terheran-heran.


''Iya bisa dong, orang saya cuma beli setengah kilo aja mas.'' Kata mama Luna dengan wajah tanpa dosa.


Mas penjual ikan benar-benar dibuat kesal namun tak dapat meluapkan kekesalannya itu. Bagaimana pun pelanggan adalah raja.


''Yasudah lah buk, saya memang yang salah. Ini jadi mau berapa udangnya?.''


''Gak jadi deh mas kemahalan, yuk sar kita kesana aja.'' Tunjuk mama Luna pada penjual buah dan segera berlalu dari kios itu.


''Eh buk, macam mana pula bisa begitu. Ibuk ini memang...''


''Memang apa, kenapa kamu mau ngelawan saya. Kualat kamu nanti. Berani sama ibu-ibu, nanti kios kamu gak laku.'' Mama Luna memotong pembicaraan si penjual ikan yang umurnya tak jauh dari usia Sarya.


Mendengar ancaman dari seorang ibu-ibu, mas ikan tidak bisa berbuat apa-apa lagi dia takut karena omongan ibu adalah doa, dengan pasrah dia berkata.


''Baiklah.. wanita selalu benar. Tak apalah buk lewati saja kiosku ini. Semoga ibuk banyak rejeki.''


Padahal seharusnya kan si mama Luna yang bilang begitu.


Sarya yang tak mengerti apa pembicaraan mereka hanya diam sambil tetap fokus pada handphone nya.


Saat mereka tengah berjalan dikerumunan orang banyak, tiba-tiba .......


Bruuakkk..


Sarya tidak sengaja menabrak seseorang.


''Maaf bu..saya tidak sengaja.'' Kata Sarya sambil membantu memungutin belanjaan orang yang dia tabrak tadi.


''Sar sar gimana sih, mangkanya jalan lihat kedepan jangan lihat di bawah terus, jadinya gini kan.'' Kata mama Luna mengomeli Sarya dan membantunya membereskan belanjaan orang yang ditabrak tadi.


''Dwi ayok bantu bereskan!.'' Perintah wanita tua itu pada asisten perempuannya.


''Maaf sekali lagi ya buk, anak saya memang begini modelannya.. sekali lagi maafkan anak saya ya buk.''


Mohon mama Sarya sambil mengantupkan kedua tangannya.


''Sudah tak apa, kondisi pasar juga rame wajar bila hal ini terjadi. Oh iya anak manis, lain kali jalan jangan sambil main handphone ya nak.. takutnya ada bahaya, kita kan gak tau kalau disekitar kita tiba-tiba aja ada jambret.'' Nasihat wanita tua itu pada Sarya.


''Iya buu, saya minta maaf sekali lagi ya.. lain kali gak akan saya ulangi.'' Sarya memegang tangan wanita tua itu sembari meminta maaf.


''Yasudah saya duluan ya, ayok Dwi kita pulang.''


Ajak wanita tua yang belum diketahui siapa namanya itu pada asisten nya.


Dan hanya diangguki kepala oleh ibu dan anak rempong itu, sambil tersenyum.


Selepas kejadian itu, Sarya tidak lagi fokus menatap layar handphone nya. Jadi ia memilih untuk membawa semua belanjaannya hingga sampai kerumah.


_________


Disisi lain, seorang pria muda berumur sekitar 23 tahunan, tengah duduk menghadiri rapat.


Pria dengan perawakan tinggi, wajah yang putih nan mulus, garis wajah yang tegas tampan serta bertubuh bak roti sobek itu terlihat serius mendengarkan presentasi dari rekan kerjanya.


Setelah beberapa jam duduk dan menyimak presentasi pria itu berjabat tangan pada rekan kerjanya, lalu menandatangani dokumen.


''Haduh,, lelahnya..'' Kini pria tampan itu sudah berada di ruangan kantornya dan menyenderkan tubuhnya di sofa yang empuk.


''Ternyata bekerja itu tak seenak menikmati uangnya ya.'' Kata pria tampan itu pada asistennya sembari masih memejamkan matanya seolah ingin menghilangkan penatnya.


''Oleh karena itu tuan muda diminta, tuan besar untuk perlahan-lahan belajar memimpin perusahaan ini.'' Jawab asisten pria itu, yang tak lain bernama Angga.


''Kamu bener banget ngga, Pantesan aja papa pingin cepat-cepat menyerahkan perusahaan ini padaku. Tenyata begini beratnya memimpin perusahaan.'' Kata pria tampan itu, yang tak lain adalah Lino Nuha.


Anak dari seorang pengusaha tersukses di kotanya. Pria muda lulusan terbaik di universitas terbesar di Amerika. Walaupun usianya masih muda, ia dipercaya oleh sang papa untuk belajar memimpin perusahaan. Kelak agar ia terbiasa kedepannya jika sang papa sudah tak sanggup memikul tanggung jawab dalam memimpin perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan itu.


Hari ini pertama kalinya Lino menghadiri rapat di perusahaan. Setelah beberapa hari yang lalu ia pulang dari Amerika.


Bagi Lino pulang ke negara asal adalah hal yang paling dirindukan. Selain melepas rindu pada masa kecil yang penuh kenangan, bertemu orang tua tersayang adalah suatu kebahagiaan yang tidak bisa ditukar oleh apa pun.


Namun siapa sangka kepulangannya ke tanah kelahirannya ini, justru membuat dirinya bertemu dengan seorang gadis menyebalkan. Yang pada akhirnya akan membuatnya jatuh cinta.


bersambung...