
Bell sekolah mulai berdering nyaring, jam sudah menunjuk pukul 10.00 pagi, akhirnya jam istirahat telah datang. Semua siswa-siswi mulai pergi berhamburan keluar memenuhi stand-stand makanan yang terjajah di kantin sekolah.
" Istriku, ayo kita makan. Suamimu sudah lapar." ucap Juno yang menghampiri mejaku melihatku yang tengah menata buku pelajaran dan kotak pensilku.
" Suami? Istri? Apa yang sebenarnya terjadi?" sahut Yui dengan menggaruk-garuk kepalanya seakan ia bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh Juno padaku
" Kau tak perlu heran seperti itu, Yui. Aku dan Alana akan selalu bersama sampai kapanpun dan kami akan segera menikah." jawab Juno dengan tersenyum manis menatap Yui dan Mia yang tengah kebingungan
" Apa aku tak salah dengar? Juno apa kau baik-baik saja?" tanya Yui yang mencoba tuk menyidik sepertinya ada yang salah pada diri pria dingin macam Juno, tak seperti biasanya ia bersikap hangat dan manis di depan banyak orang.
Juno mulai mengangguk mengiyakan.
" Baiklah, aku ingin makan bersama gadisku. Apakah boleh jika aku pinjam Alana hari ini saja?" pinta Juno kepada Mia dan Yui. Kedua sahabatku mulai terperangah dan saling menatap satu sama lain.
" Baiklah, baiklah. Jaga dia jangan sampai terluka." sahut Mia pada Juno sembari ia menghela napas panjangnya.
" Siap komandan, aku akan menjaga separuh hatiku ini dengan sepenuh jiwaku." jawab Juno dengan memberikan hormat pada komandan Mia dengan sigap Juno mulai membawaku ke kantin sekolah tak lupa ia juga menggandeng erat jari jemariku hingga membuat semua orang di sekolah memandang curiga dan penuh rasa iri terhadap sosok gadis yang kini menjelma sebagai kekasih Juno. Seakan mereka tak rela jika Juno menjadi milikku, Alana si gadis biasa di sekolah.
" Juno, apa kau tak bisa melepaskan genggamanmu? Aku malu dilihat banyak orang." bisik ku padanya yang tengah berjalan beriringan sembari menuruni tangga menuju lantai satu
" Kenapa? Apa kau merasa risih dengan pegangan tanganku?" sidiknya padaku
"Bukan, bukan seperti itu. Lihatlah semua siswa siswi menatap penuh kebencian padaku. Aku takut." jawabku dengan berbisik lirih pada telinga kanannya.
" Biarlah, biar mereka tahu bahwa kau adalah milikku." jawab Juno dengan sangat santai menanggapi ocehanku.
" Tapi, ini di sekolah Juno bukan di taman bermain. Bagaimana jikalau guru melihat kita yang bergandengan tangan seperti ini?" desisku sekali lagi dengan penuh rasa gelisah yang berkecamuk dalam dada
" Tenang saja, istriku. Semuanya akan baik-baik saja selama ada Kwon Juno di sampingmu." gumam Juno yang tangannya mulai merangkul pundakku dengan erat. Aku mulai tertegun melihat tingkahnya, mataku mulai terbelalak bagaimana bisa ia bersikap senekat ini dalam memperlakukanku.
" Jadi, benar Juno dan Alana telah berhubungan? Bagaimana bisa?" gumam beberapa gadis sekolah yang menyentuh telingaku. Aku mulai menutup wajahku dengan tanganku dan mencoba menyingkirkan tangan Juno yang masih menggantung di bahuku.
" Mengapa kau menutupi wajahmu, istriku?" bisik Juno padaku.
"Apa kau tidak bangga menjadi kekasih sosok pria tampan seperti aku?" tambahnya kali ini dengan nada yang menggodaku.
" Kau ini bicara apa! Mengada-ada saja." cetusku dengan mencubit pinggang Juno dengan keras hingga membuatnya meringis menahan sakit.
" Mengapa kau mencubitku, Alana?" protesnya dengan menekan gemas pipiku.
" Lepaskan tanganmu, Juno." pintaku dengan sedikit agak memaksa.
" Tidak mau." ujarnya yang membuat aksinya semakin menjadi-jadi. Ia mulai merangkulku lebih dalam hingga aku sangat dekat dengannya.
Aku mencoba memukul-mukul lengannya namun ia tetap santai dan tak mau melepaskan rangkulan tangannya.
Terlihat Rebecca and the Genk mulai melintas dan mulai geram melihat pemandangan ku dengan Juno.
" Juno, Apa yang kau lakukan dengan gadis ini?" cetus Rebecca yang tak percaya melihat pemandangan romantis antara aku dengan Juno
" Kenalkan ini Kwon Alana, Istriku." ucapnya yang membuat hati Rebecca semakin panas mendengar ucapan Juno yang diluar batas. Rebecca beserta jongos-jongosnya mulai tertegun mendengar ucapan Juno.
Kwon? Aku berubah menjadi Kwon Alana? Aku berganti nama marga seperti seorang istri yang telah resmi menikah mengikuti nama suaminya. Juno kali ini kau keterlaluan, kau membuatku semakin bernafsu untuk memilikimu.
" K..Kau? Juno apa kau tidak salah memilih kekasih macam dia? Dia itu tukang selingkuh, dia tak baik untukmu." cetus Rebecca yang mencoba tuk menudingku
" Tapi, Juno dia sudah berselingkuh dengan Ji Hoon." kekeh Rebecca yang meyakinkan Juno agar ia percaya bahwa aku telah menduakannya.
" Hentikan! Aku tak butuh omong kosongmu, Rebecca." bentak Juno dengan lantang hingga membuat Rebecca diam tanpa bahasa.
Juno mulai menarikku tuk menjauhi Rebecca dan kawan-kawan jahatnya itu . Ia mulai mendorongkan kursi kantin untuk mempersilahkanku duduk. Ia memperlakukanku bagai seorang tuan putri, untuk kursi saja ia menyiapkannya untukku, tak luput ia juga membersihkan mejaku dengan sehelai tisu. Ia benar-benar memperhatikan hal kecil untukku.
" Juno, tadi mengapa kau menyebutku sebagai istrimu di depan Rebecca? Apa aku tak salah dengar?" tanyaku yang mulai menggodanya.
" Biarlah, bukankah ini fakta bahwa kau adalah istriku. Bukankah kau juga yang menantangku tuk menikahimu? Maka akan kulakukan. Kan kubuat semua orang tahu bahwa kau istriku." jawabnya dengan melempar senyum khas yang menggoda iman kaum hawa.
" Apa kau tidak malu jika memiliki kekasih atau istri seperti aku?" tanyaku kali ini dengan nada sedikit serius menanyakan hal yang selama ini menjadi beban dalam dadaku.
" Tidak, aku mencintaimu apa adanya. Kau istriku dan kau mengagumkan." jawabnya dengan menatap mataku. Aku mulai salah tingkah di hadapannya. Ucapan adalah doa, setiap kali Juno mengucapkan kata "istri" dan menganggapku sebagai istrinya, tak luput akupun mengucap kata "amin" untuk menyempurnakan sebagian ucapannya.
" Alana, jadilah kekasihku untuk selamanya, jangan tinggalkan aku demi pria lain." pintanya kali ini dengan menggenggam erat jemariku. Aku mulai terkejut atas ucapan Juno siang itu.
" Percayalah, hatiku satu dan itu hanya kupersembahkan untukmu." tambahnya yang terus menatapku, aku hanya diam membeku aku tak bisa berkata-kata lagi mengutarakan semua rasaku. Semua ucapan yang kuingin dengar dari Juno kini sudah terucap. Cintaku juga telah terbalaskan. Ada satu harapan yang tersisa, aku hanya ingin hidup bahagia bersamanya dan selamanya.
" J..Juno." ucapku yang tertatih menyebut namanya
" Alana, sudahlah. Kau tak perlu khawatir seribu wanita yang datang takkan pernah bisa menggantikanmu dalam hatiku, aku janji." ujarnya dengan meyakinkanku.
" Kau tak perlu takut, aku akan selalu ada untukmu kapanpun dan dimanapun kau membutuhkanku." tambahnya kali ini dengan tersenyum lebar menatapku.
Aku hanya melempar senyum khas padanya sebagai respon ucapan manisnya. Hari ini, aku tak tahu apa yang telah terjadi pada Juno, ia bersikap manis dan baik dalam memperlakukanku. Ia berubah menjadi sosok Juno yang ku impikan dalam mimpiku selama ini.
Semoga apa yang ku tuliskan dalam harapku terkabul dan aku bisa hidup bahagia bersama Juno selamanya. Memang aneh rasanya, aku terlalu mencintainya melebihi apapun di dunia ini hingga aku kehilangan akalku ketika aku merindukannya.
Siang itu, aku makan siang bersama Juno. Bukan hanya sekedar makan siang saja, kurasa ini adalah kencanku dengannya walaupun sebenarnya aku belum pernah mengencaninya tapi dengan makan siang yang baru saja kualami siang ini, aku merasa seperti tengah makan malam bersama dengan suasana romantis yang luar biasa.
Aku mulai berjalan menyusuri lorong sekolah sembari membaca majalah yang tertempel di dinding, inilah hasil karya para siswa yang berhasil lolos seleksi karya tulis oleh Madam Yena.
" Alana, tunggu!!" teriak Seseorang dengan lantangnya yang memanggil namaku hingga membuatku memberhentikan langkahku.
" Min Robi? Ada apa? " tanyaku dengan mengangkat alisku
" Madam Yuri memanggilmu ke ruangannya." ucap Robi dengan menyekat rambutnya yang berantakan karena berlarian.
Aku dan Robi bergegas pergi menuju ruangan Madam Yuri, terlihat di sana ada Ex Boys Dan juga Mia dan Yui. Aku mulai mengucap salam dan Madam Yuri mulai mempersilahkanku untuk duduk. Sepertinya ada suatu hal yang ingin dibicarakan.
" Baiklah karena semuanya sudah berkumpul. Saya akan buka diskusinya." ucap Madam dengan nada yang serius hingga membuat jantungku berdegup kencang.
" Saya memanggil kalian kemari bukan untuk memberikan hukuman, tapi karena masalah ujian sekolah yang sebentar lagi akan datang, saya menunjuk kalian sebagai panitia untuk kelulusan nanti. Apa kalian siap?" tanya Madam Yuri sembari matanya menatap kesana kemari melihat anak didiknya yang tengah duduk membeku tanpa kata dihadapannya
" Baik, siap madam." jawab Namjin yang mewakili seluruh isi hati kawan-kawannya.
Madam Yuri mulai mengangguk dan tersenyum seakan pilihannya tak pernah salah.
Hatiku mulai bergetar mendengar kata perpisahan, bagaimana bisa aku lupa bahwa perpisahan sudah datang di depan mata. Akankah hubunganku dengan Juno akan berakhir seiring berakhirnya masa SMA yang indah ini?
Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti jika hidup tanpanya disisiku.