
Sang fajar mulai menjelang, ayam-ayam mulai berkokok dengan riang menyambut hari baru yang gemilang, namun rasa gugup dalam hatiku masih belum hilang. Ujian kali ini lebih menegangkan dari ujian Bahasa Inggris sebelumnya, aku harus terus mengingat-ingat semua rumus yang ada di dalam otakku.
Jangan sampai lupa. Kali ini otakku mulai penuh dengan beraneka ragam rumus dan angka, kali ini aku akan bertarung dengan angka dan hitungan. Amat membosankan.
“ Rasanya malas sekali jika harus membaca soal dan menghitung jawaban.” gumamku dengan lirih sembari berjalan menuju ruang kelasku yang ada di lantai dua sesekali aku juga menghela napasku yang sejak tadi menyesakan dada pagi ini.
“ Hatiku tidak tenang, rasanya aku ingin menyerah saja, tak mungkin juga jika aku lolos ke-15 besar.” gumamku lagi yang hampir putus asa sembari berjalan lesu menundukan kepala. Semangatku mulai surut sekarang, mood-ku hancur berantakan takkan ada lagi harapan untukku berkencan. Ah sudahlah, aku sudah pasrah dengan takdir cintaku sekarang.
“ Hey, Alana.” panggil seseorang dengan suara beratnya, aku mencoba mencari asal suara itu yang ternyata suara itu berasal dari lantai atas dimana seorang pria berjaket hitam mulai berdiri menatap ke bawah memandang diriku yang tengah menaiki anak tangga tanpa gairah hidup satu persatu.
“ Jadi, segitu saja bentuk cintamu padaku, kukira kau akan semangat belajar dalam mengejar peringkat 15 dan ingin berkencan denganku. Masa seperti ini saja kau sudah menyerah apalagi ketika kau menikah dan menjadi istriku?” sindir halus sosok pria itu dengan suara yang sedikit menyebalkan.
“ Kwon Juno!!” teriakku dengan lantang yang berusaha berlarian menaiki anak tangga. Kali ini, ia benar-benar kelewatan, aku harus memberikan dia pelajaran agar tidak semena-mena mempermainkan hati seorang wanita. Memang seperti itu sikap Juno, ia senang dan ahli dalam membuat mood wanita hancur berantakan, ia juga sangat senang jika melihat orang lain kesusahan, ia suka menyindir halus, ia suka membuat orang lain susah dan ia juga gemar membuat hati wanita terbang karena rayuan buayanya. Pria gila macam dia mengapa aku bisa menyukainya?
Kuberlari sedikit demi sedikit menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenagaku pagi ini, ingin rasanya aku memukul keras kepala batu Juno itu. Amarahku tak tertahankan lagi padanya.
Kulihat Juno masih berdiri kokoh di ujung tangga dan menatapku dengan sedikit tawa yang terhias di wajahnya. Aku mulai terengah-engah dan menatap Juno yang tersenyum kecil melihat ekspresiku pagi ini. Aku hanya menatapnya dengan tajam.
“ Kau ingin melakukan apa padaku? Kau ingin menginjak kakiku? Atau menendang lututku?” tantangnya dengan menyeringaikan bibirnya aku hanya mengusap keringat yang mengembun di dahiku sepertinya ia tahu apa yang ingin kulakukan padanya.
“ Masa bodo! Aku tak peduli lagi denganmu, Juno. Jauhi aku!” bentakku padanya yang sontak membuatnya terperangah kaget, aku mengabaikan dirinya dan bergegas pergi menuju ruang kelas. Ia hanya diam dan tak percaya bahwa aku benar-benar marah padanya pagi itu.
Aku tak mau bicara dengannya, Ketika ia menatapku aku hanya diam dan memalingkan pandanganku. Entah mengapa pagi ini mood-ku benar-benar hancur karena komplikasi masalah yang datang bertubi-tubi tanpa ampun.
“ Hei, Juno apa kau bertengkar lagi dengannya?” tanya Namjin yang menyidik masalahku dengan Juno. Juno mulai menghela napas panjangnya.
“ Iya kurasa begitu. Sungguh aku tak tahu, mengapa pagi ini ia terlihat sangat buas. Ia seperti seekor singa yang sedang kelaparan.” jawab Juno dengan nada yang heran sembari terus memandangiku dari samping. Aku mencoba tutup telinga akan semua ucapan Ex Boys yang kudengar.
Beberapa anggota Ex Boys mulai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Juno yang polos tanpa dosa.
“ Berikanlah dia sedikit perhatianmu, Juno. Bukankah selama ini kau terlalu menekannya?” sahut Minho dengan nada yang halus, nampaknya Minho sangat peka terhadap apa yang wanita rasakan. Juno nampaknya mulai terdiam mengintropeksi semua hal yang terjadi padaku. Aku masih tetap diam tanpa menolehkan pandanganku menatapnya. Aku hanya fokus pada buku catatan matematikaku setidaknya masih ada waktu untukku belajar sebelum ujian dimulai.
Bell mulai berdering nyaring, jam pertama mulai datang menghampiri. Ujian matematika, I’m coming. Kutarik napasku dalam-dalam dan kubuang secara perlahan setidaknya car aini sedikit membantu meringankan rasa gugup yang sedari tadi menyelimuti batinku.
“ Kau siap, Alana?” bisik Yui padaku. Aku mulai mengangguk mengiyakan sembari menyodorkan sedikit senyuman yang terhias.
“ Semangat!!” ucap Mia dan Yui secara bersamaan.
Aku mulai mengerjakan ujian matematikaku, kali ini aku tak mau menjawabnya dengan asal, bagaimanapun akhirnya aku harus menghitungnya. Kulihat beberapa teman sekelasku mulai melempar dadu untuk memilih sebuah jawaban pada soal, ada yang menghitung kancing bajunya bahkan ada yang mencoba membaca mantera peruntungan untuk mengerjakan soal.
Aku hanya meliriknya, terlihat Mia mulai memukul-mukul kepalanya yang sedari tadi tak memahami soal yang dimaksud. Lagi-lagi kuhela napasku dan membuat hatiku yakin bahwa aku bisa mengerjakannya, kali ini nilai 60 saja sudah sangat berharga untukku.
“ Baik, madam.” ucap serempak seluruh siswa satu kelas.
“ Ujian kali ini menentukan kualitas kalian dalam belajar, jadi jangan main-main.” tegas guru matematika dengan lantangnya.
“ Ya, madam.” jawab mereka lagi dengan nada yang lesu.
Ujian kali ini diluar dugaanku, soalnya rumit dan membuat kepalaku pusing. Setelah ujian matematika nampaknya aku harus siap mendengar berita baik atau buruknya. Kukembali berjalan menyusuri lorong kelas, kulihat segerombol siswa mulai memenuhi papan pengumuman, beberapa diantara mereka juga mulai berlarian untuk melihat suatu hal yang terpasang disana. Menurut berita yang kudengar hasil ujian minggu ini akan keluar dan terpajang di majalah dinding, jangan-jangan….
Kubergegas lari menuju papan pengumuman itu, kumencoba menyibak kerumunan yang ada dan memaksa untuk melihat hasilnya.
“ Semoga namaku ada di 15 besar.” doaku dalam hati sembari memejamkan kedua mataku dan kembali membukanya perlahan-lahan sembari mencari namaku dalam pengumuman 20 besar di setiap kelasnya. Aku mulai melihat hasilnya, kulihat namaku berada di peringkat 20 bukan 15, aku bergegas meninggalkan kerumunan itu dengan rasa kecewa dalam hati seakan aku tak puas dan menyesali hasilku kali ini, walaupun aku tahu peringkat kali ini lebih memuaskan dari peringkat 39ku kemarin.
“ Alana?” panggil Juno padaku
“ Aku tahu, aku tak bisa berkencan denganmu. Maafkan aku!” jawabku dengan suara yang lesu sembari menundukkan pandanganku dan berjalan menjauhinya.
Juno hanya diam mematung dengan ekspresi wajah yang terperangah kaget, ia mencoba melihat pengumuman yang ada dan mulai mengejarku yang tengah kecewa. Juno mulai menarik tanganku dan mendekapku dengan erat di depan umum sontak hal ini membuat semua siswa melihatnya. Mataku hanya terbelalak kaget dengan sikapnya yang tiba-tiba berlebihan seperti ini.
“ Aku tidak marah, jika kau tak bisa masuk dalam 15 besar. Aku juga tidak kesal ketika kau gagal dalam ujian, tapi yang membuatku kesal adalah mengapa kau bersikap dingin padaku, Alana? Tolong jangan acuhkan aku seperti ini.” ucap manisnya padaku yang terus mendekapku dalam dadanya.
“ Juno, lepaskan pelukanmu. Mereka semua melihat kita.” ujarku yang mencoba melepaskan dekapan Juno siang itu.
“ Biarlah, biar mereka tahu bahwa kau adalah milikku.” Jawab Juno dengan santainya yang tak mau melepaskan pelukannya.
“ Aku takkan melepaskanmu sebelum kau berjanji takkan mengacuhkanku lagi.”
“ Baiklah, aku janji.”
Juno mulai melepaskan pelukannya. Ia tersenyum memandangku namun tetap aku tak mau tersenyum padanya, rasanya sangat malu merasakan nilaiku yang tak sempurna dan tak sesuai dengan apa yang Juno harapkan.
“ Kencanku bersamanya benar-benar gagal, padahal aku ingin sekali berkencan dengan Juno.” gumamku dalam hati
“ Alana?” panggilnya dengan teduh, aku hanya menoleh ke arahnya.
“ Rencana kita berkencan, bagaimana?” pancing Juno dengan tersenyum menatapku, aku mulai menundukan kepalaku dalam malu.
“ Kencan? Mengapa kau menanyakan hal itu?"